Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PNEUMONIA COVID-19 SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEMATIAN IBU SELAMA PANDEMI COVID-19 Dewi Purnamawati; Nia Astarina Setyaningsih; Nurfadhilah Nurfadhilah; Fatimah Fatimah; Mizna Sabila; Arum Ariasih
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 13 No 1 (2022): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 13 NOMOR 1 TAHUN 2022
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v13i1.38

Abstract

Abstract Latar belakang: Pandemi Covid-19 meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu, baik selama periode kehamilan, persalinan dan nifas. Walaupun informasi tentang infeksi Covid-19 dalam hubungannya dengan kehamilan dan janin serta risiko terhadap kematian ibu masih terbatas, namun ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi  dibandingkan dengan populasi umum. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pneumonia covid pada ibu hamil, bersalin dan nifas sebagai faktor risiko kematian ibu selama pandemi Covid-19. Metode: Penelitian menggunakan desain kasus kontrol dengan perbandingan kasus dan kontrol 1:1. Kasus adalah kematian ibu dan kontrol adalah ibu yang hidup selama periode  pandemi Covid-19 tahun 2021. Populasi adalah ibu hamil, bersalin dan nifas di RSUD Cibinong dengan jumlah sampel 200 responden. Data dikumpulkan menggunakan data rekam medis dan dianalisis secara multivariat dengan regresi logistik berganda. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 22% ibu mengalami pneumonia covid, dan 88,6% dari ibu yang mengalami penumonia covid meninggal. Pemodelan multivariat menunjukkan bahwa pneumonia covid, pre-eklamsia, anemia dan pendidikan ibu secara simultan berhubungan dengan kematian ibu selama pandemi Covid-19 (p value=0,0001; Negerkerke R Square 0,440). Pneumonia covid adalah faktor risiko yang paling berhubungan dengan kematian ibu selama pandemi Covid-19 (p value=0,004; OR=4,59; 95%CI=1,621-13,025). Kesimpulan: Ibu dengan pneumonia covid memiliki peluang 4,59 kali untuk mengalami kematian selama pandemi Covid-19. Perlu peningkatan kewaspadaan pada kelompok rentan, khususnya ibu hamil yang terdiagnosis covid, baik dalam upaya pencegahan dan penatalaksanaan untuk mengurangi mortalitas pada ibu hamil, bersalin dan nifas.
ANALISIS DETERMINAN KEJADIAN ANEMIA REMAJA PUTRI SEKOLAH MENENGAH ATAS WILAYAH KERJA PUSKESMAS SENTUL KABUPATEN BOGOR Dika Maretika Sobari; Tria Astika Endah Permatasari; Dewi Purnamawati
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 14 No 2 (2023): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 14 NOMOR 2 TAHUN 2023
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v14i2.96

Abstract

ABSTRACT Background: Anemia is a condition of red blood cells or commonly called hemoglobin is below normal. World Health Organization (WHO) is in the range of 40-80% and as many as 57% of them are suffered by adolescent girls.  Southeast Asia is the region with the highest prevalence of anemia at 42%. The incidence of anemia in women of childbearing age in Indonesia in 2019 reached 30.6% and the prevalence of anemia in adolescent girls was 32%, the majority of adolescents who experienced anemia were in the age range of 10 - 18 years. In West Java the incidence of anemia reached 41.5%.. Objective: The purpose of this study was to analyze the factors associated with the incidence of anemia among adolescent girls of private high schools in the sentul puskesmas working area, Bogor district. Method: Quantitative research with Cross Sectional design. 125 samples. The sampling technique used Purposive Sampling. research using the sample formula with hypothesis testing 2 population proportions. Result: 45.6% of adolescent girls were anemic, 50 (56.8%) of adolescent girls were not compliant with taking Fe anemia tablets, 36 (59.0%) rarely consumed iron-source food intake, 30 (48.8%) rarely consumed iron-blocking food/drink intake, 38 (51.4%) were undernourished, 44 (46.3%) of adolescent girls had good knowledge of anemia, 10 (52.6%) had a history of infection, 29 (43.9%) had normal menstrual cycles, 45 (47.4%) had normal menstrual duration, 3 (60.0%) had abnormal menarche and anemia. There is a relationship between adherence to taking Fe tablets, dietary intake of iron sources and nutritional status. Conclusion: The dominant factor causing anemia in adolescent girls is adherence to taking Fe tablets p=0.000; OR (95% CI) =5.869 (2.217 - 15.535). Keywords: Anemia, adolescent girls, Fe tablets.   ABSTRAK Latar belakang: Anemia remaja putri menyebabkan perkembangan fisik dan psikis yang terganggu, penurunan kerja fisik dan daya pendapatan, penurunan daya tahan terhadap kelelahan, peningkatan angka kesakitan dan kematian. Tujuan: Untuk menganalisis determinan kejadian anemia remaja putri Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta di wilayah kerja Puskesmas Sentul Kabupaten Bogor. Metode: Penelitian dengan desain Cross Sectional, dilakukan pada 125 remaja putri di tiga SMA swasta wilayah kerja Puskesmas Sentul, Bogor pada Bulan Januari-Maret 2023. Sampel dihitung dengan rumus uji hipotesis 2 proporsi populasi dengan teknik Purposive Sampling. Anemia diukur dengan pemeriksaan hemoglobin menggunakan alat easy touch GCHB. Analisis data menggunakan uji regresi logistik berganda dengan SPSS Versi 20. Hasil: Dari 125 remaja putri terdapat hampir separuh (45,6%) remaja putri mengalami anemia, 56,8% remaja putri tidak patuh mengkonsumsi tablet Fe. Faktor dominan yang berhubungan secara bermakna terhadap kejadian anemia adalah kepatuhan minum tablet Fe (P-value =0.000; OR=5.63 (2,23-14,21)). Faktor lainnya yaitu asupan makanan sumber zat besi (P-value=0,003; OR=2,94 (1,42-6,11)) Sedangkan faktor lainnya tidak berhubungan dengan anemia (P-value >0,05) Kesimpulan: Remaja putri yang tidak patuh mengkonsumsi tablet Fe lebih berisiko 5,63 untuk mengalami anemia dibandingkan remaja putri yang patuh mengkonsumsi tablet Fe. Untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi tablet Fe pada remaja putri diperlukan sosialisasi kembali aplikasi “Ceria” yang digunakan dalam pemantauan kepatuhan konsumsi tablet Fe. Kata kunci: anemia, remaja putri, kepatuhan konsumsi tablet Fe, status gizi
SELF-EFFICACY AMONG PEOPLE LIVING WITH HIV AIDS AFTER COVID-19 PANDEMIC Dewi Purnamawati; Nurfadhilah Nurfadhilah; Rohimi Zamzam; Karina Amalia
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 14 No 1 (2023): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 14 NOMOR 1 TAHUN 2023
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v14i1.103

Abstract

Abstrak Latar belakang: Pandemi COVID-19 telah berdampak pada seluruh aspek kehidupan, termasuk Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Efikasi diri yang tinggi diperlukan untuk mengatasi hambatan fisik dan psikososial pada ODHA Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan efikasi diri pada ODHA pasca pandemi COVID-19. Metode: Penelitian dilakukan di Klinik Perawatan dan Dukungan Pengobatan di Kabupaten Bogor dengan desain cross-sectional. Populasi adalah ODHA. Sampel diambil secara acak sebanyak 89 ODHA. Data dikumpulkan dengan kuesioner online yang telah diuji validitasnya dan dianalisis secara multivariat dengan regresi logistik berganda Hasil: Penelitian menunjukkan 62,9% ODHA memiliki efikasi diri tinggi, 37,1% berusia kurang dari 35 tahun, 74,1% laki-laki, 33% berpendidikan tinggi, 35,9% sudah menikah, 69,9% memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai HIV, 50,5% menderita HIV kurang dari 7 tahun, 58,4% mendapat dukungan keluarga yang baik, dan 50,5% memiliki dukungan yang baik dari tenaga kesehatan. Lama menderita dan dukungan petugas kesehatan secara simultan berhubungan dengan efikasi diri ODHA setelah dikontrol oleh usia dan pengetahuan (p-value = 0,0001). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan efikasi diri ODHA adalah lama menderita (p-value=0,010; OR=4,403; 95%CI=1,434-15,518) Kesimpulan: Lebih dari sepertiga responden masih memiliki efikasi diri yang rendah. Lama menderita HIV merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan efikasi diri pada ODHA Kata kunci: Efikasi Diri, Odha, Dukungan Tenaga Kesehatan, Lama Menderita   Abstract Background: The COVID-19 pandemic has had an impact on all aspects of life, including people living with HIV and AIDS (PLWHA). A high level of self-efficacy in necessary to overcome physical and psychosocial obstacle in PLWHA Objective: This study aims to analyze factors related to self-efficacy in PLWHA after the COVID-19 pandemic. Method: The study was conducted at the Support and Treatment Clinic at the Public Health Center Bogor District using a cross-sectional design. The population is PLWHA at the Clinic. Samples were taken randomly as many as 89 PLWHA. Data were collected using an online questionnaire that had been tested for validity and analyzed multivariate with multiple logistic regression. Result: The results showed that 62,9% of PLWHA had high self-efficacy, 37,1% are less than 35 years old, 74,1% were men, 33% from high education, 35,9% were married, 69,9% had very good knowledge of HIV, 50,5% suffered from HIV less than 7 years, 58,4% had good family support and, 50,5% had good support from Health Care Providers. The long-suffering and healthcare provider’s support are simultaneously related to the self-efficacy of PLWHA after being controlled by age and knowledge (p-value= 0,0001). The most related factor was the long-suffering (p-value=0,010; OR=4,403; 95%CI=1,434-15,518) Conclusion: More than one-third of the respondents still had low self-efficacy and long-suffering is the dominant factor associated with self-efficacy in PLWHA. Keywords: Self-Efficacy, Plwha, Healthcare Providers Support, Long-Suffering
Peningkatan Kemampuan Perawat dalam Interpretasi EKG Normal dan Aritmia dengan Metode Angka 3 Ii Ismail; Dewi Purnamawati; Wati Jumaiyah; Fitrian Rayasari
Jurnal Keperawatan Silampari Vol 4 No 2 (2021): Jurnal Keperawatan Silampari
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.438 KB) | DOI: 10.31539/jks.v4i2.1924

Abstract

This study aims to determine the effect of the number 3 method on nurses' ability to interpret normal ECG and arrhythmias. The research method used a quasi-experimental design with one group pre-test and a post-test with a control group. The results showed that there was a significant difference in the mean score of nurses in the interpretation of normal ECG and arrhythmias in both the intervention and control groups (p-value 0.007 and 0.002). The multiple linear regression test showed that the treatment variable contributed to the nurse's ability to interpret normal ECG and arrhythmias with a p-value of 0.002 with a negative linear pattern (Nurses' ability = 66.099 - 9.156 (treatment). In conclusion, there is a significant difference in the average score of nurses in interpretation. Normal ECG and arrhythmia in both the intervention and control groups. However, the intervention group with the number 3 method had a greater difference in mean values ​​than the control group. Statistically, the more research treatments, the nurses' ability to interpret normal ECG and arrhythmias would decrease. Keywords: Arrhythmia, Normal EKG, Interpretation of ECG, Number Method 3
Analisis Budaya Keselamatan Kerja pada Penyajian Makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit: Studi Kualitatif Deskriptif Ummatul Hasanah; Dewi Purnamawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya keselamatan kerja pada penyajian makanan memiliki peran penting dalam melindungi tenaga kerja serta mencegah terjadinya kecelakaan kerja di rumah sakit. Instalasi gizi merupakan salah satu unit penunjang pelayanan yang memiliki potensi risiko keselamatan kerja, khususnya pada proses distribusi dan penyajian makanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan budaya keselamatan kerja pada penyajian makanan di instalasi gizi RSKIA Sawojajar Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan empat informan yang terlibat langsung dalam kegiatan penyajian makanan. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam (in-depth interview), kemudian dianalisis menggunakan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) dalam kegiatan penyajian makanan masih terbatas, pelatihan K3 khusus bagi tenaga instalasi gizi belum tersedia, serta pemahaman terhadap standar operasional prosedur (SOP) keselamatan kerja belum merata. Selain itu, budaya pelaporan insiden keselamatan kerja masih rendah, dan keterbatasan fasilitas kerja serta ketergantungan pada pihak ketiga turut memengaruhi penerapan keselamatan kerja. Penguatan budaya keselamatan kerja perlu dilakukan melalui peningkatan pengawasan, sosialisasi SOP, penyelenggaraan pelatihan K3 yang spesifik, serta perbaikan fasilitas pendukung. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi perbaikan sistem keselamatan kerja pada instalasi gizi rumah sakit serta sebagai rujukan bagi pengembangan penelitian selanjutnya.
Determinan Self Care Pasien Penyakit Jantung Koroner Setelah Intervensi Koroner Perkutan: Determinan Self Care Pasien Penyakit Jantung Koroner Setelah Intervensi Koroner Perkutan Erni Kurniasih; Wati Jumaiyah; Dewi Purnamawati; Yani Sofiani; Erwin Erwin
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47105

Abstract

The intervention for coronary heart disease (CHD) is myocardial reperfusion with percutaneous coronary intervention (IKP). However, after the IKP procedure, there is a risk of recurrent myocardial infarction and so restenosis, self-care is an important part in efforts to improve the quality of life of patients who have undergone IKP. This study aims to identify the determinants of self-care in patients undergoing IKP. The research design used a cross-sectional survey on 300 respondents who were taken by consecutive sampling technique at the Heart Polyclinic at Hermina Bekasi Hospital. The study used the SC-CHDI (self-care coronary heart disease inventory) questionnaire, the CADE-Q SV (Coronary Artery Disease Education Questionnaire Short Version) questionnaire and the family support questionnaire. The results showed that factors related to self-care were gender (p=0.000), education (p=0.000), length of IKP (p=0.165), occupation (p=0.000), income (p=0.000), knowledge (p=0.000) and family support (p=0.000). Meanwhile, in multivariate analysis, the most dominant factor with self-care is family support (p=0.000) with OR 6.724. Respondents who have high family support have more adequate self-care. The implication in nursing is to provide education according to the needs of patients by identifying educational needs beforehand and involving families in providing education.