Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Peningkatan Kesehatan Melalui Penyuluhan Kesehatan Tentang Pencegahan Infeksi Pasca Pemasangan Chateter Double Lumen (CDL) Pada Keluarga Pasien Hemodialisa Di RSAU dr. Esnawan Antariksa Fresia, Sinta; Herwina Widya Astuti; Nur Afni Wulandari; Dinda Amelia; Dharul Triwijaya
Jurnal Bakti Dirgantara Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Bakti Dirgantara
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/b5p1c239

Abstract

https://drive.google.com/file/d/16XcZNTS9r0JX_xZzozWwBvmVOlOrhMXa/view?usp=sharing
Peningkatan Kemampuan Mengontrol Halusinasi Melalui Terapi Aktivitas Kelompok pada Pasien dengan Halusinasi di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Wulandari Arifin, Nur Afni; Sinta Fresia; Imelda Avia; Naufal; Amanda
Jurnal Bakti Dirgantara Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Bakti Dirgantara
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/05abwx65

Abstract

Prevalensi gangguan jiwa berat mengalami kenaikan yang signifikan. Penderitanya merasakan sensori yang tidak bersumber dari kehidupan nyata melainkan dari pasien itu sendiri, sensori palsu tersebut antara lain  berupa penglihatan, suara, perabaan, pengecapan, atau penghidu. Danpak yang dapat di timbulkan oleh sensori palsu (halusinasi) tersebut adalah pasien kehilangan kontrol terhadap dirinya sehingga pasien akan merasa panik dan sulit untuk mengendalikan perilakunya. Pasien yang dalam pengaruh halusinasinya dapat melukai dirinya sendiri dengan cara melakukan bunuh diri (suicide), merusak lingkungan yang ada disekitarnya menyakiti bahkan membunuh orang lain (homicide). Terapi aktivitas kelompok sensori persepsi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasinya. Pasien diseleksi dengan lembar obsrvasi tanda dan gejala halusinasi, sebanyak 7 orang pasien halusinasi yang lolos seleksi dipilih sebagai peserta terapi aktivitas kelompok sensori persepsi. Terapi dilaksanakan secara berkelompok ini dievaluasi dengan lembar observasi terapi aktiitas kelompok sensori persepsi. Kegiatan dilaksanakan secara terorganisir dan telah mendapat persetujuan dari pihak Panti Sosial. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pasien dalam mengenal dan mengontrol halusinasinya. Seluruh pasien mampu memperagakan cara menghardik halusinasi. Kgiatan ini direncanakan akan berlanjut dengan pemberian pelatihan kepada caregiver ataupun perawat agar tetap dapat dilanjutkan terapi kelompok seperti ini.    The prevalence of severe mental disorders has significantly increased. People suffering from these disorders experience false sensations that are not based on real stimuli, such as visual, auditory, tactile, gustatory, or olfactory hallucinations. These false sensory perceptions can cause individuals to lose control, leading to panic and difficulty managing their behavior. Patients under the influence of hallucinations may harm themselves by attempting suicide, causing damage to their surroundings, or even harming or killing others (homicide). Sensory perception group activity therapy aims to enhance patients' ability to manage their hallucinations. Participants are selected based on the signs and symptoms of hallucinations, and a total of 7 patients have been chosen to take part in the therapy. The therapy's effectiveness is measured using an observation sheet. The activities are carefully planned, organized, and approved by the relevant social institution. Evaluation results have shown improvement in patients' ability to recognize and control their hallucinations. All patients were able to demonstrate how to reject their hallucinations. There are plans to continue this activity by training caregivers or nurses to ensure the continuity of group therapy.
Implementasi Terapi Bermain Lego Terhadap Perkembangan Kognitif pada Anak Usia Prasekolah di Paud Melati Putih Jakarta Pusat Alifia Yasmin; Dwi Ambarwati; Fitri Anggraeni; Nur Afni Wulandari
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/6jre9787

Abstract

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 62,02% anak usia prasekolah mengalami gangguan pertumbuhan umum yang mencakup kemampuan kognitif, bahasa, gangguan sosial, gangguan emosional dan motorik. Tujuan penelitian ini mengetahui implementasi terapi bermain lego terhadap perkembangan kognitif pada anak usia prasekolah dengan tujuan khusus mengetahui perkembangan kognitif sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain lego dan menganalisis perbandingan perkembangan kognitif pada anak usia prasekolah sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain lego di PAUD Melati Putih Jakarta Pusat. Metode penelitian studi kasus ini menggunakan penelitian deskriptif, teknik non probabilitas dengan purposive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar observasi dan KPSP untuk skrining awal perkembangan kognitif. Hasil penelitian menggunakan lembar observasi bahwa nilai rata-rata pre-test 75% dan nilai rata-rata post-test 95,8% menunjukkan semua subjek mengalami peningkatan dan perkembangan kognitif menggunakan KPSP pada semua subjek menunjukkan hasil Sesuai (S). Kesimpulan penelitian ini bahwa perkembangan kognitif sebelum dilakukan terapi bermain lego didapatkan 1 subjek perkembangan sesuai (S), 4 subjek hasil perkembangan sedikit mencurigakan (SM) dan 1 subjek hasil perkembangan meremehkan (M). Setelah dilakukan terapi bermain lego diperoleh hasil observasi 5 subjek mendapatkan hasil perkembangan sesuai (S) dan 1 subjek mendapatkan hasil perkembangan sedikit meremehkan (SM). Perbandingan perkembangan kognitif sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain lego mengalami peningkatan.    According to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 62.02% of preschool children experience general growth disorders which include cognitive abilities, language, social disorders, emotional and motor disorders. The aim of this research is to determine the implementation of Lego play therapy on cognitive development in preschool aged children with the specific aim of knowing cognitive development before and after Lego play therapy and to analyze the comparison of cognitive development in preschool aged children before and after Lego play therapy at PAUD Melati Putih Central Jakarta. This case study research method uses descriptive research, non-probability techniques with purposive sampling. This research instrument uses observation sheets and KPSP for initial screening of cognitive development. The results of the research using the observation sheet showed that the average pre-test score was 75% and the average post-test score was 95.8%, showing that all subjects experienced improvement and cognitive development using KPSP in all subjects showed appropriate results (S). The conclusion of this study was that cognitive development before Lego play therapy was carried out, 1 subject had appropriate development results (S), 4 subjects had slightly suspicious development results (SM) and 1 subject had underestimated development results (M). After carrying out Lego play therapy, the observation results showed that 5 subjects got appropriate development results (S) and 1 subject got slightly underestimated development results (SM). Comparison of cognitive development before and after Lego play therapy has increased.
Implementasi Terapi Okupasi (Mewarnai) Terhadap  Peningkatan Kepercayaan Diri Pada Pasien Dengan Masalah Keperawatan Isolasi Sosial Di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur Salsabila Noviyani Kharisma; Aziz Fahruji; Nur Afni Wulandari
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/64t34b78

Abstract

Masalah gangguan jiwa di dunia menjadi masalah yang semakin meluas, WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta data statistik pasien gangguan jiwa, berdasarkan data statistik pasien gangguan jiwa meningkat sangat tinggi. Dari hasil wawancara peneliti dengan petugas kesehatan di Panti Bina Laras Harapan Sentosa, terdapat 411 pasien berjenis kelamin perempuan dan dibagi menjadi III klaster dengan gangguan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan Terapi Okupasi (mewarnai) untuk meningkatkan kepercayaan diri pada pasien dengan masalah keperawatan Isolasi Sosial. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan teknik total sampling. lembar observasi untuk mendokumentasikan respon pasien, lembar Informed Consent atau lembar persetujuan, Alat Media Terapi Okupasi Mengecat Patung Semen, lembar Standar Operasional Prosedur (SOP) Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari tanda dan gejala Isolasi Sosial pada Ny. S mulai berkurang. Dari skor 7 menjadi skor 1, Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari tanda dan gejala Isolasi Sosial pada Ny.O mulai berkurang. Dari Skor 6 menjadi 3. Sebelum dilakukan implementasi terapi okupasi mewarnai patung semen selama 3 hari pada kedua responden, tanda dan gejala Isolasi Sosial tersebut skor 1 dan 3. Setelah dilakukan Implementasi Terapi Okupasi mewarnai patung semen dalam selama 3 hari pada kedua Responden didapatkan tanda dan gejala menurun.   The problem of mental disorders in the world is becoming an increasingly widespread problem. WHO estimates that there are around 450 million statistical data on mental disorders patients, based on statistical data, mental disorders patients are increasing very high. From the results of researchers' interviews with health workers at Panti Bina Laras Harapan Sentosa, there were 411 female patients and they were divided into three clusters with disorders. The aim of this research is to implement Occupational Therapy (coloring) to increase self-confidence in patients with social isolation nursing problems. This research uses descriptive research with total sampling techniques. This study uses a patient data format to obtain patient data, observation sheets to document patient responses, Informed Consent sheets, Occupational Therapy Media Tools for Painting Cement Statues, Standard Operating Procedure (SOP) sheets. After implementation for 3 days, signs and symptoms of Isolation Social at Mrs. S starts to decrease. From a score of 7 to a score of 1, after implementation for 3 days, the signs and symptoms of social isolation in Mrs. O began to decrease. From a score of 6 to 3. Before the implementation of occupational therapy, coloring the cement statue for 3 days for both respondents, the signs and symptoms of Social Isolation were scored 1 and 3. After the implementation of Occupational Therapy, coloring the cement statue for 3 days for the two respondents, signs and symptoms were obtained. symptoms decrease.  
Implementasi Terapi Spiritual Berdzikir Pada Pasien Skizofrenia dengan Masalah Resiko Perilaku Kekerasan di Panti Bina Laras Sentosa II Cipayung Nia, Siti Marwah Artania; Aziz Fahruji; Nur Afni Wulandari Arifin
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/7phzs612

Abstract

Pasien Resiko Perilaku kekerasan merupakan suatu kondisi dimana individu mengalami perilaku marah yang ekstrim (kemarahan) atau ketakutan (panik) sebagai respon terhadap perasaan terancam, baik berupa ancaman serangan fisik atau konsep diri. Perilaku kekerasan menjadi salah satu respon marah yang diekspresikan dengan melakukan ancaman, mencederai orang lain, dan atau merusak lingkungan. Perasaan terancam ini dapat berasal dari stresor eksternal (penyerangan fisik, kehilangan orang berarti dan kritikan dari orang lain) dan internal (perasaan gagal di tempat kerja, perasaan tidak mendapatkan kasih sayang dan ketakutan penyakit fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Analisis Intervensi Melatih Cara spiritual: zikir pada pasien Resiko Perilaku Kekerasan. Penelitian yang digunakan ini ialah deskriptif dengan rancangan studi kasus penelitian ini  untuk melakukan intervensi melatih cara spiritual zikir untuk mengontrol perilaku kekerasan. Penelitian ini menggunakan pasien resiko perilaku kekerasan di panti sosial bina laras harapan II Cipayung dengan subjek 2 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Setelah dilakukan intervensi selama 3 hari pasien menunjukkan adanya perubahan emosi terkontrol. Hasil intervensi dengan dilakukannya melatih berzikir pada pasien resiko perilaku kekerasan cukup efektif, pengendalian marah pasien dapat terkontrol Terapi spiritual berzikir dari penelitian ini yaitu, pasien mampu mengulangi terapi dengan mandiri secara kontinyu.   Patients at Risk for Violent Behavior is a condition where individuals experience extreme anger (anger) or fear (panic) as a response to feelings of threat, whether in the form of threats of physical attack or self-concept. Violent behavior is a response to anger that is expressed by making threats, injuring other people, and/or destroying the environment. This feeling of threat can come from external stressors (physical attacks, loss of significant others and criticism from others) and internal (feelings of failure at work, feelings of not getting love and fear of physical illness.  This research aims to determine the Analysis of Training Interventions Spiritual way: Dhikr for patients at risk of violent behavior. Objective: This research aims to determine the intervention analysis of training spiritual Dhikr in patients at risk of violent behavior. Method: The research used is descriptive with a case study design for this research to carry out an intervention to train the spiritual method of dhikr to control violent behavior. This study used patients at risk of violent behavior at the Bina Laras Harapan II Cipayung social institution as subjects with 2 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. After intervention for 3 days the patient showed controlled emotional changes. The results of the intervention by practicing dhikr in patients at risk of violent behavior are quite effective, controlling the patient's anger can be controlled. The spiritual therapy of dhikr from this study is that the patient is able to repeat the therapy independently on an ongoing basis.
Implementasi Terapi Emotional Freedom Technique dalam Mengatasi Masalah Keperawatan Kecemasan pada Lansia di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur Dwi Surya Darma; Aziz Fahruji; Nur Afni Wulandari Arifin
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/ynrs6e20

Abstract

Kecemasan pada lansia sering terjadi akibat adanya riwayat penyakit, menghadapi kematian dan juga kecemasan teman di masa tua. Lansia di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 didapatkan bahwa lansia mengalami kecemasan akibat penyakit yang dialami, kekhawatiran terjadi kematian dan tidak ada keluarga yang menemani. Tujuan dalam penelitian ini yaitu melakukan implementasi terapi emotional freedom technique dalam mengatasi masalah keperawatan kecemasan pada lansia di panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur. Metode penelitian berupa deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilakukan di Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur terhadap 2 orang lansia. Penilaian kecemasan menggunakan kuesioner Geriatric Anxiety Scale. Penyajian data dalam bentuk tabel dan dijelaskan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian didapatkan subjek pertama dengan karakteristik jenis kelamin laki-laki, usia 75 tahun, agama Islam, pendidikan SMP, duda pasangan meninggal, pekerjaan terakhir dagang dan lama di panti 8 tahun. Sedangkan subjek kedua dengan karakteristik jenis kelamin perempuan, usia 70 tahun, agama Islam, pendidikan SD, janda pasangan meninggal, pekerjaan terakhir karyawan dan lama di panti 5 tahun. Pemaparan fokus studi sebelum dilaksanakan terapi Emotional Freedom Technique subjek pertama dengan kecemasan sedang (skor 41) dan subjek kedua dengan kecemasan sedang (skor 42).    Anxiety in the elderly often occurs due to a history of illness, facing death and also anxiety about friends in old age. It was found that elderly people at Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 experienced anxiety due to their illness, fear of death and no family to accompany them. The aim of this research is to implement emotional freedom technique therapy in overcoming anxiety nursing problems in the elderly at the Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung, East Jakarta. The research method is descriptive with a case study approach. The research was conducted at Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung, East Jakarta on 2 elderly people. Anxiety assessment uses the Geriatric Anxiety Scale questionnaire. Presentation of data in tabular form and explained in narrative form. The results of the research showed that the first subject was male, 75 years old, Muslim, junior high school education, deceased spouse, last job in trade and 8 years in the orphanage. Meanwhile, the second subject had the characteristics of female gender, age 70 years, Muslim religion, elementary school education, widow of deceased partner, last job employee and length of time in the orphanage 5 years. Exposure to the focus of the study before carrying out Emotional Freedom Technique therapy was the first subject with moderate anxiety (score 41) and the second subject with moderate anxiety (score 42).
Implementasi Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Tingkat Emosi Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan Bonita Nurherawati; Nur Afni Wulandari; Aziz Fahruji
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/wh0zet15

Abstract

Perilaku kekerasan adalah sebuah kondisi emosi dalam mengungkapkan suatu kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Penyebab resiko perilaku kekerasan dapat terjadi karena faktor predisposisi dan presipitasi. Salah satu teknik yang dapat dilakukan untuk mengontrol perilaku kekerasan adalah dengan cara melakukan relaksasi nafas dalam. Teknik relaksasi nafas dalam tidak hanya memberikan ketenangan secara fisik melainkan dapat menciptakan ketenangan jiwa.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan tingkat emosi pasien dengan resiko perilaku kekerasan sebelum dan setelah dilakukan implementasi relaksasi nafas dalam. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik wawancara dan observasi. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini ada sebanyak 2 responden. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan tingkat emosi pasien sebelum dan setelah dilakukan terapi relaksasi nafas dalam yang diukur menggunakan lembar observasi tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan. Pada responden I sebelum dilakukan terapi relaksasi nafas dalam menunjukan 15 tanda dan gejala lalu berkurang menjadi 13 tanda dan gejala sementara responden II sebelum dilakukan terapi relaksasi nafas dalam menunjukan 11 tanda dan gejala lalu berkurang menjadi 9 tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi relaksasi nafas dapat membantu pasien dengan resiko perilaku kekerasan dalam mengontrol emosi.   Violent behavior is an emotional condition in expressing anger that is manifested in physical form. The cause of the risk of violent behavior can occur due to predisposition and precipitation factors. One technique that can be done to control violent behavior is by doing deep breathing relaxation. Deep breathing relaxation techniques not only provide physical calm but can create mental calm. The purpose of this study was to determine changes in the level of emotion of patients with a risk of violent behavior before and after the application of deep breathing relaxation. This research method is descriptive with a case study approach through interview and observation techniques. The subjects used in this study were 2 respondents. The results of the study showed differences in the level of emotion of patients before and after deep breathing relaxation therapy was measured using an observation sheet of signs and symptoms of the risk of violent behavior. In respondent I before deep breathing relaxation therapy showed 15 signs and symptoms then reduced to 13 signs and symptoms While respondent II before deep breathing relaxation therapy showed 11 signs and symptoms then reduced to 9 signs and symptoms of the risk of violent behavior. Thus it can be concluded that the application of breathing relaxation can help patients with a risk of violent behavior in controlling their emotions.
Efektivitas Terapi Tertawa terhadap Tanda dan Gejala Risiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Gangguan Jiwa Fahrezi, Reyhan; Nur Afni Wulandari; Aziz Fahruji
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/n42k4678

Abstract

Risiko perilaku kekerasan merupakan kondisi yang umum ditemukan pada pasien gangguan jiwa, yang ditandai dengan gejala verbal maupun fisik yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat digunakan untuk mengontrol emosi, khususnya kemarahan, adalah terapi tertawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tertawa terhadap perubahan tanda dan gejala pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Desain penelitian menggunakan studi kasus deskriptif terhadap dua pasien yang memenuhi kriteria inklusi di Panti Bina Laras Harapan Sentosa II Jakarta Timur. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan berdasarkan sembilan indikator. Terapi tertawa diberikan sebanyak tiga sesi dalam tiga hari berturut-turut. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, Responden I menunjukkan tiga tanda dan gejala, sedangkan Responden II menunjukkan empat gejala. Setelah intervensi, kedua responden mengalami penurunan menjadi dua gejala. Penurunan paling konsisten terjadi pada gejala verbal seperti nada suara tinggi dan bicara keras. Terapi tertawa terbukti memberikan pengaruh positif dalam menurunkan intensitas tanda dan gejala perilaku kekerasan. Efektivitas terapi ini diduga berkaitan dengan peningkatan hormon endorfin yang berperan dalam menurunkan ketegangan emosional dan meningkatkan kenyamanan psikologis pasien.   The risk of violent behavior is a common condition found in patients with mental disorders, characterized by verbal and physical symptoms that can harm themselves, others, or the surrounding environment. One of the non-pharmacological interventions that can be used to control emotions, especially anger, is laughter therapy. This study aims to determine the effect of laughter therapy on changes in signs and symptoms in patients at risk of violent behavior. The research design used a descriptive case study of two patients who met the inclusion criteria at Panti Bina Laras Harapan Sentosa II, East Jakarta. Data were collected using an observation sheet of signs and symptoms of risk of violent behavior based on nine indicators. Laughter therapy was given for three sessions in three consecutive days. The results showed that before the intervention, Respondent I showed three signs and symptoms, while Respondent II showed four symptoms. After the intervention, both respondents experienced a decrease to two symptoms. The most consistent decrease occurred in verbal symptoms such as high voice tone and loud speech. Laughter therapy was shown to have a positive influence in reducing the intensity of signs and symptoms of violent behavior. The effectiveness of this therapy is thought to be related to the increase in endorphins which play a role in reducing emotional tension and increasing the psychological comfort of patients.
Evaluasi Lingkungan Belajar Klinik dan Kepuasan Mahasiswa Keperawatan Terhadap Pembelajaran Klinik Sinta Fresia; Imelda Avia; Nur Afni Wulandari Arifin; Wahyuni Dwi Rahayu; Sri Kurnia Dewi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.22168

Abstract

ABSTRACT The clinical learning environment is a crucial element in nursing education that plays an important role in developing the professional competence of Nursing Students. The clinical practice environment includes interactions between Nursing Students, health workers, patients, and access to facilities and resources that support learning. The purpose of this study was to analyze the relationship between the evaluation of the clinical learning environment which includes the clinical learning environment, leadership style, care in the room and the role of clinical Perceptorship associated with the satisfaction of Third Grade Nursing Students towards clinical learning at RSAU which includes satisfaction with provisioning and reflection as well as satisfaction with clinical reasoning experiences. This study used quantitative research methods and data analysis used were univariate and bivariate with Chi Square statistical tests. Respondents were 57 Nursing Students of Level III Nursing Diploma study program who had completed field clinical practice at the Air Force Hospital dr. Esnawan Antariksa. Sample collection used a total sampling technique. Research Results Based on the analysis obtained from data processing The results of the bivariate test obtained p-value = 0.000 0.05, indicating that Ho was rejected, it was concluded that there was a relationship between the implementation of clinical learning evaluation and student satisfaction in clinical learning. This study is expected to be beneficial for Hospital institutions as a place for clinical practice and the community, so that it can improve the quality of the clinical learning environment and improve learning renewal methods in the appropriate clinical environment for Nursing Students. Keywords: Evaluation of the Clinical Learning Environment, Student Satisfaction and Clinical Learning.  ABSTRAK Lingkungan belajar klinik adalah elemen krusial dalam pendidikan keperawatan yang memainkan peran penting dalam mengembangkan kompetensi profesional Mahasiswa Keperawatan. Lingkungan praktik klinik mencakup interaksi antara Mahasiswa Keperawatan, tenaga kesehatan, pasien, serta akses ke fasilitas dan sumber daya yang mendukung pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa Hubungan evaluasi lingkungan belajar klinik yang meliputi lingkungan belajar klinik, gaya kepemimpinan, perawatan di ruangan dan peran Perseptorship klinik dihubungkan dengan kepuasan Mahasiswa Keperawatan TK III terhadap pembelajaran klinik di RSAU yang meliputi kepuasan terhadap pembekalan dan refleksi serta kepuasan terhadap pengalaman penalaran klinis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan Analisa data yang digunakan yaitu univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi Square. Responden merupakan Mahasiswa Keperawatan program studi Diploma keperawatan Tingkat III sejumlah 57 orang yang telah menyelesaikan praktek klinik lapangan di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa. Pengumpulan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil Penelitian Berdasarkan   analisis  diperolehhasil pengolahan data Hasil uji bivariat diperoleh p-value = 0.000  0.05, menunjukan bahwa Ho ditolak, disimpulkanbahwa terdapat hubungan  adanya pelaksanaan evaluasi pembelajaran klinik dan kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran klinik. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi institusi Rumah Sakit sebagai lahan praktik klinik  dan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan belajar klinik serta meningkatkan metode pembaharuan pembelajaran di lingkungan klinik yang tepat bagi Mahasiswa Keperawatan. Kata Kunci: Evaluasi Lingkungan Belajar Klinik, Kepuasan Mahasiswa dan pembelajaran Klinik.
Edukasi Konsumsi Jajanan Sehat dan Penguatan Literasi Pendidikan Bagi Anak Jalanan Sinta Fresia; M. Iqbal; Nur Afni Wulandari
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/4xfdw369

Abstract

Sekolah MASTER atau akronim dari Sekolah Masjid Terminal adalah sebuah sekolah gratis yang didirikan untuk anak-anak jalanan, masyarakat tidak mampu, pemulung, pengamen, gelandangan dan sebagainya yang berlokasi di area Terminal Kota Depok Jawa Barat. Sekolah ini merupakan sekolah gratis di bawah naungan Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM) yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim piatu, kaum dhuafa dan fakir miskin di sekitar terminal Depok. Hasil Observasi dan wawancara dengan koordinator sekolah dasar Master memiliki kendala keterbatasan relawan guru pengajar serta terdapat laporan bahwa anak-anak di sekolah dasar banyak yang mengalami sakit akibat jajanan tidak sehat serta  kurangnya kesadaran mereka tentang makanan sehat dan bergizi. Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan bertujuan memberikan pendampingan pembelajaran khususnya di belajar Bahasa Inggris serta peningkatan  pengetahuan pada anak-anak sekolah dengan metode pembelajaran edukatif dan interaktif melalui penyuluhan kesehatan tentang konsumsi jajanan sehat bergizi untuk meningkatkan kesadaran untuk mengkonsumsi jajanan sehat bergizi dan membiasakan hidup sehat sejak dini. Dengan memberikan edukasi dan pendampingan pengajaran berbasis audiovisual, diharapkan terdapat perbedaan tingkat pengetahuan sebelum diberikan edukasi sebanyak 60%, setelah diberikan edukasi terjadi peningkatan pengetahuan sebanyak 96%.