Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Hubungan kebiasaan sarapan dengan prestasi siswa kelas IV dan V SD Marlina, Yuliana Eni; Kustiani, Ai; Astuti, Dewi Woro
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 1 (2025): March Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i1.751

Abstract

Background: Breakfast has a positive relationship with academic achievement, because breakfast activities can directly affect student academic achievement. Skipping breakfast has a bad impact, namely lack of concentration, so that concentration in class is usually lost because the body does not get enough nutrition. Purpose: To determine the relationship between breakfast habits and academic achievement of students in grades IV and V. Method: This study uses an analytical method with a cross-sectional approach. The population in this study were all students in grades IV and V at SDN 01 Astomulyo, Punggur District, Central Lampung Regency with a sample size of 48 people. Data collection tools used observation sheets and questionnaires and were analyzed using chi square. Results: Univariate analysis showed that the majority of respondents were not used to having breakfast as many as 25 (52.1%), 29 respondents (60.4%) had academic achievement in the fairly good category. The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between breakfast habits and academic achievement of students in grades IV and V with a p value = 0.017. Conclusion: There is a relationship between breakfast habits and the academic achievement of students in grades IV and V with a p value = 0.017. Suggestion: Students should maintain good breakfast habits and continue to try to improve them so that their current academic achievement improves.   Keywords: Breakfast; Learning Achievement   Pendahuluan: Sarapan pagi dengan prestasi belajar mempunyai hubungan yang positif, karena kegiatan sarapan pagi dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa secara langsung. Meninggalkan sarapan pagi mempunyai dampak yang buruk yaitu kurangnya konsentrasi, sehingga konsentrasi di kelas biasanya terbeli karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan pagi dengan prestasi belajar siswa Kelas IV dan V . Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV dan V di SDN 01 Astomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah dengan jumlah sampel sebanyak 48 orang. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan lembar angket serta dianalisis menggunakan chi square. Hasil: Analisis univariat diketahui mayoritas responden tidak terbiasa sarapan pagi sebanyak 25 (52.1%), 29 responden (60.4%) prestasi belajarnya berada pada kategori cukup baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan prestasi belajar siswa Kelas IV dan V  dengan nilai p = 0.017. Simpulan: Ada hubungan kebiasaan sarapan pagi dengan prestasi belajar siswa kelas IV dan V dengan nilai p-value = 0.017.. Saran: Sebaiknya siswa mempertahankan kebiasaan sarapan yang baik dan terus berusaha meningkatkannya agar prestasi belajarnya saat ini semakin baik.   Kata Kunci: Prestasi Belajar; Sarapan  
SUBSTITUSI TEPUNG MOKAF (MODIFIED CASSAVA FLOUR) SEBAGAI PRODUK PANGAN DARURAT DALAM PEMBUATAN MIE Sriwahyuni, Putu Septi Aditya; Harvidea, Radella; Astuti, Dewi Woro
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.35666

Abstract

indonesia sering menghadapi bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung berapi yang dapat mengganggu pasokan pangan. Dalam situasi tersebut, ketersediaan makanan darurat yang siap saji dan mampu memenuhi kebutuhan energi minimal 2100 kkal per hari sangat penting untuk memastikan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat terdampak. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan tepung mocaf sebagai bahan substitusi dalam produksi mie mocaf yang berbahan dasar singkong fermentasi, dengan tujuan menciptakan produk pangan darurat yang bergizi dan mudah diterima oleh konsumen. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sejati dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk menentukan formulasi terbaik. Berdasarkan hasil uji hedonik, formula F2 dengan 50% substitusi tepung mocaf lebih disukai oleh responden (P-value < 0,05). Selain itu, analisis proksimat pada formula F2 menunjukkan bahwa mie tersebut memiliki kadar air 10,91%, abu 2,43%, lemak 5,44%, protein 5,66%, serat kasar 3,53%, dan karbohidrat 78,89%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung mocaf tidak hanya meningkatkan nilai gizi produk tetapi juga meningkatkan penerimaan sensorik oleh konsumen. Untuk penelitian di masa depan, disarankan agar mie dikeringkan selama 8 jam untuk memastikan proses pengeringan optimal. Selain itu, penyimpanan pada suhu ruang dalam kemasan kedap udara sangat dianjurkan untuk memperpanjang umur simpan produk, sehingga lebih siap digunakan dalam kondisi darurat.
Pengaruh Pemberian Teh Bevuzingiber (Beta vulgaris dan Zinger officinale) pada Pasien Hipertensi Tingkat I di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Way Kandis Tahun 2025 Janah , Widya Miftakhul; Astuti, Dewi Woro; Hervidea, Radella
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 8 Nomor 3 (2025)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v8i3.1054

Abstract

Background: Hypertension is a major global health issue characterized by a persistent increase in arterial blood pressure, leading to severe complications. Stage I hypertension is defined as systolic blood pressure of 140-159 mmHg and diastolic pressure of 90-99 mmHg. The high prevalence of hypertension in the work area of UPT Puskesmas Way Kandis necessitates effective and accessible non-pharmacological interventions, such as the use of local ingredients like beetroot (Beta vulgaris) and ginger (Zingiber officinale). Objective: This study aimed to analyze the effect of consuming Bevuzingiber tea (a combination of Beta vulgaris and Zingiber officinale) on reducing blood pressure in patients with stage I hypertension. Methods: This study used a quantitative quasi-experimental design with a pretest-posttest control group approach. The sample consisted of 36 stage I hypertension patients selected through purposive sampling. They were divided into two groups: an intervention group (n=18) given Bevuzingiber tea and a control group (n=18) given antihypertensive medication. The intervention was conducted for 7 days. Blood pressure was measured before and after the intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. Results: The results showed a significant reduction in blood pressure in the intervention group. The average systolic blood pressure decreased from 152.00 mmHg to 113.89 mmHg, and diastolic pressure decreased from 91.50 mmHg to 74.17 mmHg. Statistical analysis confirmed a significant difference with a p-value of 0.000 (<0.05). The intervention group also showed more consistent reductions compared to the control group. Conclusion: Bevuzingiber tea is effective in reducing blood pressure in patients with stage I hypertension and can be recommended as a complementary non-pharmacological therapy. It is suggested that future researchers focus on patients under 65 years of age and directly observe respondents' activities and other factors influencing blood pressure.
Hubungan Jenis Kelamin, Kebiasaan Olah Raga dan Riwayat Sakit Dengan Status Gizi pada Lansia di Desa Kurungan Nyawa Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Tahun 2024 Riski, Dwi; Saleh, Asep Jalaludin; Astuti, Dewi Woro
Journal of Citizen Research and Development Vol 2, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jcrd.v2i1.4138

Abstract

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 jumlah lansia berdasarkan jenis kelaminnya, 52,28% lansia merupakan perempuan, yang lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki yang sebesar 47,72%. Upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan   untuk mengetahui hubungan Jenis Kelamin, Kebiasaan Olah Raga dan Riwayat Sakit dengan status gizi pada lansia di Desa Kurungan Nyawa, Gedong Tataan Pesawaran Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan Cross Sectional Study. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Teknik non random sampling yaitu purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang terdaftar dalam posbindu lansia UPT Puskesmas Bernung di Desa Kurungan Nyawa Gedong Tataan Pesawaran dengan jumlah sampel sebesar 90 sampel. Uji statististik yang digunakan dalam penelitian ini ada chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang antara jenis kelamin dengan status gizi (p-value 0.042), terdapat hubungan antara kebiasaan olah raga dengan status gizi (p-value 0.014) dan terdapat hubungan antara riwayat sakit dengan status gizi (p-value 0.020). Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, kebiasaan olah raga dan riwayat sakit dengan status gizi lansia.
Hubungan Pemberian Makanan Pendamping Asi (MP-ASI) Dengan Status Gizi dan Tumbuh Kembang Balita Usia 6-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Menggala Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang Tahun 2024 Saputra, Hendri; Astuti, Dewi Woro; Nurhartanto, Adhi
Journal of Citizen Research and Development Vol 2, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jcrd.v2i1.4047

Abstract

Pemberian MP-ASI sangat mempengaruhi status gizi pada bayi. Pemberian MP-ASI meliputi cara pemberian menu seimbang untuk bayi khususnya usia 6-12 bulan, jika perilaku ibu dalam pemberian MP ASI, baik dari segi ketepatan waktu, jenis makanan, maupun jumlah makanan sangat baik, maka gizi pada bayi akan terpenuhi dengan maksimal. Tujuan dalam penelitian diketahui hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi dan tumbuh kembang balita usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Menggala Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang tahun 2024. Jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survey analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki balita usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Menggala Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang terhitung sejak bulan Januari-Mei 2024 yang berjumlah 212 orang, Sehingga didapatkan sampel sejumlah 69 responden. Untuk menghindari terjadinya droup out, maka peneliti menambahkan 10% dari jumlah populasi, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 90 responden. Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Berdasarkan hasil uji statistik, didapatkan p-value 0,003 dan 0,002 atau p-value nilai α (0,05) yang artinya terdapat Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Dengan Status Gizi Balita Dan Tumbuh Kembang Usia 6-12 bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Menggala Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang Tahun 2024. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu informasi kesehatan tentang pentingnya pemberian MP-ASI, sehingga para orang tua dapat memberikan MP-ASI dengan baik dan benar, sehingga status gizi anak balita dan tumbuh kembang anak balita menjadi baik juga, disarankan para orang tua selalu aktif dalam mengikuti pendidikan kesehatan agar lebih mendapatkan informasi tentang pentingnya menjga status gizi pada anak balita
Hubungan asupan protein hewani, IMT/U, dan waktu tidur dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMA Rahmawati, Manda Ayu; Puteri, Hidayatusy Syukrina; Astuti, Dewi Woro; Hervidea, Radella
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1360

Abstract

Background: Anemia is a common nutritional problem in adolescent girls, especially during periods of rapid growth. One of the main factors causing anemia is low intake of animal protein, which contains heme iron and plays a vital role in hemoglobin formation. Adolescent girls have higher iron requirements, putting them at higher risk of anemia if their diets are inadequate. Purpose: To determine the relationship between animal protein intake, BMI/Age, sleep time, and hemoglobin levels in high school adolescent girls. Method: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The subjects were 87 tenth- and eleventh-grade adolescent girls selected using a total sampling technique. Data on animal protein intake were collected using a semi-quantitative Fast Response Questionnaire (FFQ), and hemoglobin levels were measured using a digital hemoglobin meter. Data were analyzed using the Spearman Rank test with a significance level of 0.05. Results: The majority of respondents (91.9%) had insufficient animal protein intake. 30.2% of respondents had mild anemia, and 4.7% had moderate anemia. Statistical test results showed a significant relationship between animal protein intake and hemoglobin levels (p < 0.05). Conclusion: There is a significant relationship between animal protein intake and hemoglobin levels in adolescent girls. Suggestion: Education on balanced nutrition is important to increase awareness and improve eating habits in adolescents to prevent anemia.   Keywords: Adolescent Girls; Anemia; Animal Protein; Hemoglobin.   Pendahuluan: Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang umum terjadi pada remaja putri, terutama di masa pertumbuhan yang pesat. Salah satu faktor utama penyebab anemia adalah rendahnya asupan protein hewani, yang mengandung zat besi heme dan berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Remaja putri memiliki kebutuhan zat besi yang lebih tinggi, sehingga berisiko lebih besar mengalami anemia apabila pola makan tidak mencukupi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan protein hewani, IMT/U, waktu tidur dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMA. Metode: Penelitiian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 87 remaja putri kelas X dan XI yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data asupan protein hewani dikumpulkan melalui kuesioner semi kuantitatif FFQ, dan kadar hemoglobin diukur menggunakan alat digital hemoglobin meter. Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki asupan protein hewani dalam kategori kurang (91.9%). Sebanyak 30.2% responden mengalami anemia ringan, dan 4.7% mengalami anemia sedang. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara asupan protein hewani dengan kadar hemoglobin (p < 0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein hewani dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Saran: Pentingnya edukasi gizi seimbang untuk meningkatkan kesadaran dan pola makan remaja dalam mencegah anemia.   Kata Kunci: Anemia; Hemoglobin; Protein Hewani; Remaja Putri.
Edukasi Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Penerapan Pola Makan Gizi Seimbang Pada Balita Untuk Mengatasi Gizi Kurang di Dusun Sumber Jaya Desa Tanjung Rejo Kabupaten Pesawaran Astuti, Dewi Woro; Hervidea, Radella; Puteri, Hidayatusy Syukrina
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i1.534

Abstract

Gizi kurang pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dan mendesak di seluruh dunia antara lain Burundi, Yaman, Sudan Nigeria termasuk di Indonesia 31,6 %. Di Kabupaten Pesawaran, terdapat 14 balita dari 169 balita yang mengalami gizi kurang. Rendahnya pengetahuan dan sikap ibu berkontribusi terhadap masalah gizi ini, yang berdampak langsung pada status gizi balita. Pengetahuan ibu yang rendah tentang gizi seimbang pada balita menyebabkan pemberian makan yang salah dan berpengaruh terhadap status gizi balita. Melalui Pendampingan yang dilakukan kepada orang tua Balita bisa membantu untuk meningkatkan pengetahuan dan perhatian orang tua kepada balitanya. Kegiatan PKM ini bertujuan meningkatkan status gizi balita kurang gizi dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada balita serta meningkatkan motivasi ibu. Setelah kegiatan pengabdian ini dilakukan, diharapkan ibu memiliki motivasi kuat dalam memenuhi gizi balita yang masih kurang serta memperbaiki sikap dan tindakan ibu dalam memberikan gizi seimbang kepada balita. Kegitan ini dapat memberikan kontribusi positif dalam mengurangi masalah gizi kurang pada 14 balita di dusu Sumber Jaya Desa Tanjung Rejo.
Asi Eksklusif sebagai Determinan Stunting pada Balita Usia 13- 24 Bulan di Kelurahan Keteguhan Kecamatan Teluk Betung Timur Bandar Lampung Astuti, Dewi Woro; Hervidea, Radella; Erwin, Tubagus
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11078

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan, kecerdasan, lebih rentan penyakit, dan di masa depan dapat menurunnya produktifitas. Prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi yakni 27,67%. Studi pendahuluan di Kelurahan Keteguhan tahun 2022 tercatat 28,82% balita stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui determinan factor yang berhubungan dengan kejadian Stunting pada balita usia 13-24 bulan di Kelurahan Keteguhan, Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung Tahun 2021. Jenis penelitian observasional  analitik dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita usia 13-24 bulan sejumlah 318 dan sampel 195 balita. Analisis yang digunakan menggunakan SPSS versi 16.0 meliputi univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat menggunakan uji chi square, dan multivariat dengan regresi logistik ganda.Penelitian dilakukan pada bulan April 2021. Hasil penelitian diketahui distribusi frekuensi stunting sebanyak 29,7%, Ibu hamil KEK 30,8%, BBLR 17,4%, status ASI Eksklusif sebanyak 40%, Pendidikan orang tua tinggi 55,4%, dan pendapatan keluarga tinggi sebanyak 54,9%.  Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan status gizi ibu hamil (OR=4,276), BBLR (OR=3,962), ASI Ekslusif (OR=4,608), dan pendapatan keluarga (OR=3,306) dengan stunting. Namun tidak ada hubungan antara pendidikan orang tua dengan stunting (p value=0,145). Hasil analisis multivariat didapatkan determinan stunting terdiri dari Status Gizi Ibu Hamil, ASI Ekslusif dan Pendapatan keluarga. Adapun faktor yang paling dominan adalah ASI Esklusif (OR=4,192).   Rekomendasi penelitian ini adalah perlu revitalisasi peran petugas kesehatan khususnya  bidan di berbagai tingkatan untuk meningkatkan cakupan ASI Ekslusif dan status gizi (KEK) ibu hamil dalam penurunan prevalensi stunting. Kata Kunci : BBLR, ASI Eksklusif, KEK, Pendidikan, Pendapatan, Stunting  ABSTRACT The incidence of stunting is a nutritional problem that has an impact on growth and development, intelligence, is more susceptible to disease, and in the future can decrease productivity. The prevalence of stunting in Indonesia is still high, namely 27.67%. A preliminary study in Kelurahan Keteguhanin 2022 recorded that 13.84% of children under five were stunted. The research objective was to determine factors the incidence of stunting in toddlers 13-24 months in Kelurahan Keteguhan, Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung in 2021.This type of research is analytic observational with a cross sectional design. The population in this study were all aged 13-24 months, namely 318 and a sample of 195 toddlers. The analysis used using SPSS version 16.0 includes univariate with frequency distribution, bivariate using chi square test, and multivariate with multiple logistic regression. The study was conducted in April 2021. The results of stunting was 29.7%, pregnant women with KEK 30.8%, LBW 17.4%, exclusive breastfeeding status was 40%, high parental education was 55.4%, and high parental income was 54, 9%. The results of the bivariate analysis showed that there was a correlation between the nutritional status of pregnant women (OR = 4.276), LBW (OR = 3,962), exclusive breastfeeding (OR = 4.608), and parental income (OR = 3.306) with stunting. However, there is no correlation between parental education and stunting (p value = 0.145). The results of the multivariate analysis showed the determinants of stunting consisted of the nutritional status of pregnant women, exclusive breastfeeding and parents' income. The most dominant factor is exclusive breastfeeding (OR = 4.192). The recommendation of this study isneed to revitalize the role of health workers, especially midwives at various levels, to increase the coverage of exclusive breastfeeding and nutritional status (KEK) of pregnant women in reducing the prevalence of stunting, besides that there is a need for a greater role in cross-sectoral involvement in preventing the incidence of stunting. Keywords: LBW, Exclusive Breastfeeding, KEK, Education, Income, Stunting
The Relationship Between Iron-Rich Food Consumption and Iron Supplement Adherence with the Incidence of Anemia among Adolescent Khoirunnisa, Nisa; Nurhartanto, Adhi; Astuti, Dewi Woro
Genius Journal Vol. 7 No. 1 (2026): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v7i1.785

Abstract

Introduction: Anemia remains a significant public health problem among adolescents, particularly female students, and is commonly associated with inadequate iron intake and low hemoglobin levels, which can negatively affect physical performance and cognitive function. Patterns of iron-rich food consumption and adherence to iron supplement intake are considered key factors influencing the occurrence of anemia among students, yet these behaviors are often suboptimal and require further investigation. Objective: Anemia is the result of examining hemoglobin (Hb) levels in the blood that are lower than normal and this condition can be caused by a lower number of red blood cells. The purpose of this study was to determine the relationship between food consumption patterns of iron sources and compliance with the consumption of blood supplement tablets with the incidence of anemia in grade XI students at MAN 1 Lampung Utara. Method: This type of research is quantitative, employing an analytic research design, specifically a cross-sectional design. The population in this study were all grade XI students at MAN 1 Lampung Utara with a total of 149 students. The sampling technique used a proportionate stratified random sampling method with a total sample of 65 respondents. Result: The results of this study are the relationship between the pattern of consumption of iron-source foods with anemia characterized by the results of a p-value of 0.001 and the relationship between compliance with consumption of blood supplement tablets with anemia characterized by the results of a p-value of 0.022. Conclusion: It is hoped that female students can change the frequency of food consumption patterns, especially those containing iron, and routinely consume blood supplement tablets according to their recommendations in order to fulfill and increase iron reserve storage in the body in order to prevent anemia.
Penerapan dietary approaches to stop hypertension (DASH) dan aktivitas fisik sebagai strategi pencegahan hipertensi dan stroke pada lansia Astuti, Dewi Woro; Puteri, Hidayatusy Syukrina; Hervidea, Radella; Jayadi, Ajib; Saleh, Asep Jalaludin
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2480

Abstract

Background: Hypertension is a major health problem among the elderly and a key risk factor for stroke and cardiovascular disease. Its prevalence increases with age, with high sodium intake, low fiber diet, and lack of physical activity as modifiable risk factors. Educational interventions through Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet and regular physical activity have been proven effective in reducing blood pressure, improving healthy behaviors, and enhancing quality of life. Elderly populations in rural areas face limited access to health information, making community-based approaches essential for improving knowledge, attitudes, and behaviors in preventing hypertension and stroke. Purpose: Improving the knowledge, attitudes, and behavior of the elderly in implementing a healthy lifestyle through education on dietary approaches to stop hypertension (DASH) and physical activity. Method: The study was conducted on November 2, 2025, at Tanjung Rejo Village Hall, Pesawaran District, Lampung, involving 60 elderly participants aged ≥60 years selected using purposive sampling. A quasi-experimental pretest–posttest one group design was applied, with interventions including health education, Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet menu demonstrations, simple physical activities, and two weeks of mentoring. Data were collected using questionnaires to assess knowledge and behavior, while blood pressure was measured with a digital sphygmomanometer. Analysis was performed using descriptive and inferential statistics. Results: Significant improvements were observed in knowledge, healthy eating behavior, and physical activity after the intervention. Knowledge increased from 40% (fair) at pre-test to 70% (good) at post-test, healthy eating behavior from 45% (fair) to 60% (good), and physical activity from 70% (inactive) to 65% (active). Mean systolic blood pressure decreased from 152 ± 12 mmHg to 138 ± 10 mmHg, and diastolic from 94 ± 8 mmHg to 86 ± 6 mmHg, with paired t-test results showing significant differences (p < 0.05). Conclusion: DASH diet education and physical activity proved effective in improving knowledge, healthy behaviors, and reducing blood pressure among the elderly. This intervention can serve as a relevant preventive strategy against hypertension and stroke, focusing on lifestyle modification through healthy diet and regular physical activity. The significant reduction in blood pressure highlights meaningful clinical impact, supporting the recommendation of community-based educational programs to enhance elderly quality of life. Suggestion: Sustainable DASH diet and physical activity programs should be integrated into elderly health services at the community level. Strengthening the role of families and health cadres, supported by culturally adapted modules and innovative educational media, is essential. Future research should employ more comprehensive designs, larger samples, and longer evaluation periods to provide stronger scientific evidence, while community-based programs are recommended to maintain healthy lifestyle changes among the elderly. Keywords: DASH; Diet; Elderly; Hypertension and stroke; Physical activity; Prevention Pendahuluan: Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada lansia yang menjadi faktor risiko penting terhadap stroke dan penyakit kardiovaskular. Prevalensi hipertensi terus meningkat seiring bertambahnya usia, dengan pola makan tinggi natrium dan rendah serat serta kurangnya aktivitas fisik sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Intervensi berbasis edukasi melalui pola makan Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) dan aktivitas fisik teratur terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah, memperbaiki perilaku hidup sehat, serta meningkatkan kualitas hidup lansia. Lansia di pedesaan menghadapi keterbatasan akses informasi kesehatan sehingga pendekatan berbasis komunitas menjadi strategi penting untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam pencegahan hipertensi dan stroke. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku lansia dalam menerapkan gaya hidup sehat melalui edukasi dietary approaches to stop hypertension (DASH) dan aktivitas fisik. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 2 November 2025 di Balai Desa Tanjung Rejo Kabupaten Pesawaran, Lampung dengan melibatkan 60 lansia berusia ≥60 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Desain penelitian menggunakan quasi-experimental pretest–posttest one group design, dengan intervensi berupa penyuluhan kesehatan, demonstrasi menu diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), praktik aktivitas fisik sederhana, serta pendampingan selama dua minggu. Instrumen berupa kuesioner digunakan untuk mengukur pengetahuan dan perilaku, sedangkan tekanan darah diukur dengan tensimeter digital, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial uji paired t-test. Hasil: Adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan, perilaku pola makan sehat, dan aktivitas fisik lansia setelah intervensi edukasi diet DASH dan aktivitas fisik sederhana. Mayoritas tingkat pengetahuan meningkat dari kategori cukup (40%) pada pre-test menjadi baik (70%) pada post-test, perilaku pola makan sehat dari cukup (45%) menjadi baik (60%), serta aktivitas fisik dari kurang aktif (70%) menjadi aktif (65%). Selain itu, rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 152 ± 12 mmHg menjadi 138 ± 10 mmHg dan diastolik dari 94 ± 8 mmHg menjadi 86 ± 6 mmHg, dengan hasil uji paired t-test menunjukkan perbedaan signifikan (p-value<0.05). Simpulan: Edukasi diet DASH dan aktivitas fisik terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku hidup sehat, serta menurunkan tekanan darah pada lansia. Intervensi ini dapat dijadikan strategi preventif yang relevan dalam pencegahan hipertensi dan stroke, dengan fokus pada perubahan gaya hidup melalui penerapan pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur. Penurunan tekanan darah yang signifikan menunjukkan adanya dampak klinis yang bermakna, sehingga program edukasi berbasis komunitas direkomendasikan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup lansia. Saran: Perlunya program edukasi diet DASH dan aktivitas fisik yang berkelanjutan melalui integrasi dengan layanan kesehatan lansia di masyarakat. Peran keluarga dan kader kesehatan perlu diperkuat, dengan dukungan modul berbasis budaya lokal dan media edukasi inovatif. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain lebih komprehensif, sampel lebih besar, dan periode evaluasi lebih panjang agar bukti ilmiah lebih kuat, sementara program berbasis komunitas direkomendasikan untuk mempertahankan gaya hidup sehat lansia.