Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

GAMBARAN POLA MAKAN SEBAGAI PENYEBAB KEJADIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (DIABETES MELLITUS, OBESITAS, DAN HIPERTENSI) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CEBONGAN, KOTA SALATIGA Kristiawan P. A. Nugroho; R. Rr Maria Dyah Kurniasari; Tabita Noviani
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.146 KB) | DOI: 10.34035/jk.v10i1.324

Abstract

Gaya hidup manusia akibat adanya urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi menjadi salah satu penyebab terjadinya peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM). Secara umum PTM seperti obesitas, Diabetes Mellitus (DM) dan hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian secara global. Berdasarkan data kegiatan Posyandu di Puskesmas Cebongan, Kota Salatiga pada bulan Maret-April 2018, terdapat sebanyak 75 responden lansia dengan kasus non komplikasi (hipertensi dan DM), serta kasus komplikasi (hipertensi dan DM, hipertensi dan obesitas, DM dan obesitas, serta hipertensi, DM, dan obesitas). Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran penyebab kejadian PTM dari sudut pandang gaya hidup, terutama pola makan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan instrumen pengambilan data berupa Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan Food Recall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kecenderungan konsumsi karbohidrat yang tinggi mencapai 13,81 kali per minggu berpeluang menimbulkan penyakit hipertensi. Serta tingkat asupan gizi defisit berat pada asupan energi dan karbohidrat ada kaitannya dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol. Kejadian hipertensi dan DM dipengaruhi oleh pola makan, sedangkan obesitas dikarenakan proses fisiologis lansia yaitu kehilangan massa otot sehingga menyebabkan berkurangnya pemakaian energi dan menumpuknya jaringan lemak. Human lifestyle due to urbanization, modernization, and globalization to be one cause of the increase of Non-communicable diseases (PTM). In general, PTM such as obesity, Diabetes Mellitus (DM) and hypertension become one of the main causes of death globally. Based on data of Posyandu activity at Puskesmas Cebongan, Salatiga City, March-April 2018, there were 75 elderly respondents with non complicated cases (hypertension and DM), and complication cases (hypertension and DM, hypertension and obesity, DM and obesity, and hypertension , DM, and obesity). This study aims to determine the description of the causes of the incidence of PTM from the point of view of lifestyle, especially diet. The method used is descriptive quantitative, with data collection instrument in the form of Food Frequency Questionnaire (FFQ) and Food Recall. The results showed that, the tendency of high carbohydrate consumption reached 13.81 times per week potentially cause hypertension disease. As well as the level 16 Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2019 of intake of heavy nutritional deÞ cit in energy and carbohydrate intake is related to uncontrolled bloodsugar levels. The incidence of hypertension and DM is inß uenced by diet, while obesity is due to the elderly physiological process of losing muscle mass resulting in reduced energy consumption and fat tissue accumulation.
Non-comorbid Respiratory Factor and Work of Breathing in Pediatric COVID-19 Patient: How is Their Synergistic Correlation with the Level of Care? Defi Efendi; Maria Dyah Kurniasari; Mega Hasanul Huda; Raudha Ilmi Farid; Yohanes Andy Rias; Yogi Prawira; Nina Dwi Putri; Ayuni Rizka Utami; Titik Ambar Asmarini; Pande Lilik Lestari; Pricilia Mais; Abram Babakal
Nurse Media Journal of Nursing Vol 12, No 3 (2022): (December 2022)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nmjn.v12i3.45340

Abstract

Background: Work of breathing (WOB) and non-comorbidities factors in the respiratory system are the two probable findings in pediatric COVID-19 patients. However, the association of those factors with level of care was not well reported.Purpose: This study aimed to identify the relation between potential predictors including comorbidity, low nutritional fulfillment, infectious disease, shock, cough, O2 saturation reduction, abnormal blood gas analysis and sore throat with the level of care among pediatric COVID-19 patients. We also analyzed the synergistic correlation of non-comorbidities factors in the respiratory system and work of breathing to predict level of care in pediatric COVID-19 patients.Methods: A cross-sectional study was conducted in the six referral hospitals from July to September 2020 in four provinces in Indonesia. An observation checklist was used to collect data from the medical records of pediatric patients with COVID-19, including medical diagnosis, demographic, and clinical manifestation. This study included 423 participants aged from 0 to 18. The multivariate logistic regression was performed to test the adjusted odds ratios (AORs) with the 95% confidence intervals (CIs) of the association between WOB, non-comorbid respiratory, and level of care. Moreover, dummy variables (2x2) were made to analyze synergistic correlation of non-comorbid respiratory disease and WOB. The AOR with the 95% CIs was applied in the association between the complication of non-comorbid respiratory diseases and high work of breathing with level of care among pediatric patients with COVID-19.Results: Results showed that age, presence of comorbidity, nutritional fulfillment, infectious disease, shock, work of breathing, O2 saturation reduction, abnormal blood gas analysis, sore throat, and convulsive meningeal consciousness were significantly associated with the level of care (p<0.05). Pediatric patients with non-comorbid respiratory and increased work of breathing had a 15.59 times higher risk of requiring PICU care level (p<0.01). Meanwhile, pediatric patients who experienced both non-comorbid respiratory and increased work of breathing had a 5.76 times risk of requiring an intermediate level of care (p<0.05), and 9.32 times higher risk of requiring a PICU level of care (p<.05).Conclusion: It was found that both non-comorbid respiratory and increased WOB had a significant relationship with the level of care for pediatric patients with COVID-19. Nurse should take into account those clinical findings to increase the awareness in monitoring clinical deterioration in pediatric COVID-19 patients.
Hubungan Antara Aktivitas Fisik dengan Kekambuhan ISPA Pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Sinsyeba Tomatala; Angkit Kinasih; Maria Dyah Kurniasari; Fiane De Fretes
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 6 No 1 (2019): JANUARY 2019
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/jkry.v6i1.289

Abstract

Tumbuh dan kembang anak mencakup 2 peristiwa yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Sistem kekebalan tubuh yang dipengaruhi oleh aktivitas fisik digunakan untuk melawan penyakit infeksius. Salah satu contoh penyakit infeksius adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pada tahun 2012, di Jawa Tengah angka kematian bayi, 80% dan anak usia 6- 12 tahun 23% disebabkan oleh ISPA pneumonia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah yang berada di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah sebanyak 62 orang yang memiliki riwayat pernah menderita ISPA di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Data primer diambil dengan menggunakan instrumen kuesioner PAQ-C untuk mengukur aktivitas fisik. Berdasarkan hasil uji korelasi dengan menggunakan uji Spearman, dapat diketahui adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan ISPA dimana nilai p-value 0,107 hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikasinya 0,01 yang berarti ada hubungan antara aktivitas fisik dengan ISPA tetapi hubungannya lemah. Selain itu, didapatkan juga nilai koefisien korelasi 0,206, nilai tersebut adalah positif sehingga menunjukan bahwa, semakin tinggi responden dengan riwayat ISPA melakukan aktivitas fisik, maka semakin tinggi resiko responden mengalami kekambuhan ISPA.
Deteksi Dini Penyakit Cardiometabolic Pada Usia Dewasa Muda di Indonesia maria dyah kurniasari
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 5 No. 1 (2023): Juni : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/pkmsisthana.v5i1.253

Abstract

Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular (CVD), obesitas, dan diabetes tipe 2 (T2D) meningkat secara dramatis di kalangan orang dewasa muda. Asupan kalori yang meningkat sebagian besar berkontribusi terhadap peningkatan tingkat obesitas di antara populasi umum, yang juga berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan tingkat diabetes. Massa jaringan adiposa yang lebih tinggi telah dikaitkan dengan peningkatan peradangan dan resistensi insulin pada penelitian sebelumnya, yang pada akhirnya dapat menyebabkan T2D dan CVD. Pengabdian masyarakat ini dilakukan di kalangan mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga pada tanggal 23 Agustus 2022. Hasil Peserta pengabdian masyarakat ini berusia antara 18 hingga 22 tahun. Sejumlah mahasiswa dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kardiometabolik seperti seperti peningkatan tekanan darah, kelebihan berat badan, dan peningkatan kadar gula darah kapiler. Pemeriksaan kesehatan secara dini pada dewasa muda serta promosi kesehatan sangat dianjurkan.
Gambaran Manajemen Nyeri Penderita Hiperuricemia Hartono, Budi; Likumahua, Khara Christy Margaretha; Nusawakan, Arwyn Weynand; Kurniasari, Maria Dyah
Journal of Language and Health Vol 5 No 2 (2024): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v5i2.4032

Abstract

Hiperurisemia merupakan gangguan metabolisme yang ditandai oleh peningkatan kadar asam urat dalam darah, yang dapat mengakibatkan nyeri berkepanjangan, gangguan tidur, serta penurunan fungsi fisik dan kualitas hidup. Manajemen nyeri pada penderita hiperurisemia sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya manajemen nyeri yang dilakukan oleh penderita hiperurisemia di Kampung Tegirolo, Kabupaten Sorong Selatan, Indonesia, dan dampaknya terhadap penurunan skala nyeri. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 49 sampel yang ditentukan dengan metode purposive sampling yaitu dengan mempertimbangkan kriteria inkulisi dalam penelitian seperti partisipan dengan asam urat tinggi, adanya keluhan nyeri, dan usia 19-59 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner APS-POQ-R dan dianalisis secara deskriptif. Instrumen penilaian APS-POQ-R yang digunakan adalah versi Indonesia yang telah diuji kesahihan dengan nilai 0,8-1 angka V ge; 0,5 sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata nyeri terendah adalah 4,33 (SD=1,38) dan tertinggi 8,29 (SD=1,08). Seluruh responden menggunakan manajemen nyeri, baik farmakologi maupun non-farmakologi, dengan efektivitas tinggi (rata-rata keefektifan 70,00, SD=12,42). Responden melaporkan penurunan nyeri yang signifikan melalui kedua metode ini. Kesimpulan: Peran aktif tenaga kesehatan dalam menggabungkan metode farmakologi dan non-farmakologi diperlukan untuk mencapai hasil optimal, mengingat banyak responden tidak mendapatkan anjuran non-farmakologi dari tenaga medis.
THE SYNERGISTIC EFFECT OF HIGH BMI AND LOW PHYSICAL ACTIVITY ON GOUT ARTHRITIS RISK: A CASE -CONTROL STUDY IN WEST SUMATERA INDONESIA Widhiastuti, Erma; Huda, Mega Hasanul; Susanto, Herry; Kurniasari, Maria Dyah; Putra, Hasriza Eka
Menara Medika Vol 7, No 2 (2025): VOL 7 NO 2 MARET 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v7i2.6555

Abstract

Background: A body mass index (BMI) of 24.9 kg/m² is a well-established risk factor for gout arthritis. However, the combined effect of obesity and decreased physical activity on the prevalence of gout arthritis in West Sumatra, Indonesia, remains unclear. This study aimed to investigate the relationship between obesity and its synergistic effect with decreased physical activity in increasing the risk of gout arthritis. Methods: A case-control study was conducted with 105 participants recruited from a health center in West Sumatra, Indonesia. Participants were divided into two groups: healthy controls (n=57) and gout arthritis patients (n=48). Physical activity levels were assessed using the modified Physical Activity Guidelines from the Advisory Committee for Americans and quantified as metabolic equivalent of task (MET)-hours per week over a 12-month period.  BMI was measured by weight in kilograms divided by the square of their height in meters. Logistic regression analysis was used to determine the associations. Results: Participants with a BMI ≥ 24.9 kg/m² were 4.78 times more likely to develop gout arthritis compared to those with a BMI 24.9 kg/m² (Adjusted Odds Ratio [AOR] = 4.78; 95% Confidence Interval [CI] = 1.73–13.23; p 0.01). Additionally, those engaging in lower physical activity ( 7.5 MET-hr/week) were 3.35 times more likely to develop gout arthritis compared to those with higher levels (AOR = 3.35; 95% CI = 1.06–10.53; p 0.05). Conclusions: In West Sumatra, Indonesia, obesity (BMI 24.9 kg/m²) and its synergistic interaction with decreased physical activity significantly contribute to the increased risk of gout arthritis. Public health interventions addressing both weight management and promotion of physical activity are essential for reducing the disease burden.
Pengabdian Masyarakat Diet Isi Piring Penderita Diabetes Mellitus dengan Prinsip 3J di Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga Sulistyaningsih, Sri Endang; Kurniasari, Maria Dyah; Maunita, Risda Dwi; Rondonuwu, Phylia Ashley Jessa; Temtop, Tavianus R; Tepmul, Yanuel; Uropmabin, Fitalia K; Talmomkesan, Emo; Deyal , Sefnat; Wasini , Asai
Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jms.v5i22024p140-150

Abstract

Pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan lansia penderita diabetes mellitus tentang pengelolaan diet yang tepat melalui prinsip 3J (Tepat Jadwal, Tepat Jenis, Tepat Jumlah). Tujuan dari kegiatan ini adalah mengatasi masalah pola makan yang tidak seimbang dan kurangnya pemahaman tentang diet diabetes. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan di Puskesmas Sidorejo Lor, Salatiga, yang dihadiri oleh 34 lansia. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa 52,94% peserta memiliki pengetahuan baik tentang diet diabetes, sedangkan 52,94% peserta memiliki perilaku cukup dalam pengendalian makanan. Sebanyak 55% peserta telah melakukan olahraga secara rutin, meskipun masih ada yang kurang disiplin. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu lansia dalam mengontrol kadar glukosa darah dan mendorong gaya hidup sehat secara berkelanjutan.
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN OBESITAS DI PUSKESMAS TEGALREJO, KOTA SALATIGA Jeckzen Norisan Turege; Angkit Kinasih; Maria Dyah Kurniasari
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 10, No 1 (2019): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v10i1.530

Abstract

AbstrakObesitas dapat dialami oleh semua golongan usia, maupun jenis kelamin. Kemajuan teknologi memberikan dampat positif dan negatif. Dampak positifnya banyak kegiatan menjadi lebih praktis dan cepat, sedangkan dampak negatifnya manusia menjadi semakin malas untuk bergerak. Berkurangnya aktivitas fisik mangakibatkan penyimpanan energi yang tersimpan dalam jaringan lemak, yang menyebabkan kegemukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan obesitas di Puskesmas Tegalrejo Kota Salatiga Jawa Tengah. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif. Responden adalah pasien aktif di Posyandu Puskesmas Tegalrejo. Jumlah responden sebanyak 59 orang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Berdasarkan uji korelasi Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap nilai aktivitas fisik dengan analisis uji Pearson diperoleh p-value 0,000 0,05 dan nilai koefisien korelasi r pearson -0,505 yang ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan aktivitas fisik pada pasien aktif di Posyandu Puskesmas Tegalrejo, Kota Salatiga. Sedangkan nilai koefisien korelasi r pearson berkorelasi sedang, dan ditunjukkan dengan tanda negatif (-) yang berarti hubungan yang terjadi bersifat berlawanan arah. Sehingga semakin rendah aktifitas fisik maka semakin tinggi nilai IMT atau sebaliknya.Kata Kunci: aktivitas fisik, obesitas. AbstractObesity can be suffered by all age groups, as well as gender. Technological advances provide positive and negative effects. The positive impact of many activities becomes more practical and fast, while the negative impact of humans becomes increasingly lazy to move. Reduced physical activity results in the storage of energy stored in fat tissue, which causes obesity. The purpose of this study was to determine and analyze the relationship between physical activity and obesity at the Tegalrejo Health Center in Salatiga City, Central Java. This type of research is quantitative descriptive research. Respondents were active patients at the Tegalrejo Health Center Posyandu. The number of respondents was 59 people. The data obtained in this study are primary data and secondary data. Based on the correlation test of Body Mass Index (BMI) to the value of physical activity with Pearson test analysis obtained p-value of 0.000 0.05 and Pearson correlation coefficient value of -0.505 which indicates that there is a significant relationship between Body Mass Index (BMI) and Physical activity in active patients at the Tegalrejo Health Center Posyandu, Salatiga City. While the value of the Pearson correlation coefficient is moderately correlated, and is indicated by a negative sign (-) which means that the relationship is in the opposite direction. So the lower the physical activity, the higher the BMI value or vice versa.Keywords: obesity, physical activity.
PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF, SUSU FORMULA DAN KOMBINASI KEDUANYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 6-11 BULAN DI PUSKESMAS CEBONGAN SALATIGA Rosita Rahel Enamberea; Maria Dyah Kurniasari; Dary Dary; Kukuh Pambuka Putra
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 11, No 1 (2020): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v11i1.723

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang wajib diberikan kepada bayi. Pengganti ASI atau susu formula hanya diberikan kepada bayi apabila ibu mengalami penyakit infeksi seperti HIV. Pemberian susu formula harus dengan anjuran tenaga kesehatan karena penyajian susu formula yang salah akan menyebabkan anak kurang gizi atau obesitas. Dari studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Cebongan, masih ditemukan anak yang mengalami kurang gizi yaitu sebanyak 53 anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemberian ASI, susu formula atau kombinasi keduanya terhadap tumbuh kembang anak usia 6-11 bulan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 118 responden usia 6-11 bulan. Instrumen penelitian menggunakan Denver Development Screening Test (DDST), timbangan, dan meteran. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas anak usia 6-11 bulan yang mengonsumsi ASI eksklusif memiliki pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal, hanya ada 1 anak yang mengonsumsi ASI memiliki pertumbuhan obesitas. Hasil penelitian anak yang diberi susu formula dan kombinasi keduanya menunjukkan bahwa semua anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Kesimpulan, tidak terdapat perbedaan pertumbuhan dan perkembangan anak yang diberikan asi eksklusif, susu formula dan kombinasi keduanya.
KOLABORASI PERAWAT DAN AHLI GIZI DI POSYANDU BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JETAK, KABUPATEN SEMARANG Maria Dyah Kurniasari; Kristiawan P. A Nugroho; Yuni Sofia Ranty
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 10, No 1 (2019): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v10i1.480

Abstract

Tumbuh dan kembang balita pada dasarnya merupakan dua peristiwa yang berlainan namun keduanya saling berkaitan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita adalah status gizi, pola tidur, kesehatan gigi, perkembangan motorik, peran keluarga dalam menerapkan disiplin pada balita, serta  dukungan perawat dan ahli gizi dalam memberikan pelayanan kesehatan gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk kolaborasi antara perawat dengan ahli gizi sebagai upaya dukungan perawat guna peningkatan kecukupan status gizi pada balita di Posyandu Sedap Malam 4 dan Posyandu Sedap Malam 5 di Wilayah kerja Puskesmas Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam (in depth interview). Hasil penelitian menyatakan bahwa adanya dukungan perawat dalam upaya peningkatan status gizi balita melalui kolaborasi perawat dan ahli gizi untuk meningkatkan layanan kesehatan status gizi balita. Perawat ikut membantu ahli gizi di lapangan dalam hal pemberian pendidikan kesehatan dan pemeriksaan fisik pada balita. Perawat tetap memberikan asuhan keperawatan sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perawat turut memberikan dukungan kepada tenaga gizi dalam upaya peningkatan status gizi balita setiap bulan di Posyandu yang berada di wilayah Kerja Puskesmas JetakKata Kunci : dukungan, perawat, ahli gizi, status gizi balita, posyandu