Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

STUDI KARAKTERISTIK DASPAL DIBANDINGKAN DENGAN ASPAL PENETRATIONGRADE 60 Muhammad Fachri Nasution; Ary Setyawan; Agus Sumarsono
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.123 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i4.37222

Abstract

Daspal adalah campuran getah damar, serbuk bata, dan minyak goreng curah kualitas rendah, memiliki daya lekat, dan bersifat viscoleastis. Daspal dibuat dengan maksud digunakan sebagai bahan pengikat campuran perkerasan jalan yang dapat diperbaharui.Penelitian ini adalah experimental murni dengan empat variasi daspal A, B, C, dan D yang divariasikan perbandingan komposisinya sehingga didapatkan daspal penetration grade 60, kemudian hasil analisis dibandingkan dengan aspal penetration grade 60.Hasil analisis uji tekan 206.70 kg/cm2, modulus elastisitas 254.22 Mpa. Komposisi daspal penetration grade 60 dengan berat getah damar, serbuk bata, dan minyak goreng curah: 300 gr, 300 gr, dan 145 gr (A1); 400 gr, 200 gr, dan 150 gr (B2); 450 gr, 150 gr, dan 170 gr (C6); 600 gr, 0 gr, dan 225 gr (D4). Nilai penetrasi berurutan: 69 dmm, 79 dmm, 62 dmm, dan 66 dmm; titik lembek: 70,33 oC, 48,67oC, 59,67oC, 83oC; daktilitas: 7,67 cm, 9,67 cm, 20,33 cm, dan 23 cm; titik nyala: 238 °C, 233 °C, dan 251 °C, dan 255 °C; berat jenis: 1.553 gr/cm3, 1.514 gr/cm3, 1.280 gr/cm3, dan 1.252 gr/cm3; daya lekat semuanya: 99%; kelarutan dalam Trichloethylene: 44,192%, 44,094%, 48,620%, 55,891%.
STUDI GELOMBANG KEJUT PADA SIMPANG BERSINYAL DENGAN MENGGUNAKAN EMP ATAS DASAR ANALISIS HEADWAY (Studi Kasus Pada Simpang Bersinyal Jalan Raya Wonogiri-Sukoharjo – Jalan Gedongan – Jalan Ciu Karangwuni) Burhan Ghifari YS; Agus Sumarsono; Amirotul MH Mahmudah
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.432 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i1.36531

Abstract

Simpang bersinyal Jalan Raya Wonogiri-Sukoharj – Jalan Ciu Karangwuni – Jalan Gedongan merupakan salah satu simpang bersinyal 3 fase yang ada di Kabupaten Sukoharjo yang sering mengalami kemacetan pada jam sibuk, khususnya pada pendekat simpang Jalan Raya Wonogiri-Sukoharjo Selatan. Untuk itu dilakukan studi gelombang kejut di pendekat simpang Jalan Raya Wonogiri-Sukoharjo Selatan menggunakan nilai EMP dengan dasar analisis headway. Penelitian dilakukan pada hari Kamis, 18 Oktober 2018 pada jam puncak pagi jam 05.30-08.00 WIB. Analisis Headway  menghasilkan nilai EMP MC= 0,45 dan HV= 1,29 yang selanjutnya nilai tersebut digunakan untuk merubah jumlah kendaraan menjadi satuan mobil penumpang (smp).  Langkah selanjutnya adalah mencari hubungan matematis antara arus, kecepatan dan kepadatan menggunakan model greenshield, yang menghasilkan kecepatan arus bebas (Sff), kepadatan saat macet (Dj), dan Jumlah kendaraan maksimal (Vm). Hasil-hasil tersebut digunakan untuk menghitung nilai gelombang kejut dengan nilai tertinggi yang terjadi pada pendekat simpang Jl. Raya Wonogiri-Sukoharjo Selatan Lajur Luar dengan nilai ωab= -1,42  km/jam, ωcb= -13,75 km/jam, ωac= 12,15 km/jam. Nilai gelombang kejut tersebut digunakan untuk menghitung waktu penormalan dan panjang antrian pada masing-masing pendekat simpang.
PEMILIHAN BEBERAPA CAMPURAN LAPIS TIPIS ASPAL PANAS UNTUK APLIKASI DI LAPANGAN. Dicky Faisal; Ary Setyawan; Agus Sumarsono
Matriks Teknik Sipil Vol 6, No 3 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.513 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v6i3.36547

Abstract

Dalam penelitian-penelitian Thin Surfacing Hot Mix Asphalt yang telah diakukan sebelumnya telah digunakan beberapa campuran. Campuran yang dibandingkan adalah Thin Surfacing Hot Mix Asphalt dengan campuran  Crumb Rubbrer, Retona Blend E55, Starbit E-55, Ethylene Vinyl Acetate dan Aspal pen 60/70. Setiap campuran memiliki karakterisitik yang berbeda satu sama lain tergantung campuran yang digunakan. Kemudian muncul pertanyaan jenis campuran manakah yang terbaik dari sisi nilai Marshall Quotient untuk diaplikasikan di lapangan? Tujuan penelitian ini adalah membandingkan hasil penelitian Thin Surfacing Hot Mix Asphalt yang terdahulu untuk diseleksi mana yang terbaik yang kemudian akan di aplikasikan di lapangan dan menentukan jumlah gilasan optimum untuk menentukan nilai volumetrik optimum yang kemudian akan diaplikasikan di lapangan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Perbandingan dan Eksperimental. Eksperimental dilaksanakan di Laboratorium Jalan Raya Universitas Sebelas Maret Surakarta dan di desa Madegondo, kecamatan Grogol, kabupaten Sukoharjo.  Adapun benda uji yang dibuat di lapangan adalah berukuran 1m x 3m dengan tebal sekitar 3cm. Variasi gilasan yang dilakukan adalah sebesar 10, gilasan, 15 gilasan dan 20 gilasan.Hasil dari analisis perbandingan campuran menunjukkan campuran Starbit e-55 mempunyai nilai stabilitas terbaik dan digunakan untuk aplikasi di lapangan. Sedangkan dengan jumlah gilasan yang diperbanyak menghasilkan nilai volumetric yang semakin baik namun memiliki nilai yang asimptotik.
PERBANDINGAN NILAI MARSHALL DASPAL (DAMAR ASPAL) DI LABORATORIUM DENGAN HASIL CORING DI LAPANGAN SERTA ANALISIS SKID RESISTANCE Satria Lima Santara; Ary Setyawan; Agus Sumarsono
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 4 (2019): DESEMBER
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.913 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i4.38485

Abstract

Kebutuhan akan aspal konvensional yang terus meningkat membutuhkan alternatif penggunaan bahan lain sebagai pengganti yang disebut bioaspal. Salah satu bahan yang sedang dikembangkan saat ini adalah daspal (damar aspal). Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan benda uji daspal yang dibuat di laboratorium dengan benda uji hasil coring dari lapangan dengan variasi pemadatan menggunakan pengujian Marshall serta skid resistance. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental di laboratorium dan lapangan. Adapun variasi pemadatan lapangan yang dilakukan yaitu 6 kali, 10 kali, dan 14 kali. Sebelum dilakukan proses coring, pengujian skid resistance dilakukan dengan alat rolling straightedge di lapangan. Coring pada setiap variasi pemadatan dilakukan guna mengambil benda uji untuk pengujian Marshall lapangan. Komposisi penyusun daspal adalah damar serbuk (350 gr), damar bongkahan (100 gr), minyak goreng (205 gr), fly ash (150 gr), dan lateks (4 %). Analisis hasil pengujian Marshall benda uji laboratorium didapatkan nilai stabilitas 1118,519 kg, flow 4,65 mm dan MQ 241,102 kg/mm. Nilai skid resistance 6 kali pemadatan 9,83 mm/m, 10 kali pemadatan 8,83 mm/m, dan 14 kali pemadatan 7,67 mm/m. Nilai stabilitas, flow, dan MQ benda uji yang dibuat di laboratorium lebih besar daripada stabilitas, flow dan MQ benda uji hasil coring dari lapangan dengan semua variasi pemadatan. Semakin besar nilai skid resistance mengindikasikan tekstur permukaan semakin rata.
Karakteristik Tar Hasil Destilasi Tempurung Kelapa Dan Ditambah Lem Fox Ditinjau Dari Spesifikasi Aspal Minyak Produk Pertamina Djoko Sarwono; Agus Sumarsono; Adi Prastya
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.613 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i3.37281

Abstract

Tar adalah bahan yang berasal dari pembuatan kokas atau asap bahan bakar padat yang sering dianggap limbah, diantaranya tar batubara dan tar cangkang kelapa sawit. Proses menghasilkan tar bervariasi yaitu tar yang masih mengandung asap cair dan tar yang berbentuk cairan mengental dan lengket. Tar memiliki nilai penetrasi tinggi, nilai titik lembek rendah, mudah terpengaruh pada suhu sekitar, dan nilai daktilitas pendek. Sehingga perlu bahan campuran agar tar memperoleh hasil yang baik sebagai bahan pengikat material jalan. Bahan campuran tar adalah lem fox untuk memperbaiki workability setiap kekurangan dari pengujian. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah tar hasil destilasi tempurung kelapa bisa sebagai bahan tambahan aspal atau bahan alternatif pengganti aspal, berapa kadar lem fox optimum, bagaimana jika ditinjau dari standar spesifikasi aspal minyak produk pertamina. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian dilakukan pra penelitian tar sebagai bahan hydrocarbon kemudian 7 metode pengujian yaitu: uji penetrasi, uji daktilitas, uji titik lembek, uji titik nyala dan titik bakar, uji berat jenis, dan uji kelekatan tar terhadap agregat, kehilangan berat. Pengujian tar hasil destilasi tempurung kelapan dilakukan 2 macam pengujian yaitu tar dengan variasi lama pemanasan (menit) 25, 30, 35, 40, dan 45. dan campuran antara tar hasil destilasi tempurung kelapa dengan lem fox 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7%. Hasil penelitian tar tempurung kelapa belum bisa digunakan sebagai bahan tambahan atau alternatif pengganti aspal, kadar lem fox optimum untuk campuran tar 6,5%. Ditinjau dari spesifikasi aspal minyak produk pertamina tar dengan lama pemanasan 45 menit dengan suhu 90oC yang memenuhi: penetrasi 68,2mm, kelekatan 100%, kehilangan berat 0,4% dan berat jenis 1,1 gr/cm3. Tar dengan campuran lem fox kadar 6,5% dengan lama pemanasan 25 menit pada suhu 90oC yang memenuhi: penetrasi 63,5mm, berat jenis 1,1gr/cm3 , daktilitas 118,5cm, titik lembek 50,5oC, kelekatan 100%, kehilangan berat 0,2%.
ANALISIS PETROGRAFI AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR BETON PERKERASAN KAKU Bima Wirawan; Ary Setyawan; Agus Sumarsono
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.875 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i1.37131

Abstract

Komposisi agregat dalam beton berkisar antara 75%-90% dari volume total. Karena jumlahnya yang dominan, kualitas sifat agregat memberikan pengaruh terhadap kekuatan beton. Karakteristik petografi merupakan salah satu sifat agregat yang menjelaskan tentang kandungan dan tekstur mineral yang menyusun agregat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petrografi dan korelasinya dengan nilai kuat tekan dan kuat lentur beton perkerasan kaku. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimen dan dianilisis menggunakan analisis korelasional. Setelah pengujian berat jenis, penyerapan air, abrasi, aggregate impact value, soundness test agregat, dan petrografi agregat dibuat benda uji berupa kubus dan balok untuk mencari nilai kuat tekan dan lentur beton dengan variasi faktor air semen 0,4; 0,45 dan 0,5. Analisis petrografi agregat menunjukkan bahwa agregat eks. Ampel tergolong sebagai jenis basalt yang mengandung mineral plagioklas (40%), piroksen (8%), hornblende (2%), Kalsium feldspar (5%), mineral opak (10%) dan massa dasar gelas volkanik (35%). Sedangkan agregat eks. Kramat tergolong sebagai jenis andesit yang mengandung mineral plagioklas (40%), piroksen (15%), mineral opak (3%) dan massa dasar gelas volkanik (42%). Berdasarkan kandungan mineral agregat serta pengaruhnya terhadap sifat fisik agregat, dapat disimpulkan bahwa beton pada nilai faktor air semen terbaik (0,4) yang menggunakan agregat jenis basalt memiliki nilai kuat tekan 3,49% lebih baik dan nilai kuat lentur 22,44% lebih besar bila dibandingkan dengan kekuatan beton yang menggunakan agregat jenis andesit.
ANALISIS SIMPANG KOORDINASI DI SEPANJANG JALAN VETERAN Hilyatuz Zakiya; Agus Sumarsono; Slamet Jauhari Legowo
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.809 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i2.37185

Abstract

Dewasa ini, pertumbuhan jumlah kendaraan di Indonesia semakin meningkat termasuk di kota Surakarta. Hal tersebut dapat menyebabkan kemacetan. Salah satu cara untuk mengurangi masalah kemacetan adalah dengan pemasangan lampu lalu lintas (Traffic signal) pada daerah simpang terutama di perkotaan. Jalan Veteran merupakan jalan mayor yang terdapat tiga simpang yang saling berdekatan, dan terdapat sekelompok pergerakan kendaraan yang berjalan bersamaan (platoon) yang mengalami tundaan pada tiap simpang, sehingga jika dikoordinasikan dapat mengantarkan pengendara melalui ketiga simpang tersebut tanpa mendapatkan lampu merah dengan kecepatan yang telah ditentukan (kecepatan green wave). Penelitian dilakukan untuk mengetahui besar waktu siklus lampu lalu lintas, kinerja simpang semua simpang di sepanjang Jalan Veteran sebelum dan sesudah koordinasi, dan besar kecepatan green wave. Lokasi penelitian berada di sepanjang Jalan Veteran yaitu di simpang Kapten Mulyadi, simpang Brigjend Sudiarto, dan simpang Yos Sudarso kota Surakarta. Metode perhitungan kinerja simpang berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Data simpang diambil pada jam sibuk yaitu pukul 07.00-09.00 dan 15.00-17.00 WIB pada hari kerja. Besar waktu siklus eksisting pada simpang Kapten Mulyadi (86 detik), Brigjend Sudiato (96 detik), dan Yos Sudarso (99 detik), sedangkan waktu siklus koordinasi yaitu sebesar 96 detik untuk ketiga simpang. Hasil perhitungan kinerja simpang koordinasi pada jalan mayor dapat diketahui bahwa nilai derajat kejenuhan setelah dikoordinasikan mengalami penurunan rata-rata sebesar 19,55 % pada pagi hari dan 8,03 % pada sore hari. Panjang antrian setelah dikoordinasikan mengalami penurunan rata-rata sebesar 12,09 % pada pagi hari dan 8,88 % pada sore hari. Jumlah tundaan setelah dikoordinasikan mengalami penurunan rata-rata sebesar 28,34 % pada pagi hari dan 20,22 % pada sore hari. Kecepatan green wave untuk dapat melewati simpang Kapten Mulyadi-Yos Sudarso dan sebaliknya adalah 30 km/jam pada lalu lintas pagi hari, dan 25 km/jam untuk lalu lintas sore hari.
ANALISIS TARIF ANGKUTAN UMUM BERDASARKAN ABILITY TO PAY (ATP), WILLINGNESS TO PAY (WTP) DAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK) (STUDI KASUS TRANS JOGJA RUTE 4A DAN 4B) Joni Suryoputro; Agus Sumarsono; Djumari Djumari
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.158 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i2.37217

Abstract

Trans Jogja diharapkan dapat memperbaiki sistem angkutan di perkotaan wilayah Yogyakarta yang ada, sehingga tercipta angkutan umum perkotaan yang aman, nyaman dan tepat waktu, khususnya Trans Jogja. Rute 4A dan 4B dimana kedua rute ini merupakan rute yang baru demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang lebih luas. Data primer diperoleh dengan cara pembagian kuisioner sebanyak 144 lembar kepada pengguna Trans Jogja Rute 4A dan sebanyak 143 lembar kepada pengguna Trans Jogja Rute 4B. Data sekunder diperoleh dengan wawancara dengan instansi terkait yang kemudian data di analisis. Hasil dari analisis data untuk mengetahui besarnya Biaya Operasional Kendaraan dan untuk mengetahui daya beli penumpang dari kemampuan (ATP) dan kemauan (WTP) untuk membayar tarif Trans Jogja, Dari hasil analisis data menunjukan bahwa tarif berdasarkan ATP pada hari kerja untuk kategori umum sebesar Rp. 4.401,1, untuk kategori pelajar sebesar Rp. 2.381,8 dan untuk kategori mahasiswa sebesar Rp. 4.167,2. Sedangkan pada hari libur untuk umum sebesar Rp. 4.445,5, untuk kategori pelajar sebesar Rp. 3.717,6 dan untuk kategori mahasiswa sebesar Rp. 5.161,0. Besarnya nilai (WTP) pada hari kerja untuk kategori umum sebesar Rp. 2.898,81, untuk kategori pelajar sebesar Rp. 1.945,6 dan untuk kategori mahasiswa sebesar Rp. 2.951,9. Sedangkan pada hari libur untuk umum sebesar Rp. 2.995,69 dan untuk kategori pelajar sebesar Rp. 1.928,6 dan untuk kategori mahasiswa sebesar Rp. 2.964,7. Besarnya tarif berdasarkan biaya operasional kendaraan (BOK) Trans Jogja Rute 4A adalah sebesar Rp. 3.586,58 sedangkan Trans Jogja Rute 4B adalah sebesar Rp. 3.378,27. Subsidi yang disediakan masih mencukupi untuk menutup biaya operasional kendaraan Trans Jogja Kata kunci : Tarif, Biaya Operasional Kendaraan, ATP, WTP
HUBUNGAN TUNDAAN DAN PANJANG ANTRIAN TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR MINYAK PADA LAJUR PENDEKAT SIMPANG (Studi Kasus pada Jalan Arteri Kota Surakarta) Lukman Khafidz; Agus Sumarsono; Amirotul M.H Mahmudah
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.5 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37083

Abstract

BBM merupakan salah satu sumber daya alam yang jumlahnya sangat terbatas, sehingga ketersediaan BBM akan semakin langka seiring meningkatnya kebutuhan energi terutama di bidang transportasi. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor menyebabkan semakin meningkatnya konsumsi BBM untuk energi kendaraan bermotor. Kondisi kendaraan berhenti (idle) akibat simpang bersinyal mengakibatkan bahan bakar terbuang percuma. Sehingga penelitian analisa konsumsi BBM yang terbuang pada saat kendaraan berhenti (idle) akibat simpang bersinyal perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tundaan dan panjang antrian terhadap konsumsi bahan bakar akibat simpang bersinyal di Kota Surakarta. Survai primer yang dilakukan dalam penelitian ini berupa volume kendaraan, lama tundaan dan panjang antrian pada simpang. Konsumsi BBM berdasarkan lama tundaan dengan menggunakan persamaan pada saat berhenti (idle) dari LAPI-ITB. Hubungan tundaan dan panjang antrian dengan konsumsi BBM menggunakan analisis regresi linier, dengan nilai konsumsi BBM (Y, liter) sebagai variable terikat dipengaruhi oleh variable bebas yaitu tundaan (X1,detik) dan panjang antrian (X2, meter). Berdasarkan analisis dan pembahasan, kesimpulan yang didapat adalah nilai rata-rata tundaan, panjang antrian dan konsumsi bahan bakar minyak pada masing-masing pendekat simpang di Surakarta secara berturut-turut pendekat selatan Simpang Manahan 95,4 detik, 27,6 m dan 0,502 liter, pendekat selatan Simpang Sumber 100,8 detik, 45,66 m dan 0,316 liter, pendekat barat Simpang Panggung 119,63 detik, 63,2 m dan 0,701 liter dan pendekat barat Simpang Pedaringan 74,23 detik, 50,68 m dan 0,416 liter.Model persamaan yang diperoleh tidak memenuhi kriteria sehingga tidak dapat digunakan.
STUDI GELOMBANG KEJUT PADA PERLINTASAN KERETA API DENGAN MENGGUNAKAN EMP ATAS DASAR ANALISIS HEADWAY (Studi Kasus Pada Jalan R.M. Said Pasar Nangka Surakarta) Dananjaya Putra Martha; Agus Sumarsono; Amirotul M.H Mahmudah
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 3 (2017): September 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.575 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i3.36734

Abstract

Perlintasan Kereta Api (KA) pada jalan R M Said merupakan salah satu perlintasan KA di kota Surakarta yang menghubungkan stasiun Balapan dengan stasiun Purwosari. Pada perlintasan KA ini sering terjadi penutupan palang pintu karena perlintasan ini merupakan jalur utama KA di kota Surakarta. Penutupan palang pintu perlintasan mengakibatkan tundaan dan antrian. Studi gelombang kejut ( ) dilakukan di lokasi perlintasan KA tersebut untuk mendapatkan panjang antrian yang terjadi dan berapa lama waktu penormalan yang diperlukan lalu lintas kembali normal. Penelitian ini dilakukan pada hari Kamis, 22 September 2016 pukul 05.30-08.30. Penelitian ini menggunakan emp berdasarkan analisis headway untuk mengkonversi jumlah kendaraan menjadi satuan mobil penumpang (smp). Selanjutnya dicari hubungan matematis antara volume, kecepatan dan kepadatan menggunakan model greenshield. Dengan model greenshield didapatkan kecepatan arus bebas (Sff), kepadatan pada kondisi mancet total (Dj), dan volume maksimal (Vm). Hasil tersebut sangat penting untuk menghitung nilai gelombang kejut, panjang antrian maksimum, dan waktu penormalan. Mencari nilai MAPE (Mean Absolute Percentage Error) untuk mengetahui keakuratan perhitungan dengan cara membandingkan hasil perhitungan panjang antrian maksimum dan waktu penormalan dengan yang terjadi di lapangan. Hasil penelitian studi gelombang kejut dengan EMP berdasarkan analisis headway didapatkan nilai gelombang kejut = -5,23 km/jam (gelombang kejut mundur bentukan); = -18,62 km/jam (gelombang kejut mundur pemulihan); dan = 13,39 km/jam (gelombang kejut maju pemulihan), panjang antrian maksimum (QM) sebesar 183,72 meter dengan rata-rata durasi penutupan selama 90,91 detik dan membutuhkan waktu penormalan (T) selama 161,95 detik. Nilai MAPE yang dihasilkan sebesar 2,69 %.