Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

MAQᾹṢID AL-QUR’ᾹN AYAT NAFKAH KEPADA ISTRI PERSPEKTIF ṢIDDĪQ HASAN KHAN DALAM KITAB FATḤ AL-BAYᾹN FĪ MAQᾹṢID AL-QUR’ᾹN Rosi, Abdullah Fahrur; Ubaidillah, Mohammad Farah; Lizamah
Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 2 (2025): Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Jawa Timur: Prodi. Ilmu Al Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAI Tarbiyatut Tholabah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/alfurqan.v8i2.4187

Abstract

The issue of spousal maintenance (nafqa) remains a persistent source of domestic conflict within Muslim families, frequently contributing to marital breakdown and divorce. This study critically examines Ṣiddīq Ḥasan Khān’s conception of the husband’s obligation of maintenance as articulated in Fatḥ al-Bayān fī Maqāṣid al-Qur’ān, situating his exegetical position within a maqāṣid al-Qur’ān framework as developed by Maḥmūd Shaltūt. Rather than approaching maintenance solely as a juristic obligation, this article seeks to uncover the ethical and socio-moral rationales underlying Qur’anic injunctions on financial responsibility within marriage. Employing a qualitative, library-based research design, the study conducts a thematic analysis of key Qur’anic passages on maintenance—Qur’ān 2:233, 2:241, 4:5, 4:34, and 65:6–7—drawing on primary sources including the Qur’ān, Fatḥ al-Bayān, and Shaltūt’s Ilā al-Qur’ān, supported by relevant secondary literature in Qur’anic exegesis and Islamic family law. The findings demonstrate that Ṣiddīq Ḥasan Khān conceptualizes maintenance as the husband’s fundamental and continuous responsibility, encompassing provision of food, clothing, and housing in accordance with the husband’s financial capacity and prevailing social norms. This obligation persists under specific circumstances, such as during the ‘iddah period and pregnancy, reflecting a protective orientation toward women’s rights. From a maqāṣid al-Qur’ān perspective, maintenance emerges not merely as a legal prescription but as a moral commitment aimed at upholding justice, sustaining marital harmony, and securing broader social welfare. This study contributes to contemporary Qur’anic family law scholarship by integrating classical exegetical insights with a maqāṣid-oriented reading, offering a more ethically grounded and context-sensitive understanding of spousal maintenance in the Qur’ān.
Upaya Mempertahankan Tradisi Mengaji Setelah Maghrib (Studi Living Qur’an di Kelurahan Barurambat Timur Kec. Pademawu Kab. Pamekasan) Ubaidillah, Mohammad Farah; Lizamah, Lizamah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i3.64034

Abstract

ar belakang: Tradisi mengaji setelah Maghrib merupakan praktik keagamaan yang telah mengakar dalam masyarakat Muslim. Namun, modernisasi, perkembangan teknologi digital, serta perubahan pola asuh keluarga menyebabkan penurunan partisipasi anak-anak dalam kegiatan tersebut di berbagai daerah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya mempertahankan tradisi mengaji setelah Maghrib di Musalla Baitur Rohmah, Kelurahan Barurambat Timur, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, dalam perspektif Living Qur’an. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan dan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan mengaji dilakukan secara sistematis dan berjenjang, dimulai dengan metode Iqra’ bagi pemula dan dilanjutkan dengan pembelajaran menggunakan mushaf Al-Qur’an melalui metode talaqqi dan sorogan. Selain pembelajaran baca-tulis Al-Qur’an, santri juga mendapatkan materi fiqih, akhlak, akidah, serta hafalan surat pendek. Faktor pendukung utama adalah komitmen pembina, motivasi santri, dan dukungan orang tua, sedangkan faktor penghambat meliputi kesibukan pembina, benturan jadwal sekolah, serta pengaruh gadget dan game online. Kesimpulan: Tradisi mengaji setelah Maghrib di Musalla Baitur Rohmah tetap eksis karena adanya strategi pembinaan yang sistematis, dukungan sosial yang kuat, serta inovasi kegiatan religius dan edukatif yang mampu meningkatkan motivasi santri.