Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The potency of alpha lipoic acid as anti inflammatory on the complete freund's adjuvant-induced rheumatoid arthritis in rat model Megawati, Selvi; Rahmadi, Mahardian; Susilo, Imam; Khotib, Junaidi
Folia Medica Indonesiana Vol. 52, No. 2
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rheumatoid arthritis (RA) is an autoimmune diseases which is characterized by chronic inflammation of the synovial tissue in joints. This research was designed to investigate the effect of alpha lipoic acid as antioxidant on rats with complete freund's adjuvant (CFA)-induced RA by intra articular injection of complete freund's adjuvant (CFA). ALA was administered orally once a day for 7 days at 30, 60 and 120 mg doses a week after CFA injection. The severity of arthritis was evaluated by joint diameter and latency time on thermal stimulation. Joint diameter and latency time on thermal stimulation will measured on day 0, 3, 5, 7, 10, 12 and 14. Measurement of malondialdehyde (MDA) level in plasma was performed using thiobarbituric acid (TBA) method to assess lipid peroxidation. Histology of joint was examined by microscope following hematoxylin-eosin staining. The result showed that treatment with ALA at 30 mg and 60 mg significantly decreased the joint diameter compared to CFA group (p=0.003; p=0.001 respectively) and rat's latency time on thermal stimulation was also significantly increased compared to CFA group (p=0.015; p=0.026 respectively). Measurement of MDA in CFA group and ALA group had no significant difference. Histological staining indicated that the recovery of the synovial membranes of joint in ALA group had no effect. Results indicated that ALA has the effect to suppress the development of inflammation in RA but not through oxidative stress pathway.
EDUKASI PEMBUATAN SNACK NUTRASETIKA DAUN KELOR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KELURAHAN SEGALAMIDER KOTA BANDAR LAMPUNG Mahdiyyah, Ade Abiyyatun; Arta, Alfa Frista; Megawati, Selvi; Thursina, Cut Syarifa; Nurkhalika, Rachmi; Feladita, Niken; Wulandari, Shinta
Jurnal Penamas Adi Buana Vol 9 No 02 (2026): Jurnal Penamas Adi Buana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/penamas.vol9.no02.a10888

Abstract

  Daun kelor (Moringa oleifera L.) kaya metabolit sekunder seperti flavonoid, antosianin, tanin, alkaloid, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan, imunomodulator, antikanker, dan antibakteri. Potensi ini menjadikan daun kelor sebagai bahan unggul untuk produk nutrasetika, termasuk inovasi snack sehat yang bergizi, aman, dan memiliki efek terapi. Mitra Mangga Dua, komunitas ibu rumah tangga di Kelurahan Segalamider, Kota Bandar Lampung, masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai pemanfaatan daun kelor dan pengolahan pangan fungsional. Pengembangan snack sehat berbahan daun kelor dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pangan bergizi sekaligus mendukung tujuan SDGs ke-3 dan SDGs ke-8. Produk ini juga berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan dan memberi nilai tambah ekonomi. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan edukasi pembuatan snack sehat daun kelor kepada komunitas Mangga Dua. Kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta, mencakup penyuluhan, demonstrasi pembuatan produk, serta pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan, dengan rata-rata nilai pre-test sebesar 30,00% yang meningkat menjadi 96,66% pada post-test. Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0.004 (p < 0.05), menandakan adanya perbedaan bermakna sebelum dan sesudah edukasi. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan demonstrasi efektif meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan daun kelor sebagai pangan fungsional bernilai gizi dan ekonomis
Analgesic Mechanisms of Lawsone (2-hydroxy-1,4-naphthoquinone) from Lawsonia inermis: A Comprehensive Review of Cyclooxygenase Modulation and Other Molecular Pain Targets Megawati, Selvi; Utami, Indah Woro
Sciences of Pharmacy Volume 5 Issue 2
Publisher : ETFLIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lawsone (2-hydroxy-1,4-naphthoquinone), the principal naphthoquinone of Lawsonia inermis, has attracted interest as a natural anti-inflammatory/analgesic lead that may offer a safer profile than long-term non-steroidal anti-inflammatory drugs. This structured narrative review synthesises evidence from 14 accessible and highly relevant publications (prioritising 2020 onwards) to clarify the mechanistic basis of its analgesic potential. Direct evidence from preclinical studies indicates that lawsone produces anti-inflammatory and anti-arthritic effects comparable to reference drugs and is associated with improved hepatic and renal markers at effective doses. Mechanistically, two experimentally supported axes predominate: (i) reduced prostaglandin biosynthesis, reflected by significant lowering of serum PGE2 and consistent with COX-2 modulation, and (ii) suppression of NF-κB signalling with downstream reductions in key pro-inflammatory cytokines (TNF-α, IL-1β, IL-6). In contrast, potential modulation of the P2X7 purinergic receptor (P2X7R) remains hypothetical, supported mainly by pharmacological and computational studies of structurally related 1,4-naphthoquinone analogues that bind the P2X7R allosteric pocket and inhibit ATP-driven Ca2+ influx and macropore formation. Overall, the evidence positions lawsone as a promising multi-target preclinical scaffold while highlighting the need for direct P2X7R validation, protein-level pathway confirmation, and translational studies.
Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Feladita, Niken; Thursina, Cut Syarifa; Arta, Alfa Frista; Wulandari, Shinta; Megawati, Selvi; Nurkhalika, Rachmi
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.
Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Feladita, Niken; Thursina, Cut Syarifa; Arta, Alfa Frista; Wulandari, Shinta; Megawati, Selvi; Nurkhalika, Rachmi
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.