Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EDUKASI PEMBUATAN SNACK NUTRASETIKA DAUN KELOR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KELURAHAN SEGALAMIDER KOTA BANDAR LAMPUNG Mahdiyyah, Ade Abiyyatun; Arta, Alfa Frista; Megawati, Selvi; Thursina, Cut Syarifa; Nurkhalika, Rachmi; Feladita, Niken; Wulandari, Shinta
Jurnal Penamas Adi Buana Vol 9 No 02 (2026): Jurnal Penamas Adi Buana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/penamas.vol9.no02.a10888

Abstract

  Daun kelor (Moringa oleifera L.) kaya metabolit sekunder seperti flavonoid, antosianin, tanin, alkaloid, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan, imunomodulator, antikanker, dan antibakteri. Potensi ini menjadikan daun kelor sebagai bahan unggul untuk produk nutrasetika, termasuk inovasi snack sehat yang bergizi, aman, dan memiliki efek terapi. Mitra Mangga Dua, komunitas ibu rumah tangga di Kelurahan Segalamider, Kota Bandar Lampung, masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai pemanfaatan daun kelor dan pengolahan pangan fungsional. Pengembangan snack sehat berbahan daun kelor dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pangan bergizi sekaligus mendukung tujuan SDGs ke-3 dan SDGs ke-8. Produk ini juga berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan dan memberi nilai tambah ekonomi. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan edukasi pembuatan snack sehat daun kelor kepada komunitas Mangga Dua. Kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta, mencakup penyuluhan, demonstrasi pembuatan produk, serta pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan, dengan rata-rata nilai pre-test sebesar 30,00% yang meningkat menjadi 96,66% pada post-test. Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0.004 (p < 0.05), menandakan adanya perbedaan bermakna sebelum dan sesudah edukasi. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan demonstrasi efektif meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan daun kelor sebagai pangan fungsional bernilai gizi dan ekonomis
Test Antioxidant Content In Herb Kyllinga nemoralis Extract With DPPH Method Firmansah, Moh.; Sekti, Beta Herilla; Arta, Alfa Frista
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 14 No 2 (2025): Medfarm: Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v14i2.676

Abstract

Antioxidants are compounds capable of slowing or preventing oxidation, even in relatively low concentrations, thereby contributing to various physiological functions in the body. The antioxidant components found in plants act as free radical scavengers by transforming them into less reactive molecules. Jukut Pendul (Kyllinga nemoralis) contains several bioactive substances, including flavonoids, tannins, and alkaloids, which are recognized for their potential as natural antioxidants. Flavonoids, for instance, exhibit antioxidant activity by donating hydrogen atoms or through their metal-chelating properties. These compounds can be present as glycosides (with glucose moieties) or in the free form known as aglycones. This research aimed to evaluate the antioxidant capacity of Kyllinga nemoralis extract. The plant material was sourced from Banyuwangi, East Java. Extraction was performed using the maceration method with 70% ethanol as the solvent. The free radical scavenging activity was assessed using the DPPH (1 radical) method. Ascorbic acid was used as positive control. Measurement of absorbance was carried out through UV-Vis spectrophotometry. The extract was tested at concentrations of 20, 40, 60, 80, and 100 μg/mL. The findings revealed that the value of Kyllinga nemoralis extract was 11.351 μg/mL, whereas ascorbic acid exhibited an IC50 of 3.43 μg/mL. The antioxidant activity of Kyllinga nemoralis ethanol extract falls into the very strong category, ranging <50-100 μg/mL. These results suggest that although the antioxidant strength of Kyllinga nemoralis is lower than that of , the extract still possesses detectable radical-scavenging activity.
Potential of Instant Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) as an Immunomodulatory Agent against Viral Infections: A Systematic Narrative Review Firmansah, Moh.; Thaher, M Iman Tarmizi; Palungan, Juliana; Dewa, Sima Asmara; Rahmah, Winda Wahyu Setya; Arta, Alfa Frista; Fauziyah, Ageng Hasna
Indonesian Journal of Science and Pharmacy Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Science and Pharmacy
Publisher : Pustaka Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63763/ijsp.v3i3.160

Abstract

The COVID-19 pandemic has significantly increased public interest in traditional herbal medicines, particularly instant temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), as immune-boosting agents. This systematic narrative review evaluates the immunomodulatory and antiviral potential of temulawak's bioactive compounds, especially curcuminoids, in the context of instant herbal formulations. A comprehensive literature search was conducted across PubMed, Google Scholar, Scopus, and Science Direct using Boolean operators. From 247 initial records, 38 articles met the inclusion criteria. Evidence demonstrates that curcuminoids exhibit broad-spectrum antiviral activity against SARS-CoV-2, influenza, hepatitis B/C, dengue, and HIV through inhibition of viral entry, replication, and modulation of NF-κB, MAPK, and JAK/STAT signaling pathways. Immunomodulatory effects include enhanced macrophage function, T-cell modulation, and cytokine balance regulation. A notable case report showed C. xanthorrhiza consumption led to HBsAg seroconversion in a chronic hepatitis B patient. However, critical gaps persist regarding the specific efficacy of instant formulations, bioavailability challenges of curcumin in processed forms and the absence of rigorous clinical trials on temulawak instan specifically. Future research should prioritize standardized formulations, bioavailability optimization, and clinical validation to bridge the translational gap between in vitro evidence and practical herbal applications.
Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Feladita, Niken; Thursina, Cut Syarifa; Arta, Alfa Frista; Wulandari, Shinta; Megawati, Selvi; Nurkhalika, Rachmi
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.
Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Feladita, Niken; Thursina, Cut Syarifa; Arta, Alfa Frista; Wulandari, Shinta; Megawati, Selvi; Nurkhalika, Rachmi
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.