Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

KOEKSISTENSI DUALISME EKONOMI DI KAWASAN METROPOLITAN MAMMINASATA Yan Radhinal; Ariyanto Ariyanto
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v6i1.2532

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fisik spasial yang terjadi di kawasan Jalan Tun Abdul Razak dan bagaimana perkembangan polarisasi dualisme aktivitas ekonomi akibat dampak pembangunan kawasan pinggiran.  Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif dengan pola dominant-less, dominant design dimana pendekatan kualitatif berposisi sebagai dominan dan kualitatif berposisi sebagai less dominant. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis uji korelasi dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi perubahan fisik spasial dipengaruhi oleh 4 hal yaitu faktor aksesibilitas, faktor pelayanan umum, faktor karakteristik lahan, dan prakarsa pengembang. Polarisasi fungsi-fungsi aktivitas ekonomi yang terjadi di kawasan pinggiran Jalan Tun Abdul Razak ditandai dengan munculnya aktivitas ekonomi formal dan informal di sepanjang koridor Jalan Tun Abd Razak yang berkembang secara linear mengikuti pola jaringan jalan.
Perbandingan Ketelitian Metode NDVI Melalui Software Global Mapper Dan Arcgis Andresi, Budi; Takwim, Supriadi; Radhinal, Yan; Asman, Andi Idham; A, Rasdiana
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/peweka.v3i2.35

Abstract

Normal Difference Vegetation Index (NDVI) merupakan algoritma untuk mendeteksi indeks vegetasi dari citra satelit. Pengolahan indeks vegetasi pada penelitian ini menggunakan algoritma NDVI dengan memanfaatkan kanal/band 5 (NIR) dan 4 (RED) pada Landsat 9 OLI 2 perekaman tanggal 26 Oktober 2024 Hasil pada penelitian ini menunjukkan terjadi perbedaan hasil analisis pada masing-masing kelas pada software Global Mapper dan ArcGIS. Luas Kelas Klassifikasi Kerapatan Vegetasi pada Software Global Mapper menunjukkan bahwa luas tertinggi pada kelas Non Vegetasi seluas 16696,2 Ha atau 46,82% diikuti Kelas Tingkat Kehijauan Tinggi seluas 5755,9 Ha atau 16,14% dan luas yang terendah pada kelas Kehijauan Sangat Rendah seluas 3245,7 Ha atau 9,1%. Sedangkan pada Software ArcGIS hasil yang diperoleh, luas Kelas klasifikasi tertinggi pada Kehijauan Rendah Seluas 9396,4 Ha atau 26,35% dan diikuti kelas Non Vegetasi seluas 9206,7 Ha atau 25,82%. Luas terendah ditempati kelas Kehijauan Tinggi seluas 3821,3 Ha atau 10,72%. Hasil uji ketelitian, menunjukkan bahwa menggunakan Software ArcGIS terdapat 8 area yang sesuai dengan kondisi eksisting atau sekitar 80% kesesuaian dari area sampel sedangkan dengan menggunakan software Global Mapper menunjukkan area yang sesuai dengan kondisi eksisting hanya 2 area atau 20% dari area sample. Kata Kunci: NDVI, ArcGIS, Global Mapper
Pemanfaatan Web – Based Geographic Information System (GIS) dalam Penanggulangan Bencana Banjir Kabupaten Bulukumba Harry Hardian Sakti; Yan Radhinal; Muhammad Isra; Muhammad Fakhruddin; Nurul Wahyuni
Journal of Green Complex Engineering Vol. 1 No. 2 (2024): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v1i2.71

Abstract

Setiap tahun di musim penghujan daerah hulu sampai hilir Kabupaten Bulukumba mengalami banjir. Salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalami luapan berisiko tinggi yaitu DAS Bialo. Pemanfaatan teknologi spasial melalui Web – Based Geographic Information System (GIS) dapat dijadikan sebagai alat bantu mengatasi keterbatasan manusia dalam menghadapi bencana banjir. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengevaluasi risiko banjir dengan membedah indeks ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Output dari evaluasi risiko ini selanjutnya diintegrasikan melalui pemanfaatan teknologi spasial, yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis web. Metode analisis yang diterapkan untuk mengukur tingkat risiko banjir mencakup pendekatan analisis kualitatif-kuantitatif dan analisis spasial menggunakan Model Waterfall dengan 6 tahap, yakni design, analysis, coding, testing, implementation dan maintenance, dengan kebutuhan data yang disesuaikan dengan data spasial. Informasi yang akan disampaikan mencakup aspek fisik wilayah, peta wilayah, gambar, model perangkat pendeteksi, Jalur evakuasi, serta rekomendasi lokasi evakuasi terdekat untuk warga yang terkena dampak banjir. Web – Based Geographic Information System (GIS) bidang penanggulangan bencana banjir di Kabupaten Bulukumba diharapkan dapat bermanfaat sebagai sistem pemantauan secara real time bagi pemerintah dan masyarakat dalam membangun kapasitas dan mengurangi kerentanan bencana banjir. Prototype sistem penanggulangan bencana ini juga dapat menjadi percontohan wilayah lainnya dalam membangun wilayah yang tangguh terhadap bencana banjir.
Tingkat Adaptif Tata Kelola Pemerintahan Indonesia Dalam Menghadapi Perubahan Iklim Abdi, Azizah Putri; Rasdiana, Rasdiana; Radhinal , Yan; Hadid, Adina Khusnudzan; Halim, Muhammad Adhim
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 19 No 1 (2025): JURNAL RUANG
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v19i1.218

Abstract

Indonesia is a country that is vulnerable to natural disasters such as climate change, where climate change is a complex and unpredictable issue and has a major impact on community welfare and political stability, requiring a strong and adaptive governance system that can be used as a solution in facing the challenges of rapid global change. Therefore, this study aims to determine the adaptive level of Indonesian governance in dealing with climate change. The data used in this study uses secondary data sourced from research studies and research theories. The analysis technique used in this study is the systematic literature review method. The results of this study indicate that Indonesian government governance is characterized by flexibility because it has advantages in community empowerment and involvement as well as knowledge and decision-making but lacks coordination between actors and leadership capacity.
Rekonstruksi Ruang Peri-Urban: Interaksi Sosial-Ekonomi Dalam Dinamika Kutub Pertumbuhan dan Proses Gentrifikasi di Kawasan Perkotaan Bulukumba Isra, Muhammad; Sakti, Harry Hardian; Radhinal, Yan; Ahmad, Despry Nur Annisa
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/peweka.v4i1.47

Abstract

The urban development of Bulukumba Regency exhibits a spatial expansion trend toward peri-urban areas, historically marked by the emergence of new growth poles. This phenomenon reflects ongoing urbanization and generates complex social dynamics through population migration from both rural and urban regions. Migration is driven by the pursuit of economic opportunities, more affordable housing, and lifestyle shifts increasingly oriented toward urban preferences. This study aims to analyze the influence of growth poles on morphological changes and to explore the role of gentrification in shaping socio-economic interaction patterns. A quantitative approach is employed, utilizing spatial analysis, correlation testing, and grounded theory to examine the phenomenon holistically. The findings indicate that both physical and non-physical factors are influenced by fragmented growth patterns, often concentrated around economic potential and high accessibility. The formation of growth poles is seen as a consequence of leapfrogging centrifugal urban expansion, whereby central urban development stimulates the emergence of new development clusters in peri-urban zones. These zones act as transitional spaces offering economic opportunities with lower living costs, making them attractive destinations for urban migrants facing socio-economic pressures in their places of origin. Gentrification is not merely a physical revitalization process but also functions as a socio-economic filtering mechanism that reconstructs cultural identity and values within industrialized spaces. The shift from an agrarian to an urban economy marks a structural transformation shaped by market efficiency, competitiveness, and the rationality of spatial capitalism.
Pengaruh Perubahan Lahan Terhadap Suhu Iklim Mikro Urban Heat Island (UHI) di Kawasan Perkotaan Kabupaten Bulukumba Kausar, Aksar; Ahmad, Despry Nur Annisa; Radhinal, Yan; Asman, Andi Idham; Sakti, Harry Hardian
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/peweka.v4i2.81

Abstract

Climate change and global warming have caused widespread environmental degradation. These impacts are directly experienced in Indonesia, particularly in the urban area of Bulukumba Regency, specifically in Ujung Bulu District. The increase in land use changes toward built-up areas has influenced the intensity of the Urban Heat Island (UHI) phenomenon. This study aims to analyze the effect of land use change on the Urban Heat Island (UHI) phenomenon in Bulukumba Regency during the periods of 2014, 2019, and 2024. A quantitative method was employed through satellite image interpretation to identify land use changes and analyze surface temperature using Landsat 8 Band 10 imagery data. The results indicate an increase in surface temperature in the urban area of Bulukumba Regency throughout the 2014–2024 period. The simple linear regression analysis shows a significant positive correlation between land use change and surface temperature increase, with a regression coefficient (r = 0.734) and a coefficient of determination (R² = 0.81), which falls into the high category. Furthermore, areas with high surface temperatures tend to follow the spatial pattern of densely built-up land use.
Klasifikasi Tutupan Lahan Perkotaan Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 dan Pendekatan Machine Learning Algoritma Random Forest (Studi Kasus: Kota Palu): Urban Land Cover Classification Using Sentinel-2 Satellite Imagery and the Random Forest Machine Learning Algorithm (Case Study: Palu City) Radhinal, Yan; Putri Abdi, Azizah; Nur Annisa Ahmad, Despry
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 8: Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i7.8301

Abstract

Data tutupan lahan (land cover) yang akurat dan mutakhir merupakan fondasi penting bagi perencanaan tata ruang, pemantauan lingkungan, dan pengambilan kebijakan pembangunan di wilayah perkotaan. Penelitian ini menyajikan sebuah metode yang efisien untuk mengklasifikasikan tutupan lahan di Kota Palu menggunakan citra satelit Sentinel-2 dan algoritma machine learning Random Forest. Dengan memanfaatkan platform komputasi awan Google Earth Engine (GEE), citra satelit untuk tahun 2024 diproses menjadi sebuah komposit bebas awan. Klasifikasi dilakukan dengan memanfaatkan data spektral dari citra tersebut untuk mengidentifikasi lima kelas tutupan lahan utama. Lima kelas tutupan lahan utama diidentifikasi: (1) Lahan Terbangun, (2) Vegetasi Rapat, (3) Vegetasi Jarang, (4) Badan Air, dan (5) Lahan Terbuka/Pasir. Akurasi model dievaluasi menggunakan metode validasi standar (30% dari total sampel) dan menunjukkan akurasi keseluruhan 95,27% dengan koefisien Kappa 0,819. Hasil penelitian ini berupa peta tutupan lahan digital beresolusi tinggi yang dapat menjadi data dasar krusial bagi pemerintah Kota Palu dalam merumuskan kebijakan tata ruang, memantau perubahan lingkungan, serta mendukung perencanaan mitigasi bencana yang lebih efektif.
Analisis Spasial Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Pasca-Bencana 2018 di Kota Palu : Spatial Analysis of the Availability of Green Open Spaces Post-Disaster 2018 in Palu City Hadid, Adina Khusnudzan; Yan Radhinal; Azizah Putri Abdi; Hadi Abdurrahman; Muhammad Adhim Halim
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 9: September 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i9.8581

Abstract

Kota Palu, yang terletak di wilayah rawan multi-bencana, mengalami kehancuran signifikan pada peristiwa gempa, tsunami, dan likuifaksi tahun 2018. Proses rekonstruksi pasca-bencana yang masif berpotensi mengabaikan aspek tata ruang berkelanjutan, khususnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memegang peran kritis secara ekologis maupun sebagai area evakuasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan luasan RTH di Kota Palu pasca-bencana 2018. Metode yang digunakan adalah analisis spasial berbasis cloud computing pada platform Google Earth Engine dengan memanfaatkan citra satelit Landsat multi-sensor untuk dua periode (2018 dan 2024). Klasifikasi tutupan lahan dilakukan menggunakan kombinasi indeks NDVI dan NDBI untuk memetakan RTH dan lahan terbangun. Hasil penelitian mengungkapkan penurunan ketersediaan RTH sebesar 858,34 hektar (-2,82%) dan peningkatan lahan terbangun sebesar 828,95 hektar (+24,26%) selama periode 2018–2024, yang menunjukkan pola ekspansi urban (sprawl) dengan konversi langsung dari RTH. Temuan ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi pasca-bencana dan pertumbuhan alami menjadi pendorong utama perubahan tutupan lahan, sehingga diperlukan evaluasi mendalam terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan integrasi kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi RTH serta mendukung pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.
Spatial Planning for Coastal Area Based on Tsunami Hazard in Bulukumba Regency Sakti, Harry Hardian; Radhinal, Yan; Ahmad, Despry Nur Annisa; Aldiansyah, Farhan
Jurnal Linears Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/7knf3639

Abstract

ABSTRACT:  The record of disasters in coastal areas that have occurred in Bulukumba Regency is the tsunami event due to an earthquake on December 29, 1820. The epicenter in the Flores Sea and the death toll in Bulukumba Regency at that time reached around 500 people. This event needs to be an early preparedness because tectonic disasters have the potential for a period of repetition. The purpose of this study is to analyze the tsunami hazard level and formulate coastal spatial planning policies based on the potential tsunami hazard of Bulukumba Regency. The methods used are statistical, descriptive qualitative, and spatial analysis approaches. The parameters used in determining the tsunami hazard level are earthquake hazard level, land elevation, slope slope, distance from rivers, and morphology. The results show that the coastal area is predominantly classified into low- and medium-hazard categories. Low-hazard zones occupy the largest spatial extent (notably Gantarang: 16,659.42 ha; Ujung Loe: 14,535.05 ha), while medium-hazard zones are more spatially limited but concentrated in critical locations (e.g., Bonto Bahari: 732.35 ha; Kajang: 423.06 ha; Herlang: 365.75 ha). Under a worst-case seismic scenario (7.0–7.5 Mw), the potentially affected area is estimated at 19,784 ha (25.85% of the coastal land area), with an exposure of >67,000 buildings, predominantly in Ujung Bulu (42,213 buildings). These findings have direct implications for the Regional Spatial Plan (RTRW). We recommend (1) restricting new development in identified medium-/high-exposure coastal segments, (2) designating Temporary Evacuation Sites (TES) on topographically safe locations (slope > 2%), and (3) integrating evacuation routes with the existing urban road network to ensure rapid accessibility. By providing quantitative hazard maps and concrete policy recommendations, this study fills a critical gap between tsunami hazard assessment and coastal spatial planning in Bulukumba, offering an evidence base for resilience-building and further risk-focused research.
Tipologi Kecamatan di Kota Palu Berdasarkan Karakteristik Demografi dan Ketersediaan Fasilitas Pelayanan Dasar Menggunakan Algoritma K-Means Clustering: Typology of Sub-districts in Palu Based on Demographic Characteristics and Availability of Basic Service Facilities Using the K-Means Clustering Algorithm Rasdiana; Yan Radhinal; Hadid, Adina Khusnudzan; Tri Wahyuningsih; Nini Rahayu Nur
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 11: November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i11.9267

Abstract

Penelitian ini menganalisis tipologi kecamatan di Kota Palu berdasarkan karakteristik demografi dan ketersediaan fasilitas pelayanan dasar dengan menggunakan algoritma K-Means Clustering. Perubahan struktur ruang pascabencana 2018 memunculkan ketimpangan distribusi layanan publik, sehingga diperlukan pendekatan berbasis data untuk mengidentifikasi kebutuhan masing-masing wilayah. Data sekunder dari BPS mencakup delapan kecamatan dengan empat variabel utama, yaitu kepadatan penduduk, rasio fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peribadatan. Setelah proses normalisasi dan penentuan jumlah klaster optimal menggunakan Elbow Method, diperoleh tiga klaster. Klaster 1 terdiri dari lima kecamatan dengan defisit konsisten pada layanan pendidikan; Klaster 0 mencakup wilayah berpenduduk jarang yang menunjukkan fenomena rasio semu; sedangkan Klaster 2, yakni Palu Timur, merepresentasikan pusat kota padat dengan konsentrasi fasilitas peribadatan tertinggi. Hasil penelitian menegaskan perlunya kebijakan spasial yang diferensial sesuai karakteristik masing-masing klaster.