Gede Eka Harsana Koriawan
Universitas Pendidikan Ganesha

Published : 85 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

GENDANG BELEQ DI DESA BELANTING KECAMATAN SAMBELIA KABUPATEN LOMBOK TIMUR (KAJIAN SENIRUPA) ., S. Gan. Tatang Sukandar; ., I Wayan Sudiarta, S.Pd,M.Si.; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.352 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i1.9624

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Belanting Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.Tujuan Pelaksanaan penelitian ini, adalah untuk mengetahui : (1)BagaimanaSejarahGendang Beleqdi Desa Belanting, (2) untuk mengetahui Bentuk Gendang Beleq di Desa Belanting. Untuk menjawab permasalahan ini penulis menggunakanmetode pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara terbuka serta ditunjang dengan studi kepustakaan dan pencatatan dokumen. Data yang diperoleh dianalisis seobjektif mungkin dengan menggunakan deskriptif kualitatif, diikuti dengan argumentasi yang masuk akal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sejarahlahirnya Gendang Beleqdiperkirakan masuk pada zaman kolonialisme.namun belum ada data yang pasti kapan dan tahun berapamunculnya. Sejarah lahirnyaGendang Beleqditinjau dari kerupaan terdiri dari beberapa pokok seperti : (a)BentukGendang Beleq, (b)Jenis Gendang Beleq, (c)Alat Pemukul Gendang, (d)Ukuran Gendang Beleq, (e) Bagian-bagian pada Gendang Beleq, (f) Hiasan Pada Gendang Beleq. (2) Bentuk Gendang Beleq merupakan bentuk dari Bedugyang memiliki ukuran besar dan panjang 130cm. Kata Kunci : Sejarah, Bentuk,Gendang Beleq This research was conducted in the Belantingvillage Sambelia East Lombok District of West Nusa Tenggara. The Objectives Implementation of this study is to determine: (1) How History of Gendang Beleq in the Belantingvillage, (2) to determine the Form of Gendang Beleq in the Belantingvillage. To solve this problem the author uses the data collection method, done by using the observation method and open interviews with supported by literature study and documents recording. Data were analyzed as objectively as possible by using qualitative descriptive technique, followed by plausible arguments. Results of this study show that (1) Gendang Beleq appears around the Colonial Era, but there is no concrete data shows when and what year its appears. The history of Gendang Beleq from its fine art can be seen from some points : (a) The Shape of Gendang Beleq, (b) Types of Gendang Beleq, (c) The stick of Gendang, (d) Size of Gendang Beleq, (e) Parts of Gendang Beleq, (f) The Ornament of Gendang Beleq. (2) The shape of Gendang Beleq was form of Bedug which has huge size and 130cm long. keyword : History, Shape,Gendang Beleq
Dawang-Dawang Di Buleleng ., Harta Diwanda Kadek; ., Dr. Drs. I Nyoman Sila, M.Hum.; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.064 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i3.12174

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk dawang-dawang di Buleleng, (2) fungsi dawang-dawang di Buleleng, (3) makna dawang-dawang di Buleleng. Sasaran penelitian ini adalah dawang-dawang yang ada di daerah Buleleng. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukaan dengan teknik (1) observasi,untuk mendapatkan data mengenai bentuk, fungsi,dan makna dawang-dawang (2) wawancara,untuk menggali lebih dalam informasi tentang bentuk, fungsi dan makna dawang-dawang (3) dokumentasi,untuk mendapatkan foto dawang-dawang yang ada di Buleleng (4) dan kepustakaan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan cara (1) analisis domain,untuk mendapatkan gambaran umum mengenai bentuk dawang-dawang (2) dan analisis taksonomi, untuk mengurai lebih rinci mengenai bentuk dawang-dawang. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Bentuk dawang-dawang mengambil wujud dari manusia yang berpasangan yaitu laki-laki dan perempuan, yang dibuat dari bahan bambu dengan cara dianyam dan dibungkus dengan kertas dan kain. Pada bagian kepala diberi topeng sesuai dengan karakter wajah laki-laki dan perempuan. (2) Fungsi dawang-dawang pada upacara ngaben utama di Buleleng ada tiga, yaitu fungsi religius, fungsi sosial, dan fungsi estetika. Dimana fungsi religius dawang-dawang sebagai pelengkap sarana upacara ngaben dan juga sebagai penuntun jalan roh/atma menuju surga. Sebagai fungsi estetik dawang-dawang adalah sebagai media hiburan, dimana dawang-dawang memiliki unsur keindahan didalam segi seni yang dipertontonkan dalam upacara ngaben di Buleleng, fungsi sosial dari dawang-dawang yaitu sebagai media bersedekah bagi pihak penyelenggara upacara ngaben. (3) Makna dawang-dawang adalah sebagai simbol Rwa Binedha yaitu dua hal berbeda yang selalu berdampingan di dunia ini, serta makna Purusa dan Pradana yaitu simbol laki-laki dan perempuan. Kata Kunci : Dawang-dawang, bentuk, fungsi, makna This research aimed to describe (1) Dawang-dawang form of Buleleng, (2) The function of Dawang-dawang in Buleleng, (3) the meaning of Dawang-dawang in Buleleng. The research was Dawang-dawang in Buleleng. This research was qualitative description. The collecting data of this research was implemented by the technique (1) The observation was to obtain data of the form, the function, and the meaning of Dawang-dawang. (2) The interviewing was to explore more information about the form. (3) The documentation was to take a dawang-dawang’s photo of Buleleng (4) The reference/ the bibliographer. The collecting data was analyzed such as : (1) The domain analysis was to obtain general describing of the Dawang-dawang’s form (2) The Taksonomy analysis was to explain more details of The Dawang-dawang ‘s form. The result of research showed that (1) The form of Dawang-dawang took of the human’s being partner’s form with the boy and the girl were made from the bamboo’s plaiting and wrapped by paper and cloth. The part of head was the mask form . according to the character of boy’s face and the girl’s face. (2) the function of Dawang-dawang for the main of cremation ceremony of Buleleng such as ; the religious, social, and aesthetics’s function. Which the function of Dawang-Dawang’s religious as the material’s completing of the cremation ceremony. And also to guide the soul of the human’s being to the heaven. As the function of Dawang-dawang’s aesthetic was as entertainment’s media , which The dawang-dawang had the beauty of art that showed of the cremation ceremony in Buleleng regency, the social’s function of Dawang-dawang as media’s charity for the committee’s cremation ceremony. (3) the meaning of Dawang-dawang was as Rwa Binedha’s symbol ( two character of the different human’s being that always related in the world, and the meaning of Purusa and Pradana such as Boy and Girl’s symbol. keyword : Dawang-dawang , Form, Function, Meaning
BINGKAI KACAMATA KAYU DARI PAPAN SKATEBOARD BEKAS OLEH KETUT NGURAH ERI SUANDA DI SINGARAJA ., Ketut Hersa Swadharma Putro Giri; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg.; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 8, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.911 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v8i3.15152

Abstract

Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah adanya pengrajin yang mencoba untuk memanfaatkan kembali (reuse) limbah papan skateboard menjadi produk kerajinan, salah satunya menjadi kacamata. Pemanfaatan papan skateboard bekas memiliki kelebihan karena mengolah kembali barang bekas yang tidak dapat digunakan lagi menjadi barang bernilai seni dan mahal. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Analisis terfokus pada rumusan masalah yaitu meliputi alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kacamata berbahan dasar skateboard bekas serta model yang dibuat dari segi ukuran dan bentuk. Kesimpulannya sebagai berikut: alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kacamata dari bahan skateboard bekas antara lain: scroll saw (alat utama dalam pembuatan kacamata yang digunakan untuk memotong papan skateboard, terdiri dari Scrool saw blade halus yang berfungsi dalam membuat lekukan-lekukan berliku yang kecil serta scroll saw blade kasar yang digunakan untuk mempercepat proses pemotongan), mini grinder pen (alat untuk menghaluskan papan yang sudah dipotong menggunakan scroll saw.), gerinda duduk (jenis lain dari mesin gerinda yang memiliki dua mata gerinda, prinsip kerjanya adalah mata gerinda berputar dan bersentuhan dengan papan skateboard sehingga menghasilkan bentuk dan ketebalan yang diinginkan pada kacamata), jangka sorong (alat pengukur diameter yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter), tang jepit bengkok (jenis tang yang memiliki ujung yang kecil dan melengkung yang berfungsi dalam pemasangan engsel kacamata), obeng (alat yang digunakan untuk mengencangkan atau mengendurkan baut pada engsel kacamata), gunting (untuk memotong pola kacamata yang telah dicetak pada kertas HVS) dan bor (alat yang digunakan untuk membuat lubang, alur, peluasan, dan penghalusan secara presisi dan akurat). Hasil kerajinan kacamata berbahan skateboard bekas yang telah dihasilkan oleh Ketut Ngurah Eri Suanda memiliki keragaman model, ukuran dan bentuk sesuai selera pembeli yaitu bentuk bingkai bulat dan segiempat.Kata Kunci : kacamata, skateboard The background of this research is the existence of the craftsman who try to reuse the waste skateboard into handicraft product that is sunglass. The utilization of the waste skateboard has advantage because the waste goods can be processed into something artistic and expensive. This research is descriptive research with qualitative approach. The analysis is focused on the statement of the problem that is (1) what tools used in the process of making sunglass from waste skateboard and (2) the style of the sunglass based on the size and the shape. The conclusion is: the tools that is used in the process of making sunglass are (1) scroll saw which is the main tool in the process of cutting the skateboard, consists of soft scroll saw blade that is used to make small curvatures and hard scroll saw blade that is used to speed up the cutting process, (2) mini grinder pen which is the tool to smooth the board that has been cut using the scroll saw, (3) bench grinder which is the other kind of grinder that has two wheel, the working principle is the grinding wheel rotates and in contact with the skateboard so it can produce the desired shape and thickness on the glass frame. (4) Calipers is the diameter gauges whose accuracy can reach one hundredth of a millimeter (5) bent tweezers is the type of pliers that have small and curved tips that work in the mounting of glasses hinges, (6) screwdrivers that is tools used to tighten or loosen the bolts on the glasses hinges, (7) scissors is to cut the pattern of glasses that have been printed on HVS paper, and (8) drill that is tools used to make holes, grooves and precision smoothing. The results of handicraft sunglass which is made from waste skateboard that has been produced by Ketut Ngurah Eri Suanda has special models, sizes and shapes according to the buyer's taste such as round frame and rectangular shape.keyword : eyeglasses, skateboard
PROSES PEWARNAAN ANTIK PADA PATUNG DI DESA TENGANAN DAUH TUKAD ., Arry Komang Gede Bhaskara; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan; ., Drs.Agus Sudarmawan, M.Si.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.429 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v5i1.4713

Abstract

Berkembang pesatnya kepariwisataan di Bali sangat mempengaruhi berkesenian masyarakatnya, salah satunya dalam seni pewarnaan patung. Sehingga patung yang dibuat setelah pewarnaan nampak terlihat seperti patung antik. Pewarnaan Antik Pada Patung di Desa Tenganan Dauh Tukad yang dibuat pengerajin Gede Suryanta sangat berbeda di dalam proses pewarnaanya dibandingkan dengan patung biasanya. Oleh karena itu, patung yang dibuat hampir menyerupai patung yang sudah berumur ratusan tahun. Rumusan Masalah pada penelitian ini ialah (1) Bahan dan alat apa saja yang digunakan dalam pewarnaan antik pada patung? (2) Bagaimana proses pewarnaan antik pada patung? (3) Formula apa saja yang digunakan dalam pewarnaan antik pada patung? (4) Jenis patung yang diwarna antik ? Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Kualitatif. Subyeknya adalah I Gede Suryanta dan obyeknya adalah Patung. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasian dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)Bahan dan alat yang digunakan dalam dalam pewarnaan antik pada patung ialah Bahan : cat warna tembok Vinyl Acrylic Emulusion Paint , cat prada emas, serbuk tanah, Uncaria gambir, aspal, kapur sirih Kalsium Hidroksida Ca(OH)2. Alat: kuas, sikat, kompor kaleng, ember. (2) Proses pewarnan antik pada patung ada 8 tahap , yang dimulai dari menyiapkan cat dasar , menyiapka patung yang akan diwarna antik, pewarnaan dasar menggunakan warna putih, pewarnaan pada bagian kamben dan rambut, membuat detail bagian patung dengan cara di kountur , pembakaran , membuat bercak dengan cara disikat (cok-cok), dan tahap terakhir yaitu finishing dengan memoles cairan pamor(kapur sirih). (3) formula yang digunakan dalam pewarnaan antik ialah dengan mencampurkan bahan cat dasar dengan bahan lainya seperti gambir dengan perbandingan 10 cat : 1 Gambir, dan pencampuran cat dasar dengan bahan aspal, perbandingannya 5 cat : 1 aspal. (4) jenis patung yang diwarna antik ialah patung arca buddhaisme, patung arca ciwaisme, patung arca ganesha, patung arca durga, patung relief arjuna bertapa, patung manusia. Kata Kunci : pewarnaan , antik, patung The rapid growth of tourism in Bali greatly affects the artistic community. They strive to make unique innovations to attract the visitors. One of them is the art of sculpture in which the statue coloring that resemble sculptures of hundreds years old in age. This study examines four research problems, they are: 1) what materials and tools are used in the coloring of the statue; 2) How does the coloring process on the antique sculpture; 3) What formula is used in coloring antic on the statue?; and 4) Which sculptures are antic statue? This research is a qualitative descriptive. One artist from the village of Tenganan is taken as the research subject. Object of the research is the statue. Techniques of data collection were done by observation, interviews, documentation, and literature. The collected data were analyzed descriptively. The results showed that 1) the materials used in antique stain on the statue is Vinyl Acrylic paint wall color paint Emulusion. Paint on a gold prada, ground powder, Uncaria gambirr, asphalt, whiting Calcium Hydroxide Ca (OH) 2, while the tool used are, brush, stoves, cans and buckets; 2) The process of staining sculptures made through 8 stages, namely a) prepare a primer, b) prepare the statue to be colored, c) perform basic coloring with white paint, d) conduct on the part of cloth and coloring hair, e) make detailed parts of the statue with contoured, f) burn, g) make spotting a way brushed , and h) polish with lime betel liquid ; 3) The formula used in antique stain is a mixture of base paint with other materials such as in the ratio 10: 1 and the mixture priming with asphalt material with a ratio of 5: 1; and 4) the type of antique stained statue is buddhaisme statues, ciwaisme statue, ganesha statue, durga statue sculpture, relief of imprisoned arjuna sculpture , and human statues. keyword : coloring, antic, sculpture
TEKNIK OKSIDASI DI GAYA CERAMIC AND DESIGN, DESA SAYAN KUTUH, UBUD, GIANYAR ., Ni Wayan Septiari; ., Dra. Luh Suartini; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.579 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8051

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) alat dan bahan apa saja yang digunakan dalam proses pengerjaan teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design . (2)Proses Oksidasi itu di Gaya Ceramic and Design. (3) Rupa yang dihasilkan dari teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah industri produksi dari Marcello Massoni. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara,(3) dokumentasi, dan (4) kepustakaan. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah: (1) alat dan bahan yang digunakan dalam penerapa teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design, alat: mesin pengolahan tanah, mesin penyaringan tanah, mesin pencampur tanah, timbangan tanah, ember, triplek, ember drim, putaran mesin, rak penyimpanan, putaran tangan (hand whell), timbangan glasir, tungku, sudip, butsir, pisau pemotong, senar pemotong, pahat, kuas, pulpen bekas, spon, alat penjepit, sendok sayur dan sutil, saringan glasir. Bahan: tanah liat, glasir, gas elpiji, lem, kulit padi (sekam) dan pasir. (2) proses pembuatan keramik dengan teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design yang meliputi antara lain: Proses penyiapan bentuk keramik, proses pembentukan keramik, proses pengeringan pertama, proses pengeleman, proses pendekorasian, proses pengeringan tahap ke dua, proses pembakaran pertama, proses pengglasiran, proses pembakaran kedua dengan teknik Oksidasi. (3) Produk yang dihasilkan dari penerapan teknik oksidasi kulit padi (sekam) meliputi: teko, gelas minuman, mangkuk kecil, mangkuk besar, gelas sup, mangkuk minuman, tempat minuman. Produk yang dihasilkan dari penerapat teknik oksidasi pasir meliputi: teko, tempat pemerasan jeruk, tempat minum, tempat penyimpanan garam, tempat susu dan cream, tempat kopi, tempat alas makan, tempat lilin, tempat minuman teh, tempat sup, tempat nasi, tempat air minuman. Kata Kunci : teknik Oksidasi, alat dan bahan, bentuk produk Abstract This research was aimed at describing: (1) tools and materials used in the process of oxidation technique at cheramic style and design. (2) The process of oxidation technique at cheramic style and design. (3) The product that was resulted from the process of oxidation technique at cheramic style and design. This study was a kind of descriptive research with qualitative approach. The subject in this study was production industry from Marcello Massoni. The process of data collection is done using several techniques, such as (1) observation, (2) interview, (3) dokumentation, and (4) literature. The findings of this research are: (1) Tools and material used in the oxidation process at cheramic style and design; tools: soil processing machine, soil filter machine, soil mixing machine, bucket, plywood, drum, wheel machine, shelf storage, fireplace, knife mower, strings mower, chisel, small brush, pen, sponge, brace, and spatula; Materials: clay, glazing, gas, glue, husk, and sand. (2) The process of making cheramic by using oxidation technique at cheramic style and design including: the preparation process of shaping the cheramic, the cheramic shaping process, first drying process, the process of giving glue, decoration process, second drying step, first burning step, the process of penglasiran, second burning step by oxidation technique. (3) The products that was resulted from the implementation of oxidation technique using husk were: teapot, glass, small bowl, big bowl, soup bowl, drinking bowl, and place for drinking. The producst that is resulted from the implementation of oxidation technique using sand were: teapot, orange distilation, place of drinking, salt storage, milk and cream storage, place for coffe, pedestial, candelabrum, place for tea, soup, rice, and water for drink. keyword : oxidation technique, tools and materials, form of product
OKOKAN (SEBUAH TINJAUAN SENI RUPA) ., Ni Putu Wikantariasih; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg.; ., Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.768 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v8i1.14976

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) unsur-unsur visual Okokan di Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan (2) dan unsur-unsur estetik Okokan yang terdapat di Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah pengrajin Okokan dan pengurus kesenian Okokan Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik (1) observasi, (2)wawancara, (3) dokumentasi, dan (4) kepustakaan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan cara (1) reduksi data, (2) display atau penyajian data, (3) dan menarik kesimpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Unsur-unsur visual Okokan di Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa Baturiti, Kerambitan,Tabanan dapat dilihat melalui perbedaan bahan, warna, bentuk dan hiasan atau motif Okokan. Perbedaan Okokan yang diperagakan untuk upacara keagamaan yang terletak pada bahan, warna, bentuk Okokan bagian atas yaitu bagian Kuping yang tidak metias dengan motif karang boma. Sedangkan Okokan yang digunakan hanya sebagai hiburan atau hiasan di bagian atasnya yaitu pada bagian kuping yang metias dan menggunakan berbagai variasi bentuk di bagian atas (kuping) Okokan serta menggunakan variasi warna dengan motif pewayangan, karang boma, barong, celuluk dan lain sebagainya sesuai dengan pesanan pelanggan. (2) Unsur utama dalam pembuatan Okokan yang diperagakan untuk upacara keagamaan terletak pada unsur suara atau bunyi dari Okokan tersebut. Motif atau hiasan Okokan yang diperagakan untuk upacara keagamaan tidak mengutamakan nilai estetik, namun mengutamakan makna dari motif yang digunakan sehingga Okokan tersebut terlihat seperti hidup (Metaksu) dan disakralkan. Sedangkan Okokan yang diperagakan sebagai hiburan atau hiasan rumah tidak mengutamakan suara atau bunyi dari Okokan tersebut. Namun mengutamakan unsur estetik dari Okokan ini, yaitu dari segi pemilihan warna, bentuk Okokan yang simetris dan motif Okokan mengikuti bentuk Okokan tersebut. Simetris mengisyaratkan bahwa belahan kiri dan kanan dari setiap objek seni dibuat harus sama. Sama dalam hal ukuran, arah yang mengikuti prinsip pencerminan (reflektif) dan sama dalam hal bentuk.Kata Kunci : Okokan, Tinjauan, Visual, dan Estetik This study aims to find out (1) visual elements of Okokan in Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan (2) and aesthetic Okokan elements in Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa baturiti, Kerambitan, Tabanan. The approach used is qualitative descriptive approach. The target of this research is artisans Okokan and art administrators Okokan Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa baturiti, Kerambitan, Tabanan. This research is a qualitative descriptive study. Data collection in this research using technique (1) observation, (2) interview, (3) documentation, and (4) bibliography. The data collected is then analyzed by (1) data reduction, (2) display or presentation of data, (3) and drawing conclusions or verifying data. The results showed that (1) visual elements of Okokan in Banjar Dinas Dukuh Belong, Desa baturiti, Kerambitan, Tabanan can be seen through material, color, shape and decoration or Okokan motif. Differences Okokan that is exhibited for religious ceremony that lies in the material, color, shape Okokan the upper part of the Ear that is not a metias with karang boma motif. While Okokan is used only as an entertainment or decoration on the top is on the ears of the metias and using a variety of forms on the top (ear) Okokan and use color variations with pewayangan motifs, karang boma, barong, celuluk and so forth according to the order customer. (2) The main ingredient in the making of Okokan which is exhibited for religious ceremonies lies in the sound element or sound of the Okokan. Okokan motifs or decorations that are exhibited for religious ceremonies do not give priority to aesthetic values, but prioritize the meaning of the motives used so that the Okokan looks like life (Metaksu) and is sacred. While Okokan is exhibited as entertainment or home decoration does not give priority to the sound or sound of the Okokan. But prioritize the aesthetic element of this Okokan, namely in terms of color selection, form Okokan symmetrical and Okokan motifs follow the form Okokan it. Symmetrical hints that the left and right hemispheres of each art object are created must be the same. Same in size, the direction that follows the principle of reflection and the same in terms of form.keyword : Okokan, Review, Visual, and aesthetic
Proses Kreatif Kartunis Putu Dian Ujiana ., Yoga Suta Wirya Made; ., I Gusti Made Budiarta, S.Pd., M.Pd.; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.292 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v9i2.21559

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan catatan perjalanan Putu Dian Ujiana selama menekuni profesi sebagai kartunis. (2) Untuk mendeskripsikan proses kreatif Putu Dian Ujiana dalam mendapatkan ide dan cara memvisualisasikannya. (3) Untuk mendeskripsikan wujud karya kartun Putu Dian Ujiana. Subjek penelitian ini adalah Putu Dian Ujiana dengan objek berbagai karya kartun milik Dian. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara, (3) kepustakaan. Kemudian data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tahun 2012 adalah awal bagi Putu Dian Ujiana dalam mulai berkarya kartun. Sejak saat itu Dian banyak mendapat pembelajaran tentang bagaimana menciptakan karya kartun, pengalaman mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan kartun (pameran, workshop, seminar, mengisi acara, dll), dan menghasilkan berbagai karya kartun. (2) Proses kreatif Putu Dian Ujiana berawal dari proses mendapatkan ide kemudian memvisualisasikan ide tersebut. Dian mendapatkan ide dari berbagai hal dengan cara melihat, membaca, berdiskusi, mendengarkan sesuatu, dan lain sebagainya. Dian memvisualisasikan ide menjadi karya dengan cara membungkus ide tersebut dengan identitas atau karakternya sebagai orang Buleleng. (3) Wujud karya Putu Dian Ujiana dapat dibagi berdasarkan bagaimana memodifikasi unsur visual, tokoh-tokoh apa saja yang sering muncul pada setiap karyanya, dan tema apa saja yang sering diangkat Kata Kunci : Proses kreatif, kartun. This study aims to: (1) Describe the travel notes of Putu Dian Ujiana during her profession as a cartoonist. (2) To describe the creative process of Putu Dian Ujiana in getting ideas and ways to visualize them. (3) To describe the form of Putu Dian Ujiana's cartoon work. The subject of this research is Putu Dian Ujiana with various objects of Dian's cartoons. Data collection in this study was done by techniques (1) observation, (2) interviews, (3) literature. Then the data is analyzed using domain analysis and taxonomy techniques. The results showed that: (1) 2012 was the beginning for Putu Dian Ujiana to start working on cartoons. Since then, Dian learned a lot about how to create cartoons, experiences from participating in activities related to cartoons (exhibitions, workshops, seminars, filling events, etc.), and producing various cartoon works. (2) Putu Dian Ujiana's creative process begins with the process of getting an idea and then visualizing the idea. Dian gets ideas from various things by seeing, reading, discussing, listening to something, and so on. Dian visualizes ideas into works by wrapping those ideas with her identity or character as a Buleleng people. (3) the form of Putu Dian Ujiana's work can be divided based on how to modify the visual elements, what characters often appear in each of his works, and what themes are often raised. keyword : Creative process, cartoons
KERAJINAN TENUN ENDEK LUKIS DI DESA SULANG, KECAMATAN DAWAN, KABUPATEN KLUNGKUNG ., A.A. Gede Nangga Bayu Suwita; ., Dr. Drs. I Nyoman Sila, M.Hum.; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.81 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v8i1.13601

Abstract

Tenun endek lukis merupakan jenis kain yang terdapat di Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Dalam proses pembuatanya, kain tenun endek lukis menggunakan alat tradisional dinamakan alat tenun ATBM ( Alat Tenun Bukan Mesin ). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan kerajinan tenun endek lukis di Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, (2) Proses pembuatan kerajinan tenun endek lukis di Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, (3) Motif hias yang dihasilkan pada kerajinan tenun endek lukis di Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan sampelnya adalah perajin tenun endek lukis di Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data obsservasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data secara kualitatif. Hasil penelitian bahan dan alat adalah : bahan (a) benang metris katun, kain endek, dan cat deco tekxtil. Alat (b) tenun ATBM, undar, jandra, palet, teropong/sekoci, boom, kayu silang, karap, seleran pipa, sisir, injak-injak, benang lungsi, mal kertas, pensil, kapur, kuas lukis, dan penempelan mal kertas. Proses pembuatan endek lukis adalah : membuat mal kertas, menempelkan mal pada kain endek, melukis pada kain endek dan tahap akhir (menyetrika). Motif hias tumbuhan bunga kembang sepatu, bunga tapak dara, bunga mawar, bunga kamboja, bunga anggrek, dan bunga matahari. Motif binatang merak, kupu-kupu, capung, dan burung madu. Motif manusia wayang (legong).Kata Kunci : Perajin, tenun endek lukis, motif hias WeavingEndek Painting is a type of fabric contained in the village Propose, Dawan, Klungkung Regency. In the process of making, woven fabric endekpainting I don't use traditional tool called ATBM looms (Looms not machines). The purposes of this study are to describe (1) tools and materials used in the manufacture of woven crafts weaving endek painting propose painters at sulang village, Dawan district, Klungkung Regency, (2) the process of making the craft of weavingEndek Painting Propose painters at Sulang village, Dawan district, Klungkung Regency, (3) the resulting ornamental Motives on the craft of weavingEndek Painting Propose painters at sulangvillage, Dawan district, Klungkung Regency. The design of this research uses qualitative descriptive with the sample is a craftsman of weavingEndek painting propose painters at sulang village, Dawan district, Klungkung Regency. Sampling techniques are purposive sampling. Observations the data are gathering techniques, interviews and documentation. Data analysis isqualitative. Results of research materials and tools are: (a) yarn of cotton fabric I don't, metris, and paint deco tekxtil. tool (b) weaving ATBM, undar, jandra, palette, binoculars/lifeboat, boom, wooden cross, karap, seleran pipe, comb, treading, thread lungsi, mal paper, pencils, chalk, brush, and snapping the Mall paper. Process of making a painting is: endek painting make the Mall of paper, pinned the Mall on fabric painting on fabric, paintingin endek painting and the final stage (ironing). The ornamental motifs of plants, Hibiscus flowers, flower Vince, roses, flower of Cambodia, orchids, and sunflowers. Animal motifs arePeacock, butterflies, dragonflies, birds and honey. The motif of the human is puppet (legong).keyword : Craftsman, weaving, painting decorative motives weaving endek painting
HIASAN CANDI KURUNG PURA BEJI DESA SANGSIT ., Putu Gede Ary Pramana; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan; ., Dra. Luh Suartini
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.618 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v5i1.4730

Abstract

Candi Kurung Pura Beji Sangsit memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh Candi Kurung di Pura lain yang ada di kawasan Buleleng. Keunikan tersebut terletak pada hiasan topeng-topeng yang terdapat pada bagian badan Candi, hiasan topeng-topeng ini berkaitan dengan sejarah pembangunan Pura Beji Sangsit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah dan hiasan Candi kurung Pura Beji Sangsit.Tujuan untuk mengetahui tentang (1) Sejarah Candi Kurung Pura Beji Sangsit (2) Hiasan yang terdapat di Candi Kurung Pura Beji Sangsit. Ditinjau dari tujuan, penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif adalah “penelitian yang bermaksud untuk menjabarkan (deskriftif) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian” (suryabrata, 1983: 19). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sejarah Candi Kurung Pura Beji Sangsit meliputi 1660 M Beraban Batu Lepang yang dibantu oleh para pedagang Belanda mulai merenovasi Pura Beji dan motif ukiran, hiasan, patung hingga betuk bangunan pura dan Candi Kurung ditentukan oleh Beraban Batu Lepang dan para pedagang Belanda (2) Hiasan yang terdapat di Candi Kurung Pura Beji Sangsit meliputi Pepatraan, Kekarangan, patung dan Topeng. pepatraan yang terdapat di Candi Kurung meliputi Patra Pungel, Patra wangga, Patra Pae, dan Patra Mas masan. Kekarangan yang terdapat di hiasan Candi Kurung Pura Beji Sangsit meliputi Karang Tapel, Karang Boma, Karang Sae, Karang Goak, Karang Simbar, dan Karang Asti. Patung yang terdapat di hiasan Candi Kurung Pura Beji Sangsit meliputi Patung Naga, Patung Kura-Kura, Patung Raksasa atau Kala, Patung Patih, dan Patung Bidadari. Topeng yang terdapat pada hiasan Candi Kurung merupakan topeng pasukan Tar-Tar dan diketuai oleh Berabadan Batu Lepeng. Kata Kunci : Hiasan, Candi Kurung, Pura Beji Sangsit Candi kurung pura beji sangsit having uniqueness which is not possessed by pura candi kurung in other existing buleleng area. Uniqueness is located on an ornament mask that was found on the body of a temple, An ornament this mask deals with the history of the construction of beji temple sangsit The aims of this study are to know about (1) the history of candi kurung in beji temple, sangsit village (2) the ornaments which are there in candi kurung beji temple sangsit. In terms of the purpose , the research is descriptive kind of research with a qualitative approach. Descriptive research is ' who intends to outline research ( descriptive ) on the current situation or occurrence The result of the study showed that (1) the history of candi kurung in beji temple, sangsit was that in 1660 M, Beraban Batu Lepang helped by the dutch trader started to renovate the beji temple, in which the design of selupture, the ornament, the statue, and the form of the temple and candi kurung was decided by the beraban batu lepang and the dutch traders, (2) the ornament in the candi kurung beji temple, sangsit consist of patra punggel, patra wangga, patra pae, and patra mas-masan. The kekarangan in the ornament of candi kurung of beji temple, sangsit consists of karang tapel, karang boma, karang sae, karang guak, karang simbar, and karang asti. The statue in the ornament of candi kurung beji temple, sangsit consist of dragon statue, turtle statue, and angel statue. The mask in the ornament of the temple are the mask of tar-tar troops which was leaded by Beraban Batulepang. keyword : ornaments, candi kurung, beji temple sangsit
PROSES PEMBUATAN GITAR UKIR I WAYAN TUGES DI DESA GUWANG, KECAMATAN SUKAWATI, KABUPATEN TINGKAT II GIANYAR ., I Made Winarta; ., Dr.Drs.I Ketut Sudita, M.Si; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.07 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8052

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan gitar ukir I Wayan Tuges di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, kabupaten Tingkat II Gianyar; (2) proses pembuatan gitar ukir I Wayan Tuges di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, kabupaten Tingkat II Gianyar; (3) bentuk dan motif yang digunakan pada gitar ukir I Wayan Tuges di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, kabupaten Tingkat II Gianyar. Subjek dalam penelitian ini adalah I Wayan Tuges. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Bahan yang digunakan dalam gitar ukir I Wayan Tuges ini adalah kayu, lem kayu, tru-oil, cat acrylic, strings (senar gitar), tuning keys/tuning machines, nut gitar. Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan gitar ukir I Wayan Tuges adalah refrigerated dehumidifier, mesin gergaji pemotong, mesen gergaji pembelah, mesin serut (planner), mesin ketam perata/jointer, mesin router, pahat ukir kayu, pengotok (martil kayu), press neck gitar, dan gergaji besi mini. (2) Proses pembuatan gitar ukir karya I Wayan Tuges yaitu mulai dari pemilihan bahan baku kayu, pemotongan bahan baku kayu, pembelahan bahan baku kayu, penghalusan bahan baku kayu, perataan (mengetam) bahan baku kayu, proses router, penyimpanan balok kayu, pembuatan design bentuk dan motif gitar ukir, proses pengeringan pola dasar badan gitar, merekatkan rangka pada badan gitar, press body side gitar, menyusun body side gitar, pembuatan body top dan back gitar, pelapisan body gitar, pengukiran body gitar, pembuatan neck (leher) gitar, pemasangan bagian neck gitar, finishing. (3) Bentuk dan Motif yang Digunakan pada Gitar Ukir I Wayan Tuges yaitu bentuk Double Neck, Bentuk Gitar Lubang Resonansi Atas, Bentuk Gitar Standar, sedangkan motif yang digunakan yaitu motif pepatran, motif flora, motif fauna, motif pewayangan. Kata Kunci : Gitar Ukir I Wayan Tuges ABSTRACT This study aims to determine: (1) materials and tools used in the manufacture of the I Wayan Tuges guitar carving in Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Tingkat II Gianyar; (2) the process of making the I Wayan Tuges guitar carving in Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Tingkat II Gianyar; (3) forms and motifs used on the I Wayan Tuges guitar carving in Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Tingkat II Gianyar. The subject of this study was I Wayan Tuges. Data collection methods used in this research was the method of observation, interviews, documentation and literature. The data were analyzed by using descriptive qualitative approach. The results of this study showed that: (1) the materials used in the I Wayan Tuges guitar carving is wood, wood glue, tru-oil, acrylic paint, strings (guitar strings), tuning keys / tuning machines, guitar nut. The tools used in the manufacture of the I Wayan Tuges guitar carving are refrigerated dehumidifier, chainsaw cutting, saws splitting machine, shaved machine (planner), planers grading / jointer machine, router machine, chisel wood carving, pengotok (wooden hammer), press neck guitar, and mini hacksaw. (2) The process of making the guitar carving by I Wayan Tuges started from selecting raw materials of wood, cutting the wood raw materials, splitting the wood raw materials, refining the wood raw materials, smoothing (harvest) of wood raw materials, routers process, storage timber beams, manufacturing design of forms and motifs guitar carving, drying processes archetypal guitar body, gumming the frame of the guitar body, pressing the guitar body side, composing the guitar body side, manufacturing the guitar body top and back, coating the guitar body, sculpting the guitar body, manufacturing the guitar neck, attaching the guitar neck parts, finishing. (3) The forms and motifs used on the I Wayan Tuges guitar carving are Double Neck form, upper resonance hole guitar form, standard guitar form, while the motif used is pepatran motifs, flora motifs, fauna motifs, puppet motifs. keyword : I Wayan Tuges guitar carving
Co-Authors ., A.A. Gede Nangga Bayu Suwita ., AVIF VIKRI ZAHIR IBRONI ., Dedy Nur Saputra ., Destiara Aulia Citra ., Dewa Putu Bude Yase ., Harta Diwanda Kadek ., I Komang Wirya Adnyana ., I Made Edy Suastawa ., I Made Winarta ., I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. ., I Putu Agus Santika Putra ., I Wayan Lias ., KADEK SURYA DWIPA ., Ketut Hersa Swadharma Putro Giri ., Kholilolloh ., Komang Marta Wira Miharja ., Mohammad Arifurrohma ., Ni Putu Wikantariasih ., Riza Nur Hanafi ., S. Gan. Tatang Sukandar ., Yoga Suta Wirya Made A.A. Gede Nangga Bayu Suwita . Agus Sudarmawan Aprilianingsih, Rika Arry Komang Gede Bhaskara . AVIF VIKRI ZAHIR IBRONI . Bayu Intaran I Gd Pt . Dedy Nur Saputra . Destiara Aulia Citra . Dewa Putu Bude Yase . Dewa Putu Sudiarta Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn. . Drs. I Gusti Nyoman Widnyana . Drs. I Wayan Darsana,M.Ed . Drs.Mursal . Harta Diwanda Kadek . I Gusti Made Budiarta I Ketut Sudita I Ketut Supir I Komang Wardita . I Komang Wirya Adnyana . I Made Edy Suastawa . I Made Winarta . I Nyoman Rediasa I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. . I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si . I Nyoman Sila I Putu Agus Santika Putra . I Putu Herman Indrayana . I Wayan Lias . I Wayan Sudiarta I Wayan Sudiarta I Wayan Sudiarta I Wayan Wahyu Pratama . Ida Ayu Putu Sri Widnyani KADEK SURYA DWIPA . Ketut Hersa Swadharma Putro Giri . Kholilolloh . Komang Marta Wira Miharja . Langen Bronto Sutrisno Luh Maradoni . Luh Suartini . M.Si ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si Mahendra . Mohammad Arifurrohma . Ni Luh Ekmi Jayanti . Ni Luh Ekmi Jayanti ., Ni Luh Ekmi Jayanti Ni Nyoman Sri Witari Ni Putu Wikantariasih . Ni Wayan Septiari . Nova Erlina Nyoman Rediasa Putri, Yuliana Khairi Putu Gede Ary Pramana . Putu Tegeh Kertiyasa . Putu Yudik Suarmawan Rediasa, Nyoman Rika Aprilianingsih Riza Nur Hanafi . S. Gan. Tatang Sukandar . Sandra, Alek saputero, gede adi Saputra, Apriadi Resky Setiawan, Kadek Rizky Siti Meisaroh . Sudiarta, Dewa Putu Widaratna, Praja Adytia widiartta, ida bagus yuda Yoga Suta Wirya Made .