Gede Eka Harsana Koriawan
Universitas Pendidikan Ganesha

Published : 85 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pembelajaran Relief Plastisin Kelompok B di TK Negeri Pembina Singaraja ., Dedy Nur Saputra; ., Dra. Luh Suartini; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.1 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v7i2.11453

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk, (1) Mengetahui alat dan bahan yang dipergunakan dalam pembelajaran relief plastisin di TK Negeri Pembina Singaraja (2) Mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran relief plastisin di TK Negeri Pembina Singaraja, dan (3) Mengetahui hasil karya pembelajaran relief plastisin anak–anak di TK Negeri Pembina Singaraja. Penelitian ini merupakan penelelitian survei dengan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian dilakukan melalui wawancara dan penyebaran angket, dilanjutkan dengan observasi dan dokumentasi. Hasil Penelitian yang diperoleh, (1) Alat dan bahan yang digunakan dalam pembelajaran relief plastisin di TK Negeri Pembina Singaraja antara lain alat (gergaji, kater, ember, penggaris, pensil), bahan (plastisin, triplek). (2) Proses pembelajaran relief plastisin dilakukan dengan metode demonstrasi. Guru menyiapkan media dan perlengkapan pembelajaran, kemudian mendemonstrasikan cara penggunaan media, serta membimbing siswa dalam pembelajaran relief plastisin, selesai pembelajaran, guru melakukan evaluasi terhadap karya anak-anak. (3) Hasil karya relief plastisin anak-anak kelompok B4 TK Negeri Pembina Singaraja beranekaragam. Sesuai dengan kurikulum di sekolah (rumah, pemandangan alam laut, kebudayaan, tumbuhan, hewan) kemudian dianalisis menurut teori perkembangan kesenirupaan anak Victor Lowenfield dan diperoleh hasil sebagian besar karya anak-anak TK Negeri Pembina Singaraja sudah sangat baik dengan penguasaan garis, warna, ruang/bidang serta tema yang diajarkan di sekolah. Kata Kunci : Pembelajaran, relief, plastisin. This study aimed to investigate certain objectives of study, namely: (1) to know tools and materials used in the learning of plasticine relief at TK Negeri Pembina Singaraja; (2) to know a process of implementation of learning plasticine relief at TK Negeri Pembina Singaraja; (3) to know students’ results of performances in learning plasticine relief at TK Negeri Pembina Singaraja. This study used a survey research using a qualitative research approach to conduct the study. In addition, this study was executed by applying interviews, questionnaires, observations, and documentations. The study shows certain results of investigation, namely: (1) in learning plasticine relief, saw, knife, bucket, ruler, and pencil belonged to tools of learning; whilst, plasticine and plywood belonged to materials of learning. (2) Process of learning plasticine relief was conducted in demonstration method. In relation to this point, a teacher prepared learning media and others learning equipment; demonstrated ways of using leaning media; and, guided students in learning plasticine relief. At the end of the class, the teacher conducted an evaluation toward students’ results of performances. (3) Results of students’ performances were diverse related to certain themes used, such as: houses, ocean sceneries, cultures, trees, and animals. Furthermore, results of students’ performances were analyzed based on theory of development of childhood art stated by Victor Lowenfield. Moreover, results of data analysis shows that most results of students’ performances are very good in related to certain applications of elements, like lines, colors, spaces/fields, and themes. keyword : learning, relief, plasticine
KERAJINAN ANYAMAN BERBAHAN RUMPUT VETIVER DI DUSUN CEGI DESA BAN KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM ., I Wayan Lias; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg; ., Drs.Mursal
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.302 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.7790

Abstract

ABSTRAK Pengolahan rumput vetiver menjadi berbagai jenis kerajinan anyaman merupakan fokus pembahasan penelitian ini. Tujuan yang ingin dicapai adalah (1) Untuk mendeskripsikan pengolahan rumput vetiver menjadi anyaman, (2) Untuk mengetahui bentuk anyaman rumput vetiver, (3) Untuk mengetahui motif anyaman yang dapat dibentuk menggunakan rumput vetiver, Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Beberapa teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu teknik observasi, teknik wawancara, teknik dokumentasi, dan teknik tinjauan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Proses pengolahan rumput vetiver menjadi anyaman dilakukan dengan berbagai tahapan yaitu (a) panen rumput, (b) membersihkan rumput dari gulma, (c) mengklasifikasikan rumput berdasarkan ukurannya, (d) merebus rumput dengan air yang telah dicampur dengan pewarna, dan (e) pengeringan rumput yang telah direbus, (2) Bentuk anyaman yang dapat dibuat dengan menggunakan rumput vetiver adalah anyaman berbentuk dua dimensi dan anyaman tiga dimensi, (3) Motif anyaman yang digunakan adalah motif kombinasi dasar, motif gerigi, motif variasi miring, motif sekruf, dan motif gergaji. Kata Kunci : Kerajinan Anyaman dan Rumput Vetiver ABSTRACT Manufacturing vetiver grass to becomes many kinds of weaving product is the main focused in this research. The aims are; (1) to describe manufacturing of vetiver grass to becomes a product, (2) to know the shape of vertiver grass weaving, (3) to know the design of a woven product by using vetiver grass. This research is a descrivtive research by using qualitative approach. There are some techniques used in collecting the data, they are; observation technique, interview, documentation, and a book view technique. The result of this research showed that; (1) the process of manufacturing vetiver grass becomes a woven have been done through many steps; (a) harvesting the grass, (b) cleaning the grass from the weeds, (c) classified the grass based on its shapes, (d) boiled the grass in a water mixed by colour pigments, and (e) dried the boiling grass, (2) the shape of a woven which made from vetiver grass is a woven with two dimensions and a woven with three dimentions, (3) the design used is a basic design, toothed edge design, variated angle design, a screw design, and a saw design. keyword : woven handicrafts and vetiver grass
Kajian Visual Bangunan Dapur Tradisional Khas Kecamatan Kubu, Karangasem ., Bayu Intaran I Gd Pt; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan; ., Ni Nyoman Sri Witari, S.Sn.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.916 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v5i1.4731

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui struktur bangunan dapur tradisional khas Kubu, Karangasem. (2) mengetahui sistem ukur bangunan dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. (3) mengetahui fungsi bagian-bagian dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan model pendekatan kualitatif. Jenis data yang didapat yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data ini dianalisis dengan cara kualitatif dengan tahap yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) struktur bangunan dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Menggunakan material alami untuk pembuatan dapur tradisional dengan menggunakan atap yang berbahan ilalang atau beluhu. (2) sistem ukur bangunan dapur tradisional khas Kubu Karangasem. Menggunakan cara tradisional yaitu dalam istilah Bali Gegulak (sistem ukur tradisional bali) yang terdiri dari Musti, Hasta, Depa (3) fungsi bagian-bagian bangunan tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Lantai (bebaturan) yang terbuat dari tanah karena tidak menggunakan semen atau ubin, Dinding atau bedeg yang terbuat dari anyaman bambu dan terdapat celah-celah untuk memudahkan keluarnya asap dari kayu yang di gunakan sebagai bahan bakar, Rangka atap yang terbuat dari bambu berfungsi sebagai rangka penahan atap bangunan dapur, Tiang (sesaka) yang terdiri dari enam belas buah digunakan sebagai tiang penyangga bangunan, Bataran (Pondasi) terbuat dari batu utuh sebagai dasar dinding bangunan, Seseh (perekat tiang) adalah kayu kelapa yang berfungsi sebagai penyambung atau perekat sesaka , Ujuk (Tiang atas) terdapat pada bagian geladag sebagai poros tengah bangunan dapur, Undag (tangga didepan pintu) sebagai pembatas antara ruangan di dalam dan diluar dipergunakan sebagai tangga, Neb (Penahan) terbuat dari bilah bambu yang memanjang sesuai ukuran atap bangunan berfungsi sebagai penjepit beluhu, Trampo (Bambu) berfungsi sebagai penahan dinding atau bedeg letaknya tepat diatas bataran, Jalikan atau tungku yang terbuat dari tanah digunakan sebagai tempat memasak, Sendi terbuat dari batu persegi atau semen yang berfungsi sebagai dasar tiang atau sesaka, Bale gede berfungsi sebagai tempat tidur, Bale cenik beten berfungsi sebagai tempat alat memasak, Geladag (tempat penyimpanan hasil panen) berada diatas ruangan dapur. Kata Kunci : dapur tradisional, struktur, sistem pengukuran, dan fungsi. This study aims at (1) knowing the structure of special traditional kitchen of Kubu, Karangasem; (2) knowing the measuring system of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem ; (3) knowing the function of each part of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem. This is a descriptive qualitative research. The data collection were observation, interview, and documentation. The data found were analyzed qualitatively, the steps of which were data reduction, data presentation, and conclusion. The result of the study showed that: (1) the structure of special traditional kitchen of Kubu, Karangasem uses natural material, such as tall coarse grass or Beluhu. (2) The measuring system of the special traditional kitchen of Kubu, Karangaem uses traditional system known as Gegulak( a traditional measuring system of Balinese people) which consist of Musti, Hasta, Depa. (3) The function of each part of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem are :The floor or (bebaturan) which is made of soil because they don’t use cement or tile; The wall or (bedeg) which is made of plaited bamboo, so that there are space from which the smoke of the cooking process with wood goes out; The roof frameworks which are made of bamboo have a function to support the kitchen roof; The pole or (sesaka) which consist of sixteen poles of the building; Base (bataran) is made of stone as the foundation of the building;Pole adhesive (seseh) is made of coconut wood which function as the connector of the sesaka; Upper pole (ujuk) which position is on the geladag part as the center axis of the kitchen; The stairs in front of the door (undag) function as the border between indoor and outdoor parts of the building; The restrain (neb) which is made of long bamboo chips function as the clasp of the beluhu, Bamboo (trampo function as the supporter of the wall or bedeg which is exactly situated on the bataran; The fireplace (jalikan) which is made of soil, used as the place to cook; join which is made of square stone or cement functions as the pole or sesaka base; Bale gede functions as a bed, Bale cenik beten functions as the place of the cooking utensils; Geladag the place to keep the harvest situated above the kitchen building. keyword : traditional kitchen, structure; measuring sytem and function
TENUN RANGRANG DI DESA PEJUKUTAN KECAMATAN NUSA PENIDA KABUPATEN KLUNGKUNG ., I Wayan Sudarsana; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan; ., Drs.Mursal
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v4i1.2415

Abstract

Pada umumnya masyarakat Bali hanya mengenal kain tenun gringsing, kain tenun songket maupun kain tenun endek. Ada jenis kain yang berasal dari Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, dinamakan kain tenun rangrang. Proses pembuatan kain tenun rangrang menggunakan alat tradisional dinamakan alat tenun cagcag. Tujuan penelitian ini untuk memberikan informasi tentang sejarah keberadaan, alat dan bahan, proses pembuatan sampai motif hias yang terdapat pada kain tenun rangrang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini adalah perajin tenun rangrang di Dusun Karang, Desa Pejukutan yang berjumlah 81 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 6 orang yang ditentukan melalui pendekatan porposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sejarah keberadaan tenun rangrang diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dengan nama cerik bolong, kemudian berkembang menjadi nyrangnyang, terakhir menjadi rangrang. Setelah nyaris punah, tenun rangrang kembali diproduksi tahun 2011. Alat yang digunakan adalah tenun cagcag. Bahan yang dipergunakan: benang metris dan rayon, pewarna alami menggunakan daun tarum, daun jati, kulit kayu (jamblang, mangga, kepundung/menteng, mengkudu), dan kayu secang/sepang, penguat warna alami digunakan tunjung/mimusops elengi, kapur tohor/calcium carbonate, dan tawas/potasium alum sulfide, sedangkan pewarna kimia menggunakan pewarna direk dan nandrin, serta metanol sebagai penguat pewarna kimia. Proses pembuatan tenun rangrang, yaitu pengolahan serat, pewarnaan, dan proses tenun. Motif yang terdapat pada tenun rangrang, yaitu motif pinggiran gunung, motif utama (wajik, iled, bianglala, jalur, porosan, skoci, gablak, silang, taji, dan sirang).Kata Kunci : tenun rangrang, pewarna alami, motif hias In general, Balinese people only know about woven cloth of gringsing, woven cloth of songket and also woven cloth of endek. There is a kind of cloth which comes from Pejukutan Village, Nusa Penida, Klungkung Regency that we called woven cloth of rangrang. The process to make this woven cloth of rangrang is using a traditional tool that we called cagcag. The purpose of this research is to give information about the existence, tools, materials and also the process how to make it until the kinds of motif in woven cloth of rangrang. This research is a kind of descriptive qualitative research. The population of this research is the entire rangrang woven craftsman at Karang Orchard, Pejukutan Village with the number of 81 people. The samples of this research are 6 people who are determine by using approach technique of porposive sampling. The process of collecting the data was using methods of observation, interview and documentation. The data which was founded is then analyzed by using the technique of domain and taxonomy analysis. The result of this research shows that the history of the existence of rangrang woven was estimated exist since the era of Majapahit kingdom with the name of cerik bolong, Then it is develop become nyrangnyang, and for the last it becomes rangrang. After almost extinct, rangrang woven was reproduced again at 2011. The tool that used is called cagcag. The materials that used are: metris yarn and rayon, for natural dyes are using indigofera suffruticosa, disambiguasi, cortex of (syzygium cumini, mangifera indica, baccaurea racemosa, morinda citrifolia), and caesalpinia sappan. For strengthen the color, it is using mimusops elengi, calcium carbonate, and potassium alum sulfide. For chemical dyes are using direk and nandirin, also methanol for strengthen the color. The process how to make rangrang woven are consists of manufacturing the fiber, coloring and the process of weaving. Any kinds of motif that exist in rangrang woven are the motif of pinggiran gunung and also the main motif (wajik, iled, bianglala, jalur, porosan, skoci, gablak, silang,taji and sirang).keyword : tenun rangrang, pewarna alami, motif hias
Arsitektur Rumah Pacenan di Desa Nelayan Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo ., Mohammad Arifurrohma; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.247 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8057

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah dan keberadaan Rumah Pacenan di Kecamatan Jangkar; (2) pola arsitektur dilihat dari pembagian ruang, fungsi, hiasan atau ornamen serta nilai estetis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah tiga orang tukang pembuat rumah pacenan dan budayawan dan objek penelitian ini adalah rumah pacenan. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan kepustakaan. Dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Sejarah rumah pacenan di Kecamatan Jangkar yaitu ada seorang laki-laki yang melamar seorang gadis di Desa Jangkar yang membuatkan rumah sebagai mas kawinnya, kemudian rumah itu disebut dengan rumah pacenan karana lelaki tersebut berasal dari tanjung pecinan. Kemudian rumah tersebut dikembangkan. Keberadaan rumah pacenan di Kecamatan Jangkar sudah banyak yang mengalami modifikasi hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain: banyak bagian rumah yang sudah lapuk, bagian rumah pacenan dijual karena harga menggiurkan dan memodifikasi rumah pacenan karena ingin mengikuti tren hari ini. (2) pola arsitektur rumah pacenan menggunakan pola atap seperti gunung yang disebut dengan bubung, menggunakan empat tiang belakang dan dua tiang depan . ukuran rumah pacenan menggunakan ukuran kaki dan sangat bervariasi antara lain 15, 17, 19 dan 21. Rumah pacenan mempunyai 2 ruang yaitu amper/ruang tamu berfungsi tempat menerima tamu dan roma /tempat istirahat berfungsi sebagai tempat istirahat bersifat pribadi tidak sembarang orang boleh masuk kecuali orang yang sudah diizinkan oleh tuan rumah. Ornamen pada rumah pacenan kebanyakan dengan motif hewan, bunga dan geometris tidak ada nilai historis didalamnya hanya berfungsi sebagai nilai keindahan saja. Nilai estetis dari rumah pacenan terlihat saat semua bagian dari rumah pacenan berjalan dengan sebagaimana fungsinya. Kata Kunci : arsitektur, sejarah, pacenan This study aims to determine: (1) the history and existence of Home Pacenan in District Jangkar (2) architectural pattern seen from the division of space, function, decoration or ornament and aesthetic value. This research is a descriptive qualitative approach. The subjects were three other carpenters and cultural pacenan home maker and the object of this study is pacenan home. The method used for collecting data in this study are documentation, interviews and literature. By using the domain analysis and taxonomy. The results of this study indicate that: (1) The history of the house pacenan in District Jangkar there was a man who proposed to a girl in the village of Jangkar that he made the house as a dowry, then the house was called the house pacenan because these man came from the promontory of Chinatown. Then the house was developed. The existence of houses in the district pacenan in Jangkar many have been modified this is due to several factors, among others: many parts of the house that had rotted, part pacenan homes sold for an amazing price and modify pacenan houses because they want to follow the trend these days. (2) architectural pattern pacenan home using a pattern roof like a mountain ridge called, using four-pole and two-pole behind the fron.. The size pacenan home use foot size and vary considerably among others 15, 17, 19 and 21. The house has two rooms that pacenan amper / living room serves the reception area and roma / rest area serves as a place of rest is personal not just anyone allowed in except people who have been permitted by the host. Ornaments at house pacenan mostly with motifs of animals, flowers and geometric no historical value of art in it, only serves as an aesthetic value alone of art are same. Pacenan aesthetic value of art the house looks when all parts of the house pacenan running as its function. keyword : architecture, history, pacenan
Rumah Berbahan Kayu Bekas Karya Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali ., I Komang Wirya Adnyana; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.799 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i1.8625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perwujudan gagasan Gede Kresna sebagai inspirator dalam pembuatan rumah berbahan kayu bekas di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (2) alat yang digunakan dalam pembuatan rumah berbahan kayu bekas Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali ; (3) proses pembuatan rumah dengan berbahan kayu bekas oleh Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Gede Kresna dan tukang- tukangnya sedangkan objek penelitian ini adalah Gede Kresna dan rumah kayu bekasnya. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan kepustakaan. Dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) perwujudan gagasan Gede Kresna menggunakan kayu bekas sebagai konstruksi rumah berangkat dari keadaan, keadaan dimana Gede Kresna sejak dulu menyukai barang- barang lama, disamping itu berangkat dari kekhawatirannya kepada kelestarian lingkungan akan penebangan pohon yang secara sembarangan, selain itu juga menggunakan kayu bekas didasarkan pada keunikan dari penampakan kayu tersebut. Perwujudan karya- karya Gede Kresna tidak berupa rumah saja tetapi berupa villa, rumah makan dan lain- lain yang memiliki peminat dari dalam maupun luar Bali. (2) Alat- Alat yang digunakan dalam pembuatan rumah kayu bekas: mesin serkel , bor listrik atau mesin pengeboran, mesin serut, mesin amplas, mesin gerinda. geregaji tangan, mesin pembuat purus/ mortising machine, berbagai jenis pahat tukang, palu, meteran gulung, penggaris siku- siku, pensil dan pulpen, kapak, dan tang. (3) Proses dalam pembuatan rumah berbahan kayu: diawali dengan membeli dan mengumpulkan material kayu- kayu bekas yang akan dijadikan rumah, kemudian membuat desain atau rancangan rumah yang akan dibuat, dilanjutkan dengan pembuatan maket. Setelah maket jadi kemudian rancangan rumah di konsulidasikan dengan tukang- tukang kemudian pemilihan bahan. Setelah itu kayu dipotong, dihaluskan kemudian dilanjutkan dengan pencoakan serta membuat purus. Setelah semua kayu dibuat coakan dan pembuatan purus kemudian proses perakitan rumah diawali dengan membuat kerangka dasar bangunan, pemasangan tiang struktur, pemasangan konstruksi kap dan kuda- kuda, dilanjutkan dengan pengerjaan detail- detail ukiran, pemasangan skur- skur, membuat kusen- kuses, membuat dinding dan lantai, pemasangan tangga dan railingnnya, pemasangan atap, kemudian yang terakhir adalah proses finishing. Kata Kunci : arsitektur, kayu bekas, Gede Kresna This research aims to determine: (1) the embodiment idea of Gede Kresna as inspiration in the manufacture of wooden houses in the former Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (2) the tools used in the manufacture of wooden houses in the former Gede Kresna Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (3) the process of making wooden house with the former by Gede Kresna in Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali. This research is a descriptive qualitative approach. The subjects were Gede Kresna and with him while the object of this study was Gede Kresna and wooden houses scars. The method used for data collection in this study is documentation, interviews and literature. By using the domain analysis and taxonomy. The results of the research indicate that: (1) the embodiment idea of Gede Kresna use scrap wood as the construction of the house departs from the state, a state where Gede Kresna had always liked the old goods, in addition to the departure of concern to the environment will be felling trees indiscriminately, but it also uses scrap wood is based on the uniqueness of the appearance of the wood. Embodiment works Gede Kresna not be home alone but in the form of villas, restaurants and others who have interest from within and outside Bali. (2) the tools used in the manufacture of wooden houses ex: serkel machine, electric drill or drilling machine, planer machines, sanding machines, grinding machines, whipsaw, mortising machine, various types of chisel, hammer, meter roll, elbow ruler, pencils and pens, axes, and pliers. (3) The process in the manufacture of wooden houses: beginning with buying and collecting material timbers that will be the former home, then create a design or a design house that will be made, followed by the manufacture of the miniature. After the miniature has finished, then the design of house in consulted with the handymans then the selection of materials. After that, cut the wood, crushed and then continued with made the coak and purus. After all the wood has made purus and coakan then home assembly process begins with the basic skeleton of the building, the installation of pole structures, construction installation hood, followed by the details carving workmanship, installation skur- skur, making kusen- kusen, walls and floors, installation of stairs and the railing, installation of roof, then the last is finishing process.keyword : architecture, scrap wood, Gede Kresna
LAYANG-LAYANG BEBEAN DI DESA UNGASAN, KECAMATAN KUTA SELATAN, KABUPATEN BADUNG ., Siti Meisaroh; ., Drs. I Gusti Nyoman Widnyana; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.07 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v4i1.4256

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bahan dan alat dalam proses pembuatan layang-layang bebean, (2) proses pembuatan layang-layang bebean, (3) nilai visual dan estetis layang-layang bebean di Desa Ungasan Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pembuat layang-layang bebean yang ada di Desa Ungasan Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, rekontruksi, dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan layang-layang yaitu: bambu Santong, kain parasut, tali tambang, benang nilon, benang kasur, benang jahit, tali plastik/tali pancing, pisau, meteran kayu, meteran kain, golok, gergaji, gunting benang, gunting kain, mesin jahit, cutter, jarum jahit, pensil, dan penggulung benang, (2) Proses pembuatan layang-layang bebean dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu dimulai dari; menyiapkan bahan dan alat, memotong bambu sesuai ukuran, memasang tulang sehingga menjadi kerangka layang-layang bebean, membuat pola pada kain, memasang kain penutup pada kerangka layang-layang, membuat dan memasang goangan, dan yang terakhir memasang tali timbang dan tali penarik layang-layang bebean, (3) Secara visual layang-layang memiliki unsur-unsur garis, bidang, dan warna. Sedangkan secara Estetik layang-layang bebean mengandung prinsip harmoni pada keserasian penyusunan kerangka dan prinsip kontras pada perpaduan warnanya. Sedangkan asas yang terkandung dalam desain layang-layang bebean adalah asas proporsi, kesederhanaan, kesatuan, serta keseimbangan yang bersifat simetris.Kata Kunci : layang-layang bebean, nilai visual, nilai estetik This study aims to determine (1) materials and tools in the process of making a bebean kites, (2) the process of making a bebean kites, (3) visual and aesthetic values bebean kites in Ungasan Village, South Kuta District, Badung Regency. Type of research is descriptive qualitative research. The subjects were bebean kites makers in the Ungasan Village, South Kuta District, Badung Regency. The method of data collection was performed using the method of observation, interviews, documentation, reconstruction, and literature. The results showed that (1) the materials and tools used in the manufacture of bebean kites, namely: Santong bamboo, parachute cloth, rope, nylon yarn, thread mattresses, sewing thread, plastic string / fishing line, knives, wooden meter, cloth meter, machetes, saws, scissors yarn, fabric scissors, sewing machine, cutter, sewing needles, pencils, and bobbin, (2) the process of making a bebean kites can be divided into several parts which starts from; preparing materials and tools, bamboo cut to size, put the bones to become bebean kite frame, making patterns on cloth, put the cloth covering the kite frame, making and installing goangan, and the last weigh put straps and rope towing bebean kites, (3) visually kite has the elements of line, shape, and color. As for the Aesthetic bebean kites contains the principle of harmony in harmony preparation of the framework and principles of the blend color contrast. While the principles embodied in the design of the bebean kites is the principle of proportion, simplicity, unity, and balance are symmetrical.keyword : bebean kites, visual values, aesthetic values
KERAJINAN GERABAH DESA PENUJAK KECAMATAN PRAYA BARAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT ., Mahendra; ., Dra. Luh Suartini; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v4i1.4251

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang (1) Sejarah Keberadaan kerajinan gerabah. (2) Bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan kerajinan gerabah. (3) Proses pembuatan kerajinan gerabah. (4) Bentuk kerajinan gerabah di desa Penujak. Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Kualitatif, Sasaran informan ditempat penelitian adalah pengrajin gerabah sebagai subjek penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sejarah keberadaan kerajinan gerabah di desa Penujak. (2) Alat dan Bahan yang digunakan dalam pembuatan kerajinan gerabah meliputi alat utama dan alat penunjang antara lain: Cangkul, Aluw, Batu kokoh, Kain lap, potongan sandel, Ladiq, Tunggku pembakaran tradisional, sendok, Tutup pasta gigi, bekas Sisir bekas yang dimodifikasi. Sedangkan bahan meliputi bahan utama, bahan penunjang pembakaran, bahan penunjang pewarnaan yaitu; Tanah liat, Jami(Jerami), Lukeng kedeli, kajuq(kayu bakar), Tangkel, serbuk gergaji, Sari biji asam, Arang, Minyak asli. (3) Proses pembuatan kerajinan gerabah melalui beberapa tahapan diantanya: Proses pencarian Tanah liat, Proses pengeringan Tanah liat, Proses peluturan yaitu proses peleburan tanah liat yang masih mentah, Proses pembentukan gerabah, Proses pemberian gambar, Proses pembakaran, proses pewarnaan. (4) Bentuk yang dihasilkan dari gerabah antara lain Benda fungsional meliputi: Sogon, Jangkih, Bike, Kocor tanaq, Sador, Dulang, Sendor, Bong, Semen tanaq, mangkok, Hiasan air mancur, Hiasan Lampu. Benda non fungsional meliputi; Kendi tabung, Gucci, Bike modern. Patung Manuk, Patung Lepang, Patung penyu, Patung empak, Patung tekek dan Patung Sepatu. Kata Kunci : Kerajinan, gerabah, proses, bentuk. This study aimed to determine (1) the existence of pottery history. (2) The materials and tools used in the manufacture of pottery. (3) The process of making pottery. (4) The form of pottery in the Penujak village. This research is descriptive qualitative research, the target informant research place is potters as the research subject. The techniques used in collecting the data were observation, interview, and documentation. The results showed that (1) The history of pottery in the Penujak village. (2) The tools and materials used in the manufacture of pottery covering the main tool and the supporting tools, among others: Hoes, Aluw, solid stone, Duster, Sandel cuts, Ladiq, traditional combustion furnace, ladle, Close toothpaste, the modified of comb secondhand. While the material covering the main material, combustion supporting material, staining supporting material; Clay, Jami (Straw) , Lukeng Kedeli, kajuq (firewood), Tangkel, sawdust, Sari tamarind seeds, charcoal, original oil. (3) The process of making pottery through several stages as follows: the process of searching clay, the process of drying the clay, the process of peluturan is the process of melting the raw clay, the process of forming the pottery, the process of visualizing, the process of burning, the process coloring. (4) The form which is produced by pottery such as functional objects include: Sogon, Jangkih, Bike, Kocor tanaq, Sador, Dulang, Sendor, Bong, Semen tanaq, bowls, Fountain decoration, Lights decoration. Non- functional objects include; Kendi tube, Gucci, Modern Bike. Manuk Sculpture, Lepang Sculpture, Turtle Sculpture, Empak Sculpture, Tekek Sculpture and Shoes Sculpture. keyword : Crafts, pottery, processes, forms.
KERAJINAN KERANG DI DESA KILENSARI KECAMATAN PANARUKAN KABUPATEN SITUBONDO ., AVIF VIKRI ZAHIR IBRONI; ., Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn.; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.249 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v9i2.21560

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) Bahan dan Alat apa saja yang digunakan dalam proses pembuatan kerajinan kerang di Desa Kilensari (2) Proses pembuatan kerajinan kerang di Desa Kilensari Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo (3) Jenis dan Bentuk karya apa saja yang dihasilkan oleh pengrajin kerang di Desa Kilensari Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah pemilik Centra Kerajinan Kerang di desa Kilensari Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Dokumentasi, dan (4) Tinjauan Pustaka. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian dari ini adalah (1) Bahan yang digunakan dalam proses pembuatan Kerajinan kerang di Desa Kilensari Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo, adalah cangkang kerang, lem kayu, lem G, solasi, batu ijo/longsol, resin, cairan HCL, cairan H2O2, cat minyak, thinner A. Sedangkan alat yang digunakan adalah mesin molen, kikir, kawat jaring, keranjang, ember, acuan cetak, mesin gerinda duduk, mesin gerinda, ampelas, kompressor, pisau, mesin oven. (2) Proses pembuatan kerajinan kerang di Desa Kilensari Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo mengalami beberapa tahapan, tahap awal yaitu proses pencucian dan proses pelunakan, kemudian pada tahap inti yaitu proses pembentukan dan proses perbaikan, pada tahap akhir yaitu proses pemolesan dan proses finishing. (3) Jenis dan Bentuk karya yang dihasilkan oleh pengrajin kerang di Desa Kilensari Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo terdiri dari dua jenis yaitu fungsional dan non fungsional, adapun kerajinan fungsional yang dihasilkan berupa nampan, piring, lepek (alas cangkir), pot bunga, bingkai cermin, tempat perhiasan, asbak, gorden, dan hiasan lampu. Sedangkan kerajinan non fungsional yang dihasilkan berupa karya dua dimensi dengan figur Nyi Roro Kidul, figur Rama dan Shinta, burung cendrawasih, burung bangau, patung ikan arwana, dan hiasan gantung cing-krincing.Kata Kunci : kerajinan, kerang, desa kilensari This study aims to describe (1) what materials and tools are used in the process of making shellfish handicrafts in Kilensari village (2) the process of making shellfish handicrafts in Kilensari village, Panarukan subdistrict, Situbondo district (3) the types and forms of works produced by shellfish craftsmen in Kilensari Village, Panarukan District, Situbondo Regency. This research is a qualitative descriptive study. The target of this research is the owner of Centra Shellfish Craft in Kilensari village, Panarukan Subdistrict, Situbondo Regency. The data collection in this study was carried out by techniques (1) Observation, (2) Interviews, (3) Documentation, and (4) Literature Review. Data analysis techniques used in this study are domain and taxonomic analysis. The results of this study are (1) Materials used in the process of making shellfish crafts in Kilensari Village, Panarukan Subdistrict, Situbondo Regency, are clam shells, wood glue, G glue, solation, green stone / longsol, resin, HCL liquid, H2O2 liquid, paint oil, thinner A. While the tools used are molen, miser, wire mesh, basket, bucket, printing reference, sitting grinding machine, grinding machine, emery, compressor, knife, oven machine. (2) The process of making seashells in Kilensari Village, Panarukan Subdistrict, Situbondo Regency has several stages, the initial stage is the washing process and softening process, then at the core stage, namely the process of forming and repairing, at the final stage namely the polishing process and finishing process. (3) Types and forms of works produced by shellfish craftsmen in Kilensari Village, Panarukan Subdistrict, Situbondo Regency consist of two types, namely functional and non functional, as for the functional crafts produced in the form of trays, plates, saucers (pedestal cups), flower pots, mirror frames , jewelry, ashtrays, curtains, and lamp decorations. While the non-functional craft produced in the form of two-dimensional works with Nyi Roro Kidul figures, Rama and Shinta figures, birds of paradise, storks, arowana fish statues, and hanging cing-kincinc hanging decorations.keyword : crafts, shells, kilensari village
Kajian Visual Bangunan Dapur Tradisional Khas Kecamatan Kubu, Karangasem ., Bayu Intaran I Gd Pt; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan; ., Ni Nyoman Sri Witari, S.Sn.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v5i1.5348

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui struktur bangunan dapur tradisional khas Kubu, Karangasem. (2) mengetahui sistem ukur bangunan dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. (3) mengetahui fungsi bagian-bagian dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan model pendekatan kualitatif. Jenis data yang didapat yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data ini dianalisis dengan cara kualitatif dengan tahap yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) struktur bangunan dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Menggunakan material alami untuk pembuatan dapur tradisional dengan menggunakan atap yang berbahan ilalang atau beluhu. (2) sistem ukur bangunan dapur tradisional khas Kubu Karangasem. Menggunakan cara tradisional yaitu dalam istilah Bali Gegulak (sistem ukur tradisional bali) yang terdiri dari Musti, Hasta, Depa (3) fungsi bagian-bagian bangunan tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Lantai (bebaturan) yang terbuat dari tanah karena tidak menggunakan semen atau ubin, Dinding atau bedeg yang terbuat dari anyaman bambu dan terdapat celah-celah untuk memudahkan keluarnya asap dari kayu yang di gunakan sebagai bahan bakar, Rangka atap yang terbuat dari bambu berfungsi sebagai rangka penahan atap bangunan dapur, Tiang (sesaka) yang terdiri dari enam belas buah digunakan sebagai tiang penyangga bangunan, Bataran (Pondasi) terbuat dari batu utuh sebagai dasar dinding bangunan, Seseh (perekat tiang) adalah kayu kelapa yang berfungsi sebagai penyambung atau perekat sesaka , Ujuk (Tiang atas) terdapat pada bagian geladag sebagai poros tengah bangunan dapur, Undag (tangga didepan pintu) sebagai pembatas antara ruangan di dalam dan diluar dipergunakan sebagai tangga, Neb (Penahan) terbuat dari bilah bambu yang memanjang sesuai ukuran atap bangunan berfungsi sebagai penjepit beluhu, Trampo (Bambu) berfungsi sebagai penahan dinding atau bedeg letaknya tepat diatas bataran, Jalikan atau tungku yang terbuat dari tanah digunakan sebagai tempat memasak, Sendi terbuat dari batu persegi atau semen yang berfungsi sebagai dasar tiang atau sesaka, Bale gede berfungsi sebagai tempat tidur, Bale cenik beten berfungsi sebagai tempat alat memasak, Geladag (tempat penyimpanan hasil panen) berada diatas ruangan dapur. Kata Kunci : dapur tradisional, struktur, sistem pengukuran, dan fungsi. This study aims at (1) knowing the structure of special traditional kitchen of Kubu, Karangasem; (2) knowing the measuring system of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem ; (3) knowing the function of each part of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem. This is a descriptive qualitative research. The data collection were observation, interview, and documentation. The data found were analyzed qualitatively, the steps of which were data reduction, data presentation, and conclusion. The result of the study showed that: (1) the structure of special traditional kitchen of Kubu, Karangasem uses natural material, such as tall coarse grass or Beluhu. (2) The measuring system of the special traditional kitchen of Kubu, Karangaem uses traditional system known as Gegulak( a traditional measuring system of Balinese people) which consist of Musti, Hasta, Depa. (3) The function of each part of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem are :The floor or (bebaturan) which is made of soil because they don’t use cement or tile; The wall or (bedeg) which is made of plaited bamboo, so that there are space from which the smoke of the cooking process with wood goes out; The roof frameworks which are made of bamboo have a function to support the kitchen roof; The pole or (sesaka) which consist of sixteen poles of the building; Base (bataran) is made of stone as the foundation of the building;Pole adhesive (seseh) is made of coconut wood which function as the connector of the sesaka; Upper pole (ujuk) which position is on the geladag part as the center axis of the kitchen; The stairs in front of the door (undag) function as the border between indoor and outdoor parts of the building; The restrain (neb) which is made of long bamboo chips function as the clasp of the beluhu, Bamboo (trampo function as the supporter of the wall or bedeg which is exactly situated on the bataran; The fireplace (jalikan) which is made of soil, used as the place to cook; join which is made of square stone or cement functions as the pole or sesaka base; Bale gede functions as a bed, Bale cenik beten functions as the place of the cooking utensils; Geladag the place to keep the harvest situated above the kitchen building. keyword : traditional kitchen, structure; measuring sytem and function
Co-Authors ., A.A. Gede Nangga Bayu Suwita ., AVIF VIKRI ZAHIR IBRONI ., Dedy Nur Saputra ., Destiara Aulia Citra ., Dewa Putu Bude Yase ., Harta Diwanda Kadek ., I Komang Wirya Adnyana ., I Made Edy Suastawa ., I Made Winarta ., I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. ., I Putu Agus Santika Putra ., I Wayan Lias ., KADEK SURYA DWIPA ., Ketut Hersa Swadharma Putro Giri ., Kholilolloh ., Komang Marta Wira Miharja ., Mohammad Arifurrohma ., Ni Putu Wikantariasih ., Riza Nur Hanafi ., S. Gan. Tatang Sukandar ., Yoga Suta Wirya Made A.A. Gede Nangga Bayu Suwita . Agus Sudarmawan Aprilianingsih, Rika Arry Komang Gede Bhaskara . AVIF VIKRI ZAHIR IBRONI . Bayu Intaran I Gd Pt . Dedy Nur Saputra . Destiara Aulia Citra . Dewa Putu Bude Yase . Dewa Putu Sudiarta Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn. . Drs. I Gusti Nyoman Widnyana . Drs. I Wayan Darsana,M.Ed . Drs.Mursal . Harta Diwanda Kadek . I Gusti Made Budiarta I Ketut Sudita I Ketut Supir I Komang Wardita . I Komang Wirya Adnyana . I Made Edy Suastawa . I Made Winarta . I Nyoman Rediasa I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. . I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si . I Nyoman Sila I Putu Agus Santika Putra . I Putu Herman Indrayana . I Wayan Lias . I Wayan Sudiarta I Wayan Sudiarta I Wayan Sudiarta I Wayan Wahyu Pratama . Ida Ayu Putu Sri Widnyani KADEK SURYA DWIPA . Ketut Hersa Swadharma Putro Giri . Kholilolloh . Komang Marta Wira Miharja . Langen Bronto Sutrisno Luh Maradoni . Luh Suartini . M.Si ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si Mahendra . Mohammad Arifurrohma . Ni Luh Ekmi Jayanti . Ni Luh Ekmi Jayanti ., Ni Luh Ekmi Jayanti Ni Nyoman Sri Witari Ni Putu Wikantariasih . Ni Wayan Septiari . Nova Erlina Nyoman Rediasa Putri, Yuliana Khairi Putu Gede Ary Pramana . Putu Tegeh Kertiyasa . Putu Yudik Suarmawan Rediasa, Nyoman Rika Aprilianingsih Riza Nur Hanafi . S. Gan. Tatang Sukandar . Sandra, Alek saputero, gede adi Saputra, Apriadi Resky Setiawan, Kadek Rizky Siti Meisaroh . Sudiarta, Dewa Putu Widaratna, Praja Adytia widiartta, ida bagus yuda Yoga Suta Wirya Made .