Gede Eka Harsana Koriawan
Universitas Pendidikan Ganesha

Published : 85 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Visual Bangunan Dapur Tradisional Khas Kecamatan Kubu, Karangasem Bayu Intaran I Gd Pt .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan .; Ni Nyoman Sri Witari, S.Sn. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 5 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v5i1.5348

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui struktur bangunan dapur tradisional khas Kubu, Karangasem. (2) mengetahui sistem ukur bangunan dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. (3) mengetahui fungsi bagian-bagian dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan model pendekatan kualitatif. Jenis data yang didapat yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data ini dianalisis dengan cara kualitatif dengan tahap yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) struktur bangunan dapur tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Menggunakan material alami untuk pembuatan dapur tradisional dengan menggunakan atap yang berbahan ilalang atau beluhu. (2) sistem ukur bangunan dapur tradisional khas Kubu Karangasem. Menggunakan cara tradisional yaitu dalam istilah Bali Gegulak (sistem ukur tradisional bali) yang terdiri dari Musti, Hasta, Depa (3) fungsi bagian-bagian bangunan tradisional khas kecamatan Kubu, Karangasem. Lantai (bebaturan) yang terbuat dari tanah karena tidak menggunakan semen atau ubin, Dinding atau bedeg yang terbuat dari anyaman bambu dan terdapat celah-celah untuk memudahkan keluarnya asap dari kayu yang di gunakan sebagai bahan bakar, Rangka atap yang terbuat dari bambu berfungsi sebagai rangka penahan atap bangunan dapur, Tiang (sesaka) yang terdiri dari enam belas buah digunakan sebagai tiang penyangga bangunan, Bataran (Pondasi) terbuat dari batu utuh sebagai dasar dinding bangunan, Seseh (perekat tiang) adalah kayu kelapa yang berfungsi sebagai penyambung atau perekat sesaka , Ujuk (Tiang atas) terdapat pada bagian geladag sebagai poros tengah bangunan dapur, Undag (tangga didepan pintu) sebagai pembatas antara ruangan di dalam dan diluar dipergunakan sebagai tangga, Neb (Penahan) terbuat dari bilah bambu yang memanjang sesuai ukuran atap bangunan berfungsi sebagai penjepit beluhu, Trampo (Bambu) berfungsi sebagai penahan dinding atau bedeg letaknya tepat diatas bataran, Jalikan atau tungku yang terbuat dari tanah digunakan sebagai tempat memasak, Sendi terbuat dari batu persegi atau semen yang berfungsi sebagai dasar tiang atau sesaka, Bale gede berfungsi sebagai tempat tidur, Bale cenik beten berfungsi sebagai tempat alat memasak, Geladag (tempat penyimpanan hasil panen) berada diatas ruangan dapur. Kata Kunci : dapur tradisional, struktur, sistem pengukuran, dan fungsi. This study aims at (1) knowing the structure of special traditional kitchen of Kubu, Karangasem; (2) knowing the measuring system of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem ; (3) knowing the function of each part of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem. This is a descriptive qualitative research. The data collection were observation, interview, and documentation. The data found were analyzed qualitatively, the steps of which were data reduction, data presentation, and conclusion. The result of the study showed that: (1) the structure of special traditional kitchen of Kubu, Karangasem uses natural material, such as tall coarse grass or Beluhu. (2) The measuring system of the special traditional kitchen of Kubu, Karangaem uses traditional system known as Gegulak( a traditional measuring system of Balinese people) which consist of Musti, Hasta, Depa. (3) The function of each part of the special traditional kitchen of Kubu, Karangasem are :The floor or (bebaturan) which is made of soil because they don’t use cement or tile; The wall or (bedeg) which is made of plaited bamboo, so that there are space from which the smoke of the cooking process with wood goes out; The roof frameworks which are made of bamboo have a function to support the kitchen roof; The pole or (sesaka) which consist of sixteen poles of the building; Base (bataran) is made of stone as the foundation of the building;Pole adhesive (seseh) is made of coconut wood which function as the connector of the sesaka; Upper pole (ujuk) which position is on the geladag part as the center axis of the kitchen; The stairs in front of the door (undag) function as the border between indoor and outdoor parts of the building; The restrain (neb) which is made of long bamboo chips function as the clasp of the beluhu, Bamboo (trampo function as the supporter of the wall or bedeg which is exactly situated on the bataran; The fireplace (jalikan) which is made of soil, used as the place to cook; join which is made of square stone or cement functions as the pole or sesaka base; Bale gede functions as a bed, Bale cenik beten functions as the place of the cooking utensils; Geladag the place to keep the harvest situated above the kitchen building. keyword : traditional kitchen, structure; measuring sytem and function
KERAJINAN AKAR KAYU DI BINTANG TEAK ROOT FURNITURE DESA BATUAN SUKAWATI, GIANYAR Ni Luh Ekmi Jayanti .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .; I Gusti Made Budiarta, S.Pd., M.Pd .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i3.6434

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) proses pembuatan kerajinan akar kayu, (2) ragam bentuk kerajinan akar kayu di Bintang taeak Root Furniture Desa Batuan Sukawati, Gianyar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pembuat kerajinan akar kayu yang ada di Desa Batuan Sukawati, Gianyar. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Proses pembuatan kerajinan akar kayu dikerjakan melalui dua tahap; Tahap pertama persiapan bahan utama akar kayu jati, bahan pendukung seperti soda api, H2O, lem kayu, sending seler, melamik glos, tiner dan hardener. Persiapan alat seperti pisau cekrek, pahat, palu, mesin serut kayu, gergaji mesin, amplas, gerinda, waterpass, kuas, sikat kawat, kompresor, steam listrik (mesin tembak angin), kompor perak dan slop tangan slop. Pada tahap kedua yaitu proses pembuatan dimulai dari; pemilihan bahan akar kayu, proses pemotongan secara global, mencekrek untuk membentuk body, penyetelan mengukur kedataran, pengamplasan, pembersihan menggunakan air, dan yang terakhir finishing menggunakan du teknik yaitu finishing melamik glos dan finishing pembakaran. (2) Ragam bentuk kerajinan akar kayu berupa benda fungsional dan benda hias diantaranya; Tempat lilin, sofa, kursi Bar, meja bonsai, meja jamur, meja cofe, meja cofe belah, satu set kursi dan meja makan, satu set kursi dan meja cofe kotak, Lemari rak terbuka, kursi dan meja bola, meja tamu, meja bintang, guci, Fas bunga, tempat buah, dekor tembok, dan stand dekorasi Kata Kunci : Kata-kata kunci : Kerajinan, Kayu, Desain Abstract The objectives of this study are to know: (1) the process of making a wood root , (2) the various forms of wood root craft in the Bintang Teak Root Furniture, Batuan Village Sukawati, Gianyar. The approach of this study is descriptive qualitative. The subjects of this study are the makers of wood root craft in the Batuan Village Sukawati, Gianyar. This research use observation, interview, documentation and literature as the technique of collecting data. The result of this study shows that: (1) the process of making a wood root is done through into two steps; the first step is preparation of teak root as the main material, the supporting materials such as soda ash, H2O, wood glue, sending seler, melamik glossed, tinner, and hardener. The preparation of tools are knives, cekrek knive, chisel, hammer, planer saws machine, grinding, sandpaper, brush, wire brush, steam electric compressor, silver stones and hand slop. The second is manufacture process, start from the selection of wood root, cutting process in generally to get form the wood root’s body, tuning the measure, sanding, cleaning use water and the finishing use two techniques. The finishing of the techniques are melamik glossed’s finishing and burn’s finishing. (2) The various forms of wood root craft are the functional objects and ornamental objects include; candlleiers, sofa, bar stool, bonsai table, mushroom table, coffee table, coffee table sides, a set of chair and boxes of coffee table, shelves cabinets, ball chair and table, star table, jar, place fruit, vase, wall and stand decorations In the process of making a wood root crafts in the Bintang Teak Root Furniture, Batuan Village Sukawati, Gianyar is done through into step by step and the produce of various form wood root have a function each others. keyword : Key terms: wood root craft, Bintang Teak Root Furniture
KERAJINAN ANYAMAN BERBAHAN RUMPUT VETIVER DI DUSUN CEGI DESA BAN KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM I Wayan Lias .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .; Drs.Mursal .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.7790

Abstract

ABSTRAK Pengolahan rumput vetiver menjadi berbagai jenis kerajinan anyaman merupakan fokus pembahasan penelitian ini. Tujuan yang ingin dicapai adalah (1) Untuk mendeskripsikan pengolahan rumput vetiver menjadi anyaman, (2) Untuk mengetahui bentuk anyaman rumput vetiver, (3) Untuk mengetahui motif anyaman yang dapat dibentuk menggunakan rumput vetiver, Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Beberapa teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu teknik observasi, teknik wawancara, teknik dokumentasi, dan teknik tinjauan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Proses pengolahan rumput vetiver menjadi anyaman dilakukan dengan berbagai tahapan yaitu (a) panen rumput, (b) membersihkan rumput dari gulma, (c) mengklasifikasikan rumput berdasarkan ukurannya, (d) merebus rumput dengan air yang telah dicampur dengan pewarna, dan (e) pengeringan rumput yang telah direbus, (2) Bentuk anyaman yang dapat dibuat dengan menggunakan rumput vetiver adalah anyaman berbentuk dua dimensi dan anyaman tiga dimensi, (3) Motif anyaman yang digunakan adalah motif kombinasi dasar, motif gerigi, motif variasi miring, motif sekruf, dan motif gergaji. Kata Kunci : Kerajinan Anyaman dan Rumput Vetiver ABSTRACT Manufacturing vetiver grass to becomes many kinds of weaving product is the main focused in this research. The aims are; (1) to describe manufacturing of vetiver grass to becomes a product, (2) to know the shape of vertiver grass weaving, (3) to know the design of a woven product by using vetiver grass. This research is a descrivtive research by using qualitative approach. There are some techniques used in collecting the data, they are; observation technique, interview, documentation, and a book view technique. The result of this research showed that; (1) the process of manufacturing vetiver grass becomes a woven have been done through many steps; (a) harvesting the grass, (b) cleaning the grass from the weeds, (c) classified the grass based on its shapes, (d) boiled the grass in a water mixed by colour pigments, and (e) dried the boiling grass, (2) the shape of a woven which made from vetiver grass is a woven with two dimensions and a woven with three dimentions, (3) the design used is a basic design, toothed edge design, variated angle design, a screw design, and a saw design. keyword : woven handicrafts and vetiver grass
TEKNIK OKSIDASI DI GAYA CERAMIC AND DESIGN, DESA SAYAN KUTUH, UBUD, GIANYAR Ni Wayan Septiari .; Dra. Luh Suartini .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8051

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) alat dan bahan apa saja yang digunakan dalam proses pengerjaan teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design . (2)Proses Oksidasi itu di Gaya Ceramic and Design. (3) Rupa yang dihasilkan dari teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah industri produksi dari Marcello Massoni. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara,(3) dokumentasi, dan (4) kepustakaan. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah: (1) alat dan bahan yang digunakan dalam penerapa teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design, alat: mesin pengolahan tanah, mesin penyaringan tanah, mesin pencampur tanah, timbangan tanah, ember, triplek, ember drim, putaran mesin, rak penyimpanan, putaran tangan (hand whell), timbangan glasir, tungku, sudip, butsir, pisau pemotong, senar pemotong, pahat, kuas, pulpen bekas, spon, alat penjepit, sendok sayur dan sutil, saringan glasir. Bahan: tanah liat, glasir, gas elpiji, lem, kulit padi (sekam) dan pasir. (2) proses pembuatan keramik dengan teknik Oksidasi di Gaya Ceramic and Design yang meliputi antara lain: Proses penyiapan bentuk keramik, proses pembentukan keramik, proses pengeringan pertama, proses pengeleman, proses pendekorasian, proses pengeringan tahap ke dua, proses pembakaran pertama, proses pengglasiran, proses pembakaran kedua dengan teknik Oksidasi. (3) Produk yang dihasilkan dari penerapan teknik oksidasi kulit padi (sekam) meliputi: teko, gelas minuman, mangkuk kecil, mangkuk besar, gelas sup, mangkuk minuman, tempat minuman. Produk yang dihasilkan dari penerapat teknik oksidasi pasir meliputi: teko, tempat pemerasan jeruk, tempat minum, tempat penyimpanan garam, tempat susu dan cream, tempat kopi, tempat alas makan, tempat lilin, tempat minuman teh, tempat sup, tempat nasi, tempat air minuman. Kata Kunci : teknik Oksidasi, alat dan bahan, bentuk produk Abstract This research was aimed at describing: (1) tools and materials used in the process of oxidation technique at cheramic style and design. (2) The process of oxidation technique at cheramic style and design. (3) The product that was resulted from the process of oxidation technique at cheramic style and design. This study was a kind of descriptive research with qualitative approach. The subject in this study was production industry from Marcello Massoni. The process of data collection is done using several techniques, such as (1) observation, (2) interview, (3) dokumentation, and (4) literature. The findings of this research are: (1) Tools and material used in the oxidation process at cheramic style and design; tools: soil processing machine, soil filter machine, soil mixing machine, bucket, plywood, drum, wheel machine, shelf storage, fireplace, knife mower, strings mower, chisel, small brush, pen, sponge, brace, and spatula; Materials: clay, glazing, gas, glue, husk, and sand. (2) The process of making cheramic by using oxidation technique at cheramic style and design including: the preparation process of shaping the cheramic, the cheramic shaping process, first drying process, the process of giving glue, decoration process, second drying step, first burning step, the process of penglasiran, second burning step by oxidation technique. (3) The products that was resulted from the implementation of oxidation technique using husk were: teapot, glass, small bowl, big bowl, soup bowl, drinking bowl, and place for drinking. The producst that is resulted from the implementation of oxidation technique using sand were: teapot, orange distilation, place of drinking, salt storage, milk and cream storage, place for coffe, pedestial, candelabrum, place for tea, soup, rice, and water for drink. keyword : oxidation technique, tools and materials, form of product
PROSES PEMBUATAN GITAR UKIR I WAYAN TUGES DI DESA GUWANG, KECAMATAN SUKAWATI, KABUPATEN TINGKAT II GIANYAR I Made Winarta .; Dr.Drs.I Ketut Sudita, M.Si .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8052

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan gitar ukir I Wayan Tuges di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, kabupaten Tingkat II Gianyar; (2) proses pembuatan gitar ukir I Wayan Tuges di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, kabupaten Tingkat II Gianyar; (3) bentuk dan motif yang digunakan pada gitar ukir I Wayan Tuges di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, kabupaten Tingkat II Gianyar. Subjek dalam penelitian ini adalah I Wayan Tuges. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Bahan yang digunakan dalam gitar ukir I Wayan Tuges ini adalah kayu, lem kayu, tru-oil, cat acrylic, strings (senar gitar), tuning keys/tuning machines, nut gitar. Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan gitar ukir I Wayan Tuges adalah refrigerated dehumidifier, mesin gergaji pemotong, mesen gergaji pembelah, mesin serut (planner), mesin ketam perata/jointer, mesin router, pahat ukir kayu, pengotok (martil kayu), press neck gitar, dan gergaji besi mini. (2) Proses pembuatan gitar ukir karya I Wayan Tuges yaitu mulai dari pemilihan bahan baku kayu, pemotongan bahan baku kayu, pembelahan bahan baku kayu, penghalusan bahan baku kayu, perataan (mengetam) bahan baku kayu, proses router, penyimpanan balok kayu, pembuatan design bentuk dan motif gitar ukir, proses pengeringan pola dasar badan gitar, merekatkan rangka pada badan gitar, press body side gitar, menyusun body side gitar, pembuatan body top dan back gitar, pelapisan body gitar, pengukiran body gitar, pembuatan neck (leher) gitar, pemasangan bagian neck gitar, finishing. (3) Bentuk dan Motif yang Digunakan pada Gitar Ukir I Wayan Tuges yaitu bentuk Double Neck, Bentuk Gitar Lubang Resonansi Atas, Bentuk Gitar Standar, sedangkan motif yang digunakan yaitu motif pepatran, motif flora, motif fauna, motif pewayangan. Kata Kunci : Gitar Ukir I Wayan Tuges ABSTRACT This study aims to determine: (1) materials and tools used in the manufacture of the I Wayan Tuges guitar carving in Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Tingkat II Gianyar; (2) the process of making the I Wayan Tuges guitar carving in Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Tingkat II Gianyar; (3) forms and motifs used on the I Wayan Tuges guitar carving in Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Tingkat II Gianyar. The subject of this study was I Wayan Tuges. Data collection methods used in this research was the method of observation, interviews, documentation and literature. The data were analyzed by using descriptive qualitative approach. The results of this study showed that: (1) the materials used in the I Wayan Tuges guitar carving is wood, wood glue, tru-oil, acrylic paint, strings (guitar strings), tuning keys / tuning machines, guitar nut. The tools used in the manufacture of the I Wayan Tuges guitar carving are refrigerated dehumidifier, chainsaw cutting, saws splitting machine, shaved machine (planner), planers grading / jointer machine, router machine, chisel wood carving, pengotok (wooden hammer), press neck guitar, and mini hacksaw. (2) The process of making the guitar carving by I Wayan Tuges started from selecting raw materials of wood, cutting the wood raw materials, splitting the wood raw materials, refining the wood raw materials, smoothing (harvest) of wood raw materials, routers process, storage timber beams, manufacturing design of forms and motifs guitar carving, drying processes archetypal guitar body, gumming the frame of the guitar body, pressing the guitar body side, composing the guitar body side, manufacturing the guitar body top and back, coating the guitar body, sculpting the guitar body, manufacturing the guitar neck, attaching the guitar neck parts, finishing. (3) The forms and motifs used on the I Wayan Tuges guitar carving are Double Neck form, upper resonance hole guitar form, standard guitar form, while the motif used is pepatran motifs, flora motifs, fauna motifs, puppet motifs. keyword : I Wayan Tuges guitar carving
Arsitektur Rumah Pacenan di Desa Nelayan Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo Mohammad Arifurrohma .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .; I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8057

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah dan keberadaan Rumah Pacenan di Kecamatan Jangkar; (2) pola arsitektur dilihat dari pembagian ruang, fungsi, hiasan atau ornamen serta nilai estetis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah tiga orang tukang pembuat rumah pacenan dan budayawan dan objek penelitian ini adalah rumah pacenan. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan kepustakaan. Dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Sejarah rumah pacenan di Kecamatan Jangkar yaitu ada seorang laki-laki yang melamar seorang gadis di Desa Jangkar yang membuatkan rumah sebagai mas kawinnya, kemudian rumah itu disebut dengan rumah pacenan karana lelaki tersebut berasal dari tanjung pecinan. Kemudian rumah tersebut dikembangkan. Keberadaan rumah pacenan di Kecamatan Jangkar sudah banyak yang mengalami modifikasi hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain: banyak bagian rumah yang sudah lapuk, bagian rumah pacenan dijual karena harga menggiurkan dan memodifikasi rumah pacenan karena ingin mengikuti tren hari ini. (2) pola arsitektur rumah pacenan menggunakan pola atap seperti gunung yang disebut dengan bubung, menggunakan empat tiang belakang dan dua tiang depan . ukuran rumah pacenan menggunakan ukuran kaki dan sangat bervariasi antara lain 15, 17, 19 dan 21. Rumah pacenan mempunyai 2 ruang yaitu amper/ruang tamu berfungsi tempat menerima tamu dan roma /tempat istirahat berfungsi sebagai tempat istirahat bersifat pribadi tidak sembarang orang boleh masuk kecuali orang yang sudah diizinkan oleh tuan rumah. Ornamen pada rumah pacenan kebanyakan dengan motif hewan, bunga dan geometris tidak ada nilai historis didalamnya hanya berfungsi sebagai nilai keindahan saja. Nilai estetis dari rumah pacenan terlihat saat semua bagian dari rumah pacenan berjalan dengan sebagaimana fungsinya. Kata Kunci : arsitektur, sejarah, pacenan This study aims to determine: (1) the history and existence of Home Pacenan in District Jangkar (2) architectural pattern seen from the division of space, function, decoration or ornament and aesthetic value. This research is a descriptive qualitative approach. The subjects were three other carpenters and cultural pacenan home maker and the object of this study is pacenan home. The method used for collecting data in this study are documentation, interviews and literature. By using the domain analysis and taxonomy. The results of this study indicate that: (1) The history of the house pacenan in District Jangkar there was a man who proposed to a girl in the village of Jangkar that he made the house as a dowry, then the house was called the house pacenan because these man came from the promontory of Chinatown. Then the house was developed. The existence of houses in the district pacenan in Jangkar many have been modified this is due to several factors, among others: many parts of the house that had rotted, part pacenan homes sold for an amazing price and modify pacenan houses because they want to follow the trend these days. (2) architectural pattern pacenan home using a pattern roof like a mountain ridge called, using four-pole and two-pole behind the fron.. The size pacenan home use foot size and vary considerably among others 15, 17, 19 and 21. The house has two rooms that pacenan amper / living room serves the reception area and roma / rest area serves as a place of rest is personal not just anyone allowed in except people who have been permitted by the host. Ornaments at house pacenan mostly with motifs of animals, flowers and geometric no historical value of art in it, only serves as an aesthetic value alone of art are same. Pacenan aesthetic value of art the house looks when all parts of the house pacenan running as its function. keyword : architecture, history, pacenan
PROSES KREATIF PERUPA SAIKONI DI DESA TEGALSARI NGANDONG BANYUWANGI Riza Nur Hanafi .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .; Dr.Drs.I Ketut Sudita, M.Si .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8093

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui, (1) latar belakang Saikoni dalam berkarya seni (2) konsep karyanya (3) media yang digunakannya (4) bahan dan peralatan yang digunakan (5) proses berkarya (6) bentuk karya yang dihasilkan. Subjek dan objek penelitian adalah Saikoni. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan (1) proses kretif Saikoni berasal dari pengalamannya mengamati manfaat lain dari kotoran unggas dan barang yang tidak terpakai sebagai media untuk berkarya seni. Tidak semua karya menggunakan kotoran, tetapi hanya topeng yang dibuat dengan menggunakan kotoran unggas, sedangkan karya miniatur taman dibuat menggunakan barang lama yang tidak digunakan lagi (2) Konsep Saikoni lebih menggambarkan tentang bagaimana mewujudkan lingkungan yang bersih. Saikoni ingin mengubah persepsi masyarakat terhadap sampah. (3) media yang digunakan seperti: tembikar, gitar rusak dan kotoran unggas. (4) Bahan yang digunakan Saikoni seperti: semen, kaporit, lem kayu, cat, asesoris. Sementara alat berkarya seperti: cetok, palu, kuas, sterofom, ember. (5) Proses pembuatan topeng dari kotoran unggas: (a) mempersiapkan kotoran bebek, kaporit, lem kayu, cetok (b) membuat adonan dasar topeng (c) membuat bentuk topeng (d) pewarnaan. proses pembuatan miniatur taman: (a) mempersiapkan gentong, semen, cetok (b) membuat lubang di sisi gentong (c) masukkan sterofom ke dalam gentong, lalu tempelkan (d) membuat bentuk dasar taman di dalam gentong (e) pewarnaan. (6) Bentuk karya Saikoni ada beberapa bentuk mulai dari karya miniatur taman yang relatif mengambil pemandangan objek wisata Banyuwangi, sedangkan bentuk topeng yang lebih menggambarkan wajah barong. Kata Kunci : Seniman Saikoni, proses kreatif, media. This study aims find out, (1) background the Saikoni in making artwork (2) the concept of his work (3) media it uses (4) materials and equipment used (5) process working (6) form of work produced. Subject and object of research is Saikoni. This research is a qualitative descriptive study. The method used is observation, interview, and documentation. The results of study indicate (1) the process kretif Saikoni originated from his experiences observing other benefits from poultry droppings and unused goods as a medium for art work. Not all the works using dirt, but only the mask created using poultry manure, while the work of the garden miniature made using old stuff that is not used anymore (2) The concept Saikoni more describe about how realizing a environment clean. Saikoni want to change public perception toward trash. (3) the media used is pottery, broken guitar and poultry manure. (4) The materials used Saikoni such as: cement, chlorine, wood glues, paints, accesories. While working tool such as: trowel, hammer, brush, styrofoam, bucket. (5) The process of making a mask of poultry manure: (a) prepare duck droppings, chlorine, timber glue, trowel (b) make a basic dough the mask (c) making a mask shape (d) coloration. The process of creating a the garden miniature: (a) prepare a gentong, cement, shovel. (b) make a hole in the side of gentong (c) insert styrofoam a into gentong, then paste (d) make basic shape the garden in gentong (e) coloration. (6) The form of works Saikoni there are several forms ranging from miniature works of the park relatively taking scenery objects Attraction of Banyuwangi, while the shape mask a more depicts of the barong face. keyword : Artist Saikoni, the creative process, the media.
Analisis Gambar Ekspresi Bebas Taman Kanak-Kanak Di Kecamatan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur Destiara Aulia Citra .; Dra. Luh Suartini .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i1.8554

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) tema gambar ekspresi bebas Taman Kanak Kanak Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, (2) elemen gambar ekspresi bebas Taman Kanak Kanak Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, (3) analisis gambar ekspresi bebas Taman Kanak Kanak Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Subyek penelitian adalah Sekolah Taman Kanak-kanak di Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur; beberapa ahli dan akademisi seni. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, diskusi (fgd), dokumentasi, dan kepustakaan. Hasil penelitian ini menujukkan (1) mendeskripsikan tema gambar ekspresi bebas Taman Kanak Kanak Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yaitu: pemandangan gunung dan laut, lingkungan sekitar, benda-benda sekitar, (2) mendeskripsikan elemen gambar ekspresi bebas Taman Kanak Kanak Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, meliputi elemen-elemennya; garis, bidang, warna, (3) mendeskripsikan analisis gambar ekspresi bebas Taman Kanak Kanak Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang terdiri dari hasil positif dan negative, hasil positif terdiri dari anak: anak kreatif atau merdeka, anak cerdas atau pintar, dan anak pengaruh lingkungan mainan sedangkan hasil negatif terdiri dari anak: anak tidak percaya diri, anak berpola, anak tipe haptik, visual dan campuran dan anak hafalan.Kata Kunci : Analisis, Gambar Ekspresi Bebas This research aims to describe (1) a theme image expression free Kindergarten Kindergarten Subdistrict Asembagus, Situbondo, East Java, (2) the elements of the image expression free Kindergarten Kindergarten Subdistrict Asembagus, Situbondo, East Java, (3) analysis of image expression free Kindergarten Kindergarten Subdistrict Asembagus, Situbondo, East Java. The subject of research is the kindergarten School in the Asembagus, Situbondo, East Java; Some experts and academics.Data collection techniques used in this research is the observation, interview, discussion (fgd), documentation, and libraries. The results of this stud shows (1) describe the theme of the image expression free Kindergarten Kindergarten Subdistrict Asembagus, Situbondo, East Java, namely: mountain views and the sea, the surrounding environment, the objects around, (2) describe the elements of the image expression free Kindergarten Kindergarten Subdistrict Asembagus, Situbondo, East Java, including the elements; line, line, color, (3) describe the image analysis of the expression of free Kindergartens Kindergarten Subdistrict Asembagus, Situbondo, East Java, consisting of positive results andnegative, positive results are composed of children: creative or independent child, the child is smart or clever, and environmental influences children's toy whereas negative results consist of the child: the child is not the child's confidence, patterned, older type haptik, mixed and children's visual and oral.keyword : Image analysis, Free Expression
Transformasi Rupa Bali Pada Gerbang Utama Gereja Kristen Pniel Blimbingsari, Jembrana-Bali I Made Edy Suastawa .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .; Drs.Agus Sudarmawan, M.Si. .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i1.8571

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) gambaran bangunan gerbang utama Gereja Kristen Pniel Blimbingsari, Jembrana-Bali, (2) gambaran hasil transformasi rupa bali pada gerbang utama Gereja Kristen Pniel Blimbingsari, Jembrana-Bali. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif (qualitative). Subyek penelitian adalah gerbang utama gereja dan obyeknya adalah transformasi rupa Bali. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Dengan menggunakan instrumen berupa check list, kamera dan buku sumber. Hasil penelitian ini menunjukan (1) gerbang utama gereja Kristen Pniel Blimbingsari merupakan produk tranformasi budaya antara Hindu-Bali dan budaya Kristen karena mengadopsi arsitektur tradisional Bali yaitu menggunakan pedoman konsep kori agung pada pura di Bali. (2) yang merupakan hasil transformasi rupa Bali meliputi Salib pada puncak gerbang utama, ornamen burung merpati, ornamen GKPB Pniel, ornamen domba, patung malaikat penjaga, pintu pada gerbang utama, tiga tingkatan pada gerbang utama dan ragam hias kebun anggur. Yang meski sudah mengalami penggubahan dengan cerita-cerita ajaran Kristen tetapi tetap memakai pola dasar dan penempatan yang sama dengan konsep kori agung pura. Dimaksudkan untuk menghormati budaya setempat dan kehadiranya dapat diresapi dan diterima oleh umat Bali secara utuh, namun tidak lupa sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai agama Kristen pada umatnya.Kata Kunci : , rupa Bali, gerbang utama GKPB Pniel Blimbingsari This study aimed to describe (1) an overview of the building's main gate of Blimbingsari Peniel Church, Jembrana, Bali, (2) the description of the results of Bali’s transformation in the main gate of Blimbingsari Peniel Church, Jembrana, Bali. This research used descriptive qualitative research. Subjects were the main gate of the church and its object is about the transformation of Balinese form. The techniques that had been used to collecting data was observation, interviews, documentation and literature. By using the instrument in the form of check list, a camera and book sources. These results was indicate (1) the main gate of Blimbingsari Peniel church is a product of the transformation between Hindu-Balinese culture and Christian culture since adopting traditional Balinese architecture which used the concept guidelines Kori Agung temples in Bali. (2) which is the result of the transformation Balinese form include the Cross at the end of the main gate, pigeon’s ornamental, ornamental of GKPB Pniel, sheep ornaments, statues of guardian angels, the door at the main gate, three levels at the main gate and decorative vineyard. Although experiencing composed with the Christian’s stories but still used patterns and placement of the same basic concept Kori Agung temple. Intended to respect the local culture and its presence can be infused and accepted by the people of Bali as a whole, but do not forget as a means to extend the values of Christianity on his people.keyword : transformation, Balinese form, main gate GKPB Pniel Blimbingsari
Rumah Berbahan Kayu Bekas Karya Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali I Komang Wirya Adnyana .; Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg .; I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si .
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol. 6 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i1.8625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perwujudan gagasan Gede Kresna sebagai inspirator dalam pembuatan rumah berbahan kayu bekas di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (2) alat yang digunakan dalam pembuatan rumah berbahan kayu bekas Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali ; (3) proses pembuatan rumah dengan berbahan kayu bekas oleh Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Gede Kresna dan tukang- tukangnya sedangkan objek penelitian ini adalah Gede Kresna dan rumah kayu bekasnya. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan kepustakaan. Dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) perwujudan gagasan Gede Kresna menggunakan kayu bekas sebagai konstruksi rumah berangkat dari keadaan, keadaan dimana Gede Kresna sejak dulu menyukai barang- barang lama, disamping itu berangkat dari kekhawatirannya kepada kelestarian lingkungan akan penebangan pohon yang secara sembarangan, selain itu juga menggunakan kayu bekas didasarkan pada keunikan dari penampakan kayu tersebut. Perwujudan karya- karya Gede Kresna tidak berupa rumah saja tetapi berupa villa, rumah makan dan lain- lain yang memiliki peminat dari dalam maupun luar Bali. (2) Alat- Alat yang digunakan dalam pembuatan rumah kayu bekas: mesin serkel , bor listrik atau mesin pengeboran, mesin serut, mesin amplas, mesin gerinda. geregaji tangan, mesin pembuat purus/ mortising machine, berbagai jenis pahat tukang, palu, meteran gulung, penggaris siku- siku, pensil dan pulpen, kapak, dan tang. (3) Proses dalam pembuatan rumah berbahan kayu: diawali dengan membeli dan mengumpulkan material kayu- kayu bekas yang akan dijadikan rumah, kemudian membuat desain atau rancangan rumah yang akan dibuat, dilanjutkan dengan pembuatan maket. Setelah maket jadi kemudian rancangan rumah di konsulidasikan dengan tukang- tukang kemudian pemilihan bahan. Setelah itu kayu dipotong, dihaluskan kemudian dilanjutkan dengan pencoakan serta membuat purus. Setelah semua kayu dibuat coakan dan pembuatan purus kemudian proses perakitan rumah diawali dengan membuat kerangka dasar bangunan, pemasangan tiang struktur, pemasangan konstruksi kap dan kuda- kuda, dilanjutkan dengan pengerjaan detail- detail ukiran, pemasangan skur- skur, membuat kusen- kuses, membuat dinding dan lantai, pemasangan tangga dan railingnnya, pemasangan atap, kemudian yang terakhir adalah proses finishing. Kata Kunci : arsitektur, kayu bekas, Gede Kresna This research aims to determine: (1) the embodiment idea of Gede Kresna as inspiration in the manufacture of wooden houses in the former Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (2) the tools used in the manufacture of wooden houses in the former Gede Kresna Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (3) the process of making wooden house with the former by Gede Kresna in Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali. This research is a descriptive qualitative approach. The subjects were Gede Kresna and with him while the object of this study was Gede Kresna and wooden houses scars. The method used for data collection in this study is documentation, interviews and literature. By using the domain analysis and taxonomy. The results of the research indicate that: (1) the embodiment idea of Gede Kresna use scrap wood as the construction of the house departs from the state, a state where Gede Kresna had always liked the old goods, in addition to the departure of concern to the environment will be felling trees indiscriminately, but it also uses scrap wood is based on the uniqueness of the appearance of the wood. Embodiment works Gede Kresna not be home alone but in the form of villas, restaurants and others who have interest from within and outside Bali. (2) the tools used in the manufacture of wooden houses ex: serkel machine, electric drill or drilling machine, planer machines, sanding machines, grinding machines, whipsaw, mortising machine, various types of chisel, hammer, meter roll, elbow ruler, pencils and pens, axes, and pliers. (3) The process in the manufacture of wooden houses: beginning with buying and collecting material timbers that will be the former home, then create a design or a design house that will be made, followed by the manufacture of the miniature. After the miniature has finished, then the design of house in consulted with the handymans then the selection of materials. After that, cut the wood, crushed and then continued with made the coak and purus. After all the wood has made purus and coakan then home assembly process begins with the basic skeleton of the building, the installation of pole structures, construction installation hood, followed by the details carving workmanship, installation skur- skur, making kusen- kusen, walls and floors, installation of stairs and the railing, installation of roof, then the last is finishing process.keyword : architecture, scrap wood, Gede Kresna
Co-Authors ., A.A. Gede Nangga Bayu Suwita ., AVIF VIKRI ZAHIR IBRONI ., Dedy Nur Saputra ., Destiara Aulia Citra ., Dewa Putu Bude Yase ., Harta Diwanda Kadek ., I Komang Wirya Adnyana ., I Made Edy Suastawa ., I Made Winarta ., I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. ., I Putu Agus Santika Putra ., I Wayan Lias ., KADEK SURYA DWIPA ., Ketut Hersa Swadharma Putro Giri ., Kholilolloh ., Komang Marta Wira Miharja ., Mohammad Arifurrohma ., Ni Putu Wikantariasih ., Riza Nur Hanafi ., S. Gan. Tatang Sukandar ., Yoga Suta Wirya Made A.A. Gede Nangga Bayu Suwita . Agus Sudarmawan Aprilianingsih, Rika Arry Komang Gede Bhaskara . AVIF VIKRI ZAHIR IBRONI . Bayu Intaran I Gd Pt . Dedy Nur Saputra . Destiara Aulia Citra . Dewa Putu Bude Yase . Dewa Putu Sudiarta Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn. . Drs. I Gusti Nyoman Widnyana . Drs. I Wayan Darsana,M.Ed . Drs.Mursal . Harta Diwanda Kadek . I Gusti Made Budiarta I Ketut Sudita I Ketut Supir I Komang Wardita . I Komang Wirya Adnyana . I Made Edy Suastawa . I Made Winarta . I Nyoman Rediasa I Nyoman Rediasa, S.Sn, M,.Si. . I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si . I Nyoman Sila I Putu Agus Santika Putra . I Putu Herman Indrayana . I Wayan Lias . I Wayan Sudiarta I Wayan Sudiarta I Wayan Sudiarta I Wayan Wahyu Pratama . Ida Ayu Putu Sri Widnyani KADEK SURYA DWIPA . Ketut Hersa Swadharma Putro Giri . Kholilolloh . Komang Marta Wira Miharja . Langen Bronto Sutrisno Luh Maradoni . Luh Suartini . M.Si ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si Mahendra . Mohammad Arifurrohma . Ni Luh Ekmi Jayanti . Ni Luh Ekmi Jayanti ., Ni Luh Ekmi Jayanti Ni Nyoman Sri Witari Ni Putu Wikantariasih . Ni Wayan Septiari . Nova Erlina Nyoman Rediasa Putri, Yuliana Khairi Putu Gede Ary Pramana . Putu Tegeh Kertiyasa . Putu Yudik Suarmawan Rediasa, Nyoman Rika Aprilianingsih Riza Nur Hanafi . S. Gan. Tatang Sukandar . Sandra, Alek saputero, gede adi Saputra, Apriadi Resky Setiawan, Kadek Rizky Siti Meisaroh . Sudiarta, Dewa Putu Widaratna, Praja Adytia widiartta, ida bagus yuda Yoga Suta Wirya Made .