Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Bahasa Inggris Tria Astika Endah Permatasari; Yudi Chadirin; Ernirita; Anisa Nurul Syafitri; Devina Alifia Fadhilah
Muhammadiyah International Public Health and Medicine Proceeding Vol. 3 No. 1 (2023): PROCEEDING MUHAMMADIYAH INTERNATIONAL PUBLIC HEALTH AND MEDICINE CONFERENCE - T
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Food consumption behavior and home sanitation can be important predictors in the early implementation of stunting detection in toddlers. Stunting is a condition in which a child's physical growth and development are chronically stunted due to malnutrition and inadequate care. This study aims to determine food consumption behavior and home sanitation as predictors in the initial application of stunting detection. This study used a cross-sectional study on 245 children aged 0-59 months who lived in Bogor Regency who were selected using a proportional random sampling technique. Stunting is measured using an anthropometric index (length/height for age). Measuring food consumption using quantitative food intake (food frequency questionnaire) and home sanitation includes indicators of a healthy home, namely cleanliness of floors, walls, ceilings, roof height, function of living rooms, and kitchen space. Sociodemographic characteristics were measured using a structured questionnaire. The prevalence of stunting children under five is 20.4% and the dominant factor for stunting is age (p-value <0.001; AOR=0.254; 95% CI=0.120-0.541). Food consumption and home sanitation are not related to stunting (p-value >0.05). Through a comprehensive approach to food consumption behavior and home sanitation, it is hoped that early prevention and effective interventions for stunting in toddlers can be carried out. Children aged <24 months are more prevented from experiencing stunting 0.254 times than those aged ≥ 24 months.
Pemberdayaan UKS dalam Pencegahan Tuberkulosis Berbasis PHBS di SMP Muhammadiyah 36 Jakarta Ernirita Ernirita; Erwan Setiyono; Rully Mujiastuti; Awaliah Awaliah; Eni Widiastuti; Idriani Idriani; Masmun Zuryati; Khalnaya Shira Sakiba; Salwa Dwi Anindita Laksmi
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/egyfzw98

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Anak usia sekolah termasuk kelompok rentan karena sering berinteraksi di lingkungan padat dan tertutup seperti ruang kelas. Sekolah sebagai tempat pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satu wadah berperan penting adalah Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Melalui pemberdayaan UKS, sekolah dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan tindakan preventif siswa terhadap penularan TB, seperti etika batuk yang benar, menjaga ventilasi kelas, serta deteksi dini gejala TB. UKS merupakan implementasi sekolah sehat atau Health Promoting School (HPS) bertujuan memobilisasi serta meningkatkan kampanye dan pendidikan kesehatan baik pada tingkat lokal, regional, nasional, maupun global sebagai lingkungan yang sehat”tim pengabdi dari perguruan tinggi bersama pihak mitra SMP Muhammadiyah 36 Jakarta dan Puskesmas setempat telah melakukan identifikasi kebutuhan dan analisis situasi melalui wawancara, observasi lapangan, serta diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD),disepakati permasalahan prioritas yang akan ditangani adalah rendahnya kapasitas dan peran UKS dalam upaya pencegahan Tuberkulosis berbasis PHBS di sekolah. Metode diterapkan menggunakan pendekatan partisipatif (Participatory Action Approach). Urgensi Pengabdian Masyarakat: Meningkatkan pengetahuan siswa dan guru tentang TBC dan PHBS melalui kegiatan edukasi interaktif, Hasil: Pengetahuan sebelum Edukasi 77% baik dan sesudah Edukasi pengetahuan baik menjadi 95,3%, Perilaku sebelum pemberian materi PHBS dan Tuberkulosis 53,7% baik setelah pemberian materi meningkat menjadi 55,4%. Kesimpulan terdapat peningkatan, pengetahuan dan perilaku Siswa dalam Upaya pencegahan tuberkulosis berbasis PHBS di sekolah.  
Efektifitas edukasi kesehatan reproduksi dengan mengunakan video terhadap pengetahuan remaja : The effectiveness of reproductive health education using video on adolescents' knowledge Idriani; Ernirita; Awaliah; Eni Widiastuti; Masmun Zuryati; Erwan Setiyono; Siti Rochanah; Febi Sukma
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 12 No. 1 (2026): JiKep | Februari 2026
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v12i1.3145

Abstract

remaja adalah seks bebas, kehamilan diluar nikah, aborsi, persalinan dini, penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS. Upaya yang tepat dilakukan dalam menangani kesehatan reproduksi remaja yaitu dengan cara edukasi kesehatan karena dapat meningkatkan kontrol diri dan memperbaiki kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi kesehatan reproduksi dengan penggunaan media video terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi remaja. Penelitian dilaksanakan di SMPN Muhammadiyah 36 Jakarta Selatan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan quasy eksperimen NonEquivalent Control Group Design Pretest and Posttest. Responden penelitian ini berjumlah 136 responden dipilih dengan teknik random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan rerata pengetahuan sebelum diberikan edukasi kesehatan reproduksi sremaja mengalami peningkatan, Hasil uji statistik didapatkan nilai P Value 0,000, dapat disimpulkan ada perbedaan yang siqnifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan reproduksi remaja dengan media video di SMP Muhammadiyah 36 Jakarta Selatan. Pada remaja di sekolah atau di masyarakat melalui edukasi dengan media video agar terhindar dari perilaku negatif kesehatan reproduksi antara lain pergaulan atau seks bebas, narkoba, kehamilan di luar nikah, aborsi, pernikahan usia dini, HIV/ AIDS.
Pengaruh Diabetes Self Management Education (DSME) terhadap peningkatan pengetahuan pasien diabetes melitus tipe 2 : The effect of Diabetes Self Management Education (DSME) on improving knowledge of type 2 diabetes mellitus patients Masmun Zuryati; Ernirita; Eni Widiastuti; Awaliah; Idriani; Erwan Setiyono; Siti Rahayu
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 12 No. 1 (2026): JiKep | Februari 2026
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v12i1.3146

Abstract

Beberapa Manajemen diri yang efektif pada pasien diabetes merupakan hal yang penting untuk meningkatkan pencapaian tujuan dalam penatalaksanaan DM. Keberhasilan manajemen diri diabetes bergantung pada aktivitas perawatan diri individu untuk mengontrol gejala diabetes. Salah satu pendidikan kesehatan yang dapat dilakukan untuk klien DM tipe 2 adalah dengan Diabetes SelfManagement Education and Support (DSME). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh DSME terhadap peningkatan pengetahuan manajemen mandiri pasien DM tipe 2. Penelitian ini dilaksanakan di RS Islam Jakarta cempaka Putih, Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi-Eksperimental NonEquivalent Control Group Design Pretest and Posttest. Sempel diambil menggunakan tehnik pengambilan sampel dengan total sampling dengan jumlah sampel 25 orang. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired sample t-test. Hasil Penelitian didapatkan rata-rata pengetahuan siswa sebelum intervensi adalah 42,64 setelah intervensi 67,80 dengan P Value 0,000. Terdapat Ada hubungan yang siqnifikan sebelum dan sesudah DSME. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh Diabetes Self Management Education (DSME) terhadap peningkatan pengetahuan pasien Diabetes tipe 2. DSME disarankan untuk diterapkan sebagai program edukasi rutin bagi pasien DM tipe 2 guna meningkatkan pengetahuan dan mencegah komplikasi. Bagi tenaga kesehatan, perlu meningkatkan peran aktif dalam memberikan edukasi manajemen mandiri diabetes secara berkelanjutan.
Hubungan pengorganisasian asuhan keperawatan tim terhadap penerapan asuhan keperawatan berfokus pasien (patient centered care): The relationship between the organization of team nursing care and the Implementation of patient-centered nursing care Eni Widiastuti; Masmum Zuryati; Ernirita; Awaliah Awaliah; Idriani Idriani; Erwan Setiyono; Mas Asep Sunandar
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 12 No. 2 (2026): JiKep | Juni 2026
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v12i2.3195

Abstract

Patient centered care atau asuhan berfokus pasien merupakan asuhan yang terintegrasi yang membutuhkan kolaborasi intra dan interprofesional. Tantangan yang dihadapi kolaborasi interprofesional belum dilaksanakan dengan baik. Apalagi pengorganisasian asuhan keperawatan tim murni yang digunakan dalam mengorganisir asuhan keperawatan belum mengakomodir adanya perawat penaggung jawab asuhan selama pasien dirawat. Kondisi ini menjadikan sulitnya kolaborasi interprofesional dilakukan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengorganisasian asuhan keperawatan Tim dengan pelaksanaan patient centered care. Metode penelitian kwantitatip, desain deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional. Jumlah sample sebanyak 47 perawat ruang rawat inap. Analisis bivariate menggunakan spearmen’s rank. Hasil terdapat hubungan antara pengorganisasian Tim dengan pelaksanaan patient centerd care. Dari hasil uji didapatkan tingkat kekuatan korelasi/ hubungannya sangat kuat dengan arah hubungan positif. Semakin pengorganisasian Tim baik maka penerapan patient centerd care akan semakin baik. Hendaknya pengorganisasian tim dioptimalkan dengan modifikasi Ketua Tim sebagai Perawat Penaggung Jawab Asuhan yang berperan sebagai care coordinator dan clinical leader yang bertanggung jawab secara komprehensif terhadap seluruh proses asuhan keperawatan agar kolaborasi intra dan interprofesional bisa dilaksanakan dengan baik sehingga pelaksanaan asuhan berfokus pasien lebih optimal.