Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Resensi Buku: Model Pembangunan India dan Cina Sugiarto Pramono
SPEKTRUM Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.171 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v7i2.486

Abstract

Ekonom Goldman Sachs (bank investasi terbesar AS) pada tahun 2001 meramalkan India dan Cina—disamping Brasil dan Rusia yang kemudian dikenal dengan singkatan BRIC—akan menjadi empat ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2050. Ramalan Goldman Sachs bukanlah omong kosong, dalam beberapa dekade terakhir baik India maupun Cina menunjukan tren positif pertumbuhan ekonominya dan bila kedua negara mampu meningkatkan atau setidaknya mempertahankan pertumbuhan tersebut maka apa yang diramalkan itu bukan mustahil menjadi kenyataan.
RESENSI BUKU: MEMBEDAH SISTEM PEMILU Sugiarto Pramono
SPEKTRUM Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.993 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v5i2.492

Abstract

Harga sebuah demokrasi untuk suatu negara yang pernah mengalami rezim pemerintahan otoriter seperti Indonesiasangat lah mahal.
Konstruktivisme dalam Studi Hubungan Internasional: Gagasan dan Posisi Teoritik Sugiarto Pramono; Andi Purwono
SPEKTRUM Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.492 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v7i2.485

Abstract

Abstrak Konstruktivisme acapkali dicibir karena ketidak jelasannya dalam menyuguhkan hasil analisa terhadap realitas hubungan internasional, namun hujatan itu acapkali muncul dari kesalahpahaman para pengkritik terhadap gagasan Konstruktivisme. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan gaya Konstruktivisme dalam memahami realitas hubungan internasional dan mengetahui letak perspektif ini dalam pemetaan teoritik. Kata kunci: shared idea, konstruktivisme
FAKTOR-FAKTOR PENDORONG INTEGRASI REGIONAL: Studi Perbandingan Uni Eropa dan ASEAN Ali Martin; sugiarto pramono
SPEKTRUM Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.945 KB) | DOI: 10.31942/spektrum.v8i1.477

Abstract

Abstrak Fenomena Integrasi merupakan upaya umat manusia untuk mewujudkan dunia damai. Sejarah dunia yang didominasi oleh perang tak ayal menanamkan traumatis di setiap benak manusia di seantero planet ini. Perang dunia I dan II, yang memorak-porandakan Eropa dan tempat-tempat di luar region itu, kontan menanamkan kengerian yang teramat dalam tidak hanya bagi bangsa Eropa namun juga bangsa-bangsa lain di luar Eropa. Ketakutan akan terjadinya perang dunia III, tak pelak membuat segala upaya dilakukan oleh umat manusia guna menciptakan dunia yang damai sejahtera. Tak terkecuali usahanya melalui gagasan integrasi. Sebagaimana gagasan-gagasan lainnya, integrasi bukan tanpa rintangan. Selalu ada kesulitan-kesulitan di sana-sini, Lebih jauh dari itu, integrasi memiliki karakter yang berbeda-beda antara satu kawasan dengan yang lain, apa yang terjadi di Eropa dengan Uni Eropa misalnya, sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Asia dengan ASEAN. Perbedaan itu muncul dalam banyak hal, di berbagai lini dengan berbagai kadar kesulitan yang berbeda-beda. Sehingga membandingkan antara satu regional dengan yang lain akan sangat membantu guna mengtahui kelemahan-kelemahan masing-masing. Yang pada gilirannya nanti akan menjadi referensi bagi perbaikan di masa depan. Inti studi ini adalah membandingkan Uni Eropa dengan ASEAN. Perbadingan dilakukan sedikitnya dalam empat hal, yang diasumsikan berperan dalam menyuburkan integrasi. Empat hal itu adalah: Intensitas perang; Derajat keterikatan anggota; efektifitas institusi serta di level mana  kerjasama dilakukan. Kata kunci: Integrasi, Regionalisme, Fungsionalisme  
Potential Conflict Among ASEAN Member States in The Implementation of The ASEAN Economic Community Sugiarto Pramono; Anna Yulia Hartati; Adi Joko Purwanto
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 20, No 3 (2017): March
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2196.664 KB) | DOI: 10.22146/jsp.27208

Abstract

The findings in this article defy the common assumption that the free market, including the formation of the ASEAN Economic Community (AEC) in Southeast Asia, is correlated with the creation of a spillover and complex interdependency, reducing conflicts between countries in the region. This finding could well contribute as a theory in the academic sphere and as policies in the practical world. The author uses a theoretical framework of structural realism to explain the potential conflict between countries of the Southeast Asian region. There are four potential conflict situations among countries in the implementation of AEC: firstly, the structure of economic disparity. This situation would construct an identity of in-group – out-group or “us” versus “them” in the context of who gains and loses in the AEC. Secondly, similarity of natural resources. This fact led the Southeast Asian countries to compete and create standardization wherein each party is in hostile competition to claim valid findings and arguments associated with efforts to reduce or stop the flow of imports into their respective countries. Thirdly, competition among businesses, in which AEC constructed free market could potentially provoke the emergence of regional trading cartel. Fourthly, the structure of military power. Historical records show that any economic growth occurring in a country will be accompanied by the growth of its military budget.
NORMA INTERNASIONAL DAN KEBIJAKAN PENANGANAN PENGUNGSI DI INDONESIA Sugiarto Pramono; Diyana Rosyida Ulfa
SPEKTRUM Vol 20, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/spektrum.v20i1.7945

Abstract

One of the contemporary international problems faced by the Governments in the world is asylum seekers and refugees. As an archipelagic country located at the junction of two oceans and two continents, Indonesia is a target for asylum seekers and refugees worldwide. This is certainly a challenge for Jokowi's foreign policy. In this context, Presidential Regulation/ Peraturan Pemerintah Nomer 125, 2016 concerning Handling of Foreign Refugees was issued. Through a qualitative descriptive method with data analysis techniques, this study came to the conclusion that the policy was issued due to at least two factors, namely: (1) as a temporary substitute for the 1951 and 1962 UN Conventions which had not been ratified; (2) The strengthening of international norms in the form of human rights. Keywords: International Norms, Asylum Seekers, Refugees, Perpres No 125 Tahun 2016 Abstraksi Salah satu masalah internasional kontemporer yang dihadapi Pemerintah Indonesia adalah Pencari Suaka dan Pengungsi. Sebagai negara kepulauan yang berada di persimpangan dua samudera dan dua benua, Indonesia menjadi sasaran pencari suaka dan pengungsi dunia. Hal itu tentu menjadi tantangan tersediri bagi kebijakan luar negeri Jokowi. Dalam konteks tersebut Peraturan Presiden 125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar diterbitkan. Melalui metode deskripstif kualitatif dengan teknik analisa data, penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa kebijakan Perpres tersebut diterbitkan karena sedikitnya dua faktor, yaitu: (1) sebagai pengganti sementara Konvesi PBB 1951 dan 1962 yang belum diratifikasi; (2) Menguatnya norma internasional yang berupa hak asasi manusia. Kata Kunci: Norma Internasional, Pencari Suaka, Pengungsi, Perpres No 125 tahun 2016
Why Did Southeast Asia’s Military Expenditure Increase During a Recession? Pramono, Sugiarto; Syarifah, Claudia; Datta, Sujit Kumar
JURNAL ILMU SOSIAL Vol 22, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jis.22.1.2023.121-146

Abstract

The world is in recession, Covid-19 and the Ukraine Crisis are two important events that have made the world economy worse. The World Bank predicts an increased risk of a global recession in 2023. A recession will impact many aspects of life, including the military. This is reasonable because efforts to overcome them are prioritized in the main sectors. Something is fascinating about Southeast Asia, namely that its military expenditure has increased. Why did Southeast Asia's military expenditure increase during a recession? This pattern of contradic- tion is not only important but also interesting to study. Using qualitative methods with data analysis techniques, and borrowing a structural realism approach, it is found that the in- creasing competition between the U.S.A. and China has triggered an increase in military ex- penditure in the region. At the same time conflicts and potential conflicts between countries in the Southeast Asian region, although not directly, are permanent causes. The recession does not seem to affect efficiency in military expenditure, this shows that tensions in Southeast Asia are a priority of countries in the region. These findings close a gap in previous studies which were relatively dominated by efforts to link military expenditure to economic growth using quantitative methods
EFEK CORONA VIRUS DISEASE -19 TERHADAP REALISASI CHINA-PAKISTAN ECONOMIC CORRIDOR (CPEC) PRAMONO, SUGIARTO PRAMONO
Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LAPORAN PENELITIAN
Publisher : Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKChina-Pakistan Economic Corridor (CPEC) merupakan salah satu cabang utama Belt and Road Initiative (BRI)—sebuah upaya menghidupkan kembali Jalur Sutera kuno yang merupakan cultural heritage penting di Asia Selatan. Bila CPEC sukses terealisasi maka revolusi geoekonomi merombak Asia Selatan. Namun demikian CPEC bukan tanpa kendala, Covid-19 menjadi salah satu tantangan serius bagi proyek multi dolar ini. Tiongkok telah suskses menekan angka pandemic namun Pakistan justeru berada dalam perjuangan berat. Menggunakan metode analisa data dan studi literature, penulis berargumen bahwa realisasi CPEC terganggu setidaknya hingga Pakistan pulih dari pandemic. Namun Tiongkok tidak akan membiarkan begitu saja Pakistan di dalam kesulitan. Investasi Tiongkok di Pakistan sudah sedemikian besar, sementara bila Pakistan tidak segera pulih dari krisis, sudah barang tentu proyek multidolar tersebut terkendala. Situasi ini yang membuat dua negara bekerjakeras untuk menyelesaikan problem pandemic di jalur CPEC. Argumentasi ini melengkapi argumentasi lain terkait topic terkait.Kata kunci: CPEC, BRI, Covid-19, Ekonomi
MAPPING ACTORS IN THE CIRCULAR ECONOMY PRACTICES IN SEMARANG Pramono, Sugiarto Pramono
Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LAPORAN PENELITIAN
Publisher : Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research delves into the implementation of a circular economy in Semarang City, responding to thechallenges of waste management and its environmental impacts. Employing a methodology combiningliterature review and stakeholder interviews, the study analyzes the principles of a circular economy andthe pivotal roles of key actors in its practical application. The theoretical foundation rests upon the conceptsof a circular economy, waste management, and sustainability. The findings indicate progress inimplementation, particularly through the establishment of waste banks and waste management programsinvolving households. The significant roles of the City Government, Mulung Parahita, and the IndonesianNational Army (TNI) are acknowledged, though challenges such as coordination and public awarenessneed to be addressed. The contribution lies in a profound understanding of the circular economy inSemarang City and the identification of key roles and actors. The policy recommendations generated canguide the efforts of the City Government and relevant stakeholders to reinforce circular economy practices,promoting more sustainable resource management at the local level. Keywords: circular economy, waste management, Semarang City, waste bank, sustainability, communityparticipation
TERRORISME DAN INVESTASI TIONGKOK DI FILIPINA: IMPLIKASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PENGUATAN LAYANAN KEAMANAN PRAMONO SIP, SUGIARTO
Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LAPORAN PENELITIAN
Publisher : Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji faktor di balik meningkatnya belanja militer dan ekonomi Filipina. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan serangan terrorist di sisi selatan Filipina dan lonjakan hubungan ekonomi dengan Tiongkok menjadi konteks penting. Seperti negara berkembang lainnya, Filipina berfokus pada pembangunan infrastruktur sebagai landasan bagi aktivitas ekonominya. Kebutuhan tersebut bersinergi dengan kepentingan Tiongkok untuk berinvestasi. Hal itu memicu pertumbuhan ekonomi nasional di Filipina. Sayangnya, problem keamanan di sisi selatan menjadi tantangan serius bagi masa depan perekonomian. Situasi kontradiksi itu (pertumbuhan dan krisis keamanan) mendorong pemerintah meningkatkan anggaran militer. Pertumbuhan ekonomi sebagai akibat meningkatnya investasi asing menjadi konteks yang berkontribusi bagi peningkatan layanan keamanan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitaif dengan teknik analisa data dan literature. Ada dua pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu keamanan dan pertumbuhan. Dalam konteks ini, pendekatan pertumbuhan menjelaskan bagaimana peningkatan interaksi ekonomi dengan Tiongkok mendorong dinamika ekonomi nasional Filipina. Sementara pendekatan keamanan menjelaskan bagaimana stabilitas keamanan menjadi kebutuhan keberlangsungan pertumbuhan. Argumen penelitian ini menentang temuan umum penelitian sebelumnya bahwa di negara berkembang pertumbuhan militer dan ekonomi berkorelasi negative, kasus Filipina menunjukkan sebaliknya. Kata kunci: Terrorisme, Belanja Militer, Layanan Keamanan, Stabilitas, Pertumbuhan