Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Mitrasehat

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEAKTIFAN KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMAONA KECAMATAN TOMBOLO PAO KABUPATEN GOWA Adi Hermawan
Jurnal Mitrasehat Vol. 9 No. 1 (2019): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v9i1.113

Abstract

Kader Posyandu merupakan warga masyarakat setempat yang di pilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara suka rela. Tidak dapat di pungkiri bahwa hampir semua kegiatan pelayanan posyandu tidak akan berjalan dengan baik tanpa kehadiran kader sebagai tenaga sukarela.kader inilah sebenarnya yang menjadi rohnya posyandu karena lancar tidaknya penyelenggara kegiatan posyandu ditentukan sejauh mana kemampuan dan keaktifan kader melaksanakan fungsinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keaktifan kader dalam kegiatan Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Tamaona Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa tahun 2014. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian “Deskriptif Analitik “ dengan desain/rancangan Crossectional Study. Seluruh kader yang ada di puskesmas tamaona menjadi populasi sebanyak 90 orang kader. cara pengambilan sampel dengan tekhnik Purposive Sampling berjumlah 47 orang dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan serta motivasi dengan keaktifannya dalam kegiatan posyandu dengan menggunakan Uji Chi-Square dengan bantuan sistem komputerisasi. Berdasarkan uji statistic diperoleh hasil penelitian sebagai barikut: ada hubungan antara pengetahuan dengan keaktifan kader dimana nilai p=0,48 <α = 0,05 sedangkan motivasi dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu di peroleh nilai p=0,000 < α= 0,05. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa tingkat pengetahuan,dan motivasi mempunyai hubungan dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu. Saran dari hasil penelitian Puskesmas Tamaona lebih meningkatkan pelatihan kesehatan bagi kader secara rutin untuk meningkatkan pengetahuan mereka agar termotivasi untuk selalu aktif dalam kegiatan posyandu.
Pengaruh Pemberdayaan Keluarga Melalui Edukasi Terhadap Kemampuan Merawat Pasien Gangguan Jiwa di Kota Makassar Pada Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018 Adi Hermawan
Jurnal Mitrasehat Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v11i1.279

Abstract

Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan, pengenalan dini, serta perawatan pasien gangguan jiwa, termasuk mencegah terjadinya kekambuhan. Pemberdayaan keluarga dengan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan merupakan upaya mencapai kemandirian keluarga merawat pasien gangguan jiwa. Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan menghadapi permasalahan tingginya pasien yang kambuh dan kembali dirawat di rumah sakit jiwa, kondisi ini diduga akibat pemberdayaan keluarga melalui edukasi belum terlaksana secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan keluarga melalui edukasi terhadap kemampuan merawat pasien gangguan jiwa di Kota Makassar pada Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan. Desain penelitian cross sectional dengan metode kuantitatif, dilakukan kepada 39 kepala keluarga dari pasien ganguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan Makassar sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara statistik menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda pada α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberdayaan melalui edukasi keluarga pasien gangguan jiwa Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan Makassar pada komponen didaktik. emosi, proses keluarga dan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan merawat pasien gangguan jiwa. Variabel yang paling dominan memengaruhi kemampuan merawat pasien gangguan jiwa adalah komponen sosial (p=0,025 dan OR=47,229). Disarankan kepada manajemen Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Selatan perlu meningkatkan kegiatan pendidikan atau edukasi bagi keluarga pasien, khususnya pasien yang akan pulang dari rumah sakit, sehingga perawatan pasien dapat dilakukan oleh keluarga serta menghindari terjadinya kekambuhan, serta melakukan evaluasi metode edukasi yang dilakukan saat ini. Perawat yang bertugas memberikan edukasi kepada keluarga pasien, hendaknya dilakukan pendidikan atau pelatihan khusus yang terkait dengan family education, sehingga proses edukasi keluarga pasien dapat lebih optimal.
Hubungan Penggunaan Popok Bayi dan Perilaku Ibu terhadap Kelainan Kulit pada Bayi 0-12 Bulan di Desa Tobadak II Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat Asmiana Saputri Ilyas; Adi Hermawan; Muhammad Syafri
Jurnal Mitrasehat Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v12i1.326

Abstract

Popok bayi merupakan alat yang digunakan dan diciptakan untuk menyerap urine dan menampung feses yang didesain untuk menjaga kulit tetap kering sehingga terhindar dari pakaian, tempat tidur dan lingkungan sekitar bayi secara langsung. Popok bayi terdiri dari dua jenis yaitu popok kain dan popok sekali pakai, yang pada proses pembuatannya memiliki perbedaan. Pada proses pembuatan popok sekali pakai ada proses pemutihan dengan menggunakan bahan kimia seperti klorin, yang berbahaya jika perilaku ibu dalam penggunaannya tidak benar karena dapat menyebabkan kelainan kulit pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan popok bayi dan perilaku ibu terhadap kelainan kulit pada bayi 0-12 bulan di Desa Tobadak II Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat. Jenis penelitian ini bersifat analitik kuantitatif. Populasi dan sampel responden adalah seluruh bayi 0-12 bulan yang menggunakan popok bayi yang berjumlah 64 orang. Metode pengukuran perilakunya menggunakan metode scoring dan untuk pengolahan data menggunakan analisis univariate dan bivariate. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu yang sudah baik sebanyak 60,9%, sikap ibu yang baik 54,6%, tindakan ibu yang baik sebanyak 31,3%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu terhadap kelainan kulit pada bayi (p value= 0,648), tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu terhadap kelainan kulit pada bayi (p value= 0,256), namun ada hubungan yang signifikan antara tindakan ibu terhadap kelainan kulit pada bayi (p value= 0,045). Saran untuk semua ibu untuk berkonsultasi kepada tenaga kesehatan mengenai popok bayi yang sesuai dengan kondisi si bayi
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MAKAN TIDAK TERATUR DAN KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA Adi Hermawan
Jurnal Mitrasehat Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v14i2.484

Abstract

Latar belakang: Kebiasaan makan yang tidak teratur, seperti makan pada jam yang tidak konsisten, melewatkan makan, atau mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, dapat berdampak negatif pada keseimbangan metabolisme tubuh dan fungsi otak. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang buruk, termasuk konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, dapat mempengaruhi keseimbangan neurotransmiter dan hormon yang berperan dalam regulasi suasana hati dan stres. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan makan. Tujuan: Untuk mengetahui kaitan antara kebiasaan makan tidak teratur dan kesehatan mental pada mahasiswa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Pendekatan ini dipilih untuk mengetahui hubungan antara variabel kebiasaan makan tidak teratur (variabel independen) dan kesehatan mental (variabel dependen) pada mahasiswa. Hasil: Penelitian ini melibatkan 200 mahasiswa dari berbagai fakultas. Sebagian besar responden berusia antara 18-22 tahun, dengan distribusi jenis kelamin yang seimbang. Mayoritas responden berada pada tahun kedua atau ketiga studi mereka. Kesimpulan: Pentingnya meningkatkan kesadaran tentang pola makan yang sehat di kalangan mahasiswa sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka. Intervensi yang dirancang untuk memperbaiki kebiasaan makan dapat berkontribusi pada pengurangan tingkat stres, kecemasan, dan depresi, serta mendukung performa akademik dan kesejahteraan secara keseluruhan.