Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Aspek Keterlibatan Masyarakat pada Sistem Peradilan Pidana Dalam Alternatif Penyelesaian Sengketa Reykasari, Yunita; Nurwachidiansyah, M. Dwi
National Multidisciplinary Sciences Vol. 4 No. 3 (2025): Proceeding MILENIUM 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/nms.v4i3.749

Abstract

Konflik sosial yang melibatkan pelaku dari kalangan remaja menunjukkan bahwa pendekatan hukum pidana konvensional sering kali tidak mampu menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Oleh karena itu, penerapan keadilan restoratif khususnya melalui mediasi menjadi penting karena memberikan kesempatan bagi pelaku, korban, dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemulihan hubungan sosial dan penyelesaian masalah secara adil serta sesuai dengan konteks sosial yang ada. Penelitian ini adalah penelitian normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual dan pendekatan perbandingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari, menemukan konsep serta menganalisis efektivitas penerapan keadilan restoratif terhadap pelaku remaja dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, serta mengkaji peran masyarakat dalam mendukung implementasi mediasi sebagai bentuk Alternatif Penyelesaian sengketa perkara pidana yang partisipatif dan berbasis nilai-nilai lokal. Penelitian ini akan memberikan rekomendasi terbaik bagi konsep keadilan restoratif pelaku remaja melalui alternatif penyelesaian sengketa ke depan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan keadilan restoratif terbukti efektif dalam menangani pelaku remaja karena berfokus pada pemulihan, tanggung jawab, dan perlindungan korban, namun implementasinya di Indonesia masih terkendala oleh faktor struktural dan budaya. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang komprehensif, peningkatan kapasitas lembaga, serta pelibatan aktif masyarakat dan tokoh lokal untuk mendukung penerapan keadilan restoratif secara sistematis dan berkelanjutan.
Perlindungan Konsumen Terhadap Peredaran Produk Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya yang Merugikan Konsumen (Studi Analisis Produk Kosmetik Temulawak New Day & Night Cream Beauty Whitening) Putri, Ela Oktavia; Reykasari, Yunita
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v1i2.2012

Abstract

The definition of cosmetics according to Article 1 number (1) of the Republic of Indonesia Minister of Health Regulation Number 176/MenKes/PER/VIII/2010 concerning Determination of the term Cosmetics is a material or preparation whose use is application outside the human body to change the appearance or improve and maintain the body. Women are required to have types of cosmetics such as powder, eyebrow pencil and lipstick. Apart from domestic cosmetic products, cosmetics markets from abroad can also enter Indonesia because of rapid globalization. Cosmetic products created as a result of the development of the pharmaceutical industry further bind women's desire to look beautiful and perfect, therefore all situations are exploited by a group of irresponsible entrepreneurs who produce or sell cosmetics that do not meet the requirements. The government promulgated Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection to ensure that consumers are fully protected and provide requirements for cosmetic products. Even though the above regulations have been confirmed and promulgated, there is still disobedience by business actors in trading activities regarding the cosmetics they produce containing dangerous ingredients. An example is the distribution of the Temulawak New Day & Night Cream Beauty Whitening cosmetic product which contains mercury. This also includes violating Article 4 letter c of the Consumer Protection Law (UUPK), cosmetic products that are bought and sold containing mercury-containing ingredients are an example of a lack of supervision by the government and the Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) so that the products These cosmetic products can still circulate in the community. One product that is currently popular and in demand by many people is the Temulawak New Day & Night Cream Beauty Whitening cosmetic, which is known to be distributed throughout the Republic of Indonesia and is known to contain dangerous substances, namely mercury.
Keabsahan Penarikan Sepihak Obyek Fidusia Oleh Debt Collector Tanpa Adanya Sertifikat Fidusia Sebagai Bentuk Pelaksanaan Parate Eksekusi Alifiya, Andini; Reykasari, Yunita
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 2 No. 4 (2025): June
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v2i4.4111

Abstract

Dalam sistem hukum di Indonesia, penarikan sepihak objek fidusia oleh debt collector tanpa sertifikat fidusia menjadi salah satu isu yang memicu perdebatan terkait keabsahan praktik tersebut. Sertifikat fidusia merupakan dokumen penting yang memberikan legitimasi bagi tindakan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana keabsahan penarikan sepihak objek fidusia oleh debt collector tanpa adanya sertifikat fidusia sebagai bentuk pelaksanaan parate eksekusi. Metode yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, Hasil penelitian menunjukkan bahwa penarikan objek fidusia oleh debt collector tanpa sertifikat adalah tindakan yang tidak sah secara hukum. Putusan Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa setiap tindakan eksekusi fidusia wajib memiliki sertifikat sebagai landasan hukum yang sah. Keberadaan sertifikat fidusia menjadi sangat krusial, karena memastikan adanya kepastian hukum dan menjaga hak kreditur dengan cara yang sah. Sebagai konsekuensinya, lembaga pembiayaan diharapkan memastikan bahwa setiap langkah penarikan harus disertai sertifikat fidusia untuk menjamin perlindungan terhadap hak konstitusional pihak fidusia. Hal ini mendesak kesadaran dan kepatuhan terhadap regulasi demi terciptanya praktik yang adil dan terstruktur secara hukum.
Analisis Yuridis Penyelesaian Sengketa Terhadap Pemegang Hak Cipta (Studi Kasus: Putusan No 40/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2022/PN Niaga Jkt Pst) Jannah, Ayudha; Reykasari, Yunita
Indonesian Journal of Law and Justice Vol. 3 No. 1 (2025): September
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijlj.v3i1.4628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ratio decidendi Majelis Hakim dalam Putusan No. 40/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2022/PN Niaga Jakarta Pusat serta kesesuaiannya dengan ketentuan dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Kasus ini berawal dari gugatan Arie Indra Manurung atas dugaan pelanggaran hak cipta oleh PT Pegadaian (Persero) melalui produk “Tabungan Emas” yang dinilai menjiplak karya tulis berjudul Goldgram. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Hakim menolak gugatan dengan merujuk pada Pasal 41 huruf b UU Hak Cipta, namun peneliti tidak sependapat dengan pertimbangan tersebut karena menilai bahwa karya Goldgram memiliki bentuk ekspresi kreatif yang seharusnya dilindungi. Dapat disimpulkan bahwa ratio decidendi hakim belum sepenuhnya mencerminkan perlindungan hukum yang seimbang terhadap karya cipta. Temuan ini mengindikasikan perlunya penafsiran yang lebih kontekstual terhadap batasan perlindungan hak cipta, khususnya terhadap ekspresi ide yang telah diwujudkan dalam bentuk nyata.
Pelestarian Cerita Rakyat Lokal melalui Program Buku Bergulir dan Pelatihan Storytelling Afrizal, Mohamad; Reykasari, Yunita; Anggraeni, Astri Widyaruli
Bakti Budaya Vol 9 No 1 (2026): 2026: Edisi 1
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bakti.23906

Abstract

The low reading interest in local folklore among the younger generation and the dominance of global culture pose a serious challenge to the preservation of cultural heritage in Indonesia. To address this, a community service program was carried out in Sumbersari Village, Jember, involving 24 PKK mothers. The program focused on two main strategies: a Rolling Book Program to improve folklore literacy and a Storytelling Workshop to equip participants with effective storytelling skills. Using the Participatory Action Research (PAR) method, the program successfully identified problems such as a lack of understanding of moral values in folklore and a minimal habit of telling stories within families. The evaluation results showed significant success, with 90.8% of participants expressing high satisfaction and agreement. The program successfully fostered the participants' awareness and commitment to continue the storytelling tradition and the Rolling Book Program independently. The sustainability of the program will be pursued through monthly rotation of folklore books and community book donations, although challenges such as limited books and the need for more varied interactive activities still exist. Overall, this program proves that folklore preservation can be done effectively through a participatory and educational approach, which not only improves literacy and skills but also strengthens the cultural foundation at the community level. === Minimnya minat baca cerita rakyat lokal di kalangan generasi muda dan dominasi budaya global menjadi tantangan serius bagi pelestarian warisan budaya di Indonesia. Untuk mengatasinya, sebuah program pengabdian masyarakat dilaksanakan di Kelurahan Sumbersari, Jember, yang melibatkan 24 ibu-ibu PKK. Program ini berfokus pada dua strategi utama: Program Buku Bergulir untuk meningkatkan literasi cerita rakyat dan Pelatihan Storytelling untuk membekali peserta dengan keterampilan mendongeng yang efektif. Menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), program ini berhasil mengidentifikasi masalah, seperti kurangnya pemahaman nilai moral dalam cerita rakyat dan minimnya kebiasaan mendongeng dalam keluarga. Hasil evaluasi menunjukkan keberhasilan signifikan, di mana 90,8% peserta menyatakan sangat puas dan setuju. Program ini berhasil menumbuhkan kesadaran dan komitmen peserta untuk melanjutkan tradisi mendongeng serta Program Buku Bergulir secara mandiri. Keberlanjutan program akan diupayakan melalui rotasi buku cerita rakyat bulanan dan penggalangan donasi buku dari komunitas, meskipun tantangan seperti keterbatasan buku dan perlunya variasi kegiatan interaktif masih ada. Secara keseluruhan, program ini membuktikan bahwa pelestarian cerita rakyat dapat dilakukan secara efektif melalui pendekatan partisipatif dan edukatif, yang tidak hanya meningkatkan literasi dan keterampilan, tetapi juga memperkuat fondasi budaya di tingkat komunitas.