Articles
Peranan Pendidikan Agama Kristen Menangani Masalah Ekologi
Simon Simon
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 2, No 1 (2021): Pendidikan Kristen dan Kepemimpinan
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47530/edulead.v2i1.60
This article reviews how to base Christian Religious Education on ecological problems. This topic is needed to be discussed because Christianity is often seen as not paying attention to ecological problems. Christianity is considered to be more dominant in paying attention to doctrinal than on ecological issues. Christian religious educators as cognitive and moral stewardship of students are expected to contribute to landing PAK (Christian Education) on the ecological problems that occur. The method used in this paper is descriptive qualitative with a literary approach. The description of this article shows how the role of PAK is seen in ecological problems, of course, PAK teachers teach and develop paradigms of ecological problems among students. PAK teachers teach intermittently about ecological issues with full creativity. The PAK teachers themselves became aware of the actual actions being taken. This issue is important to pay attention to or analyze, so that humans have full awareness in maintaining their environment, so as not to leave a damaged natural heritage in the next generation.AbstrakArtikel ini mengulas bagaimana mendaratkan Pendidikan Agama Kristen pada permasalahan ekologi. Topik ini perlu dibahas karena kekristenan sering dianggap tidak peduli pada masalah-masalah ekologi. Kekristenan dianggap lebih dominan memberi perhatian pada pengajaran dokrinal iman dibandingkan mengenai permasalahan ekologi. Pendidik Agama Kristen sebagai penata kognitif dan penata moralitas nara-didik, diharapkan dapat berkontribusi bagaimana mendaratkan PAK pada permasalahan ekologi yang terjadi. Metode yang digunakan pada tulisan ini tentunya deskriftif kualitatif dengan pendekatan literatur. Uraian dari dari artikel ini bagaimana peran PAK terlihat dalam permasalahan ekologi, tentunya pendidik PAK mengajarkan dan membangun paradigma permasalahan ekologi bagi nara-didik. Pengajar PAK mengajarkan secara berkesinam-bungan mengenai permasalahan ekologi dengan penuh kreativitas. Diri pengajar PAK menjadi teladan dengan adanya tindakan yang nyata diperbuat. Masalah ini penting untuk diperhatikan atau ditelaah, supaya manusia memiliki kesadaran yang penuh dalam menjaga lingkungannya, agar tidak meninggalkan warisan alam yang rusak kepada generasi yang akan datang.
Participation of Religious Leaders in Helping the Success of the Government's COVID-19 Vaccination Program
Simon Simon;
Alfons Renaldo Tampenawas;
Joko Santoso;
Astrid Maryam Yvonny Nainupu;
Semuel Ruddy Angkouw;
Alvonce Poluan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 2 (2021): July 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (254.906 KB)
|
DOI: 10.46445/ejti.v5i2.405
Participation of Religious Leaders in Helping the Success of the Government's COVID-19 Vaccination Program. The basic idea of this paper departs from observations in the virtual and real world, where certain people or groups are found who disagree with the need to be vaccinated. If the country's people reject the mandatory mass vaccination, which the government is discussing, it will take a long time to restore normal activities. This paper uses a descriptive qualitative method with a literature study approach. The description in this paper found some people's rejection of vaccines because their views or perceptions about COVID-19 influenced it. The government's hope to immediately carry out mass vaccinations for all Indonesian people must be balanced with maximum efforts to make it happen. This substantial effort can be made by providing massive education in the media, conducting public campaigns, and providing guarantees to vaccine recipients. On the other hand, the success of this vaccination program does not only depend on the government; all elements of society are expected to contribute in this regard, especially religious leaders. The manifestation of the involvement of religious leaders is by educating the congregation through the pulpit about vaccines. In addition, religious leaders must also set an example by participating in vaccinations and actively countering hoax news. The dominance of factual information about vaccines dominates mass lines on social media. ABSTRAKKeikutsertaan Pemuka Agama Dalam Membantu Mensukseskan Program Vaksinasi COVID-19 Pemerintah. Ide dasar tulisan ini berangkat dari pengamatan di dunia maya dan nyata, yang mana ditemukan orang-orang atau kelompok tertentu yang tidak menyetujui keharusan untuk divaksin. Apabila masyarakat tanah air kecenderungan menolak wajib vaksinasi masal yang diwacanakan oleh pemerintah, tentu akan lama memulihkan aktivitas normal kembali. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Uraian pada tulisan ini ditemukan, penolakan sebagian orang terhadap vaksin karena dipengaruhi oleh pandangan atau persepsi mereka mengenai COVID-19. Harapan pemerintah untuk segera melakukan vaksinasi masal ke seluruh masyarakat tanah air, harus diimbangi upaya yang maksimal dalam mewujudkannya. Upaya konkret itu dapat dilakukan dengan pemberian edukasi secara masif di media, melakukan kampanye publik dan adanya jaminan kepada penerima vaksin. Disisi lain suksesnya program vaksinasi ini tidak hanya bergantung kepada pemerintah, semua elemen masyarakat diharapkan kontribusinya dalam hal ini terutama para pemuka agama. Wujud dari keterlibatan pemuka agama adalah dengan mengedukasi jemaat melalui mimbar tentang vaksin. Selain itu, pemuka agama juga harus memberi contoh dengan ikut divaksin, serta aktif mengcounter berita hoax agar dominasi berita faktual tentang vaksin menguasai lini massa di media sosial.
Menerapkan Pola Pendidikan Perjanjian Baru pada Pendidikan Kristiani Masa Kini
Hernawati Husain;
Lena Anjarsari Sembiring;
Simon Simon
Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 2: September 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46307/rfidei.v6i2.91
According to PISA or Programme for International Student Assessment, the country's education system is relatively low in its achievement index compared to other countries. The education system also includes religious-based education. The focus of this article outlines how the system of educational patterns in the New Testament Period. This topic needs to be studied with the purpose of the description in this article can be a lens for all groups, to improve the pattern of education in the NT in relation to the present especially in the scope of Christian Religious Education. The author conducts a literature review to explain how the educational patterns in the New Testament. The results of the presentation in this article found parents to be the main educators before their children study to the formal level. Students learn the rabbi/or teacher way of life is a culture that has become customary in the new testament education pattern. With students learning the rabbinical way of life, making it easier for students to mentor and apprentices is a pattern of education in the New Testament. The implementation of educational patterns in the New Testament in the present day when all elements synergize with performing their respective roles. ABSTRAKMenurut PISA atau Programme for International Student Assessment sistem Pendidikan tanah air tergolong rendah indeks prestasi nya dibanding dengan negara lain. Sistem Pendidikan itu tentu juga meliputi Pendidikan berbasis keagamaan. Fokus artikel ini menguraikan bagaimana sistem pola kependidikan dalam Masa Perjanjian Baru. Topik ini perlu dikaji dengan tujuan uraian pada artikel ini dapat menjadi lensa bagi semua golongan, untuk merelevansikan pola kependidikan di PB dalam kaitan masa kini khsusnya dalam lingkup Pendidikan Agama Kristen. Penulis melakukan kajian literatur guna memaparkan bagaimana pola kependidikan di Perjanjian Baru. Hasil dari pemaparan dalam artikel ini ditemukan orang tua menjadi pendidik utama sebelum anak mereka studi ke jenjang formal. Murid mempelajari cara hidup rabi/atau guru adalah budaya yang sudah menjadi kebiasaan dalam pola kependidikan di Perjanjian Baru. Dengan murid mempelajari cara hidup rabi, memudahkan murid di mentoring serta murid magang adalah pola kependidikan dalam PB. Terimplementasinya pola kependidikan dalam PB di masa kini bila semua elemen bersinergi dengan melakukan peran masing-masing.
Menggagas Pembelajaran Agama Kristen Berbasis Misiologi
Lena Anjarsari Sembiring;
Simon Simon
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2022): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (202.07 KB)
|
DOI: 10.54170/harati.v2i1.95
This paper specifically described the issue of initiating the study of Christianity based on missiology. This topic was reviewed because factually Christian education based on missiology was still not fully encouraged in religious learning in classes. This topic was discussed considering that there were still a lot of various tribes who had not been reached in missionary services. Obviously, this should not be the responsibility of missionary institutions alone, but religious institutions in the context of Christian education should also make a contribution and pay attention to it. In discussing this topic, the researchers used qualitative methods with a literature study approach. The description in discussing this article started with the Curriculum of Christian Religious Education leading to missiology. Then, the practice of mission-based learning was carried out for students in the classrooms. This was done to instill the concern of the Great Mandate from an early age. Besides, Christian Educators should live up to their missionary activities as their responsibility of their vocation as educators chosen by God to encourage the missionary movements. It was done to emulate the way how Jesus and the apostles taught but framed in missionary Tulisan ini secara spesifik menguraikan perihal menggagas pembalajaran agama Kristen berbass misiologi. Topik ini diulas karena secara faktual pembelajaran agama Kristen berbasis misiologi masih belum sepenuhnya digalakkan dalam pembelajaran agama di kelas. Topik ini dibahas mengingat masih banyak ditemukan berbagai suku belum terjangkau dalam pelayanan misi. Tentunya tanggung jawab itu tidak hanya dibebankan kepada lembaga misi, namun lembaga keagamaan dalam konteks pendidikan Kristen turut ikut andil memerhatikannya. Di dalam menguraikan topik ini peneliti menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Uraian pembahasan pada artikel ini dimulai dari, kurikulum Pendidikan Agama Kristen itu sendiri mengarah pada misiologi. Kemudian praktik pembelajaran berbasis misiologi dilakukan di dalam kelas bagi naradidik. Ini dilakukan untuk menanamkan sejak usia dini, kepedulian pada mandat Amanat Agung. Disamping itu, Pendidik Agama Kristen menghidupi kegiatan bermisiologi, sebagai bentuk tanggung-jawab panggilannya sebagai pendidik yang dipilih oleh Tuhan untuk ikut menggalakkan gerakan bermisiologi. Hal itu dilakukan untuk meneladani jejak Yesus dan para rasul yang mengajar namun terbingkai dalam gerakan misiologi.
Peranan Orang Percaya Dalam Pelayanan Diakonia Dimasa Pandemi Covid-19
John Abraham Christiaan;
Yusup Heri Harianto;
Simon Simon
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1 (2022): MEI- 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55097/sabda.v3i1.40
Since the establishment of Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) as a pandemic, the Indonesian government must adopt specific policies to prevent and break the chain of the Covid-19 spread. Such policies have significantly but negatively influenced people’s activities, particularly in the economic sector. The most affected class is those having low income or weak economic conditions. This problem is also experienced by many churches and church deacons. In facing this kind of situation, believers who have better economic capacity are required to take an active role by helping and funding the church’s treasury and assisting the church deacons. The results showed that the Covid-19 pandemic greatly affects the people’s economic condition including the declining church fund because all worship activities must be done online. However, one thing that pleases God and humans is that in such a situation, many believers and churches are still willing to serve the community in the deacons’ service tasks. The believers play an active role in funding the church’s treasury, and then the church sets the cash aside for diaconal services to the affected church and non-church community members by providing food, vitamins, and medicines. It is a reflection of the service that God wants. AbstrakSejak ditetapkanya Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sebagai pandemi, pemerintah Indonesia harus mengambil kebijakan untuk mencegah dan memutus matarantai penyebaran Covid19. Dengan adanya kebijakan pemerintah, kegiatan masyarakat menurun drastis termasuk sektor ekonomi dan yang paling terdampak adalah kondisi perekonomian yang rendah. Kondisi ini juga dialami oleh beberapa gereja dan warga diakonia gereja. Dalam situasi demikian, orang percaya yang memiliki kemampuan ekonomi dituntut untuk berperan aktif melakukan kegiatan dengan membantu mengisi kas jemaat, da membantu dikonia gereja. Dari hasil Penelitian disimpulkan bahwa; masa pandemi Covid-19 berdampak pada kondisi perekonomian masyarakat termasuk menurunya kas gereja karena kegiatan ibadah dilakukan secara online. Sekalipun situasi sulit itu banyak orang percaya dan gereja tergerak untuk melayani masyarakat dalam tugas pelayanan diakonia. Cara-cara yang ditempuh orang percaya adalah berperan aktif mengisi kas gereja, kemudian gereja menyisihkan kas untuk pelayanan diakonia kepada warga gereja, dan warga masyarakat non gereja terdampak dengan turun langsung ke lapangan untuk memberikan bantuan bahan makanan, vitamin dan obat-obatan. Hal ini tentu menjadi suatu cermin pelayanan yang dikehendaki Tuhan. Kata Kunci: Diakonia, Pandemi Covid-19. Pelayanan, orang Percaya.
Problematika Yang Dihadapi Pendeta Dalam Pelayanan di Masa Pandemi Covid-19
Sarah Priska Toding;
Simon Simon
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 2 (2021): November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (427.25 KB)
|
DOI: 10.55097/sabda.v2i2.32
This study specifically details what problems priests experience in ministry during the Covid-19 Pandemic. The current ongoing outbreak certainly causes the complexity of probematics caused by the corona virus. Using qualitative methods with literary and phenoological approaches in presenting this topic. The review of this article outlines that the corona virus causes problems with the drastic decrease in the mobility rate of mankind. Concrete from the decline in the mobility of the global community including aspects of work, aspects of education, aspects of the character, aspects in carrying out religious rituals. This outbreak also causes problems in the psychological side that is characterized by the ease of stressed people and the lack of empathy towards others. This difficult condition is also experienced by pastors, as a result of which makes it more difficult for them to carry out ecclesiastical ministry activities. As for the probematics that were surpassed by the priest during this pandemic, limited access and problems making pastoral care visits to sick congregations, especially in hospitals. Although pastors are faced with this reality, church ministry and ministry to the congregation must be pursued. Keywords: Covid-19 Pandemic, Pastors, Church Services ABSTRAK Kajian ini menyororoti secara spesifik problematika apa yang dialami oleh para pendeta dalam pelayanan di masa Pandemi Covid-19. Wabah yang sedang berlangsung saat ini tentu menyebabkan kompleksitasnya probematika yang diakibatkan oleh virus corona. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan literatur dan fenomologis dalam memaparkan topik ini. Ulasan pada artikel ini menguraikan bahwa virus corona mengakibatkan problematika dengan menurunnya tingkat mobilitas umat manusia secara drastis. Kongkrit dari penurunan mobilitas masyarakat global diantaranya aspek dalam bekerja, aspek pendidikan, aspek berelasi, aspek dalam menjalankan ritual keagaman. Wabah ini juga menyebabkan problematika dalam sisi psikologi yang ditandai mudahnya orang stress serta makin minimnya sikap empati terhadap sesama. Kondisi yang serba sulit ini turut dialami oleh para pendeta, akibatnya makin menyulitkan mereka melakukan aktivitas pelayanan gerejawi. Adapun probematika yang dilami oleh pendeta dimasa pandemi ini, akses yang terbatas serta problem melakukan kunjungan pelayanan pastoral pada jemaat yang sakit khususnya di rumah sakit. Walau para pendeta diperhadapkan pada realita ini, pelayanan gereja dan pelayanan kepada jemaat harus diupayakan tetap berjalan. Kata Kunci: Pandemi Covid-19, Pendeta, Pelayanan Gereja
Prinsip-Prinsip Etika Kristiani Bermedia Sosial
Simon Simon;
Tan Lie Lie;
Heppy Wenny Komaling
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 1 No 1 (2021): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (282.623 KB)
|
DOI: 10.54170/dp.v1i1.36
Indonesian netizens are often labeled as social media users at will without heeding politeness when interacting. This assessment is further confirmed by a survey conducted by Microsoft, that Medsos users are labeled as netizens with the worst politeness level for Southeast Asia scale. The predicate is certainly aimed at allreligius netizens without emphasizing certain beliefs. The low politeness indicates the lack of social media ethics applied by the people of the country. Ironically, Indonesia is known as areligius and civilized country, it seems invisible if you look at the behavior of netizens who are. The method used in this paper is descriptive qualitative method with a literature study approach. The description of this topic religion certainly teaches how politeness and politeness in the public space are displayed especially in social media, because politeness is an indikator we are called ethical or not. The principle of Christian ethics teaches that when using social media what a believer must do is not to do body shaming with other online media users, or not to comment racistically. Because God does not differentiate between fellow humans by loving one and not loving another just because humans are different physically, race or nation. The next principle of Christian ethics in social media is not to argue theologically and not to spit negative things. The goal is to avoid quarrels, let alone hate speech. Netizen Indonesia kerap di cap sebagai pengguna media sosial sesuka hati tanpa mengindahkan kesantunan ketika berinteraksi. Penilaian ini makin dipertegas melalui survei yang dilakukan oleh Microsoft, bahwa pengguna Medsos dilabeli sebagai netizen dengan tingkat kesopanan paling buruk untuk skala Asia Tenggara. Predikat itu tentu ditujukan kepada semua netizen yang beragama tanpa menitik-beratkan keyakinan tertentu. Rendahnya kesopanan menandakan kurangnya etika bermedia sosial diterapkan oleh masyarakat tanah air. Ironisnya, Indonesia yang di kenal sebagai negara yang religius dan beradab, hal itu seakan tidak terlihat bila melihat perilaku netizen yang bar-bar. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif deskriftif dengan pendekatan studi kepustakaan. Uraian dari topik ini agama tentu mengajarkan bagaimana kesopanan dan kesantunan di ruang publik ditampilkan terlebih dalam bermedia sosial, karena kesopanan itu merupakan indikator kita di sebut beretika atau tidak. Prinsip etika Kristiani mengajarkan bahwa ketika bermedia sosial yang harus dilakukan orang Kristen adalah tidak melakukanbody shaming kesesama pengguna media online, maupun tidak berkomentar secara rasis. Karena Allah tidak membeda-bedakan sesama manusia dengan mengasihi yang satu dan tidak mengasihi yang lain hanya karena manusia itu berbeda secara fisik, ras atau bangsa. Prinsip etika Kristiani berikutnya dalam bermedia sosial adalah tidak berdebat secara teologis dan tidak mengumbar hal negatif. Tujuannya agar tidak terjadi pertengkaran apalagi ujaran kebencian.
Perintisan Gereja dalam Konteks Digitalisasi Masa Kini
Simon Simon
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56175/salvation.v3i1.51
Abstract:This paper discusses specifically how church pioneering is carried out in a digital context. The urgency of this topic is elaborated considering that in the present day digitalization has been cultivated from various aspects. With today's digital age, the church needs to adapt evangelism according to the context and era in which the church exists. This paper uses the approach of digital religion and literature methods to answer two questions on the topic, how is digitalized religion? And how is the establishment of church that digitalizes? The results of the description on this topic suggest that, the church establishment in a digital context can start from the establishment of a virtual church. Although the virtual church is not in the physical form, religious activities can be felt and experienced by believers through the virtual church. The establishment of the church in a digital context can be done by establishing a virtual communion. The virtual communion serves as a forum to unite people of faith in Jesus. The virtual communion is an alternative to the establishment of digital church. The establishment of digital churches can preserve evangelism as mandated by the Great Commission.Abstrak:Tulisan ini membahas secara spesifik bagaimana perintisan gereja dilakukan dalam konteks digital. Urgensitas topik ini diuraikan mengingat masa kini digitalisasi telah membudaya di berbagai aspek. Dengan zaman digital saat ini, gereja perlu menyesuaikan perintisan sesuai dengan konteks dan zaman dimana gereja berada. Tulisan ini menggunakan pendekatan metode digital dan literatur dengan menjawab dua pertanyaan pada topik, bagaimana tentang agama yang terdigitalisasi? Serta bagaimana penanaman gereja yang meng digital? Hasil uraian pada topik ini mengemukakan bahwa, pengamanan gereja dalam konteks digital dapat dimulai dari pendirian gereja virtual. Walau gereja virtual tidak bersifat fisik, namun aktivitas keagamaan dapat dirasa dan dialami orang percaya melalui gereja virtual ini. Penanaman gereja dalam konteks digital dapat dilakukan dengan membangun persekutuan virtual. Persekutuan virtual sebagai wadah mempersatukan orang yang seiman kepada Yesus. Persekutuan virtual sebagai alternatif dalam penanam gereja secara mendigital. Penanaman gereja secara mendigital melestarikan penginjilan sebagaimana mandata Amanat Agung.
Pendampingan Pastoral Terhadap Pasangan Muda Dalam Mencegah Keretakan Rumah Tangga
Ribkah Femmy Tamibaha;
Steven Tommy Dalekes Umboh;
Yusuf Heri Harianto;
Simon Simon
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (750.976 KB)
|
DOI: 10.56191/shalom.v2i1.25
Pastoral assistance is an important factor in the church ministry and it helps to solve many problems in all aspects of human life, especially the problem of household rifts, but pastoral assistance has not been evenly applied in all churches. The purpose of this study is to obtain information on the effectiveness of pastoral assistance for young couples in preventing household rifts. The method to obtain data for the research is through indirect interviews and the use of various literature. The result of this study shows that pastoral assistance for young couples successfully prevents household rifts and re-establishes spousal relationships. Following up on the findings of this study, the ability of the pastoral assistants needs to be optimized through the development of their competencies, namely improving relationships with God, increasing knowledge of Bible, increasing exemplary in behavior, and improving skills in pastoral assistance. Abstrak Pendampingnan pastoral faktor penting dalam pelayanan gereja karenabanyak membantu menyelesaikan permasalahan di segala aspek kehidupan manusia, khususnya masalah keretakan rumah tangga. Namun penerapan pendampingan pastoral belum merata di seluruh gereja yang ada. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang keefektifan pendampingan pastoral terhadap pasangan muda dalam mencegah keretakan rumah tangga. Data penelitian ini dikumpulkan melalui metode wawancara tidak langsung dan penggunaan berbagai literatur. Hasil penelitian ini menginformasikan bahwa keefektifan pendampingan pastoral terhadap pasangan muda berhasil mencegah keretakan rumah tangga dan mengutuhkan kembali hubungan suami istri. Menindaklanjuti temuan penelitian ini, maka kemampuan pendamping pastoral perlu dioptimalkan melalui pengembangan kompetensi,yaitu meningkatkan hubungan dengan Tuhan, meningkatkan pengetahuan alkitabiah, meningkatkan keteladanan dalam perilaku, meningkatkan ketrampilan berbasis pendampingan pastoral. Kata Kunci : Firman Tuhan, keretakan rumah tangga, pasangan muda, pendampingan pastoral
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11
Andreas Joswanto;
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto;
Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303
Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian menyimpulkan bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.