Articles
Problematika Yang Dihadapi Pendeta Dalam Pelayanan di Masa Pandemi Covid-19
Sarah Priska Toding;
Simon Simon
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 2 (2021): November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (427.25 KB)
|
DOI: 10.55097/sabda.v2i2.32
This study specifically details what problems priests experience in ministry during the Covid-19 Pandemic. The current ongoing outbreak certainly causes the complexity of probematics caused by the corona virus. Using qualitative methods with literary and phenoological approaches in presenting this topic. The review of this article outlines that the corona virus causes problems with the drastic decrease in the mobility rate of mankind. Concrete from the decline in the mobility of the global community including aspects of work, aspects of education, aspects of the character, aspects in carrying out religious rituals. This outbreak also causes problems in the psychological side that is characterized by the ease of stressed people and the lack of empathy towards others. This difficult condition is also experienced by pastors, as a result of which makes it more difficult for them to carry out ecclesiastical ministry activities. As for the probematics that were surpassed by the priest during this pandemic, limited access and problems making pastoral care visits to sick congregations, especially in hospitals. Although pastors are faced with this reality, church ministry and ministry to the congregation must be pursued. Keywords: Covid-19 Pandemic, Pastors, Church Services ABSTRAK Kajian ini menyororoti secara spesifik problematika apa yang dialami oleh para pendeta dalam pelayanan di masa Pandemi Covid-19. Wabah yang sedang berlangsung saat ini tentu menyebabkan kompleksitasnya probematika yang diakibatkan oleh virus corona. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan literatur dan fenomologis dalam memaparkan topik ini. Ulasan pada artikel ini menguraikan bahwa virus corona mengakibatkan problematika dengan menurunnya tingkat mobilitas umat manusia secara drastis. Kongkrit dari penurunan mobilitas masyarakat global diantaranya aspek dalam bekerja, aspek pendidikan, aspek berelasi, aspek dalam menjalankan ritual keagaman. Wabah ini juga menyebabkan problematika dalam sisi psikologi yang ditandai mudahnya orang stress serta makin minimnya sikap empati terhadap sesama. Kondisi yang serba sulit ini turut dialami oleh para pendeta, akibatnya makin menyulitkan mereka melakukan aktivitas pelayanan gerejawi. Adapun probematika yang dilami oleh pendeta dimasa pandemi ini, akses yang terbatas serta problem melakukan kunjungan pelayanan pastoral pada jemaat yang sakit khususnya di rumah sakit. Walau para pendeta diperhadapkan pada realita ini, pelayanan gereja dan pelayanan kepada jemaat harus diupayakan tetap berjalan. Kata Kunci: Pandemi Covid-19, Pendeta, Pelayanan Gereja
Covid-19 Memudarkan Rasa Kemanusiaan Terhadap Sesama Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya
Simon Simon;
Lindin Anderson
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Nopember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (561.202 KB)
|
DOI: 10.55097/sabda.v1i2.11
ABSTRACTThis paper highlights the fading sense of humanity towards others due to the influence of Covid-19. The understanding of humanity as referred to in this paper, of course, departs from a Christian theological perspective. The meaning of humanity means empathy or concern in understanding the difficulties experienced by others, as well as being an active actor in overcoming the burdens of other people's lives without seeking profit. The method used in this paper is descriptive qualitative with a phenomenological approach. The results of this discussion obtained an explanation, that government policies in dealing with Covid-19 are sometimes not pro-people. Then those who were expose to Covid-19, received negative stereo types from others, then there were hospitals that took advantage of Covid-19 victims for an incentive. Paramedic services are not optimal for some patients, and there are still people who do not fully comply with health protocols. In a climate of social conditions that have begun to diminish the sense of humanity, it is fitting for believers (Christians) to become light and salt by practicing the universal truth of God's word through their deeds to others.ABSTRAKTulisan ini menyoroti mulai memudarnya rasa kemanusiaan terhadap sesama karena pengaruh Covid-19. Pengertian rasa kemanusiaan yang dimaksud dalam tulisan ini tentunya berangkat dari perspektif teologis Kristen. Adapun makna kemanusiaan yang dimaksud adanya empati atau kepedulian dalam memahami kesulitan yang dialami oleh orang lain, serta menjadi pelaku aktif dalam menanggulangi beban hidup orang lain tanpa mencari keuntungan. Metode yang dipakai dalam tulisan ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomologis. Hasil dari pembahasan ini didapatkan suatu pemaparan, kebijakan pemerintah dalam penanggulangan Covid-19 terkadang tidak bersifat pro ke-rakyat. Kemudian mereka yang terpapar Covid-19, menerima streo type negatif dari sesama, kemudian adanya rumah sakit yang mengambil keuntungan dari korban Covid-19 demi sebuah insentif. Pelayanan tenaga medis yang tidak maksimal ke-sebagian pasien, serta masih dijumpainya masyarakat yang tidak sepenuhnya patuh pada protokol kesehatan. Iklim kondisi sosial yang mulai memudarkan rasa kemanusiaan, sudah sepatutunya orang percaya (Kristen) menjadi terang dan garam dengan mengamalkan kebenaran firman Allah secara menguniversal melalui perbuatannya kepada sesama.
Prinsip-Prinsip Etika Kristiani Bermedia Sosial
Simon Simon;
Tan Lie Lie;
Heppy Wenny Komaling
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 1 No 1 (2021): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (282.623 KB)
|
DOI: 10.54170/dp.v1i1.36
Indonesian netizens are often labeled as social media users at will without heeding politeness when interacting. This assessment is further confirmed by a survey conducted by Microsoft, that Medsos users are labeled as netizens with the worst politeness level for Southeast Asia scale. The predicate is certainly aimed at allreligius netizens without emphasizing certain beliefs. The low politeness indicates the lack of social media ethics applied by the people of the country. Ironically, Indonesia is known as areligius and civilized country, it seems invisible if you look at the behavior of netizens who are. The method used in this paper is descriptive qualitative method with a literature study approach. The description of this topic religion certainly teaches how politeness and politeness in the public space are displayed especially in social media, because politeness is an indikator we are called ethical or not. The principle of Christian ethics teaches that when using social media what a believer must do is not to do body shaming with other online media users, or not to comment racistically. Because God does not differentiate between fellow humans by loving one and not loving another just because humans are different physically, race or nation. The next principle of Christian ethics in social media is not to argue theologically and not to spit negative things. The goal is to avoid quarrels, let alone hate speech. Netizen Indonesia kerap di cap sebagai pengguna media sosial sesuka hati tanpa mengindahkan kesantunan ketika berinteraksi. Penilaian ini makin dipertegas melalui survei yang dilakukan oleh Microsoft, bahwa pengguna Medsos dilabeli sebagai netizen dengan tingkat kesopanan paling buruk untuk skala Asia Tenggara. Predikat itu tentu ditujukan kepada semua netizen yang beragama tanpa menitik-beratkan keyakinan tertentu. Rendahnya kesopanan menandakan kurangnya etika bermedia sosial diterapkan oleh masyarakat tanah air. Ironisnya, Indonesia yang di kenal sebagai negara yang religius dan beradab, hal itu seakan tidak terlihat bila melihat perilaku netizen yang bar-bar. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif deskriftif dengan pendekatan studi kepustakaan. Uraian dari topik ini agama tentu mengajarkan bagaimana kesopanan dan kesantunan di ruang publik ditampilkan terlebih dalam bermedia sosial, karena kesopanan itu merupakan indikator kita di sebut beretika atau tidak. Prinsip etika Kristiani mengajarkan bahwa ketika bermedia sosial yang harus dilakukan orang Kristen adalah tidak melakukanbody shaming kesesama pengguna media online, maupun tidak berkomentar secara rasis. Karena Allah tidak membeda-bedakan sesama manusia dengan mengasihi yang satu dan tidak mengasihi yang lain hanya karena manusia itu berbeda secara fisik, ras atau bangsa. Prinsip etika Kristiani berikutnya dalam bermedia sosial adalah tidak berdebat secara teologis dan tidak mengumbar hal negatif. Tujuannya agar tidak terjadi pertengkaran apalagi ujaran kebencian.
Perintisan Gereja dalam Konteks Digitalisasi Masa Kini
Simon Simon
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56175/salvation.v3i1.51
Abstract:This paper discusses specifically how church pioneering is carried out in a digital context. The urgency of this topic is elaborated considering that in the present day digitalization has been cultivated from various aspects. With today's digital age, the church needs to adapt evangelism according to the context and era in which the church exists. This paper uses the approach of digital religion and literature methods to answer two questions on the topic, how is digitalized religion? And how is the establishment of church that digitalizes? The results of the description on this topic suggest that, the church establishment in a digital context can start from the establishment of a virtual church. Although the virtual church is not in the physical form, religious activities can be felt and experienced by believers through the virtual church. The establishment of the church in a digital context can be done by establishing a virtual communion. The virtual communion serves as a forum to unite people of faith in Jesus. The virtual communion is an alternative to the establishment of digital church. The establishment of digital churches can preserve evangelism as mandated by the Great Commission.Abstrak:Tulisan ini membahas secara spesifik bagaimana perintisan gereja dilakukan dalam konteks digital. Urgensitas topik ini diuraikan mengingat masa kini digitalisasi telah membudaya di berbagai aspek. Dengan zaman digital saat ini, gereja perlu menyesuaikan perintisan sesuai dengan konteks dan zaman dimana gereja berada. Tulisan ini menggunakan pendekatan metode digital dan literatur dengan menjawab dua pertanyaan pada topik, bagaimana tentang agama yang terdigitalisasi? Serta bagaimana penanaman gereja yang meng digital? Hasil uraian pada topik ini mengemukakan bahwa, pengamanan gereja dalam konteks digital dapat dimulai dari pendirian gereja virtual. Walau gereja virtual tidak bersifat fisik, namun aktivitas keagamaan dapat dirasa dan dialami orang percaya melalui gereja virtual ini. Penanaman gereja dalam konteks digital dapat dilakukan dengan membangun persekutuan virtual. Persekutuan virtual sebagai wadah mempersatukan orang yang seiman kepada Yesus. Persekutuan virtual sebagai alternatif dalam penanam gereja secara mendigital. Penanaman gereja secara mendigital melestarikan penginjilan sebagaimana mandata Amanat Agung.
Pendampingan Pastoral Terhadap Pasangan Muda Dalam Mencegah Keretakan Rumah Tangga
Ribkah Femmy Tamibaha;
Steven Tommy Dalekes Umboh;
Yusuf Heri Harianto;
Simon Simon
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (750.976 KB)
|
DOI: 10.56191/shalom.v2i1.25
Pastoral assistance is an important factor in the church ministry and it helps to solve many problems in all aspects of human life, especially the problem of household rifts, but pastoral assistance has not been evenly applied in all churches. The purpose of this study is to obtain information on the effectiveness of pastoral assistance for young couples in preventing household rifts. The method to obtain data for the research is through indirect interviews and the use of various literature. The result of this study shows that pastoral assistance for young couples successfully prevents household rifts and re-establishes spousal relationships. Following up on the findings of this study, the ability of the pastoral assistants needs to be optimized through the development of their competencies, namely improving relationships with God, increasing knowledge of Bible, increasing exemplary in behavior, and improving skills in pastoral assistance. Abstrak Pendampingnan pastoral faktor penting dalam pelayanan gereja karenabanyak membantu menyelesaikan permasalahan di segala aspek kehidupan manusia, khususnya masalah keretakan rumah tangga. Namun penerapan pendampingan pastoral belum merata di seluruh gereja yang ada. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang keefektifan pendampingan pastoral terhadap pasangan muda dalam mencegah keretakan rumah tangga. Data penelitian ini dikumpulkan melalui metode wawancara tidak langsung dan penggunaan berbagai literatur. Hasil penelitian ini menginformasikan bahwa keefektifan pendampingan pastoral terhadap pasangan muda berhasil mencegah keretakan rumah tangga dan mengutuhkan kembali hubungan suami istri. Menindaklanjuti temuan penelitian ini, maka kemampuan pendamping pastoral perlu dioptimalkan melalui pengembangan kompetensi,yaitu meningkatkan hubungan dengan Tuhan, meningkatkan pengetahuan alkitabiah, meningkatkan keteladanan dalam perilaku, meningkatkan ketrampilan berbasis pendampingan pastoral. Kata Kunci : Firman Tuhan, keretakan rumah tangga, pasangan muda, pendampingan pastoral
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11
Andreas Joswanto;
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto;
Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303
Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian menyimpulkan bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.
Theological Review of the Concept of Feng Shui According to Colossians 2:8
Auw Tammy Yulianto;
Simon Simon;
Tjiong Eric Cahyadi
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 6, No 2 (2022): July 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46445/ejti.v6i2.526
Feng shui was a part of the cultural heritage of ancient Chinese society mainly used to design buildings and spaces according to the birth date or the basic elements of the owner or the person who occupied a building to achieve harmony and balance with the environment aimed to bring peace and prosperity. Feng shui practices had become a matter of debate among Christians. The question was whether feng shui practices such as calculations in building construction, determining the direction a tomb should face, or finding a date to start a business did not conflict with God's Word. From a non-theological point of view, feng shui was well accepted because it seemed reasonable. This article discussed feng shui from a theological perspective by referring to Colossians 2:8. In the research of this article, the researchers used a qualitative descriptive method with an exposition approach where data collection was obtained from literature studies and interviews. The results of the discussion on this topic showed that theologians concurred that feng shui did not correspond with God's Word, while the Bible interpreted feng shui as a false philosophy. The conclusion drawn was the rejection of feng shui practices by theologians and the Bible.
Kerukunan di Ruang Publik Digital dalam Bingkai Iman Kristen: Upaya Mereduksi Politik Identitas
Ita Lintarwati;
Yonatan Alex Arifianto;
Simon Simon
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47131/jtb.v5i1.117
Christianity which is synonymous with love can be provoked communication conflicts in the digital space that lead to wider conflicts. The attitude and values of identity politics are fertile in this country. Therefore, the description of harmony within the framework of the Christian faith becomes the guideline and basis for believers to reduce identity politics. Using descriptive qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that harmony within the framework of Christian faith in the digital public space: an effort to reduce identity politics is the responsibility of believers where believers understand the importance of the impact of identity politics and the disintegration of the Nation that occurs. Furthermore, believers can also practice the values and attitudes of nature and the value of Harmony as part of the attitude of faith and actions that are actualized in every sphere of life. Of course, in the digital public space where this space becomes an arena for identity conflicts. Finally, believers have an important role to continue to be a blessing as light bearers in the digital world. AbstrakKekristenan yang identik dengan kasih dapat terpancing dalam konflik komunikasi di ruang digital yang mengarah pada konflik yang lebih luas. Hal itu adanya sikap dan nilai politik identitas yang subur di negara ini. Oleh sebab itu deskrisif kerukunan dalam bingkai iman Kristen menjadi pedoman dan dasar bagi orang percaya untuk mereduksi politik identitas. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa kerukunan dalam bingkai iman Kristen dalam ruang publik digital: upaya mereduksi politik identitas sebagai tanggung jawab orang percaya dimana orang percaya memahami pentingnya dampak politik identitas dan disintegrasi Bangsa yang terjadi. Selanjutnya orang percaya juga dapat mengamalkan nilai dan sikap dari hakikat dan nilai Kerukunan sebagai bagian sikap imana dan perbuatan yang diaktualisasikan di setiap ranah kehidupan. Tentunya dalam ruang publik digital dimana ruang ini menjadi ajang konflik identitas. Terakhir orang percaya memiliki peran penting untuk terus menjadi berkat sebagai pembawa terang dalam dunia digital.
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11
Andreas Joswanto;
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto;
Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303
Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian menyimpulkan bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11
Andreas Joswanto;
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto;
Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303
Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian menyimpulkan bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.