Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Theological Review of the Concept of Feng Shui According to Colossians 2:8 Auw Tammy Yulianto; Simon Simon; Tjiong Eric Cahyadi
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 6, No 2 (2022): July 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v6i2.526

Abstract

Feng shui was a part of the cultural heritage of ancient Chinese society mainly used to design buildings and spaces according to the birth date or the basic elements of the owner or the person who occupied a building to achieve harmony and balance with the environment aimed to bring peace and prosperity. Feng shui practices had become a matter of debate among Christians. The question was whether feng shui practices such as calculations in building construction, determining the direction a tomb should face, or finding a date to start a business did not conflict with God's Word. From a non-theological point of view,  feng shui was well accepted because it seemed reasonable. This article discussed feng shui from a theological perspective by referring to Colossians 2:8. In the research of this article, the researchers used a qualitative descriptive method with an exposition approach where data collection was obtained from literature studies and interviews. The results of the discussion on this topic showed that theologians concurred that feng shui did not correspond with God's Word, while the Bible interpreted feng shui as a false philosophy. The conclusion drawn was the rejection of feng shui practices by theologians and the Bible.
Kerukunan di Ruang Publik Digital dalam Bingkai Iman Kristen: Upaya Mereduksi Politik Identitas Ita Lintarwati; Yonatan Alex Arifianto; Simon Simon
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.117

Abstract

Christianity which is synonymous with love can be provoked communication conflicts in the digital space that lead to wider conflicts. The attitude and values of identity politics are fertile in this country. Therefore, the description of harmony within the framework of the Christian faith becomes the guideline and basis for believers to reduce identity politics. Using descriptive qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that harmony within the framework of Christian faith in the digital public space: an effort to reduce identity politics is the responsibility of believers where believers understand the importance of the impact of identity politics and the disintegration of the Nation that occurs. Furthermore, believers can also practice the values and attitudes of nature and the value of Harmony as part of the attitude of faith and actions that are actualized in every sphere of life. Of course, in the digital public space where this space becomes an arena for identity conflicts. Finally, believers have an important role to continue to be a blessing as light bearers in the digital world.  AbstrakKekristenan yang identik dengan kasih dapat terpancing dalam konflik komunikasi di ruang digital yang mengarah pada konflik yang lebih luas. Hal itu adanya sikap dan nilai politik identitas yang subur di negara ini. Oleh sebab itu deskrisif kerukunan dalam bingkai iman Kristen menjadi pedoman dan dasar bagi orang percaya untuk mereduksi politik identitas. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa kerukunan dalam bingkai iman Kristen dalam ruang publik digital: upaya mereduksi politik identitas sebagai tanggung jawab orang percaya dimana orang percaya memahami pentingnya dampak politik identitas dan disintegrasi Bangsa yang terjadi. Selanjutnya orang percaya juga dapat mengamalkan nilai dan sikap dari hakikat dan nilai Kerukunan sebagai bagian sikap imana dan perbuatan yang diaktualisasikan di setiap ranah kehidupan. Tentunya dalam ruang publik digital dimana ruang ini menjadi ajang konflik identitas. Terakhir orang percaya memiliki peran penting untuk terus menjadi berkat sebagai pembawa terang dalam dunia digital.  
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11 Andreas Joswanto; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto; Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini   menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat  menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian  menyimpulkan  bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya  menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan  dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11 Andreas Joswanto; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto; Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini   menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat  menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian  menyimpulkan  bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya  menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan  dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.
Kajian Alkitab Terhadap Fenomena Ibadah Metaverse Tjutjun Setiawan; Andreas Joswanto; Tan Lie Lie; Simon Simon
JURNAL LUXNOS Vol. 8 No. 2 (2022): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI DESEMBER 2022
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v8i2.223

Abstract

Abstract: Metaverse offered a virtual world where each member could interact with one another without face-to-face. Metaverse digital technology has drawn the churches’ interest to utilize it as an option for virtual worship. The existence of metaverse in churches has gradually led to less interaction among believers. Was it true that metaverse made the church ministry easier? What does the Bible say about the metaverse? This research used a literature study in which the function of the church was studied and how it related to the metaverse, a virtual space device. The conclusion is that the digital technology of the metaverse could not always be used in Christian worship. Biblical facts assign the believers' meetings (face-to-face) as an option and priority in communion. The Bible does not reject digital developments but requires believers and church leaders to be critical and wise in facing technological developments to improve the ministry and not to take people away from God and fellow believers because of technological devices. Abstrak: Metaverse menyajikan sebuah dunia virtual di mana setiap anggota dapat saling berinteraksi tanpa harus melakukan tatap muka secara langsung. Teknologi digital metaverse sudah mulai diminati gereja untuk digunakan sebagai opsi dalam melakukan ibadah virtual. Kehadiran metaverse dalam gereja secara perlahan menyebabkan berkurangnya interaksi bagi sesama orang percaya. Benarkah metaverse memudahkan pelayanan gereja? Bagaimana kajian Alkitab terhadap metaverse? Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka di mana fungsi gereja dikaji dan bagaimana relevansinya dengan perangkat ruang virtual metaverse. Kesimpulan yang didapat bahwa tidak selalu teknologi digital metaverse dapat dipergunakan dalam hal ibadah Kristiani. Fakta Alkitab menempatkan pertemuan-pertemuan orang percaya (tatap muka) sebagai opsi dan prioritas dalam suatu persekutuan. Alkitab tidak menolak perkembangan digital, namun menuntut orang percaya dan pimpinan gereja untuk bersikap kristis dan bijak dalam menghadapi perkembangan teknologi agar dapat memajukan pelayanan, bukan sebaliknya membawa manusia menjauh dari Allah dan sesama karena perangkat teknologi.
Kontribusi Pengajar Pendidikan Agama Kristen dalam Menumbuhkan Kepercayaan Diri Murid Distabilitas Lena Anjarsari Sembiring; Auw Tammy Yulianto; Simon Simon
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 12 No 2 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v12i2.149

Abstract

The background of this paper was based on the fact that the contribution of teachers in helping to increase the confidence of students with disabilities had not been significant. The real contribution as a teacher was very necessary, considering that the students who were categorized as disabled in 2020-2021 had reached 144,621 students. The size of students with disabilities was a concern for every one of us, especially teachers, to help educationally and mentally. In describing this paper, the researchers used qualitative methods with a literature study approach. The formulation of questions to be answered in this article, what was the description of the problems of students with disabilities? What was the concrete contribution of PAK teachers in fostering the confidence of these students? The results of the discussion in this article suggested that the problems experienced by students with disabilities were that they received a negative stigma and were vulnerable to mental health.The teachers’ real contribution to help the growth of the students’ self-confidence was carried out through a friendship-based teaching approach, skill-based education and independence-based education. The students' confidence would grow if this was realized and the educators followed Jesus' attitude in humanizing disabled people.
Upacara Ngaben ditinjau dalam Perspektif Iman Kristen Ayub Pangga Lewu; Tjiong Eric Cahyadi; Auw Tammy Yulianto; Simon Simon
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.82

Abstract

Abstract: Bali Island is a famous island in the world. Besides being famous for its beautiful tourist attractions, the island is also famous for a unique ceremony called ngaben or the burning of corpses as a path taken by the Hindu people to reach the heaven or in Hindu spiritual terms called Moksa. The implementation of ngaben ceremony goes through a long process and requires high cost. The purpose of this writing was to equip evangelists who would carry out missions to Hindus. With an understanding of heaven from a Hindu perspective, evangelists could design the right mission strategy. The research in this paper used a qualitative descriptive method to get a comprehensive exposure. The literature study approach was also used by using library sources, such as books, journals and articles. The results showed that there was a religious concept to get eternal salvation after death. This research aimed to help the mediator who wanted to carry out God's mission to realize the religious meaning contained in the ngaben ceremony. This research suggested that it was important for a servant of God as an agent of God's mission on earth to understand this fundamental concept. Abstrak: Pulau Bali merupakan pulau yang terkenal di seluruh dunia. Disamping terkenal akan obyek wisatanya yang indah, pulau ini juga terkenal dengan sebuah upacara yang unik yaitu upacara Ngaben atau pembakaran mayat sebagai jalan yang ditempuh umat Hindu untuk mendapatkan sorga atau di dalam istilah kerohanian Hindu disebut “Moksa”. Pelaksanaan upacara ngaben melalui proses yang panjang dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Tujuan penulisan ini adalah membekali penginjil yang akan melaksanakan misi kepada umat Hindhu. Dengan pemahaman akan sorga dari perspektif Hindhu maka penginjil dapat merancang strategi misi yang tepat. Penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendapatkan pemaparan secara komprehensif. Pendekatan studi Pustaka juga digunakan dengan menggunakan sumber-sumber Pustaka dari buku, jurnal dan artikel. Hasil penelitian menunjukkan adanya konsep religius yang bermakna keselamatan kekal setelah kematian. Penelitian ini bermaksud membantu seorang pelaksana misi Allah agar memahami makna religius yang terkandung di dalam upacara ngaben. Penelitian ini menyarankan pentingnya seorang hamba Tuhan sebagai agen misi Allah di bumi memahami konsep fundamental ini.
A Theological Review of the Practice of Abortion among Unmarried Women in India Jamin Tanhidy; Ronal Pasaribu; Praveen Vishal; Simon Simon
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 8, No 1 (2024): January 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v8i1.684

Abstract

In 2022, the Supreme Court of India has legalized abortion for all women, regardless of marital status. Consequently, all women in India are free to terminate their pregnancy without having to face a legal case. This decision is a breakthrough for new laws in India, including the issue of upholding women's rights. Even so, the act of arbitrary abortion is contrary to morals and Bible teachings. This article aims to discuss the legalization of abortion carried out by the Indian government from a biblical theology perspective by using a literature review approach. The findings of this research indicate that legalizing abortion through legislation is contrary to the biblical principle of the right to life. The government must guard abortion cases not only from political and socio-economic roles but also from religious beliefs and provide good sex education and a healthy environment for its people to suppress unwanted abortions. The role of parents in educating children and the role of the church in maturing the faith of the younger generation can prevent free sex and unsafe abortion in India. The contribution of this research is related to abortion, the right to life of the fetus, women's rights, sex education for the younger generation, parenting and government law.
Paskah Kristiani Menggenapi Kovenan Mesianik Dalam Kejadian 3:15 [The Christian Passover Fulfills the Messianic Covenant in Genesis 3:15] Tjutjun Setiawan; Fery Rondonuwu; Sri Darajat Suaji; Simon Simon
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 5, No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6494

Abstract

Passover celebrations are always repeated every year for Christians, although not as festive as Christmas. Christian Passover events are a series of events from the death of Jesus Christ on the cross and His resurrection on the third day. There have been many attempts to reduce the events of the cross and deny the crucified figure of Jesus Christ. This research tries to explore and examine the meaning of Easter in Christianity and how it relates to the Messianic Covenant in Genesis 3:15. The method used is qualitative with a literature review approach, examining the red threads of the Old and New Testaments regarding Passover, where in the conclusion there is a relationship between Genesis 3:15 concerning the Messianic covenant as a type and its antitype or fulfilment is in the event of the cross, and this is a work God's salvation in overcoming human sin, on the one hand God's justice is satisfied by punishing sin on the cross, and on the other hand it shows God's love for humans. Thus, as people who believe in Jesus Christ, they must understand the meaning of this Passover in their daily lives, and moreover, theological high school students and church pastors must understand that and educate the congregation to maintain the spirit of Passover. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Perayaan Paskah selalu berulang setiap tahun bagi umat Kristiani, meskipun tidak semeriah Natal. Peristiwa Paskah adalah suatu rangkaian peristiwa dari kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga. Banyak upaya untuk mereduksi peristiwa salib dan menafikan sosok Yesus Kristus yang tersalib. Penelitian ini mencoba menggali dan mengkaji makna paskah dalam kekristenan dan apa hubungannya dengan kovenan Mesianik dalam Kejadian 3:15. Metode yang dipergunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kajian Pustaka, menelisik benang merah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Paskah, di mana dalam simpulan terdapat hubungan antara Kejadian 3:15 tentang kovenan Mesianik sebagai tipe dan antitipenya atau penggenapannya ada pada peristiwa salib, dan ini merupakan karya keselamatan Allah dalam mengatasi dosa manusia, di satu sisi keadilan Allah terpuaskan dengan menghukum dosa di salib, dan di sisi lainnya menunjukkan kasih Allah pada manusia. Dengan demikian sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus harus memahami makna Paskah ini dalam kehidupan sehari-hari dan terlebih bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi dan para gembala gereja harus memahami itu dan mengedukasi jemaat untuk tetap menjaga semangat Paskah.