Andi Tenriola Fitri Kessi
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Implementation of Early Mobilization to Reduce Pain Intensity Post-Cesarean Section at Labuang Baji Regional General Hospital Kasim, Erna; Fitri, Fitri; Limbong, Magdalena; Ahmad, Ekayanti Hafidah; Kessi, Andi Tenriola Fitri
Genius Journal Vol. 5 No. 2 (2024): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v5i2.398

Abstract

Introduction: Cesarean section (Sectio Caesarea) is a surgical procedure involving the removal of the fetus through an incision in the abdominal and uterine walls. Objective: To implement early mobilization as a strategy to reduce pain intensity following a cesarean section at Labuang Baji Regional General Hospital, Makassar. Method: A descriptive case study was conducted involving two respondents. Results: On the third day post-surgery, both respondents initially experienced moderate pain intensity. After the implementation of early mobilization, pain intensity decreased to mild levels. Conclusion: The case study concluded that early mobilization effectively reduces pain intensity in post-cesarean section patients.
Implementation of Early Mobilization to Reduce Pain Intensity Post-Cesarean Section at Labuang Baji Regional General Hospital Kasim, Erna; Fitri, Fitri; Limbong, Magdalena; Ahmad, Ekayanti Hafidah; Kessi, Andi Tenriola Fitri
Genius Journal Vol. 5 No. 2 (2024): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v5i2.398

Abstract

Introduction: Cesarean section (Sectio Caesarea) is a surgical procedure involving the removal of the fetus through an incision in the abdominal and uterine walls. Objective: To implement early mobilization as a strategy to reduce pain intensity following a cesarean section at Labuang Baji Regional General Hospital, Makassar. Method: A descriptive case study was conducted involving two respondents. Results: On the third day post-surgery, both respondents initially experienced moderate pain intensity. After the implementation of early mobilization, pain intensity decreased to mild levels. Conclusion: The case study concluded that early mobilization effectively reduces pain intensity in post-cesarean section patients.
TINGKAT RISIKO ERGONOMI PADA AKTIVITAS MANUAL HANDLING DI GUDANG BULOG BARU PANAIKANG I KOTA MAKASSAR Muhammad Akbar Salcha; Andi Tenriola Fitri Kessi; Arni Juliani; Muhammad Ahjad
Jurnal Mitrasehat Vol. 10 No. 1 (2020): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v10i1.23

Abstract

Aktivitas pemindahan material secara manual masih menjadi sebagian besar aktivitas yang ada di dunia industri seperti aktivitas pengangkatan, penurunan, mendorong, menarik, mengangkut dan memindahkan barang dengan posisi tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan mengetahui postur kerja, frekuensi, serta durasi kerja terhadap tingkat risiko ergonomi pada aktivitas manual handling pada pekerja buruh angkut di gudang Bulog Baru Panaikang Makassar. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif. Sampel yang diambil sebanyak 30 orang yang dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan secara observasi, penilaian postur kerja, frekuensi kerja, dan durasi kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa postur kerja yang berisiko tinggi sebanyak 28 orang (93,3%) dan berisiko sedang sebanyak 2 orang (6,7%), frekuensi kerja dan durasi kerja seluruh responden adalah tidak ergonomis. Secara deskriptif postur tubuh, frekuensi, dan durasi kerja berpengaruh terhadap tingkat risiko ergonomi pada pekerja aktivitas manual handling. Pekerja disarankan untuk beristirahat disaat mulai merasa sakit atau nyeri pada bagian tubuh, dan rajin melakukan peregangan otot disela-sela pekerjaan. Perusahaan sebaiknya memberikan penyuluhan dan pelatihan pada pekerja mengenai risiko pekerjaan dan tata cara bekerja sesuai dengan prinsip ergonomi.
GAMBARAN KELELAHAN TENAGA KERJA DI BAGIAN FACTORY 1 PT. MARUKI INTERNASIONAL INDONESIA MAKASSAR TAHUN 2018 Andi Tenriola Fitri Kessi; Deni Aulia Lova
Jurnal Mitrasehat Vol. 8 No. 2 (2018): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v8i2.186

Abstract

Perusahaan ini bergerak dibidang furniture untuk budaya masyarakat jepang yangdisebut butsudan. Butsudan berfungsi sebagai tempat untuk menghormati dan berkomunikasidengan para leluhur yang telah wafat. Proses pembuatan butsudan di PT. MarukiInternasional Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan penarikansampel menggunakan total sampling adapun sampel dalam penelitian ini sebanyak 46responden dengan seluruh tenaga kerja di bagian factory 1. Pengumpulan data dilakukanmelalui pembagian kuesioner, data dianalisis dengan menggunakan alat ukur pencahayaanyaitu Lux Meter, kalkulator, microsoft excel, SPSS, kemudian disajikan bentuk tabel disertainarasi. Intensitas Pencahayaan hasi pengukuran pencahayaan yang di lakukan oleh penelitipada factory 1 di PT. Maruki Internasional Indonesia memiliki intensitas pencahayaan di haripertama yaitu 188 LUX dan di hari ke dua 189 LUX. Pengukuran intensitas pencahayaanyang memenuhi standar yaitu 200 LUX, sehingga peneliti menyimpulkan bahwa intensitaspencahayaan yang berada di factory 1 tidak memenuhi standar yang sudah di terapkan untukintensitas pencahayaan pada saat bekerja.Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwamenunjukan dari 46 responden diketahui tingkat masa kerja di bagian factory 1.Respondenyang tergolong masa kerja paling banyak pada kategori masa kerja lama sebanyak 30responden(65,2%). Kategori sedang yaitu sebanyak 15 responden (32,6%), Dan baru hanya 1responden (2,2%)Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa dari 46 respondendiketahui durasi kerja di bagian factory 1 efektif digunakan oleh responden sebanyak100%Sebaiknya intensitas pencahayaan dalam ruangan kerja bisa sesuai dengan standaryang telah ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantorandan Industri. Khususnya pada bagian factory 1 PT. Maruki Internasional Indonesia.Diharapkan tenaga kerja memiliki pengetahuan tentanga masa kerja yang lebih dari 10 tahundapat menyebabkan osteoarthritis. Memanfaatkan durasi kerja yang efektif ini untukmelakukan rileksasi agar otot otot tidak mengalami kekakuan.
Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Dermatitis Kontak Iritan Pada Karyawan Pencucian Mobil di Kota Makassar Andi Tenriola Fitri Kessi; Muhammad Akbar Salcha; Muh. Qizas Afandi Umar
Jurnal Mitrasehat Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v11i1.287

Abstract

Kesehatan kerja merupakan aspek atau unsur kesehatan yang erat berkaitan dengan lingkungan kerja dan pekerjaan secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja. Mencegah timbulnya gangguan Kesehatan yang disebabkan oleh kondisi kerja, melindungi tenaga kerja dari bahaya kesehatan yang timbul akibat pekerjaan, dan menempatkan tenaga kerja pada suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi fisik atau faal tubuh dan mental psikologis tenaga kerja yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ontri yang berhubungan dengan kejadian gejala dermatitis kontak iritan pada karyawan pencucian mobil di Kota Makassar. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah jenis penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan analitik dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di pencucian mobil di jalan perintis kemerdekaan Kota Makassar. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan personal hygne seluruh pekerja tidak menerapkan kriteria secara benar dimana seluruh responden hanya mencuci tangan, Dermatitis kontak akibat kerja didefinisikan sebagai penyakit kulit dimana pajanan di tempat kerja merupakan ontri penyebab yang utama serta ontri ontributor, Penggunaan APD merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak akibat kerja, karena dengan mengunakan APD dapat terhindar dari cipratan bahan kimia dan menghindari kontak langsung dengan bahan kimi, Riwayat penyakit kulit dalam penelitian ini merupakan pekerja yang sebelumnya atau sedang menderita penyakit kulit akibat kerja. Saran dari penelitian ini adalah penyediaan APD, menggunakan APD untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak akibat kerja.
IDENTIFIKASI PELAYANAN KESEHATAN KERJA DI PT. INDUSTRI KAPAL INDONESIA (PERSERO) MAKASSAR TAHUN 2017 Andi Tenriola Fitri Kessi; Sri Depi
Jurnal Mitrasehat Vol. 8 No. 1 (2018): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v8i1.356

Abstract

Kerangka pemikiran ini adalah bahwa di tempat kerja terdapat potensi dan faktor bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta mengakibatkan kerugian. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif, yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mengidentifikasi pelayanan kesehatan kerja di PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) Makassar. Sampel dalam penelitian ini adalah tenaga kerja bagian produksi sebanyak 50 tenaga kerja. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung dan kuesioner. Data dilakukan secara normal menggunakan komputer, kemudian disajikan dalam bentuk narasi, tabel disertai penjelasan. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa dari 50 responden berdasarkan promotif pelayanan kesehatan, yang menyatakan ada Promotif di perusahaan sebanyak 45 orang (90%) dan yang meyatakan tidak ada Promotif sebanyak 5 orang ( 10% ), hasil penelitian preventif penyakit akibat kerja, yang menyatakan ada pencegahan di perusahaan sebanyak 37 orang (74%) sedangkan yang tidak ada pencegahan sebanyak 13 orang (26%), hasil penelitian kuratif penyakit akibat kerja, yang menyatakan ada pengobatan di perusahaan sebanyak 31 orang (62%) dan yang menyatakan tidak ada sebanyak 9 oarang (38%), hasil penelitian rehabilitatif, yang menyatakan ada pemulihan di perusahaan sebanyak 20 orang (40%) dan yang menyatakan tidak ada sebanyak 30 orang (60%). Oleh karena itu disarankan agar meningkatkan pemulihan pada tenaga kerja dan latihan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakan kemampuannya yang masih ada secara maksimal.
KORELASI PENGGUNAAN PESTISIDA TERHADAP GEJALA KERACUNAN PADA PETANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN ENREKANG Andi Tenriola Fitri Kessi; Habibi; Rindu Syamsuddin
Jurnal Mitrasehat Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v15i1.511

Abstract

Latar belakang: Pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkal gangguan serangga, binatang pengerat, nematode, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang atau semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi penggunaan pestisida terhadap gejala keracunan. Metode: menggunakan metode observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil sebanyak 30 dari 60 populasi dengan perhitungan rumus sampel size. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa korelasi penggunaan pestisida terhadap gejala keracunan berdasarkan prinsip yaitu: teknik pencampuran, ditemukan P= 0.243 < dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. Teknik penyemprotan, ditemukan P= 0.626 < dari 0.05. Kesimpulan: Tidak ada hubungan signifikan terhadap gejala keracunan higiene perorangan, ditemukan P= 0.463 < dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. Penggunaan APD ditemukan P= 0.537 < dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. pemberian edukasi, ditemukan P= 0.015 > dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan.
Application of Lamaze Breathing Technique to Reduce Labour Pain in The First Stage Of Active Labour at Pelamonia Hospital Makassar Kasim, Erna; Harun, Indriyani; Nurhayati, Nurhayati; Hafida, Ekayanti; Kessi, Andi Tenriola Fitri
Jurnal Vocational Nursing Sciences (VNUS) Vol 7 No 2 (2025): JURNAL VNUS (Vocational Nursing Science)
Publisher : LPPM STIKes Muhammadiyah Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52221/jvnus.v7i2.877

Abstract

Labor pain is a common physiological response but often causes physical and emotional discomfort, especially in the first stage of active labor. One non-pharmacological method than can be used to reduce pain is the Lamaze breathing technique. This case study was conducted to determine the application of Lamaze breathing techniques on the reduction of pain during the active phase of the first stage of labour. a descriptive case study research methodology that focuses on one of the main issues in the selected case. Inclusion criteria: Mothers in active phase 1 labour with moderate to severe pain, mothers who are responsive or in good general condition with vital signs within normal limits, mothers under 35 years of age, primiparas/multiparas, mothers with cephalic presentation. Exclusion criteria: Mothers in active phase I labour with multiple pregnancies, malpresentation, haemorrhage, high-risk pregnancies accompanied by conditions such as pre-eclampsia, heart disease, asthma, premature rupture of membranes, pelvic abnormalities. The results show that both respondents experienced a decrease in pain intensity after applying the Lamaze breathing. The mothers appeared calmer, able to control their breathing, and reduced tension during contractions. The Lamaze breathing technique is effective in helping to reduce labor pain and is worth recommending as a non-pharmacological intervention.