Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

AKTIVITAS Lactobacillus plantarum ISOLAT ASI TERHADAP IMUNOGLOBULIN (IgA , IgG)PADA TIKUS WISTAR MODEL SEPSIS Sri Sinto Dewi; Herlisa Anggraini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.58 KB)

Abstract

Lactat acid bacteria which act as a probiotic was a bacteria who can survive to low pH (gastric acid) and bile. Indigenous lactat acid bacteria have a potency as a Immunostimulator for Immunoglobulin (IgA,IgG) lactat acid bacteria used in this research were isolated from breastmilk (ASI). The purpose of this studi were to understand the immunostimulan effect in wistar rat after affected by the pathogen bacteria, and to get the Lactobacillus plantarum suplementation from breastmilk isolate with Elisa methode. The result of study showed that Lactobacillus plantarum from breastmilk could increase the immunoglobulin (IgA,IgG) in wistar rat and have a potency as a ImmunostimulanKeyword : Lactobacillus plantarum, Imunoglobulin (IgA,IgG)
ANTIGEN NON STRUKTURAL 1 (NS1) SEBAGAI MARKER SUSPEK INFEKSI DENGUE Budi Santosa; Herlisa Anggraini; Arista Kurnia Budi Fristiani
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 11, No 1 (2020): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pakassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.283 KB) | DOI: 10.32382/mak.v11i1.1476

Abstract

Infeksi dengue masih merupakan masalah kesehatan global. Angka insidensi dari tahun ke tahun belum mengalami penurunan. Angka kematian dari penderita cukup tinggi dan salah satu sebabnya adalah keterlambatan dalam penanganan penderita. Pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis dini penderita suspek dengue. Antigen non struktural 1  (NS1) dianggap sensitif spesifik bereaksi dengan virus dengue sehingga dapat mendeteksi keberadaan virus ini pada awal infeksi (suspek). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil NS1 pada penderita suspek dengue. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dari pasien yang diduga terinfeksi virus dengue. Tanda-tanda virus dengue diperoleh dari catatan medis yang berupa masa demam dan hasil Rumple Leed (RL) dari RS Roemani, hasil NS1 diperoleh dari pemeriksaan laboratorium. Hasil pnelitian menunjukkan dari 30 pasien yang suspek dengue dengan gejala demam 0-2 hari  terdapat 14 orang, RL positif 3, NS1 positif 5. Gejala demam 3-4 hari terdapat 15 orang, 1 RL positif dan 1 NS1 positif. Gejala demem 5-7 hari terdapat 1 orang dengan hasil NS1 negatif. Simpulan bahwa tidak semua suspek dengue di RS Roemani didapatkan NS1 positif. Gejala demam 0-2 hari 35%, demam 3-4 hari 6,6%, demam 5-7 hari 0%.
Pengaruh Penundaan Spesimen Urin Dengan Toluen Terhadap Pemeriksaan Berat Jenis Mutmainah Nur Azizah; Herlisa Anggraini; Andri Sukeksi
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berat jenis adalah salah satu pemeriksaan makroskopis sebagai tolak ukur dalam menentukankonsistensi urin sebagai zat terlarut. Toluen dalam kondisi dingin dapat menahan perombakankomponen – komponen urin oleh kuman. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penundaanwaktu 2 jam terhadap hasil berat jenis urin menggunakan toluena. Jenis penelitian adalah analitikobservasional. Sampel diambil dengen memperhatikan kriteria inkulisi dan eksklusi dari 16 sampelpasien rawat inap di Klinik Satria Meditama, sampel dilakukan pemeriksaan berat jenis segera dantunda 2 jam dengan toluen. Hasil yang diperoleh rata – rata pemeriksaan berat jenis urin segera yaitu1.020, sedangkan rata – rata berat jenis tunda 2 jam dengan toluene 1.021. Hasil menunjukkan beratjenis urin tunda lebih tinggi dari berat jenis segera tetapi masih dalam batas normal. Uji statistikIndependent Sample t Test menunjukkan nilai kemaknaan 0,333 dengan taraf kemaknaan 0,05 yaitu0,333 ≥ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh terhadap hasil berat jenis urinsegera dan tunda 2 jam dengan toluen. Kata kunci : berat jenis urin, pengawet toluena
GAMBARAN PEMERIKSAAN HBsAg PADA IBU HAMIL DI KLINIK ARIA MEDISTRA KABUPATEN SEMARANG Pangeling Impian Nugrahanti; Herlisa Anggraini; Aprilia Indra Kartika
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 5 (2022): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Guna Menunjang Pencapaian Sustainable Developm
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatitis B merupakan penyakit infeksius yang diakibatkan oleh infeksi virus Hepatitis B (VHB). Penularan penyakit ini dapat melalui horizontal dan vertikal, penularan secara horizontal terjadi pada 1 individu dengan virus Hepatitis B ke individu lain melalui kontak langsung, penularan secara vertikal terjadi dari ibu hamil yang terinfeksi Hepatitis B ke janin yang dikandungnya melalui plasenta atau saat proses persalinan. Sehingga harus dilakukan deteksi penyakit Hepatitis B pada ibu hamil. Salah satu cara deteksi virus Hepatitis B pada ibu hamil dilakukan pemeriksaanHBsAg menggunakan Rapid Test Metode Imunokromatografi. Berdasarkan data ibu hamil yang melakukan pemeriksaan Antenatal Care di praktik mandiri bidan Minarti, STr.Keb pada periode Maret 2021-Februari 2022 sebanyak 350 orang. Tercatat sebanyak 120 orang ibu hamil yangmelakukan pemeriksaan HBsAg di Klinik Aria Medistra. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran HBsAg pada ibu hamil di Klinik Aria Medistra Kabupaten Semarang. Jenis penelitian adalah deskriptif, sampel diambil secara random dengan metode consecutive sampling kemudiansampel diperiksa dengan rapid test di Klinik Aria Medistra. Hasil pemeriksaan menunjukan dari total sampel 120 ibu hamil ditemukan hasil pemeriksaan HBsAg 1 pasien ibu hamil dengan persentase 0,83% usia kehamilan trimester III memiliki hasil positif  HBsAg, dan sisanya 119pasien dengan persentase 99,17% hasil HbsAg negatif. Berdasarkan usia kehamilan pada ibu hamil trimester I 48 orang (40%) , trimester II 49 orang (40,83%), trimester III 22 orang (18,34%) didapatkan hasil negatif. Kata Kunci : Hepatitis B, HBsAg, Ibu hamil.
Pemeriksaan Kadar hCG Metode ELISA pada Serum suhu 4°C dan 25°C Anggraini, Herlisa; Lestari, Erma; Kartika, Aprilia Indra; Kakiay, Grevanmoy Febriani; Telleng, Prisca Audra
Jurnal Analis Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2023): Jurnal Analis Kesehatan
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v12i2.4180

Abstract

Suhu serum pada uji ELISA merupakan faktor pra analitik yang dapat mempengaruhi kadar parameter yang diukur. Serum yang tidak diperiksa secara langsung akan disimpan pada suhu 4°C, sedangkan pemeriksaan ELISA menggunakan spesimen serum suhu ruangan (25°C). Masa tunggu suhu serum menjadi 4°C hingga 25°C seringkali tidak tepat sehingga pemeriksaan tetap dilakukan meskipun serum masih berada pada suhu 4°C. Untuk mengetahui perbedaan suhu serum pada suhu 4°C dan 25°C pada uji ELISA maka dilakukan penelitian dengan menggunakan parameter Human Chorionic Gonadrotopin (hCG). hCG adalah salah satu parameter untuk mendiagnosis kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi apakah terdapat perbedaan kadar hCG serum pada suhu 4°C dan 25°C menggunakan metode ELISA. Sampel yang digunakan adalah ibu hamil trimester II sebanyak 10 orang yang akan diperiksa secara duplo. Masing masing 10 spesimen akan diperiksa kadar hCG menggunakan metode ELISA dalam kondisi suhu serum 4°C dan 25°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hCG serum yang diperiksa pada suhu 25°C (385.677 IU/L) lebih tinggi dibandingkan dengan serum pada suhu 4°C (381.912 IU/L), namun hasil statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar HCG diperiksa pada suhu 4°C dan 25°C (p >0,05).
PERBEDAAN RASIO DE RITIS (SGOT/SGPT) DENGAN TROPONIN I PADA PASIEN INFARK MIOKARD ELEVASI SEGMEN ST (STEMI) DENGAN ELEVASI NON SEGMEN ST (NSTEMI) rahayu, muji; Anggraini, Herlisa; Widiyastuti, Riani
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 2 No 2 (2022): Uji laboratorium dll
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v2i2.325

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Infark miokard (MI) merupakan kondisi ketika terjadi sumbatan pembuluh darah jantung sehingga otot jantung mengalami kerusakan karena kekurangan suplai darah dan oksigen. Miokard infark dari segi laboratorium dapat di nilai menggunakan marker CKMB, troponin, SGOT, SGPT. Pada akut miokard infark, SGOT dan SGPT sering meningkat, seiring dengan biomarker jantung seperti troponin dan CKMB. Rasio SGOT terhadap SGPT digunakan untuk menilai cedera sel hati. Hati sensitif terhadap perubahan hemodinamik karena menerima sekitar seperempat dari total curah jantung. Infark miokard berdasarkan hasil pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan enzim jantung terbagi menjadi ST elevation MI (STEMI), non-ST elevation MI (NSTEMI), dan angina tidak stabil. Tujuan : Mengetahui perbedaan rasio de ritis (SGOT/SGPT) pada pasien infark miokard elevasi segmen ST (STEMI) dengan elevasi non segmen ST (NSTEMI). Metode : Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan pendekatan belah lintang di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari-Agustus 2022. Data di analisis menggunakan uji t test tidak berpasangan dengan hasil signifikan jika p < 0,05). Hasil: Rasio De Ritis (SGOT/SGPT) lebih tinggi pada pasien infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) (1,90 ± 1,75) dibandingkan pasien infark miokard dengan elevasi non segmen ST (NSTEMI) (1,76 ± 2,86). Analisis Perbedaannya tidak signifikan secara statistik (p =0,196). Pembahasan : Rasio De Ritis (SGOT/SGPT) pada pasien infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) yang tinggi menandakan adanya oklusi lebih berat di bandingkan elevasi non segmen ST (NSTEMI) yang disebabkan karena kekurangan suplai darah dan oksigen sehingga jaringan otot jantung mengalami kerusakan. Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan yang signifikan ratio de ritis (SGOT/SGPT) dengan troponin I pada pasien infark miokard elevasi ST (STEMI) dengan elevasi non segmen ST (NSTEMI) Kata kunci : Rasio De Ritis (SGOT/SGPT), infark miokard akut, infark miokarddengan elevasi segmen ST, infark miokard dengan elevasi segmen ST ABSTRACT Introduction: Myocardial infarction (MI) is a condition when there is a blockage in the heart arteries so that the heart muscle is damaged due to lack of blood and oxygen supply. Myocardial infarction from a laboratory standpoint can be assessed using CKMB, troponin, SGOT, SGPT markers. In acute myocardial infarction, SGOT and SGPT are often increased, concomitantly cardiac biomarkers such as troponin and CKMB. The ratio of SGOT to SGPT is used to assess liver cell injury. The liver is sensitive to hemodynamic changes because it receives about a quarter of the total cardiac output. Myocardial infarction based on the results of electrocardiography (ECG) and cardiac enzymes is divided into ST elevation MI (STEMI), non-ST elevation MI (NSTEMI), and unstable angina. Aim:: To determine the difference between de ritis ratio (SGOT/SGPT) and troponin I in patients with ST segment elevation myocardial infarction (STEMI) and non-ST segment elevation (NSTEMI). Method: The study was conducted in an observational analytic manner with a cross-sectional approach at RSUP Dr. Kariadi Semarang for the period January-August 2022. Data were analyzed using the unpaired t test with significant results if p <0.05). Results: The mean De Ritis ratio (SGOT/SGPT) was higher in myocardial infarction patients with ST segment elevation (STEMI) (1.90 ± 1.75) compared to myocardial infarction patients with non-ST segment elevation (NSTEMI) (1.76 ± 2.86). The difference is statistically significant (p =0,196) Discussion: De Ritis Ratio (SGOT/SGPT) in myocardial infarction patients with high ST segment elevation (STEMI) indicating a more severe occlusion compared to non-ST segment elevation (NSTEMI) which is caused by a lack of blood and oxygen supply so that the heart muscle tissue is damaged. Conclusion: There is a significant difference in the ratio de ritis (SGOT/SGPT) with troponin I in patients with ST elevation myocardial infarction (STEMI) with non-ST segment elevation (NSTEMI) Keywords: De Ritis Ratio (SGOT/SGPT), acute myocardial infarction, myocardial infarctionwith ST segment elevation, myocardial infarction with ST segment elevation