Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

WORK LIFE BALANCE PADA GENERASI Z YANG BEKERJA PART TIME Erlina Vina Firnanda; Laila Listiana Ulya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14060

Abstract

ABSTRACT The growing participation of Generation Z in part-time employment suggests that workplace flexibility does not necessarily lead to the attainment of work-life balance. While simultaneously managing academic responsibilities, financial needs, and social commitments, this generation faces complex challenges that require a clearer empirical understanding of how balance between work and personal life is maintained. This study examined the phenomenon using a quantitative descriptive approach involving 160 respondents aged 18–25 years who were selected through purposive sampling. Data were collected online using the Work-Life Balance Scale and analyzed through descriptive statistics. The findings revealed that 68.8% of the respondents demonstrated a moderate level of work-life balance, whereas 16.3% and 15.0% were classified as having high and low levels, respectively. Across the dimensions, Work Interference with Personal Life (WIPL) and Personal Life Interference with Work (PLIW) were found at a moderate level, while Work Enhancement of Personal Life (WEPL) and Personal Life Enhancement of Work (PLEW) were categorized as high. These findings indicate that work-life balance among young part-time workers is shaped more by their capacity to adapt to multiple roles than merely by minimizing conflicts between work and personal life. The study contributes to a broader understanding of work-life balance among Generation Z workers and provides a foundation for developing workplace environments that are more responsive to their characteristics and needs. ABSTRAK Fenomena meningkatnya keterlibatan Generasi Z dalam pekerjaan part-time menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja tidak selalu berbanding lurus dengan tercapainya work-life balance. Di tengah upaya memenuhi kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial secara bersamaan, kelompok ini menghadapi dinamika yang perlu dipahami melalui gambaran empiris mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kajian ini memotret kondisi tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif terhadap 160 responden berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Data diperoleh secara daring menggunakan Work-Life Balance Scale dan diolah dengan statistik deskriptif. Hasil analisis memperlihatkan bahwa 68,8% responden berada pada kategori sedang, sedangkan kategori tinggi dan rendah masing-masing mencapai 16,3% dan 15,0%. Pada tingkat dimensi, Work Interference with Personal Life (WIPL) dan Personal Life Interference with Work (PLIW) berada pada kategori sedang, sementara Work Enhancement of Personal Life (WEPL) serta Personal Life Enhancement of Work (PLEW) termasuk kategori tinggi. Pola tersebut mengindikasikan bahwa keseimbangan kehidupan kerja pada pekerja muda lebih banyak dibentuk oleh kapasitas beradaptasi dalam menghadapi berbagai peran daripada sekadar rendahnya konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Temuan ini memperluas pemahaman mengenai karakteristik work-life balance pada pekerja Generasi Z sekaligus menjadi landasan bagi pengembangan lingkungan kerja yang lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.
Analisis Person-Job Fit Berdasarkan Pendidikan dan Jabatan Pada Pegawai Satpol PP Kota Surakarta Rahma Nurhaliza; Laila Listiana Ulya; Liya Aryati
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penempatan pegawai yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan masih menjadi tantangan dalam manajemen aparatur sipil negara di Indonesia. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menganalisis tingkat person-job fit pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surakarta berdasarkan kesesuaian pendidikan formal dengan kualifikasi jabatan, serta membandingkannya antar status kepegawaian. Metode yang digunakan adalah analisis dokumen kepegawaian yang telah diverifikasi bersama supervisor mitra terhadap 198 pegawai. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat person-job fit mencapai 95,5% (189 pegawai sesuai), dengan 4,5% (9 pegawai) kurang sesuai. Seluruh pegawai yang kurang sesuai berasal dari kelompok Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan tingkat ketidaksesuaian sebesar 19,6%, sementara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) mencapai 100% kesesuaian. Menariknya, sebagian besar pegawai yang kurang sesuai memiliki masa kerja antara 10 hingga 15 tahun, mengindikasikan bahwa ketidaksesuaian lebih disebabkan akumulasi kebijakan rotasi dan mutasi jangka panjang kesalahan rekrutmen awal. Sebagai solusi, direkomendasikan pelatihan teknis intensif dan pendampingan bagi pegawai senior kurang sesuai, serta dorongan pendidikan lanjutan. Hasil pengabdian ini penting sebagai dasar empiris bagi manajemen SDM Satpol PP dalam menyusun kebijakan penempatan, rotasi, dan pengembangan pegawai yang lebih tepat sasaran.
HUBUNGAN GRIT DENGAN INTENSI BERWIRAUSAHA PADA PESERTA PROGRAM PEMBINAAN MAHASISWA WIRAUSAHA (P2MW) DI SEMARANG Hilda Rosana Pramudyawardhani; Laila Listiana Ulya
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5774

Abstract

Abstract: This research is motivated by the low entrepreneurial intention among university students despite having participated in an entrepreneurship development program. One psychological factor suspected to play a significant role in shaping entrepreneurial intention is grit, which is an individual's perseverance and resilience in achieving long-term goals. This study aims to determine the relationship between grit and entrepreneurial intention among university students participating in the P2MW program in Semarang. This study used a quantitative approach with a correlational design. The study subjects were 147 university students participating in the entrepreneurship development program, with data collection conducted through an online questionnaire. The results showed a strong and significant relationship between grit and entrepreneurial intention, with a correlation coefficient of 0.801, indicating that grit has an 80.1% correlation with students' entrepreneurial intention. Students with high levels of grit, characterized by perseverance, resilience in the face of obstacles, and consistent interest, tend to have stronger intentions to start, maintain, and develop a business. This study concludes that grit is an internal factor that plays a significant role in strengthening students' mental readiness and commitment to entrepreneurship. Therefore, grit development needs to be a priority in the implementation of entrepreneurship development programs to encourage the sustainability of student businesses after the program ends. Keyword: Grit, Entrepreneurial Intention, P2MW Student Participant. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya intensi berwirausaha di kalangan mahasiswa meskipun telah mengikuti program pembinaan kewirausahaan. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan penting dalam membentuk niat berwirausaha adalah grit, yaitu ketekunan dan ketangguhan individu dalam mencapai tujuan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara grit dan intensi berwirausaha pada mahasiswa peserta P2MW di Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 147 mahasiswa peserta program pembinaan kewirausahaan, dengan pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara grit dan intensi berwirausaha, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,801, yang mengindikasikan bahwa grit memiliki keterkaitan sebesar 80,1% terhadap intensi berwirausaha mahasiswa. Mahasiswa dengan tingkat grit yang tinggi, ditandai oleh ketekunan, ketahanan menghadapi hambatan, dan konsistensi minat, cenderung memiliki niat yang lebih kuat untuk memulai, mempertahankan, dan mengembangkan usaha. Penelitian ini menyimpulkan bahwa grit merupakan faktor internal yang berperan penting dalam memperkuat kesiapan mental dan komitmen mahasiswa terhadap kewirausahaan, sehingga pengembangan grit perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan program pembinaan kewirausahaan guna mendorong keberlanjutan usaha mahasiswa setelah program berakhir. Kata kunci: Grit, Intensi Berwirausaha, Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
HUBUNGAN KELELAHAN KERJA DAN KINERJA PADA KARYAWAN SATUAN PELAYANAN PEMENUHAN GIZI DI KABUPATEN TEMANGGUNG Briliyan Yusuf Ananto; Laila Listiana Ulya
DE FACTO : Journal Of International Multidisciplinary Science Vol 4 No 02 (2026): DE FACTO : Journal Of International Multidisciplinary Sciences
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/defacto.v4i02.2761

Abstract

The Free Nutritious Meal program positions the Nutrition Fulfillment Service Unit (SPPG) as an operational unit facing high work demands within a short timeframe, which can potentially trigger work fatigue among its employees. This study aims to determine the relationship between work fatigue and employee performance among SPPG workers in Temanggung Regency. The research used a quantitative correlational design with a cross-sectional approach, involving 181 employees from 7 SPPG units in Temanggung Regency. The Fatigue Assessment Scale (FAS) was used to measure employees' fatigue levels, while the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) was used to measure their performance levels. Data were analyzed using Spearman's Rho non-parametric correlation test. The results showed a significant and strong negative relationship between work fatigue and employee performance, with a coefficient of determination of 52.4%. This finding indicates that the higher the level of work fatigue experienced by employees, the lower their performance in carrying out operational tasks.