Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Dukungan Sosial terhadap Resiliensi Akademik Doktoral Jawa Barat Ayuni Yasmin Adianti Suharta; Suci Nugraha
Jurnal Riset Psikologi Volume 6, No. 1 Juli 2026, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v6i1.10373

Abstract

Abstract. Doctoral students face various academic and psychological challenges, including research demands, publication pressure, and role conflicts in their personal and professional lives. These conditions require academic resilience, defined as the ability to adapt and persist under academic stress. This study aimed to examine the influence of emotional intelligence and social support on academic resilience among doctoral students in West Java. A quantitative approach with a cross-sectional survey design was employed, involving 120 active doctoral students from several institutions. Data were collected using the Assessing Emotional Scale (AES), the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), and the Academic Resilience Scale (ARS-30). Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 4. The results indicate that emotional intelligence and social support have a positive and significant effect on academic resilience. An R-Square value of 0.840 shows that both variables explain 84% of the variance in academic resilience. These findings highlight the importance of strengthening emotional intelligence and social support to enhance doctoral students’ academic success. Abstrak. Mahasiswa program doktoral menghadapi berbagai tantangan akademik dan psikologis, seperti tuntutan penelitian, tekanan publikasi, serta konflik peran dalam kehidupan pribadi dan profesional. Kondisi tersebut memerlukan ketahanan akademik, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi tekanan akademik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kecerdasan emosional dan dukungan sosial terhadap ketahanan akademik mahasiswa doktoral di Jawa Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional terhadap 120 mahasiswa program doktoral aktif dari berbagai institusi. Data dikumpulkan menggunakan Assessing Emotional Scale (AES), Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), dan Academic Resilience Scale (ARS-30), kemudian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan dukungan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan akademik. Nilai R-Square sebesar 0,840 menunjukkan bahwa kedua variabel mampu menjelaskan 84% variasi ketahanan akademik. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kecerdasan emosional dan dukungan sosial untuk meningkatkan keberhasilan akademik mahasiswa program doktoral.
Pelecehan Avatar Roblox dan Memudarnya Rasa Jijik pada Dewasa Awal Nabila Alya Rachman; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science 805-812
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24081

Abstract

Abstract. Roblox, an online gaming platform with approximately 151.5 million daily active users, has been documented as a site of cybersexual harassment through user-controlled avatars, including unwanted sexual comments, gestures, and roleplay. Because avatars are experienced as an extension of the self, such experiences may elicit disgust, an emotion associated with rejection of contamination and moral violation, in addition to more commonly studied responses such as fear or anxiety. This quantitative correlational study examined the relationship between cybersexual harassment experience through Roblox avatars and disgust sensitivity among 300 young adults (18–25 years) recruited through convenience sampling. Data were collected using an adapted Online Sexual Harassment Scale (ω = .95) and the Three Domain Disgust Scale, then analyzed using Spearman rank correlation. Results showed a significant, weak, negative correlation between harassment experience and disgust sensitivity (ρ = -0.365, p < .001), confirmed by a chi-square test (χ²(1) = 6.231, p = .013), and consistent across all three disgust domains (pathogen, sexual, moral). Higher harassment experience was associated with lower disgust sensitivity, suggesting a possible emotional normalization process. These findings highlight the importance of user awareness regarding the risk of desensitization to online sexual harassment. Abstrak. Roblox, platform gim daring dengan sekitar 151,5 juta pengguna aktif harian, telah terdokumentasi sebagai salah satu ruang terjadinya pelecehan seksual siber melalui avatar yang dikendalikan pengguna, termasuk komentar seksual yang tidak diinginkan, gestur, dan roleplay bernuansa seksual. Karena avatar dialami sebagai perpanjangan diri penggunanya, pengalaman tersebut berpotensi memunculkan rasa jijik (disgust), emosi yang berkaitan dengan penolakan terhadap kontaminasi dan pelanggaran moral, selain respons emosional lain yang lebih umum diteliti seperti rasa takut atau cemas. Penelitian kuantitatif korelasional ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengalaman pelecehan seksual siber melalui avatar Roblox dengan tingkat rasa jijik pada 300 dewasa awal (18–25 tahun) yang direkrut melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan adaptasi Online Sexual Harassment Scale (ω = ,95) dan Three Domain Disgust Scale, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Spearman Rank. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan, lemah, dan berarah negatif antara pengalaman pelecehan seksual siber dengan tingkat rasa jijik (ρ = -0,365, p < 0,001), yang dikonfirmasi oleh uji Chi-Square (χ²(1) = 6,231, p = 0,013), serta konsisten pada ketiga domain rasa jijik (pathogen, seksual, moral). Semakin tinggi pengalaman pelecehan, semakin rendah sensitivitas rasa jijik yang dilaporkan, mengindikasikan kemungkinan terjadinya normalisasi emosional. Temuan ini menegaskan pentingnya kesadaran pengguna terhadap risiko menurunnya sensitivitas emosional akibat paparan pelecehan seksual daring.
Pengaruh Public Stigma dan Mental Health Literacy terhadap Help-Seeking Behavior pada Mahasiswa yang Mengalami Stres Akademik Nazwa Putri Rahman; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science 1381-1388
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25706

Abstract

Abstract. Students experiencing academic stress are vulnerable to mental health problems; however, professional help-seeking remains relatively low. Public stigma and mental health literacy are considered important factors influencing help-seeking behavior. This study aimed to examine the effect of public stigma and mental health literacy on help-seeking behavior among undergraduate students experiencing academic stress. A quantitative study with a causal design was conducted involving 405 undergraduate students aged 18–25 years from public and private universities in Bandung selected using convenience sampling. Data were collected using the Stigma Scale for Receiving Psychological Help (SSRPH), Mental Health Literacy Scale (MHLS), and Actual Help-Seeking Questionnaire (AHSQ). Data were analyzed using multiple linear regression. The findings indicated that public stigma had a significant negative effect on help-seeking behavior, whereas mental health literacy had a significant positive effect. Simultaneously, both variables significantly predicted help-seeking behavior, with mental health literacy emerging as the stronger predictor. These findings suggest that improving mental health literacy while reducing public stigma may enhance students’ willingness to seek psychological help and support the development of mental health promotion programs in higher education. Abstrak. Mahasiswa yang mengalami stres akademik merupakan kelompok yang rentan mengalami permasalahan kesehatan mental, namun perilaku mencari bantuan profesional masih relatif rendah. Public stigma dan mental health literacy diduga menjadi faktor yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh public stigma dan mental health literacy terhadap help-seeking behavior pada mahasiswa yang mengalami stres akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Sebanyak 405 mahasiswa program sarjana berusia 18–25 tahun dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Bandung dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Stigma Scale for Receiving Psychological Help (SSRPH), Mental Health Literacy Scale (MHLS), dan Actual Help-Seeking Questionnaire (AHSQ), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa public stigma berpengaruh negatif secara signifikan terhadap help-seeking behavior, sedangkan mental health literacy berpengaruh positif secara signifikan. Secara simultan, kedua variabel berpengaruh signifikan terhadap help-seeking behavior dengan mental health literacy sebagai prediktor yang lebih dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi kesehatan mental serta pengurangan stigma publik berpotensi meningkatkan perilaku mencari bantuan psikologis pada mahasiswa.
Emotional Intelligence Training Based on The Circumplex Model to Enhance Relational Balance in Newly Married Couples Kania Hidayah; Suci Nugraha; Endah Nawangsih
Jurnal Ilmiah Global Education Vol. 7 No. 3 (2026): JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/jige.v7i3.6376

Abstract

The early marital period commonly defined as the first five years of marriage constitutes a critical developmental transition during which couples face heightened risk of conflict, relational dissatisfaction, and dissolution. Communication deficits, emotional dysregulation, and imbalanced relational dynamics are the primary antecedents of this vulnerability. The present study aimed to design and preliminarily evaluate an Emotional Intelligence Training Programme grounded in Olson's Circumplex Model (2000) and Goleman's (2009) five-component EI framework. Employing a research-and-development (R&D) methodology with a two-group pre-test–post-test experimental design, the programme was implemented across four structured sessions (total duration: 347 minutes) with three married couples as the experimental group and three as the control group. Outcome measures included the FACES IV scale (cohesion, flexibility, communication) and an adapted emotional intelligence scale. Post-training results indicated significant improvements in EI scores (Wilcoxon signed-rank test, p = 0.027) and shifts in couple cohesion and flexibility toward balanced levels in the experimental group. The module represents a contextually adapted, preventive intervention with potential for broader clinical application in Indonesian couple counselling.
Terapi kelompok cognitive reappraisal untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada mahasiswa dengan self-injury Arni Puji Fajriyah Hadi Widjaja; Suci Nugraha; Endah Nawangsih
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 14 No. 3 (2026): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v14i3.43997

Abstract

Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) is an intentional behavior aimed at reducing emotional pain and is asso- ciated with difficulties in emotion regulation. This study aimed to determine the effect of group cognitive reappraisal therapy intervention in enhancing emotion regulation among university student with NSSI behavior. Using an experi- mental two-group pre-test post-test control group design with N = 10 participants, emotion regulation strategies were measured with 10-item of Emotion Regulation Questionnaire. The Mann-Whitney U Test (p = 0,008) showed revealed a significant difference between the experimental and control groups. The cognitive reappraisal intervention significantly enhanced cognitive reappraisal emotion regulation strategies and descriptively demonstrated a downward trend in NSSI frequency among participants in the control group. These findings indicate that the group-based Cognitive Reappraisal intervention is effective in improving emotion regulation capacity among college students with NSSI. Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) atau perilaku melukai diri sendiri tanpa niat bunuh diri merupakan tindakan sengaja yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit emosional dan berkaitan dengan kesulitan dalam pengaturan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi terapi cognitive reappraisal berbasis kelompok dalam meningkatkan pengaturan emosi pada mahasiswa yang menunjukkan perilaku NSSI. Dengan menggunakan desain eksperimental pre-test post-test dua kelompok  yang melibatkan 10 partisipan, strategi pengaturan emosi diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire yang terdiri dari 10 butir pernyataan. Hasil uji Mann-Whitney U (p = 0,008) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Intervensi cognitive reappraisal terbukti secara signifikan meningkatkan strategi pengaturan emosi melalui penilaian ulang kognitif, serta secara deskriptif menunjukkan tren penurunan frekuensi perilaku NSSI di kalangan partisipan. Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi cognitive reappraisal berbasis kelompok efektif dalam meningkatkan kapasitas pengaturan emosi pada mahasiswa yang melakukan NSSI.