Sakaria To Anwar
Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

Struktur Sosial Masyarakat Pesisir (Kajian Tentang Pelapisan Sosial Masyarakat di Desa Cikoang Kabupaten Takalar) Sadriani Ilyas; Tahir Kasnawi; Sakaria Sakaria
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.01 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i7.8570

Abstract

Struktur sosial masyarakat pesisir umumnya dibangun atas relasi Patron (pemodal)-klien (buruh). Pada masyarakat pesisir yang mendiami wilayah Sulawesi Selatan. Pola patron klien dikenal dengan istilah lokal “punggawa-sawi”. Sebutan ini mengakar kuat pada budaya masyarakat Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai pelaut. Namun pelapisan sosial Punggawa-Sawi justru tidak ditemukan pada masyarakat pesisir di Desa Cikoang Kabupaten Takalar. Tujuan penelitian ini untuk melihat pelapisan sosial pada masyarakat pesisir di Desa Cikoang Kabupaten Takalar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus dengan tujuan untuk menganalisa secara komparasi pelapisan sosial masyarakat pesisir di Desa Cikoang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sektor kerja utama masyarakat pesisir di Desa Cikoang adalah pelaut dan petani. Masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dikenal sebagai nelayan mandiri. Profesi nelayan hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan bagi masyarakat pesisir di Desa Cikoang. Mata pencarian utama mereka adalah petani seperti petani sawah, jagung, kacang dan petani garam. Terkait pelapisan sosial masyarakat pesisir di Desa Cikoang tidak dilihat dari relasi antara Punggawa dan Sawi berdasarkan ikatan ekonomi, melainkan secara garis keturunan. Masyarakat yang berasal dari keturunan Sayyid menempati kelas sosial paling tinggi, yang terdiri atas Sayyid Opu (Karaeng Opua), Sayyid Karaeng, Sayyid Massang dan Sayyid biasa berdasarkan sistem pelapisan sosialnya. Status sosial tingkat kedua berasal dari kalangan Karaeng, dan tingkat ketiga adalah Jawi atau masyarakat biasa yang berada pada posisi terendah dalam sistem pelapisan sosial masyarakat pesisir di Desa Cikoang.
Resiliensi Masyarakat Penyintas Bencana Alam di Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala Mohammad Aksyar; Suparman Abdullah; Sakaria Anwar
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.921 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i5.11876

Abstract

Banyaknya jumlah korban jiwa, dan kerusakan infrastruktur yang hancur akibat bencana alam gempa dan tsunami pada tahun 2018 silam. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan resiliensi untuk dapat hidup kembali seperti sebelum mengalami bencana alam. Sehingga dapat membagun dan meningkatkan potensi ketahanan dalam masyarakat penyintas bencana alam. Penelitian ini hadir untuk menganalisis bagaimana proses resiliensi masyarakat penyintas bencana alam di Desa Tompe Kecamatan SIRENJA Kabupaten Donggala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis studi kasus. Sumber data dibagi menjadi dua kategori, yaitu sumber primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, wawancara mendalam, orbservasi, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data atau display, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses resiliensi masyarakat penyintas bencana alam sudah terbentuk, Namun mengalami kesulitan disebabkan ketidakmampuan masyarakat penyintas bencana alam dalam beradaptasi maupun menyesuaikan dengan mata pencaharian yang baru dan keterbatasannya sumber daya alam yang tersisah pasca bencana alam gempa dan tsunami terjadi.