Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Perbandingan Hasil Radiograf pada Variasi Derajat Cervical AP Axial dengan Klinis Cervical Root Syndrome di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025 Aditya Pirmansyah; Pirmansyah , Aditya; Utami, Muslimah Putri; Zanariah
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/jlik.v3i2.125

Abstract

Pemeriksaan radiografi cervical AP axial merupakan metode pencitraan untuk melihat struktur tulang leher, terutama pada kasus kecurigaan cervical root syndrome. Variasi sudut penyinaran central ray (CR) dapat memengaruhi kualitas visualisasi vertebra cervical, sehingga penting untuk menentukan sudut optimal yang menghasilkan gambaran diagnostik terbaik. Penelitian ini bertujuan mengetahui teknik pemeriksaan cervical AP axial, alasan penggunaan sudut 0° pada praktik klinis, serta membandingkan variasi sudut 10°, 15°, dan 20° terhadap hasil radiograf pada pasien dengan klinis cervical root syndrome. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kasus. Subjek penelitian adalah satu pasien laki-laki (Tn. D) yang menjalani pemeriksaan pada 27 Mei 2025 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang menggunakan sudut 10°, 15°, dan 20° cephalad dengan teknik ekspose 57 kV dan 6 mAs. Hasil menunjukkan bahwa angulasi 20° memberikan visualisasi ruang intervertebralis yang lebih terbuka, menghilangkan superposisi mandibula terhadap vertebra C3–C4, serta memperlihatkan alignment cervical lebih jelas dibandingkan sudut lainnya. Temuan ini sejalan dengan literatur yang merekomendasikan angulasi 15°–20° untuk optimasi proyeksi AP axial. Dengan demikian, sudut CR 20° merupakan variasi yang paling optimal untuk pemeriksaan cervical AP axial pada kasus cervical root syndrome.
Prosedur Pemeriksaan Radiografi Lumbosacral Dengan Kasus LBP (Low Back Pain) Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025 Pramita, Rensalia; Utama, Harry Wahyudhy; Susanti, Devi; Utami, Muslimah Putri
Jurnal Berita Kesehatan Vol 18 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v18i2.314

Abstract

Nyeri punggung bawah (Low Back Pain/LBP) umumnya dirasakan di area pinggang antara tulang rusuk bagian bawah dan daerah gluteal, sering disertai nyeri yang menjalar ke punggung. Gangguan neuromuskuloskeletal seperti perubahan pada otot, saraf, vertebra, dan diskus intervertebralis sering menjadi penyebabnya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan temuan radiograf dan protokol pemeriksaan vertebrae lumbosacral pada kasus LBP di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang pada bulan Mei 2025. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani pemeriksaan lumbosacral. Sampel pada kasus ini adalah Ny. Id yang melakukan pemeriksaan lumbosacral pada pasien Low Back Pain (LBP) yang datang ke Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei pada tahun 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengambil kesimpulan. Hasil pemeriksaan radiograf menunjukkan dextroscoliosis ringan, instabilitas lumbal, spondyloarthrosis lumbalis, serta penyempitan sela diskus pada segmen L5–S1, yang mendukung adanya perubahan degeneratif sebagai faktor penyebab LBP. Protokol pemeriksaan di instalasi tersebut meliputi proyeksi anteroposterior dan lateral, eksposi 77 kV mAs 16 untuk AP dan 80 kV mAs 25 untuk lateral, FFD 100–150 cm, ukuran film 14×17 inci, serta batas pemeriksaan dari umbilikus hingga simpisis pubis, pasien diposisikan berdiri untuk memaksimalkan visualisasi pergeseran tulang belakang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pentingnya ketelitian teknis dan interpretatif radiografer serta penerapan standar keselamatan pasien untuk meminimalkan kesalahan pemeriksaan dan meningkatkan akurasi diagnostik. Penelitian ini di harapkan untuk menjadi referensi dan menjadi lanjutan dengan sampel lebih besar disarankan untuk memvalidasi temuan. Implementasi rekomendasi ini dapat meningkatkan mutu layanan radiologi di rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.
ANALISIS HASIL CT SCAN UROGRAFI DENGAN KLINIS BATU URETER PADA URETEROVESICAL JUNCTION (UVJ) DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT SILOAM SRIWIJAYA PALEMBANG TAHUN 2025 Yuliarti, Sindi; Fatimah, Mustika; Anisah, Anisah; Zanariah, Zanariah; Utami, Muslimah Putri
Jurnal Berita Kesehatan Vol 18 No 2 (2025): Desember 2025 (Special Edition)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v18i2.316

Abstract

Batu ureter merupakan salah satu permasalahan urologi yang sering menyebabkan obstruksi saluran kemih dan dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani secara tepat. Salah satu lokasi tersering terjadinya impaksi batu adalah Ureterovesical Junction (UVJ), yaitu bagian distal ureter yang secara fisiologis merupakan titik penyempitan. Obstruksi pada area ini dapat menghambat aliran urin dari ginjal ke kandung kemih sehingga berpotensi menimbulkan hidroureter, hidronefrosis, nyeri akut, serta gangguan fungsi ginjal. Dalam menegakkan diagnosis batu ureter, diperlukan modalitas pencitraan yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi. CT Scan Urografi saat ini menjadi standar emas dalam pemeriksaan batu saluran kemih karena mampu memberikan gambaran anatomi dan patologi secara detail, cepat, dan akurat, termasuk menentukan lokasi, ukuran, kepadatan batu, serta dampaknya terhadap sistem panggul dan ureter. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan CT Scan Urografi dengan manifestasi klinis pada pasien batu ureter di Ureterovesical Junction (UVJ) yang menjalani pemeriksaan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara pasien, serta telaah hasil pemeriksaan pencitraan radiologi. Hasil pemeriksaan CT Scan Urografi menunjukkan adanya batu ureter distal kanan berukuran sekitar ±0,5 cm pada UVJ yang menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis derajat II. Temuan radiologis tersebut sejalan dengan keluhan klinis pasien berupa nyeri pinggang yang menjalar ke perut bagian bawah. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa CT Scan Urografi efektif dalam mendeteksi batu ureter serta menilai dampaknya, sehingga berperan penting dalam penegakan diagnosis dan perencanaan penatalaksanaan medis yang tepat dalam pelayanan kesehatan.
Gambaran radiografi lumbosacral posisi erect dan supine pada pasien hernia nukleus pulposus (HNP) Haikal, M Husin Al; Utami, Muslimah Putri; Anisah, Anisah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2337

Abstract

Background: Lumbosacral radiology plays a crucial role in evaluating spinal disorders, particularly Herniated Nucleus Pulposus (HNP), which is a common cause of low back pain in productive age groups. The quality of radiographic images determines diagnostic accuracy, with patient positioning, either erect or supine, influencing the clarity of spinal structures. The erect position allows weight bearing effects, making changes in intervertebral disc spaces and vertebral alignment more visible, while the supine position reflects a non-load condition with limited visualization. Thus, examination positioning is essential to produce representative diagnostic images and support accurate clinical decision-making. Purpose: Provides an anteroposterior (AP) projection of the lumbosacral radiograph in the erect and supine positions in cases of Herniated Nucleus Pulposus (HNP). Method: This study was conducted in 2025 at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital, Palembang, involving radiographers and radiologists in lumbosacral radiographic examinations of HNP patients. The research objects were radiographic results in AP projection with erect and supine positions, selected through purposive sampling. Data were collected via observation, interviews, and medical record documentation, and analyzed using a qualitative descriptive comparative approach. Results: The erect position provided clearer visualization of spinal structural changes due to weight bearing, while the supine position was less optimal in displaying abnormalities because of the absence of load on the lumbosacral segment. Conclusion: Lumbosacral radiography in HNP cases can be performed in both erect and supine positions, each with advantages and limitations. The erect position better demonstrates spinal changes under weight bearing, whereas the supine position serves as an alternative for patients unable to stand or experiencing severe pain, despite less optimal visualization. Examination positioning should therefore be adapted to patient clinical conditions to optimize diagnostic outcomes. Suggestion: Position selection in lumbosacral radiography for HNP should be tailored to patient clinical conditions and diagnostic objectives. The erect position is recommended for assessing structural changes under weight bearing, while the supine position may be used as an alternative for patients with mobility limitations or severe pain, with attention to patient comfort and safety to enhance diagnostic accuracy. Keywords: Erect position; HNP; Lumbosacral radiography; Supine position; Visual diagnosis Pendahuluan: Radiologi lumbosakral memiliki peran penting dalam menilai kelainan tulang belakang, khususnya Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang sering menjadi penyebab nyeri punggung bawah pada usia produktif. Kualitas citra radiografi sangat menentukan akurasi diagnosis, di mana posisi pemeriksaan pasien, baik erect maupun supine, memengaruhi kejelasan gambaran struktur tulang belakang. Posisi erect memungkinkan efek weight bearing sehingga perubahan celah diskus intervertebralis dan alignment vertebra tampak lebih nyata, sedangkan posisi supine menggambarkan kondisi tanpa beban dengan keterbatasan visualisasi kelainan. Pemilihan posisi pemeriksaan menjadi aspek penting dalam menghasilkan citra diagnostik yang representatif dan mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat. Tujuan: Memberikan gambaran radiografi lumbosakral posisi erect dan supine proyeksi anteroposterior (AP) pada kasus Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, dengan melibatkan radiografer dan dokter radiologi dalam pemeriksaan radiografi lumbosakral pada pasien HNP. Objek penelitian berupa hasil radiografi proyeksi anteroposterior (AP) dengan posisi erect dan supine yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif komparatif. Hasil: Posisi erect memberikan gambaran lebih jelas terhadap perubahan struktur tulang belakang karena adanya beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine cenderung kurang optimal dalam menampilkan kelainan akibat tidak adanya tekanan pada segmen lumbosakral. Simpulan: Pemeriksaan radiografi lumbosakral pada kasus HNP dapat dilakukan dengan posisi erect maupun supine, masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Posisi erect lebih jelas menampilkan perubahan struktur tulang belakang karena adanya beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine menjadi alternatif bagi pasien yang tidak mampu berdiri atau mengalami nyeri berat meskipun gambaran kelainan kurang optimal. Oleh karena itu, pemilihan posisi pemeriksaan harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien agar hasil radiografi mendukung diagnosis secara optimal. Saran: Pemilihan posisi pemeriksaan radiografi lumbosakral pada kasus HNP dapat disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan tujuan diagnostik. Posisi erect lebih dianjurkan untuk menilai perubahan struktur akibat beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine dapat digunakan sebagai alternatif bagi pasien dengan keterbatasan mobilisasi atau nyeri berat, dengan tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pasien untuk meningkatkan akurasi diagnosis.
Penatalaksanaan pemeriksaan mammografi pada kasus kanker payudara dengan modalitas computed radiography Adela, Natri; Utama, Harry Wahyudhy; Utami, Muslimah Putri; Zanariah, Zanariah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2623

Abstract

Background: Breast cancer (carcinoma mammae) is a major global health problem with increasing incidence, making early detection essential to reduce mortality. Mammography is proven effective for both screening and diagnostic purposes, using standard projections such as cranio-caudal (CC) and medio-lateral oblique (MLO), with additional variations to enhance sensitivity. The transition from analog to digital systems through computed radiography (CR) enables image storage, analysis, and integration with picture archiving and communication system (PACS), although its resolution is lower than digital radiography (DR). Success in examination depends not only on technology but also on radiographer competence in positioning, compression, and exposure parameter settings. Thus, the implementation of CR at Siloam Sriwijaya Hospital Palembang is a strategic step in providing modern, effective, and standardized diagnostic services to support accurate diagnosis of carcinoma mammae. Purpose: To evaluate the management of mammography examinations in carcinoma mammae cases using computed radiography (CR) at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital Palembang, and to assess the conformity of procedures with operational standards as well as the quality of images produced in supporting diagnostic accuracy. Method: This study was conducted in 2026 at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital Palembang, South Sumatra, using a descriptive case study approach. The subject was a female patient suspected of having carcinoma mammae, selected through purposive sampling. Examinations were performed using computed radiography (CR) with available mammography units. Data were collected through direct observation of examination stages, interviews with radiographers, and documentation including notes, examination images, and activity records. Results: The mammography examination with CR on a female patient suspected of carcinoma mammae revealed an irregular, spiculated, high-density mass measuring approximately 4.19 × 3.94 × 3.39 cm in the upper outer quadrant of the left breast, accompanied by fibroglandular architectural distortion and multiple enlarged lymph nodes in the left axilla. Examinations using CC and MLO projections produced diagnostic-quality images despite the nipple not appearing in profile, with overall image quality consistent with theoretical and practical standards. Conclusion: Mammography examinations using CR in carcinoma mammae cases at Siloam Sriwijaya Hospital Palembang were conducted according to radiology procedures. The use of CC and MLO projections provided optimal visualization of breast tissue, with images meeting diagnostic criteria of sharpness, density, contrast, and anatomical detail, thereby supporting accurate diagnosis of carcinoma mammae. Suggestion: The quality of mammography services using CR should be continuously maintained and improved through regular training for radiographers and healthcare personnel. Comparative studies between CR and digital radiography (DR) are also recommended to evaluate differences in image quality and effectiveness, thereby supporting the enhancement of diagnostic standards more optimally. Keywords: Breast cancer; Computed radiography; Mammography; Radiographic management Pendahuluan: Kanker payudara (carcinoma mammae) merupakan masalah kesehatan utama dengan angka kejadian yang terus meningkat, sehingga deteksi dini menjadi strategi penting dalam menurunkan mortalitas. Mammografi terbukti efektif sebagai metode pencitraan untuk skrining maupun diagnostik, dengan proyeksi standar seperti cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO), serta variasi tambahan untuk meningkatkan sensitivitas. Perkembangan teknologi dari sistem analog menuju digital melalui computed radiography (CR) memungkinkan penyimpanan citra, analisis, dan integrasi dengan picture archiving and communication system (PACS), meskipun resolusinya lebih rendah dibandingkan digital radiography (DR). Keberhasilan pemeriksaan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kompetensi radiografer dalam melakukan positioning, kompresi, dan pengaturan parameter eksposi. Oleh karena itu, implementasi CR di RS Siloam Sriwijaya Palembang menjadi langkah strategis dalam menyediakan layanan diagnostik yang modern, efektif, dan sesuai standar untuk mendukung akurasi diagnosis kasus kanker payudara. Tujuan: Mengetahui penatalaksanaan pemeriksaan mammografi pada kasus kanker payudara dengan menggunakan modalitas computed radiography (CR) di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai kesesuaian prosedur dengan standar pelaksanaan serta kualitas citra yang dihasilkan dalam mendukung akurasi diagnosis. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, dengan pendekatan deskriptif studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang pasien perempuan dengan dugaan kanker payudara yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pemeriksaan dilakukan menggunakan modalitas computed radiography (CR) dengan unit mammografi yang tersedia, sedangkan data diperoleh melalui observasi langsung terhadap tahapan pemeriksaan, wawancara dengan radiografer, serta dokumentasi berupa catatan, foto hasil pemeriksaan, dan kegiatan selama proses berlangsung. Hasil: Pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) pada pasien Ny. X dengan dugaan kanker payudara di RS Siloam Sriwijaya Palembang menampilkan massa iregular bertepi tidak tegas, spikulata, dan berdensitas tinggi, pada kuadran atas luar payudara kiri, disertai distorsi arsitektur jaringan fibroglandular serta pembesaran kelenjar bening multipel di aksila kiri. Pemeriksaan menggunakan proyeksi cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO) menghasilkan citra yang memenuhi kriteria diagnostik meskipun nipple tidak tampak dalam profil, pemeriksaan menghasilkan citra yang optimal sesuai teori maupun praktik. Simpulan: Pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) pada kasus kanker payudara telah sesuai dengan prosedur radiologi. Pemeriksaan menggunakan proyeksi cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO) mampu menampilkan jaringan payudara secara optimal, dengan citra yang memenuhi kriteria diagnostik berupa ketajaman, densitas, kontras, dan detail anatomi yang jelas, sehingga mendukung akurasi diagnosis kanker payudara. Saran: Mutu pelayanan pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan melalui pelatihan berkala bagi radiografer serta tenaga kesehatan, serta dilakukan penelitian komparatif dengan digital radiography (DR) untuk menilai perbedaan kualitas citra dan efektivitasnya, sehingga dapat mendukung peningkatan standar diagnostik secara lebih optimal.