Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Penatalaksanaan pemeriksaan mammografi pada kasus kanker payudara dengan modalitas computed radiography Adela, Natri; Utama, Harry Wahyudhy; Utami, Muslimah Putri; Zanariah, Zanariah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2623

Abstract

Background: Breast cancer (carcinoma mammae) is a major global health problem with increasing incidence, making early detection essential to reduce mortality. Mammography is proven effective for both screening and diagnostic purposes, using standard projections such as cranio-caudal (CC) and medio-lateral oblique (MLO), with additional variations to enhance sensitivity. The transition from analog to digital systems through computed radiography (CR) enables image storage, analysis, and integration with picture archiving and communication system (PACS), although its resolution is lower than digital radiography (DR). Success in examination depends not only on technology but also on radiographer competence in positioning, compression, and exposure parameter settings. Thus, the implementation of CR at Siloam Sriwijaya Hospital Palembang is a strategic step in providing modern, effective, and standardized diagnostic services to support accurate diagnosis of carcinoma mammae. Purpose: To evaluate the management of mammography examinations in carcinoma mammae cases using computed radiography (CR) at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital Palembang, and to assess the conformity of procedures with operational standards as well as the quality of images produced in supporting diagnostic accuracy. Method: This study was conducted in 2026 at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital Palembang, South Sumatra, using a descriptive case study approach. The subject was a female patient suspected of having carcinoma mammae, selected through purposive sampling. Examinations were performed using computed radiography (CR) with available mammography units. Data were collected through direct observation of examination stages, interviews with radiographers, and documentation including notes, examination images, and activity records. Results: The mammography examination with CR on a female patient suspected of carcinoma mammae revealed an irregular, spiculated, high-density mass measuring approximately 4.19 × 3.94 × 3.39 cm in the upper outer quadrant of the left breast, accompanied by fibroglandular architectural distortion and multiple enlarged lymph nodes in the left axilla. Examinations using CC and MLO projections produced diagnostic-quality images despite the nipple not appearing in profile, with overall image quality consistent with theoretical and practical standards. Conclusion: Mammography examinations using CR in carcinoma mammae cases at Siloam Sriwijaya Hospital Palembang were conducted according to radiology procedures. The use of CC and MLO projections provided optimal visualization of breast tissue, with images meeting diagnostic criteria of sharpness, density, contrast, and anatomical detail, thereby supporting accurate diagnosis of carcinoma mammae. Suggestion: The quality of mammography services using CR should be continuously maintained and improved through regular training for radiographers and healthcare personnel. Comparative studies between CR and digital radiography (DR) are also recommended to evaluate differences in image quality and effectiveness, thereby supporting the enhancement of diagnostic standards more optimally. Keywords: Breast cancer; Computed radiography; Mammography; Radiographic management Pendahuluan: Kanker payudara (carcinoma mammae) merupakan masalah kesehatan utama dengan angka kejadian yang terus meningkat, sehingga deteksi dini menjadi strategi penting dalam menurunkan mortalitas. Mammografi terbukti efektif sebagai metode pencitraan untuk skrining maupun diagnostik, dengan proyeksi standar seperti cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO), serta variasi tambahan untuk meningkatkan sensitivitas. Perkembangan teknologi dari sistem analog menuju digital melalui computed radiography (CR) memungkinkan penyimpanan citra, analisis, dan integrasi dengan picture archiving and communication system (PACS), meskipun resolusinya lebih rendah dibandingkan digital radiography (DR). Keberhasilan pemeriksaan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kompetensi radiografer dalam melakukan positioning, kompresi, dan pengaturan parameter eksposi. Oleh karena itu, implementasi CR di RS Siloam Sriwijaya Palembang menjadi langkah strategis dalam menyediakan layanan diagnostik yang modern, efektif, dan sesuai standar untuk mendukung akurasi diagnosis kasus kanker payudara. Tujuan: Mengetahui penatalaksanaan pemeriksaan mammografi pada kasus kanker payudara dengan menggunakan modalitas computed radiography (CR) di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai kesesuaian prosedur dengan standar pelaksanaan serta kualitas citra yang dihasilkan dalam mendukung akurasi diagnosis. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, dengan pendekatan deskriptif studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang pasien perempuan dengan dugaan kanker payudara yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pemeriksaan dilakukan menggunakan modalitas computed radiography (CR) dengan unit mammografi yang tersedia, sedangkan data diperoleh melalui observasi langsung terhadap tahapan pemeriksaan, wawancara dengan radiografer, serta dokumentasi berupa catatan, foto hasil pemeriksaan, dan kegiatan selama proses berlangsung. Hasil: Pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) pada pasien Ny. X dengan dugaan kanker payudara di RS Siloam Sriwijaya Palembang menampilkan massa iregular bertepi tidak tegas, spikulata, dan berdensitas tinggi, pada kuadran atas luar payudara kiri, disertai distorsi arsitektur jaringan fibroglandular serta pembesaran kelenjar bening multipel di aksila kiri. Pemeriksaan menggunakan proyeksi cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO) menghasilkan citra yang memenuhi kriteria diagnostik meskipun nipple tidak tampak dalam profil, pemeriksaan menghasilkan citra yang optimal sesuai teori maupun praktik. Simpulan: Pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) pada kasus kanker payudara telah sesuai dengan prosedur radiologi. Pemeriksaan menggunakan proyeksi cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO) mampu menampilkan jaringan payudara secara optimal, dengan citra yang memenuhi kriteria diagnostik berupa ketajaman, densitas, kontras, dan detail anatomi yang jelas, sehingga mendukung akurasi diagnosis kanker payudara. Saran: Mutu pelayanan pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan melalui pelatihan berkala bagi radiografer serta tenaga kesehatan, serta dilakukan penelitian komparatif dengan digital radiography (DR) untuk menilai perbedaan kualitas citra dan efektivitasnya, sehingga dapat mendukung peningkatan standar diagnostik secara lebih optimal.
KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) HOLISTIK PADA BIDANG KESEHATAN DI DESA SUKA MERINDU OGAN ILIR SUMATERA SELATAN Mustika Fatimah; Diana Sartika; Nova Mabela; Dinda Rahma; Rapi Dzaki Almugni; Devina Liya; Dita Rahmalia; Muslimah Putri Utami; Anisah; Harry Wahyudhy Utama; Devi Marlina; Bunga Anggreini Sari
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 3 (2024): Vol. 1 No. 3 Edisi Juli 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i3.154

Abstract

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di bidang kesehatan di desa berkaitan kebutuhan akan peningkatan akses ke layanan kesehatan yang berkualitas dan pemberdayaan masyarakat setempat. Beberapa masalah bidang kesehatan di desa antara lain fasilitas kesehatan sering kali jauh dan tidak memadai, ada kekurangan tenaga kesehatan yang bersedia bekerja di daerah pedesaan, pendidikan kesehatan yang kurang memadai berakibat pada kesalahpahaman mengenai praktik kesehatan yang baik, dan desa-desa sering menghadapi beban penyakit yang tinggi. Desa Suka Merindu merupakan salah satu desa di Ogan Ilir dengan jumlah penduduk sebanyak 1111 jiwa dan luas wilayah 850 ha/m2. Fasilitas layanan kesehatan berupa puskesmas dan posyandu terletak menyebar di dekat beberapa desa di sekitarnya. Masalah kesehatan di Desa Suka Merindu bervariasi mulai dari masalah penyakit tidak menular, penyakit menular hingga penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA). Pengabdian ini dilakukan di Desa Suka Merindu pada bulan Januari 2024. Ada empat kegiatan PKM holistik yang dilakukan adalah pemeriksaan dan edukasi gratis kepada warga, penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan anemia di kalangan remaja dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri Sekolah Menengah Atas (SMA), sosialisasi mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Hipertensi di Puskesmas, dan penyuluhan mengenai bahaya penyalahgunaan NAPZA di balai desa. Tahapan masing-masing kegiatan terdiri dari perencanaan, analisis situasi, studi literatur, survei awal, koordinasi perizinan dan kesediaan sasaran, persiapan materi, alat dan bahan, pelaksanaan yang terdiri dari tanya jawab awal, penyampaian materi, diskusi, dan penyerahan poster serta evaluasi. Sesuai dengan tujuan kegiatan, hasil kegiatan tercapai berupa penyampaian materi dan terwujudnya diskusi. Melalui PKM di bidang kesehatan, ada peluang untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam layanan kesehatan dan memperbaiki kualitas hidup penduduk desa. Ini juga membantu dalam mengidentifikasi dan mengatasi kebutuhan kesehatan yang spesifik dari komunitas yang mungkin tidak tercakup dalam kebijakan kesehatan yang lebih luas.
Teknik Pemeriksaan Radiografi Region Antebrachii pada Pediatrik dengan Kasus Close Fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Perpetua J. Safanpo Papua Prama Sugara; Muslimah Putri Utami; Anisah
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Lentera Ilmiah Kesehatan
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/8pp7c495

Abstract

Pada tahun 2020, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa tingkat kejadian patah tulang mencapai 2,7% dan terdapat sekitar 13 juta orang yang mengalami patah tulang. Pemeriksaan radiografi region antebrachii menjadi modalitas penting dalam membantu menegakkan diagnosa radiologi, namun pada pasien pediatrik hasil kualitas citra gambaran yang diperoleh dapat dipengaruhi pada persiapan pasien, proyeksi dan faktor eksposi. Fraktur tertutup (close fraktur) ialah sebuah contoh patah tulang di mana tulang yang patah tidak terlihat dari lingkungan luar karena tidak ada luka pada permukaan luar kulit. Metode penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi dengan melibatkan radiografer dan radiologi sebagai informan. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan proses wawancara, observasi dan dokumentasi dilapangan secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan radiografi region antebrachii pada pediatrik dengan kasus close fraktur menggunakan proyeksi PA dan lateral serta tidak ada persiapan khusus yang dilakukan.
Perbandingan Hasil Radiograf pada Variasi Derajat Cervical AP Axial dengan Klinis Cervical Root Syndrome di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025 Aditya Pirmansyah; Muslimah Putri Utami; Zanariah
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Lentera Ilmiah Kesehatan
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/jlik.v3i2.125

Abstract

Pemeriksaan radiografi cervical AP axial merupakan metode pencitraan untuk melihat struktur tulang leher, terutama pada kasus kecurigaan cervical root syndrome. Variasi sudut penyinaran central ray (CR) dapat memengaruhi kualitas visualisasi vertebra cervical, sehingga penting untuk menentukan sudut optimal yang menghasilkan gambaran diagnostik terbaik. Penelitian ini bertujuan mengetahui teknik pemeriksaan cervical AP axial, alasan penggunaan sudut 0° pada praktik klinis, serta membandingkan variasi sudut 10°, 15°, dan 20° terhadap hasil radiograf pada pasien dengan klinis cervical root syndrome. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kasus. Subjek penelitian adalah satu pasien laki-laki (Tn. D) yang menjalani pemeriksaan pada 27 Mei 2025 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang menggunakan sudut 10°, 15°, dan 20° cephalad dengan teknik ekspose 57 kV dan 6 mAs. Hasil menunjukkan bahwa angulasi 20° memberikan visualisasi ruang intervertebralis yang lebih terbuka, menghilangkan superposisi mandibula terhadap vertebra C3–C4, serta memperlihatkan alignment cervical lebih jelas dibandingkan sudut lainnya. Temuan ini sejalan dengan literatur yang merekomendasikan angulasi 15°–20° untuk optimasi proyeksi AP axial. Dengan demikian, sudut CR 20° merupakan variasi yang paling optimal untuk pemeriksaan cervical AP axial pada kasus cervical root syndrome.