Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

The Method Of Taskhir Al-Qur’an As Islamic Hypnotherapy Study Of Living Qur'an In Jam'iyyah Ruqiah Aswaja Bekasi Branch Fitriana, Muhamad Azizan; Huda, Ade Naelul; al-Khudry, Sa'id
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 12 No. 001 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam (Special Issue 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i001.5445

Abstract

This article aims to reveal the merger between two therapeutic methods used by the Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) in Bekasi, namely the ruqyah method and the hypnotherapy method. The tendency of people to switch from medical medicine to alternative medicine is very high. So came various techniques and methods of alternative medicine that are popular with the community, including ruqyah which has been very popular among Muslims. Unlike ruqyah which is identical to Islam, hypnotherapy is a method that is born not from a certain belief background. This relatively new medical technique can be practiced by anyone with any religious background. Because it is considered not to disturb the creed, the idea arose to combine ruqyah with hypnotherapy. Among the communities that developed a combination of these two alternative methods is Jam'iyyah Ruqyah Aswaja Bekasi Branch which introduced Islamic hypnotherapy with the Taskhir al-Qur’an method.  This study used qualitative methods to analyze field data taken using observation techniques and depth interviews. The results of this study show that Jam'iyyah Ruqyah Aswaja Bekasi states that the Taskhir al-Qur’an method  can be used to treat psychic and physical. The process of handling patients begins with hypnotherapy techniques, after the patient enters the subconscious recited verses of the Qur'an which indicate the process of ruqyah has begun. Taskhir al-Qur’an method  has four approaches, namely: Taskhir al-Nidzam for physical and psychological disorders;  Taskhir al-Qulub for mental balance disorders;   Taskhir al-Gharib for  telemedicine; and Taskhir al-Ghoibi for   mass treatment services for all complaints experienced by patients.
Genetika Bani Adam dalam Perspektif Tafsir Ilmi: Telaah Pemikiran Thanthawi Jauhari dalam al-Jawahir Rojikin, Heru; Hasbi, Artani; Huda, Ade Naelul
Adh Dhiya | Journal of The Quran and Tafseer Studies Vol. 2 No. 2 (2025): adh Dhiya
Publisher : STAINI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/adhy.v2i2.302

Abstract

The number of people in the world is counted in billions. When looked back upon, it surely goes back to Prophet Adam (peace be upon him) and Mother Eve. When they both met, their descendants emerged. The children of Adam originated from their father, Adam (peace be upon him), who was created from microbes. Each of them spread, carrying atoms, and to this day they have not disappeared. From this, the question arises: what is Thanthawi Jauhari's thinking about the genetics of the descendants of Adam (peace be upon him)? This research will be qualitatively analyzed using a scientific approach. The primary data source used in this research is the book al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim by Thanthawi Jauhari, which will be analyzed descriptively and analytically. This research concludes that human beings on Earth, from the past to the present, have one common point, which is the unity in creation and similarity in characteristics, conditions, and behavior. This unity and similarity are caused by each human passing down genes to the next generation, which will continue to process and intermix according to human reproduction and dissemination itself. This means every child carries genes from their parents all the way back to Prophet Adam (peace be upon him). The genetic processes known in Mendel's theory can harmonize with the clear signals from the Qur’an as articulated in Jauhari's interpretation.
Bullying dalam al-Qur’an dan Relevansinya dengan Kehidupan Modern Hadi, Rifki; al-Munawwar, Said Agil Husin; Huda, Ade Naelul
Adh Dhiya | Journal of The Quran and Tafseer Studies Vol. 2 No. 2 (2025): adh Dhiya
Publisher : STAINI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/adhy.v2i2.304

Abstract

In the modern era like today, there are still many cases of oppression, both verbally and physically, perpetrated by individuals or groups. This act is known as bullying. This writing analyzes the expressions of verses related to bullying, whether in the form of verbal, physical, or social bullying in the Qur'an. This article is examined qualitatively using a thematic approach. The primary data sources used in this research are contemporary interpretation books with a sociocultural emphasis, namely the Tafsir al-Munîr by Wahbah az-Zuhaylî, Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka, and Tafsir Al-Mishbah by Quraish Shihab. The research results show that from 11 verses of the Qur'an related to bullying, there are at least three (3) types of bullying, namely verbal, physical, and social. The commentators explain that bullying includes mocking, spreading false news, giving bad nicknames, and exposing someone's shame or secrets. Although the model of bullying in this era has evolved into cyberbullying, these actions remain a form of criminal behavior as harmful as traditional bullying in the real world.
I'JAZ AL-QUR'AN DALAM TAFSIR LUGHAWI PERSPEKTIF ALI BIN AHMAD AL-MAHAIMY: (Studi Analisis Tafsir Tabshîru Ar-Rahmân wa Taysîru Al-Mannân) Riyadhi, Wahyu; Huda, Ade Naelul; Haq, Ziyadul
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 10 No 02 (2025): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v10i02.8520

Abstract

Kata mukjizat Al-Qur’an dewasa ini sering kali dikaitkan dengan penemuan-penemuan terbaru oleh para ilmuan yang kemudian diklaim bahwa hal tersebut telah dinyatakan dalam Al-Qur’an sejak lama. Namun demikian, i’jâz ‘ilmy yang akhir-akhir ini sering dibicarakan bukanlah satu-satunya bentuk i’jâz dalam Al-Qur’an. Secara global, ulama membagi i’jâz Al-Qur’an kepada tiga aspek. Salah satunya adalah aspek bahasa atau lughawi. Bahkan, para ulama jauh lebih dahulu mengungkap aspek i’jâz lughowiy ini dibanding dua aspek lainnya, yaitu aspek ‘ilmiy dan tasyrî’iy. Kajian i’jaz lughawi mulai berkembang, namun masih berupa pengantar akan pentingnya ilmu ini, belum menghasilkan produk tafsir lughawi secara lengkap, karya tafsir lengkap bercorak lughawi baru muncul pada ke-8 H. Abu Ja’far bin Az-Zubair (w. 708 H). Selanjutnya, pada abad ke-9 muncul pula Burhanuddin al-Biqa’i (w 809 H) menulis tafsir lengkap tentang kebersinambungan ayat dan surat dengan judul nazhmud-duror fi tanasubil ayati was-suwar. Diantara ulama tafsir yang telah mencurahkan perhatian sangat tinggi dalam tema kajian yang sama adalah Syaikh Ali bin Ahmad al-Mahaimy. Ia merupakan seorang ulama berasal dari India, Kajian I’jaz Al-Qur’an dari sisi lughowiy, nampaknya merupakan tren yang cukup menarik pada abad ke-9 H di masa hidup al-Mahaimy. Dalam penelitian ini penulis akan mengkaji terhadap metodologi Ali bin Ahmad Al-Mahaimy dalam kitab tafsir Tabshîru Ar-Rahmân wa Taysîru Al-Mannân bi ba’dhi mâ yusyîru ilâ I’jâzi Al-Qur’ân. Dengan metode deskriptif-analitis penulis akan memaparkan dan menguraikan dimensi i’jaz Al-Qur’an. Dari hasil penelitian ditemukan, Unsur-unsur i’jaz Al-Qur’an dalam kitab tafsir al-Mahaimy, beliau menggunakan ilmu munasabat yang sangat kental. Dalam menuangkan ilmu munasabat-nya ia berprinsip untuk tidak terlalu berpanjang-panjang hingga jatuh pada takalluf, cacat dan dapat mendatangkan kebosanan pembaca.
IMPLIKASI PERBEDAAN RASM USMANI TERHADAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN : Studi Analisis Penggunaan Tā’ Marbūṭah dan Tā’ Maftūḥah Pada Kitab Tafsir al-Jāmiʻ li Aḥkām al-Qur’ān Karya Al-Qurṭubī dan Laṭāif al-Isyārāt Karya Al-Qusyairī Fatahillah, Ahmad; Fathoni, Ahmad; Huda, Ade Naelul
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 10 No 02 (2025): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v10i02.8974

Abstract

Mayoritas ulama mewajibkan penulisan Al-Qur’an dengan Rasm Usmani Karena ilmu rasm Usmani - sebagaimana ilmu qiraat - saling berkaitan dan tidak bisa lepas dari Al-Qur’an. Terlepas dari tauqīfī atau ijtihādīnya penulisan Al-Qur’an dengan rasm Usmani, nyatanya banyak sekali kata-kata dalam Al-Qu’an yang ditulis berbeda meski berasal dari kata yang sama. Karena setiap kata dalam Al-Qur’an adalah mukjizat, maka munculah beragam produk penafsiran. Dalam memproduksi penafsiran sebagian ulama ada yang memfokuskan pada sisi petunjuk atau pesan dari makna batin atau tersirat (esoterik). Maka dalam penelitian ini penulis mengkaji bagaiman penafsiran Al-Qurṭubī dalam kitabnya al-Jāmiʻ li Aḥkām Al-Qur’ān dan Al-Qusyairī dalam kitabnya Laṭāif al-Isyārāt, yang terkait perbedaan rasm Usmani. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap makna esoterik (batin) atau isyarat makna lain yang terdapat pada kedua kitab tersebut dikaitkan dengan perbedaan rasm Usmani. Perbedaan kata dalam rasm Usmani sangatlah banyak, sebab itu penulis hanya memfokuskan penelitian dari penggunaan Tā’ Marbūṭah dan Tā’ Maftūḥah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, berbasis riset kepustakaan sebagai sumber utama. Adapun rujukan utama penelitian ini adalah kitab Al-Jāmiʻ li Aḥkām Al-Qur’ān dan Laṭāif Al-Isyārāt menggunakan pendekatan deskriptif-analisis, yang kemudian mengkomparasikan kedua kitab tersebut didukung penjelasan dari kitab lainnya. Adapun konklusi (hasil) penelitian ini, penulis berkesimpulan bahwa penafsiran Al-Qurṭubī dalam kitabnya Al-Jāmiʻ li Aḥkām Al-Qur’ān dan Al-Qusyairī dalam kitabnya Laṭāif Al-Isyārāt terdapat makna esoterik (makna batin) yang menyebabkan penulisan huruf akhir Tā’ Ta’nīṡ di beberapa kata yang sama dalam Al-Qur’an ditulis Marbūṭah dan di lain tempat ditulis Maftūḥah, yang sebagian besar adanya kesesuaian penulisan rasm Usmani pendapat al-Dānī dan Abū Dāwud.
Fostering Character Education in Pesantren: An Analysis of ‘Abd ar-Raḥmān Ḥabannakah’s Tadabbur Rules Saleh, Muhammad; Rahmawati, Yeni; An-Nafi', Muhammad Bilal; Huda, Ade Naelul
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v6i2.176

Abstract

Character education is a crucial solution to the moral crisis among young people, with Islamic boarding schools (pesantren) serving as leading institutions for integrating religious values and local wisdom. This study analyzes the application of Abdurrahman Habanakah's Qur'anic tadabbur (contemplation) principles munasabah (intertextual coherence), asbabun nuzul (context of revelation), lughah (linguistics), balaghah (rhetoric), and ijtihad (independent reasoning) in character education within pesantren. This qualitative library research employs documentary analysis, focusing specifically on Surah Al-Isra: 23 and Al-Maidah: 8. The findings indicate that Habanakah's tadabbur approach effectively instills Qur'anic values such as birrul walidain (filial piety), justice, and piety through linguistic (lughah) and thematic (munasabah) analysis. The study concludes that integrating Qur'anic tadabbur into the pesantren curriculum strengthens religious textual understanding and fosters reflective and virtuous character among students. This research is limited to textual analysis of two selected verses; therefore, future studies could expand the scope to include more verses and empirical fieldwork to observe the direct application and impact of this method in pesantren settings. Abstrak Pendidikan karakter menjadi solusi penting dalam menghadapi krisis moral generasi muda, dengan pesantren sebagai institusi utama yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan kearifan lokal. Penelitian ini menganalisis penerapan kaidah tadabbur Al-Qur’an ‘Abd ar-Raḥmān Ḥasan Ḥabannakah al-Maidānī (w. 2004) meliputi munāsabah, asbāb an-nuzūl, luġah, balāġah, dan ijtihād dalam pendidikan karakter di lingkungan pesantren. Penelitian kualitatif kepustakaan ini menggunakan analisis dokumen dengan fokus pada QS. Al-Isrā’/17: 23 dan Al-Mā’idah/5: 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tadabbur Habanakah efektif menanamkan nilai-nilai Qur’ani seperti birr al-wālidain, keadilan, dan ketakwaan melalui analisis kebahasaan (luġah) dan tematik (munāsabah). Disimpulkan bahwa integrasi tadabbur Al-Qur’an ke dalam kurikulum pesantren tidak hanya memperdalam pemahaman teks keagamaan tetapi juga membentuk karakter santri yang reflektif dan berakhlak mulia. Penelitian ini terbatas pada analisis tekstual dua ayat pilihan; sehingga kajian lanjutan dapat memperluas cakupan ayat yang dikaji dan melakukan penelitian lapangan untuk mengamati penerapan serta dampak metode ini secara langsung di pesantren.
Analysis of I'jāz Balāghi in Surah Yāsīn: A Comparison of Tafsir Al-Kasysyāf and Ṣafwah At-Tafāsir Rosmila, Rosmila; Huda, Ade Naelul; Syukron, Ahmad
Jurnal El-Thawalib Vol 7, No 2 (2026)
Publisher : UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-thawalib.v7i2.19571

Abstract

This study aims to analyze the concept of I’jāz Balāghī in Surah Yāsīn through a comparative study of Tafsīr al-Kasysyāf by al-Zamakhsharī and Ṣafwah al-Tafāsīr by ‘Alī al-Ṣābūnī. The study of Qur’anic inimitability, particularly in its linguistic dimension, has become increasingly significant amid contemporary academic debates that question the authenticity of the Qur’an, thus requiring a balāghah-based approach as evidence of its rhetorical superiority. This research employs a qualitative library research method with a descriptive-analytical approach and a comparative method. The data sources consist of primary data from Tafsīr al-Kasysyāf and Ṣafwah al-Tafāsīr, as well as secondary data from literature on ‘ulūm al-Qur’ān, balāghah, and relevant academic journals. Data were collected through documentation by identifying and classifying verses of Surah Yāsīn containing elements of ma‘ānī, bayān, and badī‘. The data analysis was conducted by describing each mufassir’s interpretation and comparing their similarities, differences, and methodological strengths in explaining I’jāz Balāghī. The findings reveal that I’jāz Balāghī in Surah Yāsīn is manifested through the integration of ma‘ānī, bayān, and badī‘, forming both rhetorical and argumentative structures. Tafsīr al-Kasysyāf emphasizes a deep linguistic-analytical approach, while Ṣafwah al-Tafāsīr offers a more systematic and applicative explanation. Comparatively, both exegeses complement each other in understanding the multidimensional nature of I’jāz Balāghī, thereby reinforcing the argument of the Qur’an’s inimitability from a linguistic perspective.
Radical Interpretations of Jihad: A Double Movement Analysis of Q.S. al-Baqarah (2:191) Hadi, Lalu Nuzul Ilham; Susilowati, Nuri; Huda, Ade Naelul
Ar-Rasikhin : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2026): Ar-Rasikhin : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) ZAD, Cianjur, indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55759/arrasikhin.v2i1.10

Abstract

This article examines radical interpretations of Q.S. Al-Baqarah [2]:191 employed as theological justification for acts of terrorism, particularly the Bali Bombings. The study aims to analyze the hermeneutical errors underlying such interpretations and to offer a scholarly refutation through Fazlur Rahman’s Double Movement hermeneutical approach. Using a qualitative library research design, the study analyzes classical and contemporary Qur’anic commentaries, biographical accounts of the perpetrators, and relevant academic literature on jihad and radicalism. The findings reveal that radical interpretations arise from a rigid, ahistorical, and atomistic reading of the Qur’anic text that ignores its socio-historical context and ethical objectives. This study concludes that the Double Movement approach provides a contextual, defensive, and morally coherent understanding of jihad, aligning with the principles of maqāṣid al-sharī‘ah, and thus serves as an effective scholarly framework for countering ideological radicalization.
TRAUMA HEALING PERSPEKTIF AL-QUR’AN: Studi Kasus Korban Perkosaan di Lembaga Women Crisis Center (WCC) Mawar Balqis Cirebon Layali Hilwa; Ahmad Syukron; Ade Naelul Huda
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10056

Abstract

Perkembangan zaman yang kian maju sering kali menyebabkan peningkatan sosial dan kriminalitas masyarakat. Perkembangan ini memiliki efek yang signifikan terhadap kehidupan sosial, namun sebaliknya, kemajuan tersebut juga berkontribusi terhadap munculnya berbagai bentuk kejahatan. Salah satu bentuk kejahatan yang sering terjadi adalah kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi seksual. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk meneliti berbagai cara yang bisa diterapkan untuk trauma healing bagi korban perkosaan dalam persepektif Al-Qur’an. Penelitian ini mendalami ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang ketenangan jiwa, keyakinan, kesabaran, instrospeksi diri, hikmah tentang cobaan hidup yang dialami korban perkosaan. Serta upaya untuk mencapai kedamaian dalam pikiran dan hati. Metode penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan library research, dengan meneliti pemulihan korban pemerkosaan lewat Women Crisis Center (WCC) Mawar Balqis dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti pemilihan sampel, pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil. Diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam bidang trauma healing dan kesehatan mental dari persepektif Al-Qur’an; Hasil penelitian ini menemukan bahwa pendekatan trauma-healing yang terinspirasi oleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip Al-Quran dapat memiliki dampak yang positif dalam pemulihan trauma bagi korban, seperti muhasabah (kesadaran diri dan refleksi), doa dan koneksi spiritual, penerimaan diri (ikhlas) dan ridha dengan menerima cobaan dan ujian hidup sebagai bagian dari takdir Allah dan percaya pada kebijaksanaan Allah dapat membantu korban mengatasi trauma dan memperoleh kedamaian hati
MAKNA IHSAN DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS SEMANTIK PERSPEKTIF TOSHIHIKO IZUTSU Ade Naelul Huda; Hawwa Nasywa Aqillah; Khoiriah Malinda Ritonga; Muhammad Encep Jaelani; Muhammad Alwan
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10247

Abstract

Konsep ihsan adalah salah satu istilah penting dalam al-Qur'an yang memiliki peran besar dalam membentuk nilai-nilai etika Islam. Meskipun umumnya dianggap sebagai bentuk kebaikan atau kesempurnaan dalam beribadah, makna yang terkandung dalam al-Qur’an menunjukkan makna yang lebih rumit dan terkait erat dengan sistem nilai wahyu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami arti ihsan dengan menggunakan pendekatan semantik yang dikembangkan oleh Toshihiko Izutsu. Penelitian ini juga mempertimbangkan beberapa aspek seperti makna dasar, makna relasional, makna oposisi, sinkronik dan diakronik, serta analisis secara bersamaan dan sepanjang waktu. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang didasarkan pada studi kepustakaan dengan pendekatan semantik struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna akar ḥ-s-n tidak hanya meliputi kebaikan secara umum, tetapi semakin diperkuat dalam al-Qur’an melalui hubungannya dengan istilah-istilah seperti 'adl, iman, dan taqwa, serta melalui perbandingan dengan kata-kata seperti sayyi’ah dan zulm. Dalam kontkes penggunaannya, ihsan menunjukkan tingkatan nilai yang melebihi standar keadilan dan mempertunjukkan kualitas tindakan yang terarah pada kesadaran akan keagamaan. Analisis diakronik menunjukkan adanya perubahan dari makna sosial dan estetis yang ada sebelum munculnya al-Qur'an menuju makna yang lebih bersifat etis dan teologis, yang terpadu dalam sistem keyakinan satu Tuhan. Dengan demikian, ihsan berperan sebagai konsep yang menggambarkan tingkat kualitas keagamaan dalam struktur pandangan dunia al-Qur'an yang memiliki tingkatan dan saling terkait.