Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Jurnal Shanan

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN YANG MEMBEBASKAN: SUATU KAJIAN HISTORIS PAK DI INDONESIA Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 1 No. 1 (2017): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.322 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v1i1.1481

Abstract

Pendidikan apapun seharusnya bersifat membebaskan sesuai dengan muatan makna yang terkandung di dalam istilah pendidikan. Terutama sekali, sifat membebaskan ini dirasakan sangat kuat pada pendidikan agama Kristen, baik PAK sebagai disiplin ilmu atau salah satu mata kuliah/pelajaran di sekolah dan universitas, maupun PAK sebagai aktivitas pendidikan dalam kehidupan orang Kristen di gereja, keluarga dan masyarakat. Pembebasan yang dimaksud adalah membawa naradidik keluar dari kebodohan, kelemahan, kemiskinan, dan berbagai penindasan.Makalah ini memuat kajian historis PAK di Indonesia, khususnya di lingkungan Protestan sejak masa VOC hingga masa kini untuk melihat sejauh mana pelaksanaan pendidikan agama Kristen sudah membawa pembebasan bagi para naradidiknya. Dengan belajar dari sejarah PAK di Indonesia, kita bisa melakukan penilaian dan koreksi atas pendidikan agama Kristen yang saat ini kita laksanakan demi memajukan para naradidik, khususnya di era MEA ini.Makalah ini berusaha mendeskripsikan upaya-upaya pendidikan agama Kristen ketika dimulai, dilaksanakan, dan dikembangkan; dan faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan PAK di Indonesia. Dengan demikian, dari pembahasan ini diharapkan dapat memperlihatkan kekuatan dan kelemahan kita, khususnya dalam mempersiapkan naradidik menghadapi persaingan-persaingan yang kuat pada masa ini.Tulisan ini disusun dari studi literatur yang memuat sejarah PAK di Indonesia, observasi, dan percakapan lisan dengan berbagai pihak terkait dengan pelaksanaan PAK di Indonesia.Kata Kunci: Pendidikan, Pendidikan Agama Kristen, Sejarah, Pembebasan
PERAN ORANGTUA DAN PENDETA DALAM MENINGKATKAN PERILAKU MENOLONG PADA REMAJA GEREJA ALKITAB ANUGERAH BEKASI Heliyanti Kalintabu; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.277 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v1i2.1483

Abstract

Pada masa kini perilaku sosial, khususnya perilaku menolong pada remaja terasa sangatkurang. Banyak remaja bersikap masa bodoh dan tidak mau menolong orang yang sedangmembutuhkan. Karena itulah sikap egois pada banyak remaja telah menjerumuskan mereka padapraktik-praktik yang tidak baik, seperti: tawuran, miras, narkoba, dan lain-lain. Untuk itulah, peranorangtua dan pendeta untuk membimbing dan mengarahkan remaja menyangkut perilaku sosialsangatlah penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran orangtua danpendeta dalam meningkatkan perilaku menolong pada remaja Gereja Alkitab Anugerah Bekasi danmengusulkan rencana pelaksanaan pembelajaran mengenai perilaku menolong yang dapatdijalankan dengan teratur.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitupenelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian,misalnya: perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik. Metode pengumpulandata yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara dan observasi.Hasil dari penelitian ini adalah orangtua dan pendeta memiliki peran yang sama dalam halmembimbing, mengarahkan, memberikan pengetahuan dan memberikan motivasi kepada remajaagar mereka memiliki perilaku sosial, khususnya menyangkut perilaku menolong. Sementara itu,penelitian ini juga menghasilkan sejumlah saran untuk dipertimbangkan oleh penulis dan pihak laindalam studi lanjutan mengenai topik ini. Beberapa saran yang diberikan antara lain: Program StudiMPAK dapat memberikan pelatihan kepada para mahasiswa agar mampu mendesain programprogrampembelajaran menyangkut perilaku sosial remaja, khususnya perilaku menolong, baik digereja maupun di sekolah; Orangtua lebih memperhatikan dan mengawasi perilaku remaja,memberikan waktu untuk berkomunikasi dengan anaknya, dan memberikan teladan dalam halberperilaku menolong; Pendeta hanya membimbing dan bekerja sama dengan pengurus gerejalainnya dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran mengenai perilaku menolong sehinggadapat dipahami dengan baik oleh remaja.Kata Kunci: perilaku menolong, peran orangtua, peran pendeta, remaja.
REFORMASI PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA PADA MASA KINI Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.723 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v1i2.1494

Abstract

Peringatan 500 tahun Reformasi Gereja yang dipelopori oleh Martin Luther sangatlah penting sebagai sarana untuk melihat kembali sejauh mana generasi sekarang yang mewarisi prinsip dan semangat Reformasi Luther dan para reformator lainnya, dapat menjalani kehidupan sesuatu dengan arah dan impian reformasi gereja. Walaupun reformasi Luther dalam konteks gereja, namun dampak dari gerakan tersebut nyata dalam dunia pendidikan Kristen, hingga sekarang ini.Reformasi pendidikan yang dilakukan Luther dan para reformator lain dimotivasi oleh situasi yang sedang berlangsung di seluruh wilayah Gereja kala itu, dimana tidak ada sistem sekolah umum karena pendidikan hanya dijalankan oleh gereja, melalui biara-biara dan di lembaga-lembaga yang diawasi dengan ketat dalam otoritas gereja. Pendidikan yang diberikan kepada para pemuda dan para wanita yang terbatas mereka yang memiliki kekayaan dan status sosial yang tinggi dalam masyarakat kala itu. Keadaan tersebut membuat Luther dan para reformator lain berusaha keras untuk membangkitkan keyakinan para orangtua mengenai pentingnya pendidikan anak-anak mereka, yaitu bahwa kebaikan rohani dari anak-anak mereka lebih penting daripada kesenangan lahiriah.Martin Luther menjadi terdepan dalam menyeruhkan perlunya perubahan pada dunia pendidikan. Luther meyakini bahwa penguatan pendidikan agama dalam keluarga dapat menjadi pola, metode, dan solusi dalam memperbaiki dan memperkuat gereja, masyarakat, dan negara.Kata Kunci: Reformasi Pendidikan, Pengaruh, Masa Kini
ANALISIS IMPLEMENTASI PAK KELUARGA DI GEREJA SIDANG JEMAAT ALLAH (GSJA) KABUPATEN BARITO TIMUR KALIMANTAN TENGAH Desi Sianipar; A Dan Kia
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.515 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1535

Abstract

Pendidikan agama Kristen keluarga atau yang biasa disingkat PAK Keluarga adalah pendidikan agama yang diadakan di dalam keluarga di mana orang tua berfungsi sebagai pendidik dan pengajar dalam keluarga. Sebagai upaya pendidikan, maka upaya tersebut haruslah dijalankan secara terprogram dengan baik. Untuk itu, gereja harus berperan besar dalam membimbing dan mengarahkan para orang tua melalui berbagai program pembinaan sehingga para orang tua dapat mengimplementasikannya dengan baik dalam keluarga.Penulis telah mengadakan penelitian mengenai implementasi PAK Keluarga di lingkungan Gereja-gereja Sidang Jemaat Allah Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah dan hasilnya adalah gereja memahami bahwa PAK Keluarga telah dijalankan melalui berbagai program gereja, seperti: ibadah umum, ibadah kategorial, ibadah keluarga, dan himbauan kepada para orang tua supaya mengadakan “Saat Teduh” setiap hari di rumah masing-masing dengan mengajak anak-anak untuk berdoa, menyanyi dan membaca Alkitab bersama-sama pada pagi hari atau pada malam hari. Hampir semua gereja menganggap bahwa semua program gereja sudah bertujuan menguatkan keluarga. Sementara itu, para orang tua memahami bahwa mereka telah melaksanakan PAK keluarga melalui kegiatan Saat Teduh dan mengajak serta mendorong anak-anak mereka untuk berperilaku baik dan rajin mengikuti program-program gereja. Penulis juga belum menemukan adanya kurikulum PAK Keluarga dan buku-buku ajar yang khusus dirancang untuk PAK Keluarga.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan dokumentasi. Para informan terdiri dari para pendeta, para pengurus gereja, para orangtua, dan anak-anak yang berasal dari 13 gereja lokal di lingkungan GSJA kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Hasil analisis terhadap hasil penelitian menunjukkan bahwa GSJA Kabupaten Barito Timur belum melakukan PAK keluarga yang terencana dan terprogram dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mengenai PAK Keluarga, kurangnya keterampilan dalam menyusun kurikulum dan bahan ajar PAK Keluarga, dan kurangnya dana untuk penyelenggaraan seminar dan pelatihan yang terkait dengan PAK Keluarga. Para orang tua juga kurang memahami PAK Keluarga dan bagaimana melaksanakannya dengan baik karena kurangnya pembinaan dari gereja, secara khusus mengenai PAK Keluarga.Kata Kunci: Analisis, Implementasi, Pendidikan Agama Kristen, Keluarga, Gereja
PENGGUNAAN MODEL HOMESCHOOLING DALAM PEMBELAJARAN PAK DI PKBM WESLEY PELITA BANGSA SCHOOL (WPBS) Hasan Nadir Giawa; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.466 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1537

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan homeschooling, model homeschooling dan penggunaan model homeschooling dalam pembelajaran PAK di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Wesley Pelita Bangsa School (WPBS) Pluit-Jakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Jumlah populasi dalam penelitian ini 67 orang informan, sedangkan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 16 orang yang terdiri dari 4 orang guru, 6 orang tua dan 6 orang siswa/i dengan kriteria mereka terlibat secara langsung dalam kegiatan homeschooling. Penentuan sampel ini berdasarkan pada tujuan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru, orang tua dan siswa/i memahami homeschooling sebagai sekolah rumah tetapi pemahaman mereka tentang model-model homeschooling kurang memadai, rata-rata mengenal dua model homeschooling. Ini membuktikan bahwa kurangnya informasi tentang homeschooling ini membuat banyak orang tidak memahaminya. Selanjutnya penggunaan model homeschooling dalam pembelajaran PAK menunjukkan hal yang positif di mana dalam setiap anak sebelum memulai pembelajaran setiap hari diwajibkan untuk menghafal ayat-ayat Alkitab, saatteduh dan doa bersama di dalam kelas.Mengingat pentingnya homeschooling, maka perlu ada solusi yang segera dilakukan yaitu mengadakan seminar dan pelatihan kepada guru dan orang tua supaya lebih memahami pentingnya homeschooling dan model-model homeschooling. Dengan demikian homeschooling menjadi sebuah pilihan alternatif dan pertimbangan bagi orang tua untuk kebutuhan pendidikan anak.Kata kunci: Model homeschooling, pembelajaran PAK
KEPEMIMPINAN PENDETA PEREMPUAN DI LINGKUP SINODAL GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA BAGIAN BARAT (GPIB): SUATU TINJAUAN TEOLOGIS-PEDAGOGIS Nova Linda Romeantenan; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.466 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v2i2.1539

Abstract

Kepemimpinan sangat penting bagi kelangsungan pelayanan gereja. Kepemimpinan yang baik akan sangat bergantung pada tingkat komitmen, konsistensidan kesediaan menerima konsekuensi pelayanan dalam kerendahan hati, sehingga menyebabkan mereka yang dipimpin melakukan serangkaian tindakan dengan penuh kesadaran guna mencapai tujuan yang telah disepakati. Kepemimpinan pendeta perempuan secara teoritis diartikan sebagai kemampuan seorang pendeta perempuan dalam menggerakkan atau mempengaruhi jemaat dan dirinya menuju suatu tujuan dengan visi tertentu, dan mentransformasi komunitasnya sehingga kondisinya semakin baik.Penelitian dilaksanakan di kantor Majelis Sinode GPIB dengan teknik pengumpulan data deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan, wawancara,observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keadaan yang sebenarnya dari kepemimpinan pendeta perempuan di lingkup sinodal GPIB. Sampel yang digunakan adalah model sampel bertujuan (purposive sampling). Informan dalam penelitian ini berjumlah 13 orang yang terdiri dari 7 orang fungsionaris Majelis Sinode dan 6 orang perangkat-perangkat Majelis Sinode GPIB, yang terdiri dari 4 pendeta perempuan, 1 penatua perempuan dan 1 pendeta laki-laki. Kemudian dilakukan analisis untuk melihat kendala dan cara pendekatan agar dengan tinjauan teologis-pedagogis ini dapat mencapai tujuan yang diharapkan.Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa kepemimpinan pendeta perempuan di GPIB dibangun berdasarkan Alkitab di mana perempuan dan laki-laki diciptakan segambar dengan Allah (Kej. 1:27). Artinya, laki-laki dan perempuan adalah gambar Allah yang diciptakan setara dan sederajat. Pendeta perempuan dan pendeta laki-laki tidak ada perbedaan dalam hal kepemimpinan di lingkup sinodal GPIB. GPIB sebagai lembaga sangat terbuka dan memberikan peluang yang sangat luas kepada pendeta perempuan untuk membangun dan mengembangkan dirinya melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan. GPIB sebagai lembaga sudah sangat maju dan terbuka memberikan peluang untuk perempuan memimpin di lingkup struktural sinodal GPIB.Pendeta perempuan sebagai pelaku sejarah telah berperan di ruang publik dan domestik. Peran domestik dan peran publik sudah ikut mempengaruhi perubahan pada kepemimpinan di GPIB. Meskipun dalam kepemimpinan pendeta perempuan banyak tantangan, tetapi pendeta perempuan GPIB telah mempengaruhi gerak menggereja menurut konteksnya.Kata kunci: kepemimpinan, pendeta perempuan, tinjauan teologis-pedagogis.
KONSEP “JANGAN MEMBUNUH” DALAM KONTEKS PENDAMPINGAN PRAJURIT TNI GRUP I KOPASSUS DI GPIB ABRAHAM SERANG:: KAJIAN PEDAGOGIS, TEOLOGIS, ETIS, DAN PSIKOLOGIS George Ronald Noya; Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.548 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1572

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman konsep “Jangan Membunuh” bagi prajurit TNI Grup 1 Kopassus warga jemaat GPIB “Abraham” Serang, sebagai bentuk pendampingan PAK bagi mereka saat akan menjalankan tugas di wilayah konflik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan peneliti sebagai instrumen. Adapun teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada informan yang berprofesi sebagai prajurit TNI grup 1 Kopassus dan pernah bertugas di wilayah konflik. Peneliti pun melakukan recheck terhadap hasil temuannya. Penelitian ini dapat memberi gambaran tentang pemahaman konsep “Jangan Membunuh” bagi prajurit TNI grup 1 Kopassus dari sudut pandang Teologis, Etika, dan Psikologi, gunamewujudkan pendampingan PAK yang relevan dan kontekstual di tengah penugasan yang dijalani oleh prajurit TNI Grup 1 Kopassus di wilayah konflik.Kata Kunci: Jangan membunuh, pendampingan, Prajurit TNI, Pedagogis, Teologis, Etis, Psikologis
PLURALISME AGAMA MENURUT ABRAHAM KUYPER DAN KONTRIBUSINYA BAGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.686 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1576

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian terhadap konsep pluralisme agama menurut Abraham Kuyper (1837-1920), seorang Belanda yang memiliki keahlian dalam bidang agama, politik, dan pendidikan. Studinya yang mendalam mengenai ilmu-ilmu ini telah menghasilkan pemikirannya yang khas mengenai pluralisme agama. Keunikan pemikirannya terletak pada konsep kebebasan dan teologi Calvinis di Amerika. Tulisan ini merupakan tinjauan pustaka yang diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan agama Kristen. Beberapa kontribusi pemikiran Kuyper yang dapat dikembangkan dalam pendidikan agama Kristen adalah Tuhan adalah pencipta keberagaman; keberagaman agama harus menghasilkan kebaikan; mengakui keberagaman sama dengan mengakui manusia sebagai gambar Allah. Karena itu, keberagaman agama harus bisa didialogkan secara terbuka.Kata Kunci: pluralisme, Abraham Kuyper, pengembangan, pendidikan agama Kristen.
PENGGUNAAN PENDEKATAN SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP) DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI GEREJA Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.396 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i2.1582

Abstract

Tulisan ini memuat pembahasan tentang penggunaan pendekatan Shared Christian Praxis (SCP) dalam pendidikan agama Kristen. Pendekatan ini dikembangkan oleh Thomas H. Groome pada tahun 1980-an dan sudah banyak digunakan dalam berbagai kegiatan pengajaran baik di gereja maupun sekolah di Eropa dan Amerika. Akan tetapi di lingkungan Protestan Indonesia, penggunaan pendekatan ini masih sangat jarang. Tulisan mengenai pendekatan ini pun masih sedikit, khususnya terkait dengan pendidikan agama Kristen di gereja-gereja Protestan. Pendekatan ini sangat baikdigunakan dalam pembelajaran di program katekisasi, penelaahan Alkitab, sermon, retreat, pertemuan pastoral, dan program pengajaran lainnya karena pendekatan ini bersifat aktif, inisiatif, reflektif, intuitif, kreatif, dialogis, kritis, emansipatif, dan partisipatif. Dengan menerapkan pendekatan ini dengan benar, maka upaya indoktrinasi, dominasi pengajar terhadap murid, dan pengajaran yang monolog dapat dihapuskan. Tulisan ini dihasilkan melalui riset kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif deskriptif. Kesimpulan dari tulisan ini adalah pendekatan SCP bermanfaat dalam pendidikan agama Kristen di gereja, khususnya menyangkut: waktu belajar yang fleksibel, kesiapan emosional dan fisik dalam menerima pembelajaran, danmensinergikan teologi dan PAK dalam pembelajaran.
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI GEREJA DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN KELUARGA Desi Sianipar
Jurnal Shanan Vol. 4 No. 1 (2020): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.617 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v4i1.1769

Abstract

AbstrakKeluarga-keluarga pada saat ini menghadapi banyak tantangan dan ancaman dari berbagai hal yang membuat ketahanan keluarga juga terancam. Banyak keluarga mengalami perpisahan, kekacauan, penyimpangan, dan kerusakan sehingga tidak lagi mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Keluarga-keluarga membutuhkan penguatan, khususnya melalui pendidikan agama Kristen. Karena itu, tujuan dari tulisan ini adalah menganalisis peran pendidikan agama Kristen dalam meningkatkan ketahanan keluarga. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Tulisan ini merupakan kajian terhadap berbagai teori ketahanan keluarga dan pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian adalah pendidikan agama Kristen berperan dalam meningkatkan ketahanan keluarga dengan melakukan penguatan spiritualitas keluarga melalui pesan dan narasi dalam Alkitab; melakukan pengembangan hubungan antara keluarga dengan unit-unit sosial yang lebih luas; mendampingi para orang tua supaya bertanggung jawab dalam pendidikan anak mereka sejak usia dini; menyusun kurikulum dengan memasukkan materi-materi terkait ketahanan keluarga; menyediakan buku-buku pengajaran Kristen yang memuat materi ketahanan keluarga; dan menyediakan para pengajar keluarga yang mampu menjadi teladan dalam ketahanan keluarganya.Kata Kunci: Peran, Pendidikan Agama Kristen, Meningkatkan, Ketahanan Keluarga