Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Junior Medical Journal

Overview of the Average Amount of Fluid Expelled by Patients Undergoing Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis Therapy for The Last 3 Month and Its Review According to the Islamic View Auliannisa Ramadhani; Linda Armelia; Muhammad Arsyad
Junior Medical Journal Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Junior Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.996 KB) | DOI: 10.33476/jmj.v1i2.2875

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) is a clinical condition characterized by a slowly progressive and permanent decline in kidney function. One of the renal failure therapy facilities that can be chosen is Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Patients with CAPD can perform dialysis independently, but there are several factors that affect the ability in CAPD so that the balance of the amount of dialysate fluid expenditure is disturbed. Therefore, a study was conducted to determine the effectiveness of CAPD therapy based on a review of the average amount of fluid released during therapy during the last 3 months This retrospective study was a descriptive cross-sectional study using a consecutive sampling technique, where the researcher reviewed primary data based on respondents' answers to the questionnaire and secondary data from the CAPD therapy patient diary. The results showed Based on demographic analysis we can conclude that 27 respondents (60%) are male, 43 respondents (95.56%) were in the age range 20-60 years, 42 respondents (93.33%) were Muslim, 30 respondents (66.6%) are Javanese, 21 respondents (46.7%) have a high school education, 23 respondents (51.11%) are workers with 24 respondents (53.3%) not willing to answer the income earned for a month. The average weight and height of the respondents respectively was 66.67 kg (SD 12.8) and 163.69 cm (SD 7.39). Analysis of the characteristics of respondents' CAPD therapy found 22 respondents (48.89%) had undergone therapy for 1-3 years, 39 respondents (86.67%) used combination fluids with 23 respondents excreting an average of 800-1000 fluids per day. 29 respondents (64%) admitted had experienced the amount of fluid that came out less with the most felt symptom was edema (31%). On the other hand, 38 respondents (84.4%) claimed to have experienced more fluid discharge with no symptoms (79%).
Quality of Life Chronic Kidney Disease Patients Undergoing Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis at Hermina Hospital Bekasi Reviews from Medical Science and Islam Tasya Anita Salam; Linda Armelia; Muhammad Arsyad
Junior Medical Journal Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Junior Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.496 KB) | DOI: 10.33476/jmj.v1i2.2876

Abstract

According to Risdeskes (2018), the percentage of chronic diseases (CKD) has increased after previously being 2% to 3.8% of the total population of Indonesia. Abnormalities of kidney structure and function can be measured by a glomerular filtration rate (GFR) of less than 60 ml/minute/1.73 m² for a period of three months or more. Renal replacement therapy (TPG) in the form of peritoneal dialysis is an alternative way to maintain kidney function in CKD conditions. Treatment of patients undergoing peritoneal dialysis does not only focus on technical aspects but also psychosocial factors, namely the quality of life that will affect the patient's health. Therefore, it is important to know the quality of life of CKD patients undergoing continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) in terms of medical science and Islamic views. The type of research used is descriptive observational through a cross sectional approach using the SF-36 questionnaire which has been validated in uniting health. The population in this study were patients who underwent CAPD therapy at Hermina Hospital Bekasi. The results showed that of 45 respondents, most of whom were male with a history of hypertension and had undergone CAPD therapy for 1-3 years, the average score of quality of life score of respondents was 52, which was categorized as not good(60). It is influenced by physical function, physical limitations, vitality, mental limitations, and mental health. ). In the Islamic view, CAPD therapy is allowed to be carried out because this therapy is a form of endeavor that aims to maintain life for CKD patients.
Analisis Pola Konsumsi Kopi dan Pengaruhnya terhadap Frekuensi Berkemih pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2020 dan Tinjauannya menurut Pandangan Islam Raweroz, Vetho; Armelia, Linda; Riani, Siti Nur; Hasibuan, Faizal Drissa
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 4: December 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i4.4020

Abstract

Kopi adalah minuman yang sangat populer di seluruh dunia selama berabad-abad. Di Indonesia, konsumsi masyarakat akan kopi meningkat 4,04% dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 4,81 juta kantong seberat 60 kg. Mahasiswa merupakan populasi yang gemar mengonsumsi kopi. Salah satu efek samping mengonsumsi kopi adalah peningkatan frekuensi berkemih. Peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh peningkatan tekanan dan instabilitas otot detrusor pada kandung kemih akibat kafein yang terkandung dalam kopi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola konsumsi kopi dan pengaruhnya terhadap frekuensi berkemih pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2020 dan tinjauannya menurut pandangan Islam. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode cross-sectional menggunakan data primer yang diukur secara langsung melalui pengisian kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2020. Sampel ditetapkan menggunakan teknik simple random sampling dengan besar sampel sebanyak 68. Hasil uji dengan menggunakan uji spearman didapatkan p=0,000 dan koefisien korelasi didapatkan 0,656. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi harian dengan frekuensi berkemih pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2020 dengan taraf korelasi kuat.
Perbandingan Gambaran Indeks Eritrosit Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Terapi Hemodialisis dan CAPD serta Tinjauannya Menurut Pandangan Islam basalamah, muhammad nabil rusjdi; Armelia, Linda; Riani, Siti Nur; Hasibuan, Faizal Drissa
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i2.4411

Abstract

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) melibatkan perubahan struktural dan fungsional pada ginjal serta seringkali disertai anemia akibat defisiensi eritropoietin dan faktor lain. Terapi umum untuk PGK melibatkan Hemodialisis (HD) dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), keduanya berpotensi memengaruhi indeks eritrosit. Dalam penelitian ini, 51 pasien PGK yang menjalani HD dan CAPD di RS Hermina Bekasi dievaluasi untuk indeks eritrosit, menunjukkan perbedaan signifikan pada Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) antara kelompok HD dan CAPD (p ≈ 0.009), sementara Mean Corpuscular Volume (MCV) dan Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) tidak menunjukkan perbedaan signifikan (MCV: p ≈ 0.960, MCH: p ≈ 0.079). Rata-rata MCV pada pasien PGK HD adalah 86.41 fL dan CAPD 87.20 fL. Rata-rata MCH PGK HD adalah 28.04, sedangkan pada CAPD 28.64. Adapun rata-rata MCHC pada PGK HD adalah 32.40 g/dL, sedangkan CAPD mencapai 33.92 g/dL. Temuan ini memberikan wawasan tentang dampak terapi dialisis pada karakteristik fisik eritrosit dan implikasinya terhadap jenis anemia pada pasien PGK. Dalam konteks perawatan PGK menggunakan HD dan CAPD, pasien telah melaksanakan aspek ikhtiar dan menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Agama Islam. Dengan menyoroti pentingnya pemahaman terhadap dampak terapi dialisis pada indeks eritrosit pasien PGK, penelitian ini memberikan dasar bagi pendekatan perawatan yang holistik, mempertimbangkan aspek kesehatan dan nilai-nilai agama untuk memastikan perawatan yang sesuai dan komprehensif. Studi ini menghasilkan wawasan baru terkait karakteristik eritrosit pada PGK dan memberikan landasan bagi penelitian lebih lanjut dalam upaya meningkatkan kualitas perawatan PGK dengan mempertimbangkan aspek agama dan kesehatan secara bersamaan.
Prevalensi dan Pola Kepekaan Bakteri Gram Negatif Multidrug Resistant dari Kultur Sputum Penyebab Infeksi Saluran Pernapasan Bawah Non-Tuberkulosis Tahun 2022-2023 Latar, Nurul Juwiyanti; Wikaningrum, Riyani; Armelia, Linda
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 3 (2025): Maret 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i3.4603

Abstract

Pendahuluan: Infeksi saluran pernapasan bawah non-tuberkulosis sering disebabkan oleh berbagai macam bakteri Gram negatif seperti Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas sp., dan Acinetobacter baumannii. Penggunaan antibiotik tanpa mengetahui bakteri penyebab dapat menyebabkan resistensi, termasuk multidrug-resistant (MDR), yang menyulitkan pengobatan serta meningkatkan risiko kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi dan pola kepekaan bakteri Gram negatif multidrug-resistant dari kultur sputum penyebab infeksi saluran napas bawah non-tuberkulosis. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan desain kohort retrospektif yang dilakukan di rumah sakit swasta di Kota Bekasi dari Juni 2022 hingga Desember 2023. Hasil: Didapatkan 72 isolat (88,9%) adalah bakteri Gram negatif MDR, sebanyak 47 pasien (67,1%) adalah laki-laki dengan mayoritas usia lebih dari 28 hari - 18 tahun (57,1%), 54,3% pasien meninggal. Acinetobacter baumannii merupakan isolat terbanyak, isolat tersebut 100% resisten terhadap cefazoline, ceftazidime, ceftriaxone, cefepime, meropenem, gentamicin, dan ciprofloxacin. Kesimpulan: Pada penelitian ini ditemukan bakteri MDR Gram negatif terbanyak adalah Acinobater baumannii yaitu 19 isolat (26,3%). Bakteri MDR Gram negatif rata-rata mengalami resistensi tinggi terhadap golongan antibiotik penicillin dan cephalosporin. Dan sensitif terhadap tigecycline dan amikacin
Angka Kejadian Hipotensi Intradialisis pada Pasien Hemodialisis Adela Syafa; Linda Armelia; Syam, Edward; TW, Afrizal
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.4752

Abstract

Hipotensi intradialisis (HID) merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien hemodialisis, namun data epidemiologi di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis angka kejadian dan faktor-faktor yang mempengaruhi HID pada pasien hemodialisis. Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 67 pasien hemodialisis di Rumah Sakit Hermina Bekasi yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui penelusuran rekam medis, mencakup karakteristik demografis dan pengukuran tekanan darah pada fase predialisis, intradialisis, dan postdialisis. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian HID mencapai 29,9%, dengan distribusi fase tekanan darah: predialisis (67,2% normotensi, 32,8% hipertensi), intradialisis (29,9% hipotensi, 43,3% normotensi, 26,9% hipertensi), dan postdialisis (9,0% hipotensi, 82,0% normotensi, 9,0% hipertensi). Faktor usia (p=0,021) dan tekanan darah baseline (p=0,000) menunjukkan korelasi signifikan dengan kejadian HID, sementara berat badan tidak menunjukkan hubungan signifikan (p=0,750). Kelompok usia >60 tahun memiliki risiko HID tertinggi (50,0%). Hasil penelitian ini memberikan pemahaman komprehensif tentang epidemiologi HID dan faktor risikonya, yang dapat digunakan untuk mengembangkan strategi pencegahan dan manajemen yang lebih efektif pada pasien hemodialisis.
Komplikasi Intradialitik pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Dwi Cahyani, Intan; Armelia, Linda
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 5 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i5.4783

Abstract

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan kerusakan ginjal yang terjadi akibat kelainan struktur dan fungsi ginjal yang menetap lebih dari 3 bulan. PGK menyebabkan penurunan laju fungsi ginjal secara progresif. Hemodialisis adalah salah satu bentuk terapi pengganti ginjal (TPG) dengan menggunakan teknologi inovatif untuk meningkatkan pembersihan zat terlarut yang berperan dalam menyaring darah dilengkapi dengan peralatan buatan untuk membuang kelebihan air dan racun dan menjamin terpeliharanya homeostatis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui komplikasi intradialitik yang dapat terjadi pada pasien yang rutin menjalani hemodialisis. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan di RS Hermina Bekasi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RS Hermina Bekasi berjumlah 68 orang menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien dan dianalisis secara univariat dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian paling banyak yaitu 25 orang (36,8%) responden memiliki usia lansia awal, paling banyak yaitu 36 orang (52,9%) responden dengan jenis kelamin perempuan dan paling banyak yaitu 18 orang (26,5%) responden memiliki komplikasi hiperglikemia. Saran dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisa secara komperhensif faktor lain yang dapat menimbulkan komplikasi pada pasien menjalani hemodialisis.