Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pembuatan Karbon Aktif Termodifikasi Surfaktan Sodium Lauryl Sulphate (SMAC-SLS) dari Tempurung Kelapa Menggunakan Aktivator ZnCl2 dan Gelombang Mikro Sebagai Adsorben Kation Pb(II) Anisyah Anisyah; Arnelli Arnelli; Yayuk Astuti
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 1, No 1 (2021): Volume 1 Issue 1 tahun 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.301 KB) | DOI: 10.14710/gjec.2021.10733

Abstract

Penelitian tentang modifikasi karbon aktif tempurung kelapa dengan surfaktan sodium lauryl sulphate (SLS) telah dilakukan sebagai adsorben logam Pb(II). Penelitian ini bertujuan untuk membuat material baru Surfactant Modificated Activated Carbon (SMAC) dari tempurung kelapa yang lebih unggul dari karbon aktif untuk adsorben logam Pb(II).  Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, tahap pertama adalah  karbonisasi tempurung kelapa mengunakan pirolisis pada temperatur 400oC selama 1 jam, tahap kedua aktivasi menggunakan ZnCl2 30% dan radisasi gelombang mikro dengan daya bervariasi 80 -800 W selama waktu bervariasi 1 – 9 menit, tahap ketiga modifikasi karbon aktif menggunakan SLS 60 ppm selama 4 jam dan selanjutnya tahap aplikasi SMAC untuk adsorben logam Pb. Karakterisasi SMAC dilakukan adalah dengan FTIR, GSA, SEM dan data termodinamika. keberhasilan adsorpsi SMAC diukur dengan menentukan kapasitas adsorpsi.  Hasil modifikasi menunjukkan karbon aktif dapat mengadsorpsi SLS sebesar 1,496 mg/g. Karakterisasi SMAC  dengan FTIR menunjukkan adanya pucak S=O pada bilangan gelombang 1341 cm-1, karakterisasi dengan GSA menunjukkan luas area SMAC lebih kecil dari karbon aktif yaitu sebesar 3,924 m2/g, morfologi permukaan SMAC sebagian besar tertutup oleh surfaktan SLS dan data termodinamika memberikan nilai entalpi sebesar -10,282 kJ/mol yang menunjukkan interaksi antara karbon aktif dan SLS merupakan interaksi atau adsorpsi secara fisik. SMAC efektif mengadsorpsi logam Pb(II) dengan efisiensi sebesar 99,89% dan kapasitas sebesar 1,498 mg/g dan interaksi antara SMAC dengan kation Pb (II) merupakan interaksi elektrostatis.Kata Kunci: SMAC, Kapasitas Adsorpsi, kation Pb
Use of Microwave Radiation for Activating Carbon from Rice Husk Using ZnCl2 Activator Arnelli Arnelli; Ulya Hanifah Henrika Putri; Fandi Nasrun Cholis; Yayuk Astuti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 22, No 6 (2019): Volume 22 Issue 6 Year 2019
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3324.307 KB) | DOI: 10.14710/jksa.22.6.283-291

Abstract

Activated carbon is one of the most commonly used adsorbents in a variety of separation processes because it is inexpensive, and also the design and principal of application are quite simple. The ability of activated carbon as an adsorbent is related to its large surface area and pore volume, varying pore structure, and diverse surface reactivity. The use of microwave radiation can further improve the efficiency of activated carbon adsorption. Micro-waves can affect the pore texture and surface of the activated carbon, but rarely do both practitioners and researchers control these variables influencing the relationship between features and performance of biomass-based activated carbon as an adsorbent at the time of manufacture from the initial stage (carbonation) to carbon application active (e.g., adsorption of heavy metals, surfactants, and organic molecules). This study aims to synthesize activated carbon from rice husk, which has the efficiency and capacity of adsorption of heavy metals such as Pb and activator organic molecules used is ZnCl2 30% and microwave radiation. This research has succeeded in making activated carbon using the ZnCl2 activator and microwave radiation. The time and power of microwave radiation that provides the highest efficiency in the carbon activation process for Pb ion adsorbate, were 7 minutes and 800 W. For phenol adsorbate was 5 minutes at 800 W. The highest efficiency time and concentration of adsorption for Pb ion adsorbate were 40 minutes at 60 ppm while for phenol adsorbate were 5 hours at 100 ppm. The adsorption efficiency for Pb cation adsorbate was 99.57%. While for phenol adsorbate is 81.05%. Characterization with FTIR, SEM-EDX, and SAA showed a C-Cl bond, the pores were visible, and an increased surface area of activated carbon was 36.9 times the surface area of carbon and the pores formed were mesoporous.
Pemanfaatan Surfaktan Kationik Hasil Sublasi sebagai Molekul Pengarah pada Pembuatan Material Berpori dari Sekam Padi Endah Wulan Juni; Arnelli Arnelli; Sriatun Sriatun
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 15, No 1 (2012): Volume 15 Issue 1 Year 2012
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.496 KB) | DOI: 10.14710/jksa.15.1.24-28

Abstract

Penelitian pemanfaatan surfaktan kationik dari hasil sublasi sebagai molekul pengarah pada pembuatan material berpori dari sekam padi Telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi surfaktan dari hasil sublasi terhadap karakter material hasil sintesis. Proses sublasi dilakukan untuk memisahkan surfaktan kationik dari larutan dan menghasilkan surfaktan kationik dari golongan ammonium kuarterner dengan CMC (Konsentrasi Misel Kritis) 2,1 g/L. Surfaktan kationik divariasi konsentrasi yaitu di bawah CMC (M1) = 1 g/L, pada CMC (M2) = 2,1 g/L dan di atas CMC (M3) = 10,5 g/L. Hasil XRD menunjukkan bahwa hasil sintesis merupakan padatan kristal. Hasil BET menunjukkan luas permukaan, volume pori total dan radius pori dari masing-masing hasil sintesis berturut-turut adalah 7,18 m2/g; 4,21 x 10-3 cm3/g; 11,721 Å untuk M1; 9,81 m2/g; 5,66 x 10-3 cm3/g; 11,54 Å untuk M2 dan 9,06 m2/g; 5,07 x 10-3 cm3/g; 11,196 Å untuk M3. Konsentrasi surfaktan kationik pada CMC (M2) menghasilkan material berpori dengan luas permukaan dan volume pori paling tinggi relatif terhadap M1 dan M3. Komposisi mineral material hasil sintesis berupa campuran dari natrium silikat hidrat, aluminum hidrogen silikat, dan natrium hidrogen silikat hidrat. Material hasil sintesis adalah mesopori dengan diameter pori rata-rata 22 Å.
Detergensi Natrium Dodesilbenzen Sulfonat dengan Penambahan Natrium Tripolifosfat dan Variasi pH Briyanto Briyanto; Arnelli Arnelli; Ahmad Suseno
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 13, No 1 (2010): Volume 13 Issue 1 Year 2010
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.637 KB) | DOI: 10.14710/jksa.13.1.8-11

Abstract

Detergensi dapat ditingkatkan dengan penambahan natrium tripolifosfat dan mengatur pH pada saat pencucian. Detergensi yang dipelajari adalah detergensi natrium dodesilbenzen sulfonat hasil sintesis. Natrium dodesilbenzen sulfonat diperoleh dengan reaksi alkilasi, sulfonasi dan netralisasi. Produk dianalisis menggunakan FTIR dan uji detergensi produk dilakukan dengan mencuci kain katun dengan ukuran 10x10 cm yang telah dikotori dengan kotoran standar tanpa dan dengan penambahan natrium tripolifosfat dan variasi pH. Produk sintesis yang diperoleh berupa kristal abu- abu sebanyak 2,83 gram (rendemen 48,38 %). Pada uji detergensi, diperoleh bahwa daya detergensi optimum dari natrium dodesilbenzen sulfonat pada penambahan 70% natrium tripolifosfat. Semakin bertambahnya pH, semakin meningkatkan detergensi dan maksimum pada pH = 11,5
Formulasi Larutan Pencuci dari Surfaktan Hasil Sublasi Limbah Laundry Puspitasari Puspitasari; Arnelli Arnelli; Ahmad Suseno
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 16, No 1 (2013): Volume 16 Issue 1 Year 2013
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.64 KB) | DOI: 10.14710/jksa.16.1.11-16

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang perumusan cairan pencuci dari surfaktan sublasi dari  limbah laundry. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formula cairan pencuci hasil surfaktan substitusi dari limbah cucian dan detergensi optimal dari cairan pencuci yang diformulasikan. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk mendapatkan surfaktan dari air limbah bekas adalah metode sublasi. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu sublasi limbah cucian, karakterisasi surfaktan, dan uji detergensi. Penentuan jumlah surfaktan menggunakan metode MBAS, penentuan kelompok fungsional surfaktan menggunakan FTIR, detergensi dengan sublasi surfaktan dengan memvariasikan pH, Sodium Tripoly Phosphate (STPP), Carboxyl Methyl Cellulose (CMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa surfaktan yang berasal dari proses sublasi adalah alkilbenzena sulfonat lurus (LAS). Hal ini ditunjukkan oleh spektrum FTIR yang menunjukkan beberapa kelompok fungsi seperti alkil, sulfonat dan pengganti cincin aromatik. Surfaktan anionik mengalami penurunan sebesar 81,43%. Hasil uji detergensi diperoleh detergensi optimum 90,49%, formula cairan pembersih 21% surfaktan, STPP 60%, pH 10,5, 1% CMC.Telah dilakukan penelitian tentang perumusan cairan pencuci dari surfaktan sublasi dari  limbah laundry. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formula cairan pencuci hasil surfaktan substitusi dari limbah cucian dan detergensi optimal dari cairan pencuci yang diformulasikan. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk mendapatkan surfaktan dari air limbah bekas adalah metode sublasi. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu sublasi limbah cucian, karakterisasi surfaktan, dan uji detergensi. Penentuan jumlah surfaktan menggunakan metode MBAS, penentuan kelompok fungsional surfaktan menggunakan FTIR, detergensi dengan sublasi surfaktan dengan memvariasikan pH, Sodium Tripoly Phosphate (STPP), Carboxyl Methyl Cellulose (CMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa surfaktan yang berasal dari proses sublasi adalah alkilbenzena sulfonat lurus (LAS). Hal ini ditunjukkan oleh spektrum FTIR yang menunjukkan beberapa kelompok fungsi seperti alkil, sulfonat dan pengganti cincin aromatik. Surfaktan anionik mengalami penurunan sebesar 81,43%. Hasil uji detergensi diperoleh detergensi optimum 90,49%, formula cairan pembersih 21% surfaktan, STPP 60%, pH 10,5, 1% CMC.
Synthesis of Zeolite from Sugar Cane as Detergent Builder: Variation of Si/Al Ratio and Hydrothermal TimeSynthesis of Zeolite from Sugar Cane as Detergent Builder: Variation of Si/Al Ratio and Hydrothermal Time Arnelli Arnelli; Noor Afifah; Narita Rizki; Tri Windarti; Yayuk Astuti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 1 (2018): Volume 21 Issue 1 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.492 KB) | DOI: 10.14710/jis.%v.%i.%Y.254-264

Abstract

Synthesis of zeolite from bagasse with variation of Si / Al ratio (1,2,1,4,1,6 and 1,8) with ZS1-ZS5 code and hydrothermal time (160, 190, 250, 340, and 460 minutes) with sample code ZSa - ZSe has been conducted. The synthesized zeolite was then applied to the detergent builder. The detergent builder of synthetic zeolite was used as a substitute for sodium tripolyphosphate, which is not environmentally friendly as it can lead to eutrophication. One of the detergent builder functions is to improve the washing efficiency of the surfactant by inactivating water-absorbing minerals (Ca2+ and Mg2+ ions) which may further deter the detergency process. Zeolites were synthesized using a sol-gel method followed by a hydrothermal process. The material used in this synthesis is Na2SiO3 (aq) (derived from bagasse) mixed with NaAl(OH)4 (aq), then stirred to form a white gel and continued by heating using autoclave at 100°C. The results obtained are zeolite-A and zeolt-X for variation of Si/Al ratio and hydrothermal time variation, with CEC value and detergency proportional to Si/Al ratio and hydrothermal time.
Adsorption of HDTMA-Br surfactant with concentration variation by rice husk-based activated carbon produced by variation of carbonization temperature Galih N. R. Pargiman; Arnelli Arnelli; Yayuk Astuti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 4 (2018): volume 21 Issue 4 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1893.419 KB) | DOI: 10.14710/jksa.21.4.171-174

Abstract

Research has been conducted on the adsorption of HDTMA-Br surfactant by rice husk-activated carbon with variation of carbonization temperature and concentration of HDTMA-Br. This study aims to produce surfactant modified activated carbon (SMAC), therefore it is necessary to determine the influence of carbonization temperature to the adsorption capability of activated carbon on HDTMA-Br surfactant by identifying the amount of HDTMA-Br surfactant absorbed, to characterize the characters of carbon, activated carbon and activated carbon adsorbing surfactant using FTIR and SAA. Carbonization was carried out by pyrolysis with temperature variations of 300, 350 and 400°C. The carbon produced was activated using 60% H3PO4 for 1 hour. After that, the activated carbon was applied to adsorb HDTMA-Br surfactant by varying the concentration that were 300, 1100, 1900, 2700, 3500 and 4300 ppm. The results showed that HDTMA-Br adsorbed tended to increase by increasing the concentration of surfactant. In addition, the best carbonization temperature showing high adsorption capability of activated carbon was at 300°C. FTIR spectra of activated carbon showed the presence of P = O peak; at the SMAC sampel there was peak of N-(CH3)3 with different intensities in three samples. Moreover, SAA analysis showed that the surface area of activated carbon increased compared to carbon and slightly decreased after the activated carbon absorbed HDTMA-Br.
Adsorpsi Ion Bikromat pada Zeolit Alam Modifikasi Surfaktan Kation Hexadecyltrimethylammonium (HDTMA+) Mariza Umi Darmayanti; Ahmad Suseno; Arnelli Arnelli
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 12, No 3 (2009): Volume 12 Issue 3 Year 2009
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.544 KB) | DOI: 10.14710/jksa.12.3.98-102

Abstract

Potensi cadangan zeolit alam Indonesia yang melimpah belum optimal pemanfaatannya pada berbagai aplikasi di masyarakat. Upaya untuk meningkatkan daya guna zeolit alam telah dilakukan penelitian dengan memodifikasi zeolit alam sebagai bahan adsorben ion bikromat menggunakan metode pertukaran kation. Sifat muatan negatif yang dimiliki permukaan zeolit akan distabilkan oleh adanya kation penyeimbang. Kation penyeimbang tersebut pada dasarnya dapat digantikan oleh kation lain melalui pertukaran kation. Kation yang digunakan dalam memodifikasi permukaan zeolit alam bayat klaten adalah Hexadecyltrimethylammonium (HDTMA+). Karakterisasi terhadap modifikasi zeolit tersebut dilakukan menggunakan FTIR. Uji adsorpsi dilakukan terhadap ion bikromat pada zeolit alam dan zeolit hasil modifikasi. Pengukuran konsentrasi ion bikromat yang teradsorpsi menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (AAS) serta penentuan kapasitas adsorpsi maksimum dihitung dengan metode isotherm Langmuir. Dari penelitian diperoleh spectra FTIR yang menunjukkan bahwa modifikasi dengan (HDTMA+) pada zeolit alam telah berhasil dilakukan dengan munculnya puncak 2850,55 cm-1 dan 2919,39 cm-1 yang merupakan rentangan simetris dan asimetris uluran CH2 amina dan surfaktan (HDTMA+). Pada penentuan konsentrasi ion bikromat menggunakan AAS yang di interpretasikan dengan isotherm Langmuir diperoleh kapasitas adsorpsi maksimum untuk zeolit alam sebesar 3,278 mg/g dan zeolit modifikasi sebesar 3,484 mg/g.
Telaah Surfaktan untuk Proses Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Profil Adsorpsi Surfaktan A-Olefin Sulfonates (AOS) Rohayati Juita; Arnelli Arnelli; Yusniati Yusniati
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 1 (2016): Volume 19 Issue 1 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.539 KB) | DOI: 10.14710/jksa.19.1.27-31

Abstract

Telaah surfaktan untuk proses enhanced oil recovery (EOR) dan profil adsorpsi surfaktan a-Olefin Sulfonates (AOS) telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis surfaktan yang dapat digunakan untuk proses enhanced oil recovery (EOR) dan mengetahui profil adsorpsi surfaktan. Penelitian ini terbagi 2 tahap, yaitu tahap pertama adalah screening surfaktan, tahap kedua adalah adsorpsi surfaktan dalam batuan sandstone dan limestone. Screening surfaktan yang dilakukan, meliputi: uji pelarutan di mana surfaktan dilarutkan dalam akuades. Uji compatibility di mana surfaktan dilarutkan dalam air dan formasinya diamati selama 3 hari. Uji thermal stability di mana surfaktan yang lolos compatibility dipanaskan 80°C selama 8 minggu. Adsorpsi surfaktan dilakukan di dalam batuan sandstone (batu pasir silika), pasir bangka, pasir malang dan limestone (batu kapur). Batuan direndam selama 168 jam dalam larutan surfaktan S24 (a-Olefin Sulfonates) 0,6%; 1,2%; 1,8%, disaring kemudian disentrifuge dan diukur absorbansinya dengan spektroskopi UV-Vis. Surfaktan AOS 0,6% dalam batu pasir silika dan surfaktan AOS 1,8% dalam pasir malang tidak teradsorpsi, sehingga cocok untuk proses enhanced oil recovery (EOR).
Synthesis of Zeolite from Bagasse and Rice Husk Ashes as Surfactant Builder on Detergency Process: Variation of NaOH Concentration for Silica Isolation Arnelli Arnelli; Bara Yunianto Fathoni; Teguh Iman Prastyo; Ahmad Suseno; Yayuk Astuti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 3 (2018): Volume 21 Issue 3 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2326.808 KB) | DOI: 10.14710/jksa.21.3.139-143

Abstract

Zeolite was successfully synthesised from ash bagasse and from rice husk ash as source of silica and applied to surfactant builder. The removal of silica from bagasse ash and from rice husk ash was influenced by NaOH concentration to obtain sodium silicate. This research aimed to synthesize zeolite, determine the optimum concentration of NaOH to synthetic zeolite, identify the zeolite mineral type, morphology, determine cation exchange rate and detergency by using synthesized zeolite as builder. Synthesis of zeolite was undertaken by sol-gel method followed by hydrothermal process. The stages of this study included the production of bagasse and rice husk ashes, isolation of silicate using a variation of NaOH concentration of 1.67, 3.33, 5.00, 6.67 and 8.30 M in the form of sodium silicate. Synthesis of zeolite was carried out by reacting sodium silicate and sodium aluminate using hydrothermal method. The synthesized zeolites were characterized using XRD and SEM. The results of this research indicated the types of zeolite minerals formed, namely, zeolite A, Na-A, Na-Y and sodalite. The morphology of the synthesized zeolites from both samples was quite homogeneous, NaOH concentration used to produce zeolite from bagasse ash was 1.67 M with value of cation exchange capacity (CEC) and detergency were respectively 121.14 mek/100 gram and 92.09% while synthesis zeolite from rice husk ash was generated using 8.3 M NaOH concentration with value of cation exchange capacity (CEC) and detergency were 65,71 mek / 100 gram and 94,313%, respectively.