Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Kambing Kacang di Kampung Aimasi Distrik Aimasi Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat Sherly Nuryuhana; Nani Zurahmah; Gallusia Marhaeny Nur Isty
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 2 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i2.941

Abstract

Latar belakang: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari lebih lanjut tentang perawatan kambing kacang yang benar dan untuk mengetahui apakah peternak telah menerapkan praktik manajemen yang efektif dalam beternak kambing. Metode: Penelitian dilakukan selama tiga bulan di Kampung Aimasi, Distrik Aimasi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, pada bulan Maret hingga Mei 2024. Metode pengumpulan data yang digunakan ialah observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan sumber data primer dan sekunder. Ada dua puluh ekor kambing kacang di kampung aimasi tersebut. Sampel berjumlah enam belas orang peternak kambing kacang diperoleh dengan menerapkan rumus Slovin dengan margin of error 10%. Jenis analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu mendeskripsikan hasil instrumen wawancara yang diungkapkan secara lisan. Faktor penelitian meliputi limbah, peternakan, pakan, bibit, dan kesehatan dalam kaitannya dengan manajemen pemeliharaan kambing kacang. Hasil: Temuan studi ini menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan intensif yang digunakan dalam konteks ini selalu terkendali dan tidak terekspos. Penting untuk mempertimbangkan faktor internal dan eksternal ketika memilih benih untuk ditanam. 10% dari berat badan hewan harus diberi makan dengan benar. Peternak dapat lebih mudah merawat dan membersihkan kandang dengan kandang panggung yang kokoh. Kambing yang menderita kembung sering kali menunjukkan gejala rasa lapar yang menurun, hewan yang gelisah, dan perut bagian kiri yang menggembung. Agar mendapatkan hasil yang lebih bermanfaat ketika dimanfaatkan, limbah ternak perlu diolah terlebih dahulu. Kesimpulan: Mulai dari bibit, pakan, tempat berlindung, kesehatan hingga limbah, dipastikan bahwa peternak telah menerapkan manajemen pemeliharaan kambing yang tepat. Faktor-faktor seperti jumlah pendidikan, jumlah hewan yang dimiliki, dan lamanya beternak juga dapat berdampak pada pengelolaan peternakan kambing.
Analisis Ekonomi Peternakan Kambing di Kampung Aimasi Distrik Aimasi Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat Selvia Indra Sari; Nani Zurahmah; Gallusia Marhaeny Nur Isty
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 2 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i2.942

Abstract

Latar belakang: Di Kampung Aimasi, distrik Aimasi, Kabupaten Manokwari, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi keuntungan usaha serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi peternakan kambing. Metode: Penelitian dilakukan di Desa Aimasi, Kecamatan Aimasi, selama tiga bulan, yaitu pada bulan Maret hingga Mei 2024. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dokumentasi, wawancara, dan observasi. Sumber data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Terdapat tiga puluh peternak kambing dalam populasi tersebut. Diperlukan sampel sebanyak dua puluh tiga, dan sampel ini ditemukan menggunakan rumus Slovin dengan margin kesalahan 10%. Analisis kuantitatif dengan metode penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang diungkapkan secara lisan dengan menggunakan analisis keuntungan yang ditinjau dari biaya tetap, biaya variabel, pendapatan, Revenue Cost Ratio (R/C), Break Event Point (BEP), dan Biaya Produksi merupakan teknik analisis data yang digunakan. dalam penelitian ini. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R/C sebesar 3,8 dan 3,0 tergantung pada jumlah ternak yang dimiliki; nilai BEP Rupiah >10 ekor Rp54.865.789 dan <10 ekor Rp59.910.919; nilai HPP >10 ekor Rp. 384.466.825 dan <10 ekor Rp 932.442.529. Kesimpulan: Berdasarkan perhitungan analisis keuangan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan Desa Aimasi layak untuk dikembangkan karena nilai yang dihasilkan melebihi biaya produksi. Temuan ini menunjukkan bagaimana sifat-sifat peternak mempunyai dampak yang signifikan terhadap bisnis yang dijalankan. Secara khusus, hal ini menunjukkan bagaimana proses produksi berkorelasi kuat dengan faktor usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman bertani.
Nilai Ekonomis Pakan Kelinci dari Limbah Pertanian Berbasis Hay Multinutrient Waffle Lutfiaji Syaefullah, Bangkit; Muhammad Fachry Hidayat; Susan Carolina Labatar; Okti Widayati; Gallusia Marhaeny Nur Isty
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 2 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i2.1066

Abstract

Latar belakang: Limbah pertanian memiliki potensi yang baik untuk dijadikan pakan ternak kelinci. Karena beberapa limbah pertanian masih memiliki kandungan nutrisi yang cukup bagus, sehingga bagus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak kelinci. Metode: Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, dan menggunakan 4 parameter penelitian, yaitu, BEP Produksi, BEP harga, R/C, dan Rentabilitas rasio. Hasil: Hasil dari BEP produksi P1, P2, P3, berturut-turut 5,64, 5,66, 5,67. BEP produksi yang paling menguntungkan terdapat pada P1 dengan berat 5,64 kg. Hasil dari BEP harga P1, P2, P3, berturut turut Rp. 4.702, Rp. 4.713, Rp. 4.726. BEP harga yang paling menguntungkan terdapat pada P1 dengan harga Rp. 4.702. Hasil dari R/C rasio P1, P2, P3, berturut-turut 3,77, 3,74, 3,71. Nilai R/C rasio paling layak diusahakan terdapat pada P1 yaitu 3,77. Hasil Rentabilitas P1, P2, P3 berturut-turut 2,77, 2,74, 2,71. Nilai Rentabilitas paling layak diusahakan terdapat pada P1 yaitu 2,77. Dari 3 percobaan analisis ekonomi hay multinutrient waffle, menunjukan semua percobaan menguntungkan dan layak diusahakan, namun dari 3 komposisi percobaan, ada percobaan yang paling ekonomis yaitu terdapat di P1 karena BEP produksi menunjukan produksi paling rendah yaitu 5,64 kg, kemudian untuk BEP harga mempunyai nominal harga lebih rendah dari percobaan lainnya yaitu Rp.4.702/kg, sehingga lebih cepat untuk mencapai titik impas, kemudian mempunyai nilai R/C rasio 3,77 maka usaha tersebut layak di usahakan, dan Rentabilitas memiliki nilai 2,77 sehingga layak untuk diusahakan. Kesimpulan: Penggunaan limbah pertanian kacang tanah bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan baku pembuatan pakan hay.
Physical and protein characteristics of rabbit meat fed multinutrient hay waffles Gallusia M.N. Isty; Okti Widayati; Bangkit L. Syaefullah
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 16 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v16i2.616

Abstract

The quality of the meat generated as a byproduct of rabbit fattening is related to the feed quality. The physical qualities of meat are one of the feed-related elements that customers evaluate when purchasing meat. Colour, tenderness, pH, water retention capacity, and cooking loss are all important markers of meat quality. The goal of this study was to look at the physical characteristics of rabbit meat given hay-based multinutrient waffles. During a two-month feeding trial, 18 female Hycole rabbits were separated. The characteristics studied included pH, softness, cooking loss, protein content, and water holding capacity. Data were examined using SPSS, and if significant differences were found, the Dunnett test was used to do additional analysis. The findings revealed that feeding hay-based multinutrient waffles had no significant effect on pH or cooking loss, but had a substantial impact on softness, protein content, and WHC. since a result, using hay-based multinutrient waffles in rabbit diets may be regarded economically viable, since it maintains meat quality comparable to commercial pellets and forage.