Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Edukasi Pemanfaatan Rempah Sebagai Minuman Untuk Pencegahan Covid-19 Di Kelurahan Debong Kulon Trimar Handayani; Dwi Uswatun Khasanah
Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstormin
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/japhb.v4i3.2349

Abstract

Pandemi Covid-19 yang sedang melanda semua negara termasuk Indonesia membutuhkan penanganan yang cepat untuk memutus mata rantai penularannya. Cara pencegahan yang dapat digunakan antara lain dengan meningkatkan daya tahan tubuh atau imunitas individu. Peningkatan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengkonsumsi rutin minuman yang terbuat dari rempah-rempah yang banyak terdapat di Indonesia. Penggunaan dan pengelolaan rempah-rempah secara campuran/gabungan akan memberikan efek maksimal dalam membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta tentang Covid-19 dan manfaat rempah serta menambah keterampilan peserta dalam pemanfaat rempah sebagai bahan minuman empon-empon. Metode yang digunakan meliputi edukasi dan praktek langsung pembuatan minuman secara daring dengan menggunakan media aplikasi Whatsapp dan Zoom. Evaluasi diukur dari peningkatan pengetahuan dan keterampilan sebelum dan sesudah pelaksanaan pengabdian masyarakat. Hasil yang dicapai setelah pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan tingkat kepuasan yang baik dari para peserta. Setelah kegiatan berlangsung peserta mulai memanfaatkan dan dapat mengaplikasikan pembuatan minuman empon-empon dari rempah-rempah untuk diminum rutin selama masa pandemi.
HUBUNGAN KEBIASAAN MINUM TEH TERHADAP KANDUNGAN KALSIUM OKSALAT URINE Trimar Handayani; Sadar Prihandana; Cuciati Cuciati; Ahmad Baequni
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v13i1.349

Abstract

Kebiasaan minum teh pada masyarakat tegal sudah menjadi tradisi turun temurun dan dilakukan hampir setiap hari. Didalam teh ini terdapat kandungan oksalat dan kalsium. Jika asupan makanan yang mengandung oksalat melebih batas kebutuhan tubuh, maka oksalat bebas dan kalsium dapat mengendap di urine dan membentuk kristal kalsium oksalat. Hal ini lambat laun dapat menyebabkan kejadian batu di ginjal. Tujuan penelitian ini adalah mencoba melihat apakah ada hubungan kebiasaan minum teh terhadap kandungan kalsium oksalat urine pada responden yang diteliti. Metode yang digunakan dengan memberikan kuesioner untuk mengetahui kebiasaan minum teh pada responden kemudian dilakukan pengambilan sampel urine untuk memeriksa kandungan kalsium oksalat pada urine responden tersebut. Sampel diperiksa dengan metode mikroskopis di laboratorium Dinkes Kota Tegal. Jumlah responden sebanyak 30 orang yang merupakan pegawai kantor di instansi Pemerintah Kota Tegal. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif analitik. Hasil penelitian untuk masing-masing variabel dalam kebiasaan minum teh menunjukkan nilai p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kebiasaan minum teh terhadap kandungan kalsium oksalat dalam urine. Ada banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya kalsium oksalat urine sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut lagi dimasa yang akan datang.
Edukasi Manajemen Stress Pada Orang Tua Siswa dan Guru Sekolah Dasar Di Era New Normal Pandemi Covid-19 di Kota Tegal Cuciati Cuciati; Dwi Uswatun Khasanah; Trimar Handayani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i3.5567

Abstract

ABSTRAK Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi online (Pembelajaran jarak jauh) pada fase pandemi covid-19 membuat orangtua siswa merasa stres ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugas, disamping harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing- masing di tengah krisis. Edukasi merupakan cara terbaik dalam mengatasi stres orangtua. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orangtua siswa dan guru sekolah dasar di kota Tegal. Metode yang digunakan ada beberapa tahap yaitu sosialisasi dilakukan untuk menyampaikan tujuan dari kegiatan, pemaparan materi edukasi bertujan untuk meningkatkan pengetahuan orangtua siswa, pendampingan dilakukan untuk mengetahui perkembangan psikologi responden dan Evaluasi bertujan untuk mengetahui keberhasilan dari kegiatan. Hasil dari kegiatan ini efektif, terlihat antusias peserta dalam mengajukan pertanyaan, Adanya penurunan tingkat stress pada 30 responden. Sebelum diberikan edukasi dari 30 responden sebagian besar memiliki tingkat stress sedang yaitu (46,7%) sedangkan yang mengalami stres ringan sebesar (44,3%) dan normal (10%). sedangkan setelah dilakukan edukasi didapatkan hasil sebagian besar responden memiliki nilai normal (93,3 %) tingkat stres ringan (6,6%). Kata kunci: orangtua siswa; edukasi; manajemen stres ABSTRACT The change in the learning system from face-to-face to online (distance learning) in the COVID-19 pandemic phase made parents feel stressed when accompanying the learning process with assignments, in addition to having to think about the survival of their respective lives and jobs in the midst of a crisis. Education is the best way to deal with parental stress. This activity aims to increase the knowledge of parents and elementary school teachers in the city of Tegal. The method used has several stages, namely, socialization is carried out to convey the purpose of the activity, exposure of educational material aims to increase the knowledge of parents of students, assistance is carried out to determine the psychological development of respondents and evaluation aims to determine the success of the activity. The results of this activity were effective, the participants seemed enthusiastic in asking questions. There was a decrease in stress levels in 30 respondents. Before being given education, most of the 30 respondents had moderate stress levels (46.7%) while those who experienced mild stress were (44.3%) and normal (10%). while after education, the results showed that most of the respondents had normal values (93%) with mild stress levels (2%).                                                                                          Keywords: parents of students; education; stress management
Pelatihan Deteksi Neuropati dan Senam Kaki untuk Mencegah Neuropati pada Pasien Diabetes Melitus (Dm) Trimar Handayani; Dwi Uswatun Khasanah; Sadar Prihandana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i11.7365

Abstract

ABSTRAK Adanya perubahan pola hidup dan didukung dengan kemudahan tehnologi jaman sekarang membuat angka penderita DM terus meningkat. Deteksi dini kemungkinan terjadinya komplikasi pada penderita DM dapat dilakukan dengan memberikan pengenalan terhadap komplikasi terutama tentang neuropati DM. Upaya ini merupakan salah satu tindakan promotive untuk meningkatkan kualitas hidup dari penderita DM, karena penyakit DM merupakan penyakit menahun yang diderita seumur hidup penderita. Selain itu, tujuan lain dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk memperkenalkan senam kaki khusus penderita DM untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan penderita DM dalam melakukan latihan mandiri di rumah, sehingga dapat mempertahankan sirkulasi darah dan kekuatan otot ekstermitas bawah. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah melakukan skrining awal dengan menggunakan Michigan Neuropati Screening Instrument (MNSI) pada penderita DM dengan hasil tes belum mengalami neuropati. Kemudian dilakukan edukasi dan pelatihan (ceramah tanya jawab, simulasi) tentang deteksi neuropati diabetik menggunakan metode Ipswich Touch Test (IpTT) dan senam kaki. Sasaran kegiatan adalah penderita DM yang terdata di puskesmas Randu Gunting dan masuk wilayah Kelurahan Debong Kulon Kota Tegal berjumlah 25 orang. Kuesioner pre-test dan post-test diberikan untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan peserta. Hasil yang didapatkan yaitu adanya peningkatan pengetahuan disertai ketrampilan peserta tentang deteksi dan senam kaki setelah mengikuti kegiatan. Peserta mampu memahami tentang neuropati serta mampu melakukan pemeriksaan IpTT dan senam kaki secara mandiri. Kata Kunci: Deteksi Neuropati, IpTT, Senam Kaki   ABSTRACT The existence of changes in lifestyle and supported by the easy of technology today makes the number of DM sufferers continue to increase. Early detection of possible complication in DM sufferers can be done by providing an introduction to complications, especially about DM neuropathy. This effort was one of the promotive actions to improve the quality of life of DM sufferers because DM was a chronic disease that suffered for the life of the patient. In addition, another purposed of this community service was to introduced foot exercises for DM to improve the knowledge and skills of DM sufferers in doing independent exercises at home to maintain blood circulation and lower extremity muscle strength. The method used in this activity was to conducted initial screening using the Michigan Neuropathy Screening Instrument (MNSI) in DM sufferers with test results who have not experienced neuropathy. Then, Education and training (question and answer lectures, simulation) were carried out on the detection of diabetic neuropathy using the Ipswich Touch Test (IpTT) method and foot exercises. The target of the activity was 25 DM sufferers who were recorded at the Randu Gunting Health Center and entered the Debong Kulon Village area of Tegal City. Pre-test and post-test questionnaires were administered to evaluate the improvement of participants’ knowledge. The results obtained were an increased in knowledge accompanied by participants’ skill about detection and foot exercises after participating in the activity. Participants were able to understand about neuropathy and to perform IpTT examination and foot exercises independently. Keywords: Neurophaty Detection, IpTT, Foot Exercises
HUBUNGAN KEBIASAAN MINUM TEH TERHADAP KANDUNGAN KALSIUM OKSALAT URINE Trimar Handayani; Sadar Prihandana; Cuciati Cuciati; Ahmad Baequni
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v13i1.349

Abstract

Kebiasaan minum teh pada masyarakat tegal sudah menjadi tradisi turun temurun dan dilakukan hampir setiap hari. Didalam teh ini terdapat kandungan oksalat dan kalsium. Jika asupan makanan yang mengandung oksalat melebih batas kebutuhan tubuh, maka oksalat bebas dan kalsium dapat mengendap di urine dan membentuk kristal kalsium oksalat. Hal ini lambat laun dapat menyebabkan kejadian batu di ginjal. Tujuan penelitian ini adalah mencoba melihat apakah ada hubungan kebiasaan minum teh terhadap kandungan kalsium oksalat urine pada responden yang diteliti. Metode yang digunakan dengan memberikan kuesioner untuk mengetahui kebiasaan minum teh pada responden kemudian dilakukan pengambilan sampel urine untuk memeriksa kandungan kalsium oksalat pada urine responden tersebut. Sampel diperiksa dengan metode mikroskopis di laboratorium Dinkes Kota Tegal. Jumlah responden sebanyak 30 orang yang merupakan pegawai kantor di instansi Pemerintah Kota Tegal. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif analitik. Hasil penelitian untuk masing-masing variabel dalam kebiasaan minum teh menunjukkan nilai p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kebiasaan minum teh terhadap kandungan kalsium oksalat dalam urine. Ada banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya kalsium oksalat urine sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut lagi dimasa yang akan datang.
Upaya Pencegahan Stunting pada Balita Melalui Pelatihan Pijat Bayi di Kelurahan Bandung Kota Tegal Cuciati, Cuciati; Uswatun, Dwi; Handayani, Trimar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.12693

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan terganggunya tumbuh kembang yang disebabkan oleh beberapa factor diantaranya kurangnya asupan nutrisi,  riwayat  berat  lahir  badan  rendah dan  riwayat  penyakit. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya stunting adalah dengan melakukan pemijatan pada balita. Pijat Bayi dapat dilakukan pada anak balita guna  meningkatkan  peredaran  darah,  meningkatkan fungsi koqnitif anak, meningkatkan hormone endorphin, memperbaiki fungsi vervus vagus, meningkatkan produksi enzim. Kurangnya pengetahuan orangtua tentang teknik pemijatan dan rasa takut ketika melakukan pemijatan pada balita. Tujuan kegiatan yakni meningkatan pengetahuan dan ketrampilan kader kesehatan dan ibu yang memiliki balita cara pencegahan stunting dan cara melakukan pijat bayi pada balita. Metode penelitian yang digunakan ada beberapa tahap yaitu koordinasi dan sosialisasi pada mitra, tahap kedua edukasi dan pelatihan pijat bayi, yang sebelumnya dilakukan pre test untuk mengukur pengetahuan tentang stunting dan dilakukan post test setelah selesai kegiatan. Tahap terakhir adalah evaluai melalui kunjungan ke posyandu. Hasil dari kegiatan ini efektif, terlihat antusias peserta dalam mengajukan pertanyaan dan mepraktekan cara memijat bayi, Adanya peningkatan pengetahuan tentang stunting dan cara pijat bayi pada 30 orang peserta. Sebelum diberikan edukasi dari 30 responden sebagian besar memiliki pengetahuan baik (43,3%) sedangkan pengetahuan  cukup (40,%) dan pengetahuan kurang  (16,6%), sedangkan setelah dilakukan edukasi didapatkan hasil sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (96,6%) dan pengetahuan cukup (3,3%). Edukasi dapat meningkatkan pengetahuan dan latihan langsung dapat meningkatkan antusias peserta untuk mengikuti kegiatan. Kata Kunci: Stunting, Pelatihan, Pijat Bayi  ABSTRACT Stunting is disruption of growth and development caused by several factors including lack of nutritional intake, history of low birth weight and history of disease. One effort to prevent stunting is by giving massage to toddlers. Baby Massage can be done on toddlers to increase blood circulation, improve children's cognitive function, increase endorphin hormones, improve vervus vagus function, increase enzyme production. Lack of parental knowledge about massage techniques and fear when giving massage to toddlers. Activities namely increasing the knowledge and skills of health cadres and mothers who have toddlers, how to prevent stunting and how to do baby massage on toddlers. There are several stages used, namely coordination and outreach to partners, the second stage is education and baby massage training, previously a pre-test was carried out to measure knowledge about stunting and a post-test was carried out after completing the activity. The final stage is evaluation through a visit to the posyandu. This activity was effective, the participants were enthusiastic in asking questions and practicing how to massage babies. There was an increase in knowledge about stunting and how to massage babies among 30 participants. Before being given education, the majority of the 30 respondents had sufficient knowledge, good knowledge (43.3%) while sufficient knowledge (40.%) and poor knowledge (16.6%), whereas after education the results were obtained that the majority of respondents had good knowledge (96.6%) and sufficient knowledge (3. 3%). Education can increase knowledge and direct training can increase participants' enthusiasm for participating in activities. Keywords: Stunting, Training, Baby Massage
EDUKASI STUNTING PADA IBU BALITA DI KELURAHAN BANDUNG KOTA TEGAL Cuciati Cuciati; Dwi Uswatun Khasanah; Trimar Handayani
Jurnal Inovasi Masyarakat Terupdate Vol. 1 No. 2 (2024): JIMAT
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimat.v1i2.11796

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan terjadi pada anak-anak dan balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dari usianya. Adapun dampak dari stunting jika tidak segera ditangani diantaranya mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal seperti lambat berbicara atau berjalan, hingga sering mengalami sakit.Salah satu faktor penyebab stunting adalah kurangnya pengetahuan tentang stunting. Pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatakan pengetahuan masyarakat tentang stunting. Metode yang digunakan yakni pemberian edukasi tentang stunting,adapun untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan ini, dilakukan pengisian kuesioner tentang stunting sebelum dan sesudah  kegiatan hal ini untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta. Jumlah peserta ada 30 orang terdiri dari kader kesehatan dan ibu yang memiliki balita. hasil dari kegiatan ini peserta sangat antusias mengikuti dalam mengikuti kegiatan, adapun hasil pengukran tingkat pengetahuan  Sebelum diberikan edukasi dari 30 responden sebagian besar memiliki  pengetahuan  baik yaitu (46,3%) sedangkan pengetahuan cukup (42,2%) dan pengetahuan kurang (11,5%). Setelah dilakukan edukasi didapatkan hasil sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (98,8%) dan pengetahuan cukup (1,2%) dari hasil tersebut dapat diarik keimpulan bahwa adanya peningkatan pengetahuan peserta tentang stunting.
PELATIHAN PERAWATAN KAKI DAN SENAM KAKI DM PADA KADER KESEHATAN DI KELURAHAN BANDUNG KOTA TEGAL Gayuh Siska Laksananno; Trimar Handayani; Sadar Prihandana
Jurnal Inovasi Masyarakat Terupdate Vol. 2 No. 1 (2025): JIMAT
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jimat.v2i1.12043

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu bentuk gangguan metabolisme dengan penderita yang mengalami kadar gula darah yang tinggi karena tubuh mereka tidak merespon atau memproduksi insulin yang tidak memadai sehingga hormon insulin tersebut tidak bisa membantu bekerja menstabilkan kadar gula darah (glukosa). Penyakit Diabetes melitus ini termasuk suatu penyakit tidak menular dan menahun seumur hidup sehingga membutuhkan perawatan yang konsisten dan berkelanjutan untuk mencegah lebih awal terjadinya komplikasi, salah satunya neuropati. Neuropati ini termasuk ke dalam komplikasi mikroangiopati.  Penatalaksanaan diabetes yang baik dalam jangka waktu panjang dapat membantu mencegah dan menghambat progresifitas penyulit mikroangiopati sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas DM.Tujuan dari dilaksanakannya pengabdian masyarakat di Kelurahan Bandung ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang neuropati dan cara mendeteksinya, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang cara perawatan kaki dan senam kaki untuk mencegah terjadinya injury ataupun luka diabetik. Sedangkan manfaat yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah pengetahuan, pemahaman dan kemampuan masyarakat tentang cara perawatan kaki dan senam kaki untuk mencegah terjadinya injury akan meningkat. Untuk mencapai tujuan kegiatan pengabdian masyarakat di Kelurahan Bandung Kota Tegal, dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain dengan metode ceramah yang Persuasif dan Edukatif serta pelatihan Hasil yag dicapai dari pengabdian masyarakat ini adalah tersedianya boklet atau modul tentang DM, komplikasi DM, neuropati, perawatan kaki dan senam kaki. Selain itu tersedia juga video yang dibuat oleh kader sebagai bukti bahwa hasil pelatihan telah diaplikasikan, seksligud menunjukkan telah terjadi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dari kader. Kata Kunci: diabetes melitus; neuropati: perawatan kaki; senam kaki
Hubungan Perawatan Kaki Terhadap Risiko Kejadian Ulkus pada Pasien Diabetes Melitus di RSUD Kardinah Kota Tegal Trimar Handayani; Sadar Prihandana; Hudinoto Eko Yudyarto
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i5.17619

Abstract

ABSTRACT Long-standing diabetes mellitus can cause neuropathy complications, namely the loss of sensory function due to damage to the peripheral and autonomic nervous systems, which begins distally in the lower extremities. This can cause ulcers or wounds due to several reasons, including anatomical changes, pressure area development, and trauma repeation during walking caused by sensitivity decreas of the foot nerves leading to skin damage. Therefore, prevention and foot care, initial screening, and health education about diabetic feet are necessary. However, this greatly depends on the patient’s level of compliance in carring out these actions independently at home. Regular foot care is suspected not to be the main factor in preventing the risk of diabetic ulcers. Therefore, the study aims to identify the relationship between foot care and the risk of ulcers in DM patients in Kardinah Hospital Tegal. The method used involved administering a questionnaire to determine the home foot care habits of diabetic patients, followed by a physical examination of the feet as well as Ipswich Test (IpTT) and the Michigan Neuropathy Screening Instrument (MNSC). The total number of respondents were 51 people, that the population of the patients where from the internal medicine clinic. The research design used a descriptive analytic method. The obtained statistical test result revealed a p-value of 0.35. Thus, it can be concluded that there is no significant relationship between foot care and the risk of diabetic ulcers occurrence. Keywords: Foot Care, Risk of DM Ulcers, Neuropathy  ABSTRAK Diabetes Melitus yang berlangsung lama dapat menyebabkan komplikasi neuropati yaitu hilangnya fungsi sensorik akibat kerusakan system saraf perifer dan otonom yang dimulai secara distal pada ekstermitas bawah. Hal ini dapat menyebabkan ulkus atau luka karena beberapa penyebab antara lain: perubahan anatomi, bertambahnya area yang mengalami penekanan serta terjadinya trauma berulang pada saat beraktifitas jalan akibat penurunan kepekaan saraf kaki yang menyebabkan kerusakan kulit. Oleh karena itu diperlukan pencegahan dan perawatan kaki, skrining awal dan pendidikan kesehatan tentang kaki diabetik. Namun hal ini sangat bergantung pada tingkat kepatuhan penderita dalam melaksanakan tindakan tersebut secara mandiri dirumah. Adanya perawatan kaki yang rutin diduga bukan sebagai faktor utama dalam mencegah risiko terjadinya ulkus diabetik. Maka dari itu, tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara perawatan kaki terhadap risiko kejadian ulkus pada pasien DM di RSUD Kardinah Kota Tegal. Metode yang digunakan dengan memberikan kuesioner untuk mengetahui kebiasaan perawatan kaki dirumah pada pasien DM, kemudian dilakukan pemeriksaan fisik pada kaki serta Ipswich Test (IpTT) dan Michigan Neuropaty Screening Instrument (MNSC). Jumlah responden sebanyak 51 orang dengan populasi pasien yang datang di poli penyakit dalam. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif analitik. Hasil uji statistic diperoleh nilai p 0.35 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara perawatan kaki dan risiko kejadian ulkus DM. Kata Kunci: Perawatan Kaki, Risiko Ulkus DM, Neuropati
Effect of WhatsApp-based education on the knowledge and attitudes of integrated health service post cadres toward anemia prevention in children under five Gayuh Siska Laksananno; Trimar Handayani; Sadar Prihandana
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 5 No. 4 (2026): July Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v5i4.3869

Abstract

Background: Anemia in children under five remains a major public health problem in Indonesia because it can affect growth, cognitive development, and immune function. Integrated health service post cadres play an important role in community-based anemia prevention programs. However, limited knowledge and attitudes among cadres may reduce the effectiveness of health promotion activities. Digital health education through WhatsApp has become a practical and accessible educational medium for improving cadre capacity. Purpose: To assess changes in integrated health service post cadres’ knowledge and attitudes regarding anemia prevention in children under five after receiving WhatsApp-based education. Method: This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The study was conducted from April to June 2026 involving 40 Integrated health service post cadres from eight public health centers in Tegal City. Data were collected using knowledge and attitude questionnaires before and after the educational intervention delivered through WhatsApp. Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Results: Before the intervention, most respondents had poor knowledge (47.5%) and moderate attitudes (40%) regarding anemia prevention in children under five. After the intervention, the proportion of respondents with good knowledge increased to 65%, while positive attitudes increased to 55%. The Wilcoxon Signed Rank Test showed a significant improvement in knowledge (Z = -5.214; p < 0.001) and attitudes (Z = -4.112; p < 0.001) after the WhatsApp-based education intervention. Conclusion: WhatsApp-based education was effective in improving the knowledge and attitudes of Integrated health service post cadres regarding anemia prevention among children under five in Tegal City. WhatsApp can be used as an alternative digital health education medium because it is flexible, accessible, and supports continuous learning among community health cadres.