Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

COVID-19 Pandemic: an opportunity to enhance tobacco control in Indonesia Astuti, Putu Ayu Swandewi
Public Health and Preventive Medicine Archive Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.316 KB) | DOI: 10.53638/phpma.2021.v9.i2.p00

Abstract

Indonesia has been suffering huge burden from tobacco use with more than two million morbidities and US 45.9 billion macro-economic lost due to tobacco use in 2015.23 With the comorbidity of smoking and COVID-19 pandemic, this is the crucial time for the Indonesia government to improve coordinate responses between ministries and the community on tobacco control and COVID-19 recovery.
Extending intervention window from 1000 to 8000 first day of life: how can it boost the stunting reduction program? Sutiari, Ni Ketut; Adhi , Kadek Tresna; Utami, Ni Wayan Arya; Astuti, Putu Ayu Swandewi
Public Health and Preventive Medicine Archive Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53638/phpma.2024.v12.i1.p00

Abstract

Stunting is one of the triple malnutrition burdens in Indonesia, beside obesity and micronutrient deficiency. Stunting is a reflection of long-term undernourishment which resulted in stunted growth. National Health Survey Data showed the reduction of stunting rate among under-five children in Indonesia from 37.2% in 2013 to 30.4% in 2018 and 21.5% in 2023. Despite this decreasing trend, the national stunting rate was still above the World Health Organization threshold of 20%. There is also a wide discrepancy between provinces in Indonesia with stunting rate ranges from 7.2% in Bali to 39.2% in Papua. Back in 2011, there was a movement by 28 countries including Indonesia regarding the 1000 first day of life (1000-days) program. This was an approach targeting children during their 1000 first day of life through specific and sensitive nutritional interventions. The 1000-days is started during pregnancy until the child is two years old. This movement involved related stakeholders from national and sub-national level including ministries, community organization, private sectors, professional organization, academics and others.
Faktor Risiko Dengue Shock Syndrome (DSS) Selama Pandemi Covid-19 dan Implikasinya Untuk Mitigasi Pandemi Serupa di Masa Depan: Studi Kasus Kontrol di Kabupaten Buleleng Arista, I Gede Peri; Putra, I Wayan Gede Artawan Eka; Astuti, Putu Ayu Swandewi
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 7 (2024): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v7i.3552

Abstract

Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Buleleng pada masa pandemi COVID-19 dilaporkan tertinggi di Indonesia dan semua kasus kematiannya diakibatkan oleh Dengue Shock Syndrome (DSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian DSS pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan 48 penderita DSS dan 100 kontrol yang dipilih secara acak dari penderita DBD yang dirawat inap di RSU Kertha Usada dan RSUD Kabupaten Buleleng. Data dikumpulkan dari rekam medis meliputi umur, jenis kelamin, status gizi, penyakit penyerta, riwayat DBD, keterlambatan datang ke rumah sakit, kepemilikan jaminan kesehatan, dan faktor lainnya. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji regresi logistik dengan 95% Confidence Interval (CI). Penelitian ini mendapatkan determinan individu terjadinya DSS adalah umur <10 tahun (aOR = 13,026; 95%CI: 3,296-51,486, p=<0,001), status gizi obesitas (aOR = 3,843; 95%CI: 1,546-9,552, p=0,004), penyakit penyerta paru (aOR = 3,839; 95%CI: 1,286-11,461, p=0,0016), dan adanya riwayat DBD (aOR = 5,228; 95%CI: 1,979-13,807, p=0,001). Determinan individu kejadian DSS pada pandemi COVID-19 meliputi usia <10 tahun, status gizi dengan obesitas, riwayat penyakit paru, dan riwayat DBD. Oleh karena itu, peningkatan kewaspadaan dini terhadap DBD dan pengoptimalan pemantauan status gizi menjadi penting untuk pencegahan jika ada pandemi serupa.
Status Kesehatan Ibu di Dusun Muntigunung, Karangasem, Bali, 2009: A Need for Comprehensive Approach Putu Ayu Swandewi Astuti; Partha Muliawan; A.A.S. Sawitri
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2010): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : Association of Public Health Scholars based in Faculty of Public Health, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang:Dusun Muntigunung terletak di ujung timur Pulau Bali dan dikenal sebagai daerah asal pengemis yang biasanya dijumpai di beberapa kota di Bali. Berdasarkan observasi awal di daerah ini, beberapa masalah kesehatan dihadapi oleh masyarakat termasuk masalah kesehatan reproduksi. Oleh karena itu,diadakan eksplorasi terhadap masalah kesehatan dalam hal ini termasuk status kesehatan ibu.Metode: Penelitian ini merupakan survey potong lintang yang melibatkan 212 sampel ibu rumah tangga yang mempunyai balita. Sampel dipilih secara acak sistematik. Data survey dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Pengumpulan data juga dilakukan secara kualitatif melalui diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan piranti lunak computer dan analisis tematik untuk data kualitatif.Hasil: Dari survey didapatkan lebih dari setengah (55.7%) ibu adalah grande multipara, dengan rata-rata paritas 4.1. Sebagian besar persalinan dan ditolong oleh suami atau anggota keluarga lainnya (77%). Persalinan tersebut dilakukan dirumah dengan hygiene yang buruk dan tali pusat dipotong dengan bambu (“ngad”). Pemeriksaan ANC masih rendah (61.5%) dengan rata-rata kunjungan sebanyak 2 kali. Sebanyak 19% ibu menderita kekurangan energi kronis (KEK) dan 60.5% menderita anemia. Beberapa faktor yang terkait dengan kondisi ini adalah rendahnya status social ekonomi, kondisi geografis yang sulit dan kering, rendahnya tingkat pendidikan dan kepercayaan kalau persalinan yang normal adalah persalinan di rumah.Kesimpulan: Kondisi kesehatan ibu yang rendah merupakan masalah serius yang akan memberikan dampak pada anak serta masyarakat di Muntigunung. Untuk meningkatkan status kesehatan ibu ini upaya penanggulangan yang komprehensif dan kolaboratif sangat diperlukan. Upaya yang mungkin ditempuh antara lain 1) pendidikan dan promosi kesehatan tentang masalah kesehatan dan juga cara bercocok tanam di daerah kering, 2) meningkatkan status sosial ekonomi melalui income generation program, 3) meningkatkan akses yang secara tidak langsung bisa terkait peningkatan social ekonomi dan 4) perbaikan sistem pelayanan kesehatan.Kata kunci: Kesehatan ibu, KEK, anemia, sosial ekonomi lemah dan persalinan di rumah