Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PROFIL ASAM AMINO EKSTRAK SEREDELE DAN TEMPE KEDELAI, MAKANAN TRADISIONAL HASIL FERMENTASI Sutiari, N K; Widarsa, K Tangking; Swandewi, A; Widarini, P
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2011: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Makanan yang mengalami proses fermentasi diyakini dapat memberikan manfaat bagi kesehatan manusia. Proses kedelai yang difermentasi menyebabkan kedelai mudah untuk dicerna dan mampu menghilangkan bau dan rasa langu serta berpotensi mengandung komponen zat gizi yang belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi profil asam amino ekstrak seredele dan ekstrak tempe. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan sampel sebanyak 2 jenis bahan makanan terfermentasi yaitu seredele dan tempe kedelai. Sampel tersebut dibuat dalam bentuk ekstrak dan selanjutnya dianalisis komposisi asam amino dengan metode HPLC. Asam amino yang diujikan adalah sejumlah 15 asam amino           . Hasil peneltiian menun-jukkan bahwa kedua kstrak bahan makanan yaitu ekstrak seredele dan tempe kedelai mempunya komposisi asam amino yang bervariasi dan cukup lengkap dengan 15 asam amino esensial. Seredele yang merupakan makanan khas tradisional Bali memiliki kandungan asam glutamate (glutamic acid) yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak tempe, yaitu masing-masing 0.6% dan 0.4%. Kandungan asam amino Aspartic acid dan Tyrosine pada seredele juga ditemukan lebih tinggi daripada tempe kedelai. Adanya kandungan asam amino jenis asam glutamate (Glutamic Acid) yang lebih tinggi dari tempe menunjukkan potensi atau kemampuan untuk mengikat zat besi. Untuk itu disarankan adanya suatu penelitian lanjutan mengenai kemampuan atau potensi mengikat zat besi dari seredele dan tempe kedelai secara in vitro
Human Papilloma Virus Vaccination Acceptance of Elementary School Student’s Parents Evita Trisnarini, I Gusti Ayu; Widarini, Ni Putu
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v17i1.29319

Abstract

A costless vaccination program had been implemented in Badung Regency, but there were parents of elementary schoolgirls who did not give written consents to their daughters for joining the program. The research intended to determine the factors of HPV vaccination program acceptability comprised of age, education level, knowledge, perception, and doctor recommendation. The research design was quantitative-based cross-sectional from January – May 2020. The population study was elementary schoolgirls’ parents in Badung Regency. The respondents were 92 parents who were selected based on two strata and using simple random sampling. The source of primary data was collected through interviews and online questionnaires. It was analyzed with descriptive and analytical techniques with a logistic regression test. The result showed that 64,13% of respondents accepted the HPV vaccination program. The multivariate analysis showed that the perceived barrier was the most influential factor towards the acceptability of the HPV vaccination program (AOR = 6,056; 95%CI 1,754-20,906). Education would be needed to decrease the barriers to the HPV vaccination program.
UNLINKED ANONYMOUS SEROPREVALEN SURVEY HIV PADA IBU HAMIL DAN PERILAKU BERISIKO TERKAIT DI KABUPATEN KLUNGKUNG, BALI TAHUN 2011 putu Widarini; Putu Ayu Swandewi Astuti; Dinar Lubis; Putu Suariyani
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 1 No 2 (2012): Desember (2012)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.591 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2012.v01.i02.p03

Abstract

HIV dan AIDS di Provinsi Bali menduduki prevalensi kedua di Indonesia. Pekerja seks perempuan (PSP) merupakan kelompok berisiko dengan prevalensi HIV yang cukup tinggi dan sangat berpotensi menularkan HIV ke pelanggannya, yang selanjutnya berisiko terjadi penularan dari pelanggan ke pasangannya. Hasil studi yang melibatkan bidan praktek swasta di Denpasar menunjukkan persentase HIV pada ibu hamil sebesar 1,2%. Di Kabupaten Klungkung cukup banyak dijumpai café serta lokasi yang memungkinkan sebagai tempat transaksi seksual antara PSP dan pelanggan, dan belum pernah dilakukan eksplorasi terhadap  prevalensi HIV pada ibu hamil. Oleh karena itu penting untuk mengetahui kejadian HIV/AIDS pada ibu hamil di Kabupaten Klungkung. Penelitian ini merupakan penelitian survei potong lintang yang bersifat anonymous (unlinked anonymous survey) dengan populasi penelitian adalah semua ibu hamil di Kabupaten Klungkung, dan populasi terjangkau adalah ibu hamil yang melakukan ANC ke puskesmas. Jumlah sampel minimal pada penelitian 230 orang, yang dihitung berdasarkan asumsi prevalensi HIV pada ibu hamil (p=1,2%), tingkat kepercayaan 95% (?=5%), dan margin of error =1%. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik, riwayat kehamilan dan riwayat perilaku berisiko dan status HIV. Status HIV ditentukan berdasarkan  hasil pemeriksaan dari di Balai Lab Kesehatan Provinsi Bali. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan perangkat statistik. Ibu hamil rata-rata berusia 28 tahun, dengan pendidikan terbanyak adalah SMP dan SMA, sebanyak 58,7% merupakan kehamilan I dan II. Tidak ada ibu hamil yang HIV+, sehingga prevalensi HIV pada ibu hamil ditemukan sebesar 0%. Riwayat paparan terhadap risiko penularan IMS termasuk HIV&AIDS ditemukan pada 23,3% ibu hamil, yang terbanyak adalah riwayat keluhan infeksi menular seksual dan riwayat suami bekerja di luar kota. Dari penelitian dapat dilihat prevalensi HIV pada ibu hamil sebesar 0%, namun cukup banyak yang memiliki riwayat perilaku/paparan risiko. Rekomendasi untuk pihak terkait agar bisa melakukan pemantauan prevalensi HIV pada ibu hamil dengan mengembangkan program pencegahan penularan dari ibu ke anak (PMTCT).
PEMBERDAYAAN ANAK SD DALAM UPAYA PENINGKATAN KONSUMSI GARAM BERYODIUM DI DESA APUAN KECAMATAN SUSUT KABUPATEN BANGLI Tresna Adhi K; N.P Widarini
Buletin Udayana Mengabdi Vol 10 No 2 (2011): Volume 10 No.2 – September 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.295 KB)

Abstract

Iodine deficiency disorder (IDD) is the most single common cause of preventable mental retardation and brain damage in the world. It decreases child survival, causes goiters, and impairs growth and development. Apuan Village, Bangli Regency is categorized as endemic areas (TGR=20,3%) according to the definition from Health Office reports of Bali Province in 2008. One of the approaches that might be worth considering in alleviating the problem is the empowerment of elementary school children in an effort to increase the consumption of iodized salt in household. This approach aimed at empowering children to provide information to their parents on iodized salt consumption. Community services activities were conducted from December 16 to 21 October 2010 in SD 1 and SD 3 Apuan involving 62 elementary school children. The main activities were the provision of knowledge and guidance to elementary school children about the benefits of iodized salt. The first phase of the activities consists of examining the level of iodine in salt. This phase was then followed by giving the students a pre-test prior to the guidance and a post-test after the guidance for measuring the level of improvement on knowledge of elementary school children about iodized salt. The second phase was conducted one week after the first phase by measuring the level of iodine in the household salt of the same respondents. Data were analyzed using descriptive and analytical by computer program. Results pre-test and post-tests showed an increase in the knowledge for good knowledge category (0% to 31%), and moderate knowledge category (3.2% to 40.3%) and while a decrease in the limited knowledge category (96.8% to 9.7%). Statistical analysis showed significant differences (p <0.05). Test results that contain iodine salt showed increased percentage of 72.6% in the first phase to 96.7% in the second phase. It can be concluded that elementary school children might become a good initiator to improve the consumption of iodized salt in household. It is recommended to use an interesting or entertaining media in order to conduct health education so that the information provided is more easily absorbed and understood.
PROFIL ASAM AMINO EKSTRAK SEREDELE DAN TEMPE KEDELAI, MAKANAN TRADISIONAL HASIL FERMENTASI N K Sutiari; K Tangking Widarsa; A Swandewi; P Widarini
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2011: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Makanan yang mengalami proses fermentasi diyakini dapat memberikan manfaat bagi kesehatan manusia. Proses kedelai yang difermentasi menyebabkan kedelai mudah untuk dicerna dan mampu menghilangkan bau dan rasa langu serta berpotensi mengandung komponen zat gizi yang belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi profil asam amino ekstrak seredele dan ekstrak tempe. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan sampel sebanyak 2 jenis bahan makanan terfermentasi yaitu seredele dan tempe kedelai. Sampel tersebut dibuat dalam bentuk ekstrak dan selanjutnya dianalisis komposisi asam amino dengan metode HPLC. Asam amino yang diujikan adalah sejumlah 15 asam amino           . Hasil peneltiian menun-jukkan bahwa kedua kstrak bahan makanan yaitu ekstrak seredele dan tempe kedelai mempunya komposisi asam amino yang bervariasi dan cukup lengkap dengan 15 asam amino esensial. Seredele yang merupakan makanan khas tradisional Bali memiliki kandungan asam glutamate (glutamic acid) yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak tempe, yaitu masing-masing 0.6% dan 0.4%. Kandungan asam amino Aspartic acid dan Tyrosine pada seredele juga ditemukan lebih tinggi daripada tempe kedelai. Adanya kandungan asam amino jenis asam glutamate (Glutamic Acid) yang lebih tinggi dari tempe menunjukkan potensi atau kemampuan untuk mengikat zat besi. Untuk itu disarankan adanya suatu penelitian lanjutan mengenai kemampuan atau potensi mengikat zat besi dari seredele dan tempe kedelai secara in vitro
Konsumsi zat gizi dan parameter lemak tubuh pada wanita umur lebih dari 40 tahun Kadek Tresna Adhi; Ni Ketut Sutiari; Dinar SM Lubis; Ni Putu Widarini; I Gusti Ngurah Edi Putra
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 16, No 3 (2020): Januari
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.243 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.41403

Abstract

Food intake and body fat parameter among women older than 40 years old in DenpasarBackground: The prevalence of obesity in Indonesia tends to increase, particularly among women older than 40 years old.Objective: This study aimed to identify the associations between nutrient consumption and parameters of body fat among women in Denpasar.Methods: This was an observational analytic study with a cross-sectional approach. The population was women aged older than 40 years old in Denpasar with sampled population were members Dharma Wanita PDAM Kota Denpasar. Eighty out of 200 women were selected through systematic random sampling method. Variables collected in this study included women’s characteristics, nutrient consumption, and body fat parameters: body mass index (BMI), waist circumference (WC), and waist to hip ratio (WHR). Analysis of the relationship between nutrient consumption and body fat parameters using the Spearman Rank correlation.Results: This study found that the majority aged 41-50 years (83.8%), were Balinese  (95.0%), have married  (98.8%), did not use contraception (65.0%), completed higher education (63.8%), worked in informal sector (60.0%), had low income (65.0%), had no history of obesity (80.0%) and no family with degenerative diseases (73.8%). Based on the body fat parameters, most of the women were obese based on BMI (52.5%), WC (70.0%), and WHR (57.5%) categories. There was a significant association between fiber consumption and waist circumference (p=0.021).Conclusions: There was an association between fiber consumption and waist circumference, thus having a balanced and varied diet is recommended to prevent obesity and reduce risk factors for degenerative diseases.
PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PENERAPAN PRAKTEK PROMOSI MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) OPTIMAL Kadek Tresna Adhi; Ni Putu Widarini; Ni Ketut Sutiari; Luh Putu Sinthya Ulandari; I.M.S. Adnyana
Buletin Udayana Mengabdi Vol 20 No 2 (2021): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.666 KB) | DOI: 10.24843/BUM.2021.v20.i02.p10

Abstract

Stunting disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan tubuh yang berlangsung lama. Data prevalensi stunting balita oleh WHO menunjukkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan hal tersebut maka telah dikembangkan model MP-ASI rekomendasi yang menggunakan bahan pangan lokal, terjangkau, dan tersedia di Kecamatan Susut Kabupaten Bangli. Peran aktif kader posyandu diperlukan untuk menjaga kesinambungan program promosi MPASI optimal sehingga secara tidak langsung dapat mencegah terjadinya stunting pada anak. Lokasi kegiatan ini berada di Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Jumlah kader yang hadir sebanyak 22 orang. Kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan berupa edukasi terkait stunting, MP-ASI optimal, dan praktek pemberian makan pada bayi dan anak. Pelatihan ini dilakukan melalui kegiatan interaktif dengan menggunakan Emo-Demo. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan adalah 9,09. Nilai p-value juga menunjukkan 0,008 (<0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan untuk hasil pre-test dan post-test. Diharapkan hasil kegiatan ini dapat membantu pencegahan stunting pada anak balita melalui peran kader posyandu.
TREN MENOLAK VAKSIN Feni Sulistyawati; Ni Putu Widarini
Indonesian Journal for Health Sciences Vol 6, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ijhs.v6i2.4716

Abstract

Vaksinasi memberikan efek pada sistem kekebalan tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai penyakit yang dapat dihentikan dengan vaksin. Meski demikian masih terdapat masyarakat yang menolak adanya vaksinasi. Gerakan penolakan vaksin tersebut sudah lama terjadi baik di dalam maupun luar negeri.  Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui penolakan vaksin yang terjadi di negera berkembang dan negara maju. Artikel ini ditulis dengan menggunakan studi literatur pencarian database Google Schoolar dan Pubmed dari tahun 2016-2020 dengan sintaks kata kunci database dan diperoleh 28 temuan yang sesuai dengan topik. Hasil studi pustaka menunjukkan bahwa penyebab penolakan di negara berkembang lebih mengacu pada kepercayaan agama yang melarang penggunaan vaksin sedangkan di negara maju disebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap instansi pemerintahan, otoritas kesehatan, dan industri farmasi yang diyakini mengambil keuntungan dengan adanya program vaksin serta mitos yang berkembang terkait efek samping vaksinasi yang menyebabkan autisme. Diperlukan adanya edukasi kesehatan dengan mempertimbangkan keyakinan, sehingga mampu mengubah keputusan masyarakat dalam melakukan vaksinasi, kerja sama pemerintah dan multisektor lainnya dalam kampanye vaksin serta adanya kebijakan yang tegas dari pemerintah dalam membantu terlaksananya pencapaian program vaksinasi.
Upaya Pencegahan Stunting di Masa Pandemi Covid-19 Feni Sulistyawati; Ni Putu Widarini
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 5 NOMOR 1, APRIL 2022
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjph.v5i1.1997

Abstract

Stunting merupakan gangguan terkait tumbuh kembang anak dengan tinggi badan kurang dari dua deviasi standar pertumbuhan anak WHO. Secara global terjadi penurunan kasus kejadian stunting akan tetapi pandemi Covid-19 memberikan pengaruh dalam peningkatan kasus stunting di Indonesia. Berbagai tantangan akibat adanya keterbatasan ruang gerak menjadi penghambat dalam melaksanakan program pencegahan stunting. Tujuan studi literatur ini untuk mengetahui upaya pencegahan yang tepat dalam penurunkan stunting saat pandemi Covid-19. Artikel ini ditulis dengan menggunakan studi literatur dan mencari database dari Google Scholar dari 2020 hingga 2021 dengan sintaks kata kunci untuk database. Sebanyak 7 artikel diulas dalam tulisan ini. Hasil studi pustaka menunjukkan bahwa pencegahan stunting dapat dilakukan secara langsung dengan pemberian kartu stunting, pendidikan keluarga dan media audiovisual sedangankan secara tidak langsung melalui telemedicine/ electronic health yakni aplikasi, grup whatsapp dan youtube. Upaya pencegahan tersebut dilakukan guna meningkatkan kesehatan khususnya pemenuhan gizi sehingga mencegah terjadinya stunting yang terhambat selama masa pandemi Covid-19
Status gizi, densitas zat gizi, dan keragaman pangan anak balita selama pandemi COVID-19 di Kabupatan Bangli, Bali Kadek Tresna Adhi; Ni Putu Widarini; Ni Luh Putu Suariyani; Iwan Abdi Suandana; Pande Putu Januraga
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 18, No 3 (2022): Januari
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.71861

Abstract

Nutritional status, nutrient density, and dietary diversity of children under five during the COVID-19 pandemic in Bangli Regency, BaliBackground: Stunting in children caused the lack of nutritionally balanced food intake in the first two years of life. During the COVID-19 pandemic, the fulfillment of balanced nutrition for children must still be considered to maintain body resistance to avoid COVID-19 infection.Objective: This study was conducted to find out the nutritional status of children and also the knowledge and attitudes of mothers regarding the practice of balanced nutrition based on local food in the COVID-19 pandemic situation. Methods: Cross-sectional study with 202 children aged 23-59 months located in Susut District, Bangli Regency, Bali Province. Data collection includes anthropometric measurements and food recall. Characteristics, knowledge, and attitudes of mothers were conducted by interview using a questionnaire. Results: The nutritional status of subjects showed that the average weight for height z-score (WHZ) was 0.29 ± 1.37, height for age z-score (HAZ) was 0.56 ± 2.38, and weight for age z-score (WAZ) which is -1.18 ± 2.03. The average density of energy intake in the adequate (1.66±0.456), as well as protein density (4.12±0.884 g/100 calories), vitamin B12 (0.225±0.457 mg/100 kcal), and vitamin A (71.7 ±104.6 mg/100 kcal). The majority (61.9%) of subjects consumed less than five food groups in the last 24 hours. The average knowledge of respondents is 69.5±15.3, which is 35.1% in well nutrition knowledge, while most respondent’s attitude has in the good category. Conclusions: Overall children are in normal nutritional status, but it is necessary to attention to the density of vitamins and minerals which are still low, and the lack of food diversity. Suggestion to increase education on balanced nutrition practices based on local food to mothers and families so that they can help grow and also maintain children's health during the COVID-19 pandemic.