Haulaini, Shahiroh
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERAN APOTEKER DALAM KEBERHASILAN PROSES MENYUSUI : NARATIVE REVIEW Haulaini, Shahiroh
Journal Pharmacy Of Tanjungpura Vol 2, No 1 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan rekomendasi Pemerintah Indonesia maupun WHO. ASI merupakan makanan pertama bayi yang memiliki kandungan paling lengkap dan mudah dicerna. Namun Ibu sebagai pemberi ASI perlu menjaga kesehatan karena selain makanan dan minuman produk lain sepeti obat dapat ikut dialirkan melalui ASI, oleh karena itu apoteker memiliki peran dalam proses pelayanan kefarmasian pada ibu menyusui. Penelitian ini bertujuan untukk memahami peran apoteker dalam keberhasilan proses menyusui pada ibu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Narrative Literature Review, sumber literatur di akses melalui MEDLINE dan Science Direct dengan memasukkan kata kunci "pharmacy role AND breastfeeding". Empat literatur digunakan dalam proses analisis. Hasil analisis terhadap literatur ditemukan bahwa peran apoteker terhadap keberhasilan proses menyusui pada ibu adalah berkaitan dengan peran apoteker sebagai fasilitator layanan kefarmasian ibu menyusui, peran apoteker dalam proses pencarian informasi berbasis bukti, peran apoteker dalam pengembangan kemampuan professional secara berkelanjutan dan dukungan implementasi strategi serta regulasi dalam praktik pelayanan kefarmasian pada ibu menyusui.
Interprofessional Education Learning Evaluation: Based on Core Competencies Interprofessional Education Collaborative Haulaini, Shahiroh; Mita, Mita; Elvinda, Esty; Annafiatuzakiah, Annafiatuzakiah; Sinaga, Clara Ritawany
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 15, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.105581

Abstract

Background: The Interprofessional Education (IPE) Collaboration emphasizes  4 core crucial for effective collaboration   in health services. The four core competencies included values and ethics, roles and responsibilities, communication, teams, and collaboration.Objectives: This study aimed to evaluate the results of IPE learning at Tanjungpura University based on IPEC core competencies.Methods: A cross-sectional design was adopted, and data were collected through an online survey. The respondents comprised undergraduate students at the Faculty of Medicine at Tanjungpura University who had participated in IPE and were willing to fill out the questionnaire. Data were analyzedwith Jamovi software version 2.6.19 for descriptive and statistical analysis. The study examined the correlation of age, gender, and study program with IPE Core Competency statement.Results: A total of 101 respondents completed the survey, consisting of 80.20% females and 19.80% males, with an average age of 21.2 years. These respondents were enrolled in study programs of Pharmacy (85.15%), Medicine (8.9%), and Nursing (5.94%). No significant correlations were found  between age and gender with understanding of IPE Core Competencies (p-value > 0.05). However a correlation was observed between study programs and understanding of IPE Core Competencies statement "I had the opportunity to learn what interprofessional relationships are like" (p value <0.05), linked to roles and responsibilitiesConclusion:  IPE participation helps students achieve the four Core Competencies. Understanding of thsese competencies was not influenced by age or gender, but was related to study program, particularly in the core competencies of roles and responsibilities.
THE POTENTIAL OF KELAKAI (STENOCHLAENA PALUSTRIS) AS A NATURAL GALACTAGOGUE IN INDONESIA: A LITERATURE REVIEW Haulaini, Shahiroh
Journal Pharmacy Of Tanjungpura Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting remains a major nutritional problem in Indonesia, and successful breastfeeding is one of the key strategies for its prevention. Kelakai (Stenochlaena palustris) is a local plant traditionally used by the community and is considered to have potential as a galactagogue. This study aimed to examine the potential of kelakai as a galactagogue in Indonesia based on previous studies. A literature review method was used by searching articles through the GARUDA and Scopus databases, supported by Scopus AI, using the keywords: Kelakai, Kalakai, Stenochlaena palustris, lactation, breastfeeding, breast milk, milk production, galactagogue, and Indonesia. The initial search identified 198 articles from GARUDA and 42 articles from Scopus. After the selection process, 3 main articles and 10 supporting articles were included. The review findings indicate that kelakai has potential as a galactagogue, as several direct studies on breastfeeding and postpartum mothers report increased breast milk volume or production after kelakai administration in the form of juice, pudding, and herbal tea. Supporting studies also show that kelakai contains iron, flavonoids, saponins, tannins, and other bioactive compounds that may contribute to maternal health. Therefore, kelakai is a promising local plant as a galactagogue, although further studies with stronger designs are still needed.
AKSESIBILITAS LAYANAN KEFARMASIAN DI WILAYAH PERBATASAN: STUDI KUALITATIF DI DUSUN SASAK DESA SANTABAN KECAMATAN SAJINGAN BESAR KALIMANTAN BARAT Damayanti, Winalda; Robiyanto; Susanti, Ressi; Haulaini, Shahiroh; Erwansani, Enggy
Journal Pharmacy Of Tanjungpura Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah perbatasan memiliki keterbatasan geografis dan infrastruktur yang dapat memengaruhi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, termasuk layanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aksesibilitas layanan kefarmasian berdasarkan pengalaman masyarakat di Dusun Sasak, Desa Santaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) terhadap 10 responden yang dipilih secara purposive danaccidental sampling yang kemudian dianalisis dengan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas layanan kefarmasian dipengaruhi oleh jarak dan waktu tempuh, ketersediaan transportasi, biaya, ketersediaan obat, serta jam layanan. Masyarakat cenderung memilih fasilitas kesehatan yang paling dekat dan mudah dijangkau meskipun berada di luar wilayah administratif. Hambatan yang ditemukan meliputi kekosongan obat, keterbatasan jam layanan, serta keterbatasan jenis layanan yang mengharuskan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Kesimpulan menunjukkan bahwa aksesibilitas layanan kefarmasian di wilayah perbatasan masih menghadapi kendala geografis dan operasional, namun masyarakat telah beradaptasi dengan memanfaatkan fasilitas yang paling mudah dijangkau. Walaupun begitu, diperlukan penguatan ketersediaan obat, optimalisasi layanan di fasilitas terdekat untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kefarmasian.
AKSESIBILITAS LAYANAN KEFARMASIAN DI DAERAH PERBATASAN: TEMUAN KUALITATIF DI DESA KALIAU’ KECAMATAN SAJINGAN BESAR KALIMANTAN BARAT Hariska, Ina; Robiyanto; Susanti, Ressi; Haulaini, Shahiroh; Erwansani, Enggy
Journal Pharmacy Of Tanjungpura Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan kefarmasian berperan penting dalam menjamin penggunaan obat yang aman dan rasional, namun aksesibilitasnya masih menjadi tantangan di wilayah perbatasan dengan keterbatasan geografis dan sistem pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aksesibilitas layanan kefarmasian di Desa Kaliau’, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas sebagai wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Informan dipilih secara purposive dan accidental sampling, dengan analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas layanan kefarmasian dipengaruhi oleh keterjangkauan fisik, ketersediaan layanan, sumber daya manusia, sarana prasarana, dan pembiayaan. Meskipun akses geografis relatif mudah, masih terdapat keterbatasan yaitu belum tersedianya layanan obat di luar puskesmas, keterbatasan tenaga kesehatan khususnya dokter tetap, serta fasilitas pelayanan kefarmasian yang belum memadai. Hal ini menunjukkan bahwa aksesibilitas layanan kefarmasian di wilayah perbatasan belum optimal.
ANALISIS AKSESIBILITAS MASYARAKAT WILAYAH PERBATASAN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN: STUDI KASUS DI DESA SEBUNGA KECAMATAN SAJINGAN BESAR KALIMANTAN BARAT Maharani, Shindy; Robiyanto; Purwanti, Nera Umilia; Haulaini, Shahiroh; Erwansani, Enggy
Journal Pharmacy Of Tanjungpura Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah perbatasan termasuk dalam kategori daerah 3T yang menghadapi keterbatasan akses pelayanan kefarmasian. Desa Sebunga di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, merupakan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang hanya bergantung pada Puskesmas Sajingan Besar sebagai penyedia layanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi aksesibilitas masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kefarmasian. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan wawancara. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan purposive dan accidental sampling serta dianalisis dengan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas fisik, ekonomi, dan sosial mempengaruhi kemudahan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Peningkatan aksesibilitas perlu disertai dengan perbaikan kualitas pelayanan guna membentuk persepsi masyarakat yang lebih positif terhadap pelayanan kefarmasian di wilayah perbatasan.