Purwoko, Paulus Sentot
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

IMPLEMENTASI NASIHAT RASUL PAULUS TENTANG PERSEMBAHAN YANG BENAR BERDASARKAN ROMA 12:1- 3 BAGI JEMAAT GEREJA ISA ALMASIH SUKOREJO, KENDAL, JAWA TENGAH Baene, Noferianus; Purwoko, Paulus Sentot; Hendrikus, Hendrikus
JURNAL KADESI Vol. 7 No. 1 (2024): Volume 7 Nomor 1 Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v7i1.101

Abstract

A true offering is a gift to an honorable person. The word offering can also be interpreted as dedication, surrender, respect, devotion or asking for protection from someone who is considered stronger than oneself. When someone hands over an offering, it contains a confession that the Lord Jesus has looked after us faithfully and perfectly. A true offering should begin with the willingness to offer oneself and one's life completely to God, that is a living and holy offering. Along with this, when Christians attend or attend worship in the midst of church, apart from providing their hearts and minds to commune with God, people must also prepare offerings that will be submitted to God. This is also emphasized in Deuteronomy 16:16-17 where it says "God invites the people to appear before God, but not empty-handed. Therefore, this research aims to determine the level and dimension that most dominantly determines the implementation of the Apostle Paul's advice regarding Correct Offerings Based on Romans 12:1-3 for the congregation of the Church of Jesus Christ, Sukoerjo, Kendal, Central Java, namely offering the body. This research uses quantitative methods. This research uses quantitative methods. Data collection was obtained from observations and distributed questionnaires. The results of the level of implementation of the Apostle Paul's advice regarding correct offerings based on Romans 12:1-3 for the congregation of the Church of Jesus Christ in Sukorejo, Kendal, Central Java are in the medium category and the dominant dimension determining the implementation of the Apostle Paul's advice regarding correct offerings based on Romans 12:1 -3 For the congregation of the Church of Jesus Christ, Sukorejo, Kendal, Central Java, this is to present correct behavior.
Penggembalaan spiral: Memetakan tantangan penggembalaan di era posmodern melalui refleksi naratif perempuan Siro-Fenisia Purwoko, Paulus Sentot; Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.240

Abstract

The practice of pastoral is required to be able to follow and respond to the dynamics of developments that have reached the postmodern era. There is a tendency in the postmodern era to present a post-truth reality, where many things are contrary to the values of the Christian faith. This study aims to descriptively stimulate pastoral needs in the postmodern era through identified challenges. This study uses descriptive-analysis methods and narrative analogies on the text Mark 7:24-30. The study results show a pattern of priorities in serving practices; This is analogous to the practice of grazing. By using the analogy of service that gives priority, spiral shepherding is an offer that needs to be actualized in Christian shepherding in the postmodern era. AbstrakDunia penggembalaan dituntut agar dapat mengikuti sekaligus merespons dinamika perkembangan zaman yang telah sampai pada era posmodern. Ada kecenderungan era posmodern menghadirkan realitas post-truth, di mana banyak hal yang bertentangan dengan nilai-nilai iman kristiani. Kajian ini bertujuan untuk menstimulasi secara deskriptif kebu-tuhan penggembalaan di era posmodern melalui tantangan yang diidenti-fikasi. Kajian ini menggunakan metode analisis-deskriptif dan analogi naratif pada teks Markus 7:24-30. Hasil kajian memperlihatkan adanya pola prioritas pada praktik melayani; hal ini yang dianalogikan pada praktik penggembalaan. Dengan menggunakan analogi pelayanan yang memberikan prioritas, maka penggembalaan spiral menjadi tawaran yang perlu diaktualisasikan dalam penggembalaan kristiani di era posmodern.  
Implementasi Prinsip-Prinsip Pelayanan Tuhan Yesus Kristus Berdasarkan Injil Matius Bagi Gembala Sidang Se Mojokerto Provinsi Jawa Timur Samene, Jisrel Yabes; Purwoko, Paulus Sentot; Hendiarto, Ari Suksmono
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i1.204

Abstract

Masa pelayanan Tuhan Yesus di dunia hanya sekitar tiga setengah tahun, tetapi selama masa tiga setengah tahun memiliki pengaruh besar dan memberikan perubahan pada kehidupan manusia sepanjang sejarah.Dalam tindakan-Nya, Tuhan Yesus disebut sebagai Tuhan dan guru tidak hanya oleh murid-murid-Nya tetapi juga oleh musuh-musuh-Nya. Dia bukan hanya seorang guru biasa Dia adalah seorang guru agung karena dia melakukan apa yang dia katakan untuk menjadi teladan bagi murid-murid-Nya. Sangat menarik bahwa, sebagai pemipin rohani bagi umat manusia, para Gembala Sidang memiliki gaya hidup keteladanan Yesus Kristus dan memiliki kemampuan untuk mengajarkan kepada jemaatNya, yang Tuhan percayakan dengan prinsip yang tepat untuk mencapai tujuan mereka dengan cara yang efektif dan efisien. Keteladanan Yesus bagi guru Kristen berdasarkan Injil Matius dibahas dalam artikel ini dengan metode kuantitatif. Semua Gembala Sidang sebagai pemimpin rohani,  memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka ajarkan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk melihat bagaimana keteladanan Yesus digunakan oleh para Gembala Sidang dalam menjalankan tugas mereka untuk memberitakan Injil Kerajaan Surga dan melakukan pelayanan Tuhan Yesus Kristus berdasarkan Injil Matius di antara para Gembala Sidang di wilayah Mojokerto Provinsi Jawa Timur. Diharapkan bahwa penelitian ini akan menjadi dasar bagi setiap Gembala Sidang sebagai pemimpin rohani.