Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PENAMBAHAN KONDENSOR DUMMY (TIPE HELICAL COIL, TROMBONE COIL DAN MULTI HELICAL COIL) TERHADAP TEMPERATUR RUANGAN DAN TEMPERATUR AIR PANAS Adi Hans Purba; Azridjal Aziz; Rahmat Iman Mainil; Afdhal Kurniawan Mainil
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 14, No 1 (2015): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.679 KB) | DOI: 10.31258/jst.v14.n1.p%p

Abstract

Penambahan kondensor dummy pada AC split dapat menghemat energi untuk kebutuhan air panas, dengan memanfaatkan panas buang pada kondensor yang berfungsi sebagai water heater. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penambahan kondensor dummy (tipe helical coil, trombone coil dan multi helical coil) tanpa air bersirkulasi terhadap temperatur ruangan dan temperatur air panas. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode komparatif. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa penambahan kondensor dummy tipe multi helical coil lebih baik dibandingkan tipe trombone coil dan tipe helical coil. Pada penambahan kondensor dummy tanpa air bersirkulasi dengan multi helical coil temperatur air yang dipanaskan mencapai 64,73 oC pada beban 3000 Watt. Sedangkan pada helical coil temperatur ruang terendah mencapai 16,11 oC pada penggunaan tanpa beban (19,26 oC pada multi helical coil tanpa beban).
KONDISI KERJA MESIN REFRIGERASI KOMPRESI UAP PADA VARIASI MASSA REFRIGERAN HIDROKARBON Rahmat Iman Mainil; Nurul Deswita; Afdhal Kurniawan Mainil; Azridjal Aziz
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 19, No 2 (2020): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.769 KB) | DOI: 10.31258/jst.v19.n2.p63-68

Abstract

ABSTRAK  Salah satu penentu pada kinerja mesin kompresi uap ditentukan adalah massa refrigeran. Kinerja mesin refrigerasi dapat dinilai pada kondisi kerja sistem meliputi temperature kotak pendingin, temperature kerja kondensor dan evaporator, tekanan kerja kondensor dan evaporator, dan daya kompresor pada variasi massa refrigeran yang ditetapkan. Untuk menganalisa kondisi kerja tersebut mesin refrigerasi kompresi uap diisi menggunakan refrigeran HCR-134a dengan variasi massa 60-220 gram. Hasil pengujian menunjukkan bahwa untuk seluruh variasi massa refrigeran, temperatur kotak pendingin dapat turun terhadap waktu operasi dimana rata-rata penurunan temperatur adalah 7 ºC. Tekanan evaporator dan tekanan kondensor meningkat dengan meningkatnya jumlah massa refrigeran yang dimasukkan kedalam system, mengakibatkan semakin meningkatnya  kerja kompresor. Kenaikan daya kompresor setiap massa refrigeran rata-rata sebesar 0,016 kW.  Kata kunci : Mesin refrigerasi, kondisi kerja, massa refrigeran   ABSTRACT One of the determinants of the performance of vapor compression machine is refrigerant mass. The performance of refrigeration machine can be assessed on the working conditions of the system including temperature of cooling box, evaporator and condenser  temperature, evaporator and condenser pressure, and compressor power at the specified refrigerant mass variations. To analyze the working conditions, the vapor compression machine was filled by HCR-134a with a mass variation of 20-220 gram. The result showed that for all refrigerant mass variations, the temperature of the cooling box decrease with the operating time with the average temperature drop is 7ºC. The evaporator pressure and condenser pressure increase with the increase in the mass of refrigerant introduced into the system, resulting in increased of compressor work. In average, the increase in compressor power for each mass of refrigerant is 0.016 kW. Keywords : Refrigeration machine, working conditions, refrigerant mass
KINERJA AIR CONDITONING HIBRIDA PADA LAJU ALIRAN AIR BERBEDA DENGAN KONDENSOR DUMMY TIPE HELICAL COIL (1/4", 6,7 m) SEBAGAI WATER HEATER Faisal Tanjung; Azridjal Aziz; Rahmat Iman Mainil
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 15, No 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.952 KB) | DOI: 10.31258/jst.v15.n2.p43-50

Abstract

Air Conditioning hibrida adalah perangkat mesin konversi energi yang memiliki fungsi ganda dimana efek pendinginan dan pemanasan dapat dimanfaatkan secara bersamaan. Kalor yang terbuang melalui kondensor cukup besar sehingga dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air sekaligus dapat menaikkan kinerja sistem AC dan meningkatkan efisiensi energi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental untuk mengetahui pengaruh variasi laju aliran air panas yang bersirkulasi pada tangki berkapasitas 50 L terhadap kinerja Air Conditioning hibrida menggunakan kondensor dummy tipe helical coil diameter 1/4˝ dan panjang 6,7 m yang berfungsi sebagai alat penukar kalor untuk memanaskan air. Pengujian menggunakan beban pendingin 2000 Watt pada ruangan simulasi dan variasi laju aliran air dengan mengatur pembukaan katup 0, (tanpa sirkulasi), 1/3 (Q = 0,031 L/s), 2/3 (Q = 0,59 L/s), dan 3/3 (Q = 0,086 L/s) sebagai simulasi ruangan yang akan didinginkan dan pemakaian air pada tempat tinggal. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh seiring meningkatnya laju aliran air yang bersirkulasi terhadap menurunnya temperatur air panas dan meningkatnya temperatur ruangan yang dihasilkan, dimana temperatur air panas tertinggi yaitu 59,53 °C pada kondisi bukaan katup 0 (tanpa sirkulasi) dan temperatur ruangan tertinggi yaitu 33,73 °C pada kondisi bukaan katup 3/3 (0,086 L/s) juga terjadi pengaruh terhadap menurunnya daya kompresor berkisar antara 0,72–0,80 kW, kapasitas pendinginan berkisar antara 3,26–3,68 kW, dan kapasitas pemanasan berkisar antara 0,44–0,52 kW. Sedangkan tidak terjadi pengaruh yang berarti terhadap nilai Coefficient Of Performance (COP) dimana COPc (kinerja pendingin) berkisar antara 4,53–4,60 dan COPC+WH (kinerja pendingin dan pemanas) berkisar antara 5,14–5,28.
PENGARUH BEBAN PENDINGIN PADA MESIN PENKONDISIAN UDARA HIBRIDA DENGAN KONDENSOR DUMMY TIPE MULTI HELICAL COIL SEBAGAI WATER HEATER Afdhal Kurniawan Mainil; Sarwo Fikri; Azridjal Aziz
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 17, No 2 (2018): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.818 KB) | DOI: 10.31258/jst.v17.n2.p69-75

Abstract

Mesin pengkondisian udara umumnya digunakan untuk memberikan efek pendinginan (cooling effect). Efek pendinginan dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan di ruang yang didinginkan, sehingga rasa nyaman membuat orang betah didalamnya. Mesin pengkondisian udara secara termodinamika kebanyakan beroperasi menggunakan siklus kompresi uap, dimana panas diserapkan disisi evaporator di dalam ruangan, kemudian panas tersebut dibuang di kondensor di luar ruangan. Proses tersebut dapat berlangsung karena kerja kompresor dan penurunan tekanan yang terjadi pada katup ekpansi atau pipa kapiler, sehingga siklus kompresi uap bekerja sempurna. Pada sistem pengkondisian udara biasanya panas terbuang kelingkungan begitu saja, panas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air dengan penambahan kondensor dummy. Penambahan kondensor dummy pada penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penambahan kondensor dummy terhadap beban pendingin, daya kompresi, temperatur, dan Coefficient of Performance (COP). Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah metode rancang bangun dan eksperimental. Berdasarkan hasil pengujian, selama pengoperasian 120 menit diperoleh temperatur air panas pada  kondisi tanpa beban (0W), beban 1000W, 2000W dan 3000W berturut-turut adalah 52,83oC, 56,58oC, 57,93oC dan 64,73oC.
PENGUJIAN THERMOELECTRIC GENERATOR SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK DENGAN SISI DINGIN MENGGUNAKAN AIR BERTEMPERATUR 10 ºC Gontor Andrapica; Rahmat Iman Mainil; Azridjal Aziz
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 14, No 2 (2015): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.506 KB) | DOI: 10.31258/jst.v14.n2.p%p

Abstract

Thermoelectric Generator (TEG) digunakan untuk menghasilkan energi listrik, dengan adanya perbedaan temperatur antara sisi panas dan sisi dingin dari modul termoelektrik . Prinsip ini dikenal dengan nama efek seebeck yang merupakan fenomena kebalikan dari efek peltier (Thermoelectric Cooling). Penelitian ini menggunakan dua buah tipe modul termoelektrik, tipe TEC 12706 dan TEG SP 1848. Dengan variasi tegangan input 60 V sebagai sumber energi sisi panas (heater). Sisi dingin modul termoelektrik menggunakan air bertemperatur 10º dengan laju aliran 16,6 liter/menit. Dari pengujian daya yang dihasilkan modul termoelektrik tipe TEG SP 1848 lebih besar dibandingkan tipe TEC 12706. Daya maksimum yang dihasilkan termoelektrik tipe TEC 12706 pada pengujian 1,2,3 dan 4 buah modul termoelektrik adalah sebesar 0,007 W, 0018 W, 0,061 W, dan 0,105 W. Sedangkan dengan menggunakan modul TEG SP 1848 daya maksimum yang dihasilkan pada pengujian yang sama adalah sebesar 0,125 W, 0,141 W, 0,274 W dan 0,357 W. Selisih daya maksimum yang dihasilkan antara modul TEC 12706 dan modul TEG SP 1848 adalah berkisar 0,2 W.
PERBANDINGAN PERFORMANSI AIR CONDITIONING HIBRIDA PADA STANDBY MODE (TRADITIONAL AC) DENGAN BEBAN PENDINGINAN 1000 WATT DAN TANPA BEBAN PENDINGINAN Azridjal Aziz; Eko Prasetyo; Rahmat Iman Mainil
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 19, No 1 (2020): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.392 KB) | DOI: 10.31258/jst.v19.n1.p19-27

Abstract

AbstractThe experimental study of a hybrid AC (Air Conditioning) system (utilizing both cooling and heating sides) in standby mode (traditional AC) operated without cooling load and with 1000 Watt cooling load has been carried out in this study. Hybrid AC performance without load compared to condition with a load of 1000W had the average COP (Coefficient of Performance) of around 2.460 versus 2.452, PF (Performance Factor) of around 3.42 versus 3.41 and TP (Total Performance) of around 5.88 versus 5 .86, respectively. The test results showed that by using cooling load of 1000 Watt, could provide an average cooling room temperature of 28.3 °C, a heating room temperature of 44.9 °C, a compressor power of 0.5825 kW while the result of without cooling load condition, the temperature of the cool room was average 22.5 °C, heating room temperature of 38.8 °C, compressor work of 0.5449 kW. The test results of the AC hybrid machine with HCR-22 refrigerant showed that the condition of without cooling load had a performance that was little bit different compared to the cooling load of 1000W. This results showed that the temperature of the cold room with a cooling load of 1000 Watt made the temperature of the cold room was uncomfortable for human, so that the cooling load must be reduced or the cooling capacity must be increased.
KARAKTERISTIK KINERJA PIPA KALOR MENGGUNAKAN STRUKTUR WICK SCREEN 100 MESH DENGAN FLUIDA KERJA AIR Wandi Wahyudi; Rahmat Iman Mainil; Azridjal Aziz; Afdhal Kurniawan Mainil
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 15, No 1 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.661 KB) | DOI: 10.31258/jst.v15.n1.p12-17

Abstract

 Pipa kalor merupakan alat penukar kalor dengan dimensi yang kecil tetapi dapat memindahkan kalor yang besar. Banyak penelitian mengenai pipa kalor, guna memperoleh peningkatan kinerja termalnya dengan memodifikasi fluida, orientasi, kecepatan putar dan struktur wick. Dalam penelitian ini pipa kalor dibuat dari pipa tembaga berdiameter 9,525 mm, tebal 1 mm dan panjang 400 mm menggunakan screen 100 mesh sebagai struktur wick dengan air sebagai fluida kerja. Variasi pengujian menggunakan 3 variasi sudut kemiringan 0o, 45o, 90o dan 4 variasi heat input 3 watt, 4 watt, 5 watt dan 6 watt untuk melihat pengaruhnya pada kinerja pipa kalor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar sudut kemiringan terhadap heat input, maka semakin kecil nilai hambatan termalnya. Hambatan termal terendah terjadi pada sudut 90o dengan heat input 6 Watt sebesar 8,60˚C/Watt. Koefisien perpindahan panas terbesar dan temperature difference terkecil terjadi pada sudut kemiringan 90o dengan nilai 97,70W/˚C m² dan 31,8°C.
LAJU PENDINGINAN AIR DENGAN ICE ON COIL PADA MESIN PENDINGIN TYPE CHILLER UNTUK COLD STORAGE Irwandi Hidayat; Azridjal Aziz; Herisiswanto '; Rahmat Iman Mainil
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 14, No 1 (2015): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.672 KB) | DOI: 10.31258/jst.v14.n1.p%p

Abstract

Es pada coil adalah teknologi penyimpanan es dimana pipa atau coil yang direndam didalam air. Es terbentuk diluartabung dengan sirkulasi pendingin sekunder atau pendingin didalam tabung terjadinya es. Mesin-mesin pendingin padasaat ini telah banyak berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Umumnya mesin ini digunakan untukpengawetan makanan, sayuran dan buah. Mesin pendingin ini bertujuan mendinginkan air sebagai refrigeran sekunderhingga bertemperatur 0oC untuk mengukur kemampuan mesin pendingin dalam mendinginkan ruangan dan kotakpenyimpanan dingin. Performansi mesin pendingin untuk kotak penyimpanan dingin dan ruangan mempunyaiperbedaan nilai. Nilai COP yang ke ruangan lebih besar dibanding dengan yang ke kotak penyimpanan dingindisebabkan kerja yang diberikan ke ruangan lebih besar dari pada ke kotak penyimpanan dingin, perubahan entalpievaporator juga sangat mempengaruhi nilai COP, semakin besar perubahan entalpi evaporator maka akan semakin besarpula nilai COP yang diberikan mesin tersebut.
KOMPARASI KINERJA REFRIGERATOR DENGAN REFRIGERAN HIDROKARBON HCR134a ALTENATIF PENGGANTI R134a PADA PANJANG PIPA KAPILER 1,25 m Azridjal Aziz; Izzudin Ali Raja Siregar; Rahmat Iman Mainil; Afdhal Kurniawan Mainil
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 19, No 2 (2020): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.257 KB) | DOI: 10.31258/jst.v19.n2.p76-81

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan uji komparasi mesin pendingin siklus kompresi uap dengan fluida kerja HCR134a (refrigeran hidrokarbon pengganti R134a) dan fluida kerja R134a yang beroperasi pada  panjang pipa kapiler 1,25m dengan pendinginan udara. Analisisis  dilakukan terhadap pengaruh tekanan dan temperatur, arus listrik,  kerja kompresi, dan koefisien perfomansi (COP) alat uji. Hasil penelitian menunjukkan,  penggunaan HCR134a meningkatkan COP sebesar 29.92% dengan  penggunaan arus listrik lebih rendah 10.8% dibandingkan dengan R134a. Dari uji komparasi dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran hidrokrabon (HCR134a) memberikan kinerja yang lebih baik dan lebih hemat energi dibanding refrigeran halokarbon  (R134a).
EFEK BEBAN PENDINGIN TERHADAP TEMPERATUR MESIN REFRIGERASI SIKLUS KOMPRESI UAP HIBRIDA DENGAN KONDENSOR DUMMY TIPE TROMBONE COIL ( 1/4″, 7,9 m) SEBAGAI WATER HEATER Aulian Samri; Azridjal Aziz; Rahmat Iman Mainil; Afdhal Kurniawan Mainil
Jurnal Sains dan Teknologi Vol 15, No 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.707 KB) | DOI: 10.31258/jst.v15.n2.p51-56

Abstract

Mesin pengkondisian udara hibrida dapat memberikan solusi untuk mengatasi masalah penggunaan energi listrik yang berlebihan, dengan cara memanfaatkan panas buang kondensor yang digunakan untuk pemanas air. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan beban pendinginan terhadap temperatur pada sistem pengkondisian udara hibrida dengan kondensor dummy tipe trombone coil diameter 1/4″ panjang 7,9 meter sebagai water heater. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Penelitian ini menggunakan beban pendinginan pada ruang simulasi dengan variasi pembebanan 0 Watt, 1000 Watt, 2000 Watt, dan 3000 Watt. Berdasarkan hasil pengujian, nilai tertinggi terjadi pada pembebanan 3000 Watt. Dimana temperatur air yang dihasilkan sebesar 48,34 ˚C, temperatur rata-rata refrigeran hasil kompresi sebesar 62,68 ˚C dan temperatur ruangan rata-rata mencapai 25,94 ˚C saat pengoperasian selama 120 menit.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Abdurrahaman, Ridwan Adha, Aidil Adi Hans Purba Adriyus putra Afdhal Kurniawan Afdhal Kurniawan Mainil Agus, Rio Masri Ahmad Surya Ahmad Wisnu Sulaiman Amun Amri Arya Bhima Satria Aulian Samri Awaludin Martin Boby Hary Hartanto, Boby Hary Bungsu Herwanto Dalil, Mohammad Dani Ikhsan Putra Dani Ikhsan Saputra Delpanro Sitanggang Deni Kurniawan Desi Heltina Dicky Ikhwandi Efendi, Mas Eigko Malau Eko Saputra Evi Nadhifah Faisal Afif Faisal Tanjung Farida Isroani Ferly Septian Iskandar Gihon Matondang Ginting, Hardianto Giri Saputra Gontor Andrapica Gordon HTTM Hasra Rafika Hendra Abdul Aziz Hendrik Syahputra Hendro Ekwarso Herisiswanto ' Herisiswanto Herisiswanto Herisiswanto, Herisiswanto Ida Ayu Putu Sri Widnyani Irwandi Hidayat Iwan Kurniawan Izzuddin Ali Raja Siregar, Izzuddin Ali Raja Izzudin Ali Raja Siregar Jenvrizen, David Jhoni Oberton Kharisma, Oktaf Brillian KHOIRUL ANAM Krisna Bayu Saputra Kusuma, Andi Arief Listiono, Hendra luthfi afiif yazu M Akmal Mainil, Rahmat Imam Muftil Badri Muh Wira Tri Kusuma, Muh Wira Tri Muhammad Faizal Syukrillah Muhammad Faizal Syukrillah, Muhammad Faizal Muhammad Rif’at Syahnan Nofriadi Nofriadi Nugrah Suryanto Nurman Saputra Nurul Deswita P. Eko Prasetyo Prengki Saputra S Purba, Adi Hans Rahman Asfaranda Rahman Putra Mainil Rahmat Iman Mainil Renaldi Khaesar Kumara Renhard Niptro G, Renhard Niptro Renhard Niptro Gultom Reni Yenti, Silvia Ruben Siregar Sarwo Fikri Sarwo Fikri Sayfri Syafri Silvia Reni Yenti Suprayitno Suprayitno Surya, Ahmad Syafri ' Syamsu Herman Teguh Irawan Thalal, Thalal Tio Vani Nesri Utari Prayetno Wandi Wahyudi Willy Setiawan Yandra, Vicky