Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search
Journal : JURNAL PANGAN

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PADI TERINTEGRASI BERWAWASAN LINGKUNGAN Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.376 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.297

Abstract

Industri pengolahan padi (sederhana, kecil, menengah dan besar) menghadapipermasalahan penanganan limbah. Hampir semua penggilingan padi menumpuk sekam di sekitar bangunan. Semakin hari jumlahnya bertambah. Pembuangan sulit dilakukan karena keterbatasan tempat dan biaya yang besar. Penggunaan untuk bahan bakar (bata, pengering) masih sangat terbatas. Akibatnya, muncul berbagai persoalan lingkungan seperti estetika, bau dan sumber penyakit, Pendekatan terpadu dalam pengolahan padi, yakni menggunakan semua bagian bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk dalam satu lini, dapat mengurangi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi. Makalah ini membahas berbagai konsepsi dan dampak lingkungan, teknologi pengolahan padi, dan pemanfaatan hasil samping sebagai satu industri terpadu.
Pembangunan Ketahanan Ekonomi dan Pangan Perdesaan Mandiri Berbasis Nilai Tambah (Rural Economic and Food Security Development Based on Added Value Formation) Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.531 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i2.87

Abstract

Perdesaan adalah produsen sebagian besar hasil pertanian dan bahan pangan, tetapi belum mampu mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kegiatan ekonominya. Salah satu penyebab utamanya adalah perekonomian perdesaan masih bertumpu pada produksi dan perdagangan produk primer yang nilainya rendah dan harganya tidak stabil. Nilai terbesar yang terkandung dalam hasil pertanian “diangkut” dan dimanfaatkan di perkotaan. Perdesaan kemudian menjadi wilayah pasar dari hasil olahan tersebut. Dalam perspektif inilah perdesaan harus dibangun menjadi pemasok bahan pangan olahan bagi perkotaan yang pada saat bersamaan mampu memenuhi kebutuhan pangan dan kegiatan ekonominya. Untuk itu, pangan dan ekonomi perdesaan harus bertumpu pada produksinya sendiri melalui pengembangan usaha pembentukan nilai tambah. Makalah ini bertujuan untuk (i) membahas pengertian dan kegiatan nilai tambah serta pangan berbasis sumberdaya lokal; (ii) menganalisis pengembangan usaha dan pangan perdesaan melalui program pengembangan masyarakat. Perhitungan nilai tambah dari kegiatan pengolahan hasil pertanian lokal menunjukkan bahwa perdesaan berpotensi untuk membangun kemandirian pangan sekaligus ekonomi. Oleh karena itu, perdesaan dapat dibangun melalui pengembangan kegiatan pengolahan hasil komoditas lokal berbasis masyarakat.Being producer of most agricultural products, rural region has not been self-sufficient in staple food supply and economic activities. Most of rural economics rely on producing and trading of primary (fresh) products which value has been declining in terms of customer expense proportion. The “expensive” value containing in the products is transported to urban for further handling and processing. Then, rural region become costumer of those processed products. In this respect, rural development should be designed to be supplier fo urban population processed food and industrial raw material, and at the same time securing its own people staple food and economic activities. Rural staple food should firstly be based on its own available resources through added value creation activities. This paper discusses added value activities and local resource based food development. At the end, it presents several efforts to develop rural food sovereignty and local economic development through community empowerment program. Calculation added value of a commodity to several processed products shown that rural area has the potency to be independent in economic activities and food supply. Therefore, it is recommended that rural region shoud be developed to be community based product processing center. 
Produksi Padi Optimum Rasional: Peluang dan Tantangan (Rationally Optimum Paddy Production : Chance and Challenge) Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1997.945 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i3.312

Abstract

Pemerintah Indonesia berkeinginan meningkatkan produksi padi hingga surplus 10 juta ton pada tahun 2014. Secara akademik, target diatas harus dikaji dari perspektif yang lebih luas yaitu apakah Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras untuk pangan pokok penduduknya atau berapakah sesungguhnya produksi beras yang rasional yang dapat dihasilkan? Mengacu pada pola pikir sederhana mengikuti kaidah produksi adalah produktivitas digandakan dengan luas panen maka sebuah analisis dapat dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tingkat produksi harus dinaikkan karena kebutuhan konsumsi masih meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan perbaikan kesejahteraan. Banyak pilihan tersedia untuk meningkatkan produksi pertanian yaitu memperluas penanaman, memperbaiki produktivitas dan mengurangi susut pasca panen. Masing-masing pilihan dihadapkan pada masalah dan tantangan. Paper ini membahas masing-masing pilihan yang diakhiri dengan pilihan rasional. Pada bagian akhir dikemukan rekomendasi untuk mencapai produksi rasional dan penguatan ketahanan pangan nasional.Government of Indonesia has targetted to increase rice production to 10 million ton surplus above the necessity to feed its population. According to this target, a wideranalysis wouldbe necessary to estimate a rationalpotency and optimum rice production. A simple way of thinking as the analysis framework is using the following formula: production equals to harvesting area times productivity. The targeted production that population rice consumption plus 10 million ton is used as the analysis base. Therefore, the variables are harvesting area and productivity In the long run, that surplus should be increased further to maintain self sufficiency given that consumption trend is still continuing. There are several scenarios that can be adopted to increase harvesting area, productivity and secure post harvest losses. This paper discusses the possibilityof each scenario and its opportunity and constraint. At the end, it presents a conclusion that is composed from available alternatives followed by a set of recommendation on how to strengthen the future food security. 
MENJADIKAN BULOG LEMBAGA PANGAN YANG HANDAL Bantacut, Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.222 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.229

Abstract

Indonesia mempunyai masalah yang kompleks di bidang pangan khususnya beras, mulai dari ketidakseimbangan pasokan-permintaan, ketidakstabilan perdagangan, irasionalitas pasar, kerentanan logistik, kesulitan distribusi sampai pada daya beli konsumen yang rendah. Banyak faktor penyebab yang menjadikan beras komoditas yang melampaui ranah perdagangan, menyeruak ke daiam wilayah politik, sosial dan ekonomi. Faktor tersebut sangat beragam seperti produktivitas dan produksi dalam negeri yang tidak handal, penyelenggara pemerintahan yang belum bebas dari belenggu KKN sampai pada ketiadaan lembaga pangan yang dipercaya oleh masyarakat luas. Tulisan ini membahas perlunya lembagapangan yang kuat sebagai satu prasyarat pemecahan masalah pangan nasional dan diakhiri dengan usulan menjadikan Bulog sebagai lembaga yang dimaksud.
Sagu : Sumberdaya untuk Penganekaragaman Pangan Pokok Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.071 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i1.6

Abstract

Perubahan iklim terus berlangsung mempengaruhi produksi pertanian terutama padi. Kekeringan dan banjir telah menjadi fenomena umum yang menyebabkan gagal panen dan penurunan produksi. Situasi ini memaksa manusia untuk tidak bergantung pada bahan pangan yang terbatas. Sagu adalah komoditas yang relatif tidak dipengaruhi oleh iklim dan bencana alam. Tanaman ini juga termasuk sangat efisien dalam menyediakan kalori esensial. Pati sagu dan hasil olahannya telah banyak dikonsumsi baik sebagai pangan pokok maupun kudapan di berbagai daerah terutama masyarakat pesisir atau dataran rendah. Berbagai penelitian telah dilakukan namun belum banyak dimanfaatkan dalam pengolahan pangan berbasis sagu. Untuk meningkatkan konsumsi sagu, berbagai strategi dan program perlu dilakukan. Paper ini membahas berbagai upaya pemanfaatan sagu dalam perspektif ketahanan pangan. Pada bagian akhir dibuat usulan untuk pengembangan sagu sebagai salah satu pangan pokok masyarakat Indonesia.Climate that has continuously been changing influences agricultural products, especially paddy. Drought and flood have become common phenomena causing not only harvest failure but also production decline. This situation forces people not to depend on limited food commodity. Sago is one of the commodities that are relatively not influenced by both climate and natural disaster. Moreover, sago is highly efficient in providing essential calories. Sago starch and its processed products have been widely consumed as staple food and snacks in many communities especially those who live in coastal regions or low lands. Even though various researches have been undertaken, the results are not much utilized in processing the sago-based foods. Therefore to improve the level of sago consumption, strategic plans and programs are still needed. This paper discusses several efforts in sago utilization within the perspective of food security. At the end, this paper also proposes a set of recommendations to promote sago as one of the main staple foods of Indonesian people. 
TEKNOLOGI PENGOLAHAN BERAS KE BERAS (Rice to Rice Processing Technology) Hasbullah, Rokhani; Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (935.433 KB) | DOI: 10.33964/jp.v16i1.273

Abstract

Banyakpermasalahan yangdihadapidalam proses pengolahan gabah ke beras, namun demikian berbagai teknologi terus dikembangkan untuk meminimalkan kehilangan dan meningkatkan kualitas produk beras. Seiiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya tingkat pendidikan dan pendapatanmaka polakonsumsi masyarakatberobah dan menuntut pangan (beras) yang bermutu baik. Tulisan ini membahas tentang teknologi pengolahan beras ke beras yang meliputi kebutuhan mesin, level teknologi, kapasitas dan konfigurasi mesin yang dapat dijadikan pertimbangan bagi para investor yang tertarik untuk mendirikan usaha pengolahan Beras ke Beras (BKB). Hasil yang dapat disimpulkan adalah bahwa masalah kualitas merupakan hal penting yang harus segera diperbaiki. Industri pengolahan BKB diharapkan dapat menjadi solusi dalam memperbaiki kualitas perberasan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah perberasan di Indonesia.
Kebijakan Pendorong Agroindustri Tepung dalam Prespektif Ketahanan Pangan Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.508 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i1.192

Abstract

Peringatan Malthus bahwa kebutuhan pangan bertambah secara berlipat, sementara produksi naik bertahap masih relevan dengan situasi sekarang. Relevansi ini terutama tampak pada bahan pangan pokok, khususnya Indonesia yang hampir sepenuhnya bergantung pada satu komoditi beras. Kesalahan filosofis dan praktis terjadi karena bahan pokok diartikan sebagai beras, bahkan banyak masyarakat yang sebelumnya tidak mongkonsumsinya dokonversi menjadi konsumen tetap. Dalam dunia pangan, bahan pokok diartikan sebagai sumber kalori yang kandungan utamanya karbohidrat. Indonesia yang memiliki lahan, iklim dan keragaman hayati yang tinggi mempunyai tanaman penghasil karbohidrat yang banyak seperti singkong, ubi jalar, kentang, uwi, gadung, tales dan sukun. Persoalannya adalah bahan pangan ini selain sulit ditangani dalam jumlah besar juga belum dikonsumsi sebagai pangan pokok secara luas. Pengolahan bahan tersebut menjadi tepung dapat memudahkan penanganan dan penyiapan. Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan industri tepung sebagai langkah awal mengurangi ketergantungan pada beras perlu didukung dengan kebijakan yang memadai. Agroindustri tepung perdesaan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Diversifikasi bahan pangan pokok menjadikan sektor pertanian sangat dinamis mengikuti perkembangan pasar.
Pengembangan Pabrik Gula Mini untuk Mencapai Swasembada Gula (Mini Sugar Mills Development to Achieve Sugar Self-Sufficiency) Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.744 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i4.126

Abstract

Indonesia adalah negara pengimpor gula terbesar dengan rata-rata impor sekitar dua juta ton per tahun. Berbagai upaya untuk meningkatkan produksi belum mampu mengimbangi pertumbuhan pesat permintaan untuk konsumsi langsung dan penggunaan industri. Banyak kendala yang menghadang peningkatan produksi antara lain keterbatasan bahan baku, kinerja pabrik yang kurang baik, keterbatasan modal investasi, dan keterbatasan lahan untuk perluasan perkebunan tebu. Kesulitan mendapatkan lahan dengan luasan yang besar dalam satu hamparan menjadi faktor utama sulitnya peningkatan kapasitas atau penambahan pabrik gula baru. Salah satu alternatif pemecahannya adalah dengan mengoptimalkan ketersediaan lahan yang terpencar untuk mendukung pabrik gula mini. Untuk tujuan itu, dilakukan analisis kelayakan pabrik gula mini dari aspek teknis dan ekonomi. Studi ini menemukan bahwa pengembangan pabrik gula mini layak dilaksanakan dengan kapasitas 500 ton tebu per hari pada tingkat rendemen minimum tujuh persen. Pada tingkat rendemen ini diperoleh nilai IRR sebesar 30,56 persen, NPV sebesar Rp. 31.878.880.154, Net B/C sebesar 1,64, PBP selama 3,98 tahun dan BEP sebesar Rp. 19.880.709.795. Investasi yang diperlukan adalah Rp. 49.453.000.000 dan modal kerja Rp. 12.026.000.000.Indonesia is one of the biggest net sugar importing countries at the average of 2 million ton each year. The efforts to increase national production have not been successful to meet the rapid growth of demand for both direct household consumption and industrial usage. There are many constraints to increase production such as lack of raw material supply, bad performance of sugar mills, less capital and land availability for extension of sugar cane plantation, and environmental factors. As a tropical country, Indonesia should be able to meet its sugar demand, especially on the basis of sugarcane. Out of those constraints, the availability of suitable land in a region for plantation of sugarcane has been the main barrier for increasing the capacity of existing mills and establishing new big scale mills. Therefore, it is necessary to optimize the fragmented available land for small scale sugar mills. For this reason, one necessary step is to analyze the feasibility of small scale or mini sugar mills from technical and economical aspects. This study revealed that mini sugar mills are feasible to be developed at 500 ton cane sugar per day capacity at minimum 7 percent of yield. At this yield, it is determined that the value of IRR is 30.56 percent, NPV is Rp. 31,878,880,154., Net B/C is 1.64, PBP is 3.98 years and BEP is Rp. 19,880,709,795. The investment needed is Rp. 49.453 billion and working capital is Rp. 12.026 billion. 
Swasembada Gula : Prospek dan Strategi Pencapaiannya Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.258 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i3.142

Abstract

Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada gula pada tahun 2014. Kurun waktu empat tahun adalah periode yang sangat pendek untuk mengubah kedudukan dari pengimpor menjadi produsen mandiri. Produksi gula Indonesia tahun 2009 adalah 2,52 juta ton, sedangkan total konsumsi mencapai 4,55 juta ton terdiri dari konsumsi langsung 2,70 juta ton dan konsumsi industri 1,85 juta ton. Kecukupan gula dipenuhi melalui impor sebanyak 2,03 juta ton. Proyeksi pertumbuhan tahun 2014  berdasarkan pada pertambahan penduduk serta perkembangan industri (terutama makanan dan minuman) meningkatkan konsumsi menjadi 5,32 juta ton yakni 2,96 juta ton konsumsi langsung dan 2,36 juta ton konsumsi industri. Upaya peningkatan produksi yang rasional tanpa membangun pabrik baru hanya mampu meningkatkan produksi menjadi 3,60 juta ton sehingga pemenuhan kebutuhan melalui impor masih sebesar 1,72 juta ton. Dari gambaran ini maka target swasembada gula tidak mungkin dicapai melalui pertumbuhan produksi normal. Paper ini membahas berbagai kendala dan upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut. Pada bagian akhir akan diutarakan faktor keberhasilan Thailand sebagai acuan dalam melakukan upaya mencapai swasembada gula nasional.The government of Indonesia has planned to achieve self-sufficiency of white sugar in the year of 2014; it is about four years ahead. This available time is considered to be very short to change the status of the country from net importer to self-producer. The national sugar production in 2009 was 2.52 million ton while the consumption was 4.55 million ton consisted of 2.70 million ton direct (household) consumption and 1.85 million ton industrial consumption. The balance (2.03 million ton) was imported from several countries. It has been projected that the sugar demand will increase to 5.32 million ton in 2014 due to population and industrial (mainly food and beverage) growth which will consist of 2.96 million ton direct consumption and 2.36 million ton industrial uses. Normal effort to add production without addition of new factory would increase production up to 3.60 million ton at which the need for import will be 1.72 million ton. Therefore, self-sufficiency of sugar would not be possible through normal practices as usual. This paper discusses constraints and possible efforts to achieve the targeted selfsufficiency. At the end, it presents the success factors of Thailand sugar industry that should be considered as benchmarks of efforts. This paper concludes with a set of recommendations of programs to meet national white sugar self-sufficiency.
Pengembangan Kedelai untuk Kemandirian Pangan, Energi, Industri, dan Ekonomi Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1448.243 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i1.346

Abstract

Kedelai adalah komoditas strategis yang permintaannya tinggi, produk hilirnya sangat beragam dan bernilai tinggi, meliputi pakan, pangan, energi dan bahan baku industri. Kenaikan konsumsi yang terus meningkat, namun belum dapat diimbangi oleh kenaikan produksi dalam negeri. Impor masih menjadi andalan sehingga seringkali terjadi gejolak harga dan pasokan akibat perubahan situasi ekonomi makro dan pasokan di pasar internasional. Berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri, tetapi belum mampu meningkatkan pasokan yang berarti. Orientasi pembangunan yang dipatok pada swasembada menjadikan pengembangan kedelai tersandera oleh tujuan jangka pendek dan tidak bergerak menuju industri hilir yang kuat yang menguntungkan secara ekonomi. Produktivitas kedelai yang masih sangat rendah menjadi kendala peningkatan produksi karena keterbatasan bibit unggul, ketersediaan pupuk dan sarana produksi lainnya. Potensi lahan dan kesesuaian iklim untuk penanaman menjadi faktor penghambat perluasan dan peningkatan produksi. Ketergantungan masyarakat terhadap produk turunan kedelai, terutama tahu dan tempe, menjadikan kedelai sebagai bagian dari bahan pangan pokok. Oleh karena itu, orientasi pertambahan produksi kedelai seharusnya tidak dibatasi pada swasembada untuk memenuhi permintaan saat ini, terutama bahan baku tahu dan tempe, tetapi lebih dari itu untuk penguatan ekonomi, industri dan kemandirian pangan. Paper ini membahas berbagai permasalahan dan strategi pembangunan kedelai berbasis industri menuju kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi.