Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PASIEN HEMODIALISA DITINJAU DARI PERILAKU CARING PERAWAT DI RSUD dr. SOETOMO SURABAYA Nikmatul Fadilah; Dyah Wijayanti; Tumini Tumini
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 2 No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v2i1.10

Abstract

Patients with chronic renal failure who undergoing hemodialysis decreased vitality, physical and psychological function that caused of decreased quality of life. The effect of caring to patient are improved relations of mutual trust, increase physical healing andsafety, have more energy, lower maintenance costs and create more comfortable feeling. The purpose of this study was to analyze the relationship between caring behaviors with quality of life. This study was analytic cross sectional. The sample was 60 patients in Hemodialysis Unit RSU Dr.Soetomo Surabaya, that was taken by purposive sampling. Independent variable wascaring behaviors, and dependent variable wasquality of life. Data were collected using 25-Caring Dimension Inventory (CDI 25) questionnaire and modifications Kidney Dissease Quality of Life Short Form. Data were analysis using Spearman's Rho test with α 0.05. The results showed that a good caring behavior (48.3%) and excellent (51.7%). The quality of life was moderate (83.3%). Spearman's rho test showed that the caring behavior did not significantly influence the quality of life with p value 0.229. The achievement of good judgment by patients need to be maintained and enhanced so that it will create a positive image of nurses from the public. Quality of life who have reached the moderate level needs to be improved, with a joint effort between the patient, family, and health workers. Improved quality of life, especially physical and psychological dimensions so that the patient will achieve adaptive coping strategies, while supported by families and health workers, especially nurses as part of the environmental and social dimensions of the patient.
Pemberdayaan Keluarga Dalam Meningkatkan Perawatan Mandiri Pasien Gagal Ginjal Kronik di Wilayah Kerja Puskesmas Paciran Lamongan Dyah Wijayanti; Wijayanti Dyah; Fadilah Nikmatul; Minarti Minarti; Cahyono Intim; Nurkholifah Siti; Windi Yohanes Kambaru; Sulistijono Heru; Heriyanto Bambang; Asnani Asnani; Tumini Tumini; As’ari Hasyim; Suriana Suriana; Baiq Dewi Harnani; Hilmi Yumni; Dinarwiyata; Eko Rustamaji; Ferry Kumala
Health Community Engagement Vol. 2 No. 1 (2021): July
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.945 KB)

Abstract

Tahap akhir penyakit gagal ginjal dengan terapi hemodialisis dilaporkan menyebabkan masalah yang kompleks bagi pasien dan keluarga yang merawat. Kondisi berupa peningkatan biaya pengobatan serta jumlah tenaga edukator yang tidak cukup juga turut andil menjadi alasan perawatan mandiri penting ditingkatkan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis beserta keluarganya. Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan, nilai dan penerimaan pasien terhadap program pengobatan yang seharusnya dijalani. Keluarga dapat memberi dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan dari anggota keluarga yang sakit Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah memberdayaan keluarga dalam meningkatkan perawatan mandiri pasien gagal ginjal kronik di wilayah kerja Puskesmas Paciran Kabupaten Lamongan. Komitmen keluarga dalam memelihara kesehatan bagi anggota keluarga yang sakit sangat diperlukan. Keluarga (pasangan/anak) adalah orang yang terdekat bagi pasien gagal ginjal kronik yang diharapkan dapat menjadi pendukung pasien dalam mencapai kemandirian perawatan. Pengabdian masyarakat ini diikuti oleh 40 orang anggota keluarga pasien gagal ginjal kronik. Kegiatan meliputi peningkatan pengetahuan dan dilanjutkan proses pendampingan keluarga terhadap perawatan mandiri pasien. Modul tentang perawatan mandiri sebagai media pendidikan kesehatan disosialisaikan terlebih dahulu kepada keluarga pasien. Hasil pengabdian masyarakat ini menujukkan peningkatan pengetahuan pada anggota keluarga pasien dan peningkatan peran keluarga dalam meningkatkan kemadirian perawatan mandiri pasien. Rekomendasi dari pengabdian masyarakat ini adalah pemberdayaan anggota keluarga sebagai pemberi perawatan perlu dikembangkan sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat berbasis keluarga di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dukungan dan pemantauan yang berkesinambungan dari anggota keluarga dapat meningkatkan kualtas hidup pasien gagal ginjal kronik dan keluarganya.
Pemberdayaan Keluarga Dalam Meningkatkan Perawatan Mandiri Pasien Gagal Ginjal Kronik di Wilayah Kerja Puskesmas Paciran Lamongan Dyah Wijayanti; Wijayanti Dyah; Fadilah Nikmatul; Minarti Minarti; Cahyono Intim; Nurkholifah Siti; Windi Yohanes Kambaru; Sulistijono Heru; Heriyanto Bambang; Asnani Asnani; Tumini Tumini; As’ari Hasyim; Suriana Suriana; Baiq Dewi Harnani; Hilmi Yumni; Dinarwiyata; Eko Rustamaji; Ferry Kumala
Health Community Engagement Vol. 4 No. 1 (2022): Januari-April
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahap akhir penyakit gagal ginjal dengan terapi hemodialisis dilaporkan menyebabkan masalah yang kompleks bagi pasien dan keluarga yang merawat. Kondisi berupa peningkatan biaya pengobatan serta jumlah tenaga edukator yang tidak cukup juga turut andil menjadi alasan perawatan mandiri penting ditingkatkan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis beserta keluarganya. Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan, nilai dan penerimaan pasien terhadap program pengobatan yang seharusnya dijalani. Keluarga dapat memberi dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan dari anggota keluarga yang sakit Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah memberdayaan keluarga dalam meningkatkan perawatan mandiri pasien gagal ginjal kronik di wilayah kerja Puskesmas Paciran Kabupaten Lamongan. Komitmen keluarga dalam memelihara kesehatan bagi anggota keluarga yang sakit sangat diperlukan. Keluarga (pasangan/anak) adalah orang yang terdekat bagi pasien gagal ginjal kronik yang diharapkan dapat menjadi pendukung pasien dalam mencapai kemandirian perawatan. Pengabdian masyarakat ini diikuti oleh 40 orang anggota keluarga pasien gagal ginjal kronik. Kegiatan meliputi peningkatan pengetahuan dan dilanjutkan proses pendampingan keluarga terhadap perawatan mandiri pasien. Modul tentang perawatan mandiri sebagai media pendidikan kesehatan disosialisaikan terlebih dahulu kepada keluarga pasien. Hasil pengabdian masyarakat ini menujukkan peningkatan pengetahuan pada anggota keluarga pasien dan peningkatan peran keluarga dalam meningkatkan kemadirian perawatan mandiri pasien. Rekomendasi dari pengabdian masyarakat ini adalah pemberdayaan anggota keluarga sebagai pemberi perawatan perlu dikembangkan sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat berbasis keluarga di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dukungan dan pemantauan yang berkesinambungan dari anggota keluarga dapat meningkatkan kualtas hidup pasien gagal ginjal kronik dan keluarganya.
Efektifitas Pemberian Jus Mentimun Terhadap Tekanan Darah Pada Klien Hipertensi Di Masyarakat Dini Septiya Karina; padoli, Padoli; Fadilah, Nikmatul
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/nersbaya.v18i2.193

Abstract

  ABSTRAK   Kondisi medis ketika tekanan darah pada dinding arteri terus-menerus tinggi yang bisa mengakibatkan berbagai permasalahan Kesehatan serius, contohnya masalah ginjal, stroke, serta penyakit jantung yakni Hipertensi. Pengendalian tekanan darah yang efektif melibatkan kombinasi perubahan gaya hidup, pengobatan, dan pemantauan rutin. Terapi komplementer tanaman herbal yang sering di konsumsi oleh klien hipertensi yaitu buah belimbing, daun alpukat, daun seledri, serta mentimun. Tujuan riset penulis guna mengetahui efektifitas pemberian jus mentimun pada tekanan darah pada klien hipertensi. Desain penelitian ini adalah Quasy experiment (pre-post test with control grup), sampel sebanyak 36 orang berisi kelompok perlakuan serta kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberi jus mentimun 200gr selama 7 hari setiap pagi hari, sedangkan kelompok kontrol hanya rutin meminum obat sesuai standart pengobatan dari puskesmas. Pengumpulan data dengan lembar observasi tekanan darah. Analisa data memakai uji Wilcoxon Signed Rank Test serta Mann-Whitney Test.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata tekanan darah pada kelompok perlakuan sebelum intervensi 150,56/95,56 (SD=9,218/8,024), dan setelah intervensi 128,06/80,00 (SD=6,673/5,941). Rerata tekanan darah kelompok kontrol sebelum intervensi148,33/87,22 (SD=8,575/8,085) dan setelah intervensi 142,22/88,33 (SD=10,603/6,860). Pemberian Jus mentimun efektif menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi (p= 0,001 < 0,05). Pemberian jus mentimun dapat digunakan sebagai terapi alternatif guna menurunkan tekanan darah tinggi. Kata kunci: Jus mentimun, hipertensi , tekanan darah tinggi ABSTRACT A medical condition in which the blood pressure on the artery walls is persistently high and can lead to a variety of serious health problems, such as kidney problems, stroke, and heart disease, is hypertension. Effective blood pressure control involves a combination of lifestyle changes, medication, and regular monitoring. Herbal complementary therapy that is often consumed by hypertensive clients is star fruit, avocado leaves, celery leaves, and cucumber. The purpose of the author's research is to determine the effectiveness of cucumber juice on blood pressure in hypertensive clients. The design of this study was Quasy experiment (pre-post test with control group), a sample of 36 people containing the treatment group and the control group. The treatment group was given 200gr cucumber juice for 7 days every morning, while the control group only routinely took medicine according to standard treatment from the health center. Data collection using blood pressure observation sheet. Data analysis used Wilcoxon Signed Rank Test and Mann-Whitney Test.  The results showed that the mean blood pressure in the treatment group before the intervention was 150.56/95.56 (SD=9.218/8.024), and after the intervention was 128.06/80.00 (SD=6.673/5.941). The mean blood pressure of the control group before intervention was 148.33/87.22 (SD=8.575/8.085) and after intervention was 142.22/88.33 (SD=10.603/6.860). Giving cucumber juice effectively reduces blood pressure in hypertensive patients (p = 0.001 <0.05). Giving cucumber juice can be used as an alternative therapy to reduce high blood pressure. Keywords: Cucumber juice, Hypertension, High blood pressure
EMPOWERING ADOLESCENTS AS STUNTING PREVENTION AGENTS: SWABANTU PROGRAM THROUGH ANTHROPOMETRIC SCREENING TRAINING AND PRACTICE Yumni, Hilmi; Minarti, Minarti; Fadilah, Nikmatul; Harnani, Baiq Dewi
Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Services) Vol. 9 No. 3 (2025): JURNAL LAYANAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/.v9i3.2025.462-475

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem that remains a public health challenge, including in Sidoarjo Regency. Adolescents play a strategic role as agents of change in stunting prevention through information dissemination and direct involvement in nutritional screening. This community service activity aims to empower adolescents through an educational and participatory approach integrated into the Swabantu Program. The activities include increasing knowledge, training on anthropometric measurement skills, and field practice with the guidance of healthcare personnel and cadres. The participants comprised 40 adolescents, health cadres, and 10 community leaders. The activities were conducted in four sessions, which included: providing material on stunting and adolescent reproductive health; training in the measurement skills of height, weight, and upper arm circumference; conducting measurements on eight toddlers; and presenting and interpreting the results. The implementation methods included interactive lectures, question and answer, group discussions, skill stations, field practice, and evaluation using pre-tests and post-tests. Learning media included educational modules, early detection identification sheets, and measuring tools such as microtoise, digital scales, and upper arm circumference tapes. The pre-test and post-test instruments were validated by experts and analyzed descriptively, with paired t-tests used to measure intervention effectiveness. The results showed an average knowledge score increase from 58.2 to 78.6 (p < 0.05), with 100% of participants performing anthropometric measurements correctly. Qualitative data were analyzed thematically through observation and discussions. Assessments of the eight toddlers showed that all had normal height, 62.5% were underweight, and 87.5% had normal upper arm circumference. Challenges during implementation included limited field practice time, variation in participant understanding, and coordination with toddler families. Nevertheless, this activity successfully enhanced adolescents' knowledge, skills, and potential as community agents in stunting prevention.
Impact of Community Stress on Community Empowerment Processes in Preventing Daily Emergency in Volcanic Area Rahariyani, Loetfia Dwi; Fadilah, Nikmatul; Badi'ah, Atik
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 4 (2024): February
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i4.2615

Abstract

Volcanic disasters have a psychological impact on society. Community stress must be anticipated and overcome as soon as possible so as not to cause greater losses. Community empowerment based on the experience of dealing with and dealing with disasters, managing risks, reducing, and recovering from disasters is an adaptive community coping. The purpose was to determine the effect of community stress on the community empowerment process in preventing daily emergencies in the volcanic disaster area. This study used an analytic design through a cross-sectional approach. A sample of 165 people in Hargobinangun Village, Pakem District, Sleman Regency, Yogyakarta, Indonesia, was taken using purposive sampling. The sample criteria were adults who live in the village and can read and write. Community stress and community empowerment were taken using a questionnaire from July until August 2020. Data analysis used T-test. Most communities have low stress for the threat of disaster but have high stress for attachment to the region. Community stress influence on community empowerment process (p-value 0.027). Community stress will affect the degree of reaction and have an impact on the community empowerment process in preventing daily emergencies. Further research is recommended to identify specific factors that cause stress in communities in volcano disaster areas.
Persepsi tentang Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kepatuhan pada Klien Hipertensi Wibrata, Dwi Ananto; Fadilah, Nikmatul; Wijayanti, Dyah; Kholifah, Siti Nur
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 6 No. 2 (2023): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v6i2.529

Abstract

Abstrak Perawatan hipertensi memerlukan jangka waktu yang panjang. Faktor perilaku kepatuhan klien merupakan komponen penting dalam keberlanjutan perawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi tentang faktor yang mempengaruhi perilaku kepatuhan klien hipertensi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Jumlah partisipan 20 penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Krembangan Selatan Surabaya. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber data. Hasil penelitian menemukan empat tema yaitu kepercayaan diri, penerimaan diri, dukungan keluarga, ketersediaan informasi. Kesimpulan penelitian ini adalah kemampuan mengambil keputusan pada klien, penerimaan klien hipertensi terhadap penyakitnya, dukungan dari keluarga dan tersedianya informasi yang sangat memadai mempengaruhi kepatuhan perawatan klien hipertensi. Keluarga perlu memberikan kapasitas pada klien untuk mengambil keputusan dan menfasilitasi kebutuhannya. Keluarga juga sebagai sumber informasi perlu meningkatkan pemahaman tentang perawatan hipertensi. Kata kunci: persepsi, perilaku merawat diri, hipertensi   Abstract Treatment of hypertension requires a long period of time. The client's compliance behaviour factor is an important component in the continuity of care. The purpose of this study was to identify perceptions of factors that influence the compliance behavior of hypertension clients. This study used a qualitative approach with a phenomenological study. The number of participants is 20 people with hypertension in the working area of the Krembangan Selatan Health Center. Data collection techniques used interviews and observations. The validity of the data used triangulation of data sources. The results found 4 themes, namely self-confidence, self-acceptance, family support, availability of information. The conclusion of this research is the ability to make decisions on the client, the client's acceptance of hypertension for their disease, support from the family and the availability of adequate information affect the adherence to care for hypertensive clients. Families need to give the client the capacity to make decisions and facilitate their needs. Families as well as sources of information need to increase understanding of hypertension treatment. Keywords: perception, self-care behavior, hypertension