Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Dalam Upaya Membentuk Sikap Moderat Siswa Madrasah Rinda Fauzian; Hadiat; Peri Ramdani; Mohamad Yudiyanto
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 6 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.783 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v6i1.933

Abstract

Penelitian ini berdasarkan adanya fenomena sikap intoleran yang terjadi pada siswa. Hal ini memunculkan sikap kekhawatiran dari para guru, Lembaga Pendidikan, hingga pemerintah dalam menyikapi sikap intoleran tersebut. Sementara itu, hadirnya Keputusan Menteri Agama Nomor 184 Tahun 2019 sebagai pedoman implementasi kurikulum pada madrasah menjawab kekhawatiran tersebut dengan menyisipkan penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal di madrasah. Hasil penelitian ini menunjukan, penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal di madrasah dapat membentuk budaya berpikir moderat melalui metode pembiasaan, pembudayaan dan pemberdayaan. Setelah dianalisis, bentuk penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal dan implikasinya terhadap pembentukan budaya berpikir moderat pada siswa antara lain: (1) Bentuk penguatan moderasi beragama ke dalam mata pelajaran, muatan lokal dan ekstrakurikuler ialah melalui metode pembiasaan yang aplikasinya dengan kegiatan rutin, spontan, dan keteladanan. Pembiasaan tersebut menjadi produk budaya siswa dan dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat (pemberdayaan), (2) Implikasi dari penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal ialah siswa yang memiliki budaya berpikir moderat dalam pemikiran, perbuatan dan Gerakan. Manifestasi dari sikap tersebut ialah siswa memiliki sikap komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi dan mengakomodasi budaya lokal.   Kata Kunci: Moderasi, Kearifan lokal, Moderat.
Transformative Epistemology in Advancing Contemporary Islamic Education: Knowledge Reconstruction Integrative-Nuraniyah Perspective Rinda Fauzian; Juju Saepudin; Saehudin Saehudin
TA'DIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 2 (2025): TADIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Al-Mas'udiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69768/jt.v3i2.82

Abstract

The aim of this study is to explore and analyze the concept of transformative epistemology in the development of contemporary Islamic education, with a focus on knowledge reconstruction from an integrative-nuraniyah perspective. This research adopts a qualitative approach with critical analysis of literature and concepts related to Islamic epistemology and contemporary Islamic education. Data were collected through library research, encompassing books, journal articles, and previous studies relevant to transformative epistemology, knowledge reconstruction in Islamic education, and the integration of spiritual aspects in teaching. The analysis process was carried out using a descriptive-analytical approach to identify gaps in the development of Islamic education and how transformative epistemology can provide solutions. The results show that transformative epistemology, which combines rational and spiritual dimensions, can serve as a strong foundation for reconstructing knowledge in contemporary Islamic education. This approach enables the development of a more comprehensive curriculum that emphasizes not only cognitive aspects but also spiritual and moral dimensions aligned with the demands of the times. The implementation of this epistemology has the potential to produce a generation that is not only intellectually capable but also ethically and spiritually aware. The implication of this research is the importance of integrating transformative epistemology into the Islamic education curriculum, with attention to spirituality and ethics, in order to address the increasingly complex challenges of contemporary education.
ECO-INTERRELIGIOUS DIALOGUE IN DAILY RELIGIOUS PRAXIS: A PERSPECTIVE OF ORGANIC FARMERS IN CENTRAL JAVA Chlaodhius Budhianto; Rinda Fauzian; Matroni; Nurfah; Munadzir
Harmoni Vol. 25 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v25i1.1049

Abstract

This research aims to explore the dynamics of eco-interreligious dialogue through the approach of everyday religion, particularly in the context of organic farming. This research examines how organic farmers in Central Java integrate religious values into their ecological practices, how they relate to farmers of different faiths, how they manage the environment, and how they interact with others. This research approach uses ethnography, with data collected through field research including participatory observation, interviews, and documentation of Muslim and Christian farmers, focusing on organic farmers in Batur Village, Getasan, Central Java. The research results show that organic farming is a form of religious practice in which concern for the environment is closely linked to religious commitment. The farmers' views on land as sacred and their moral responsibility toward nature are strongly influenced by their religious teachings, though these are understood and practiced in different ways. Additionally, this research also highlights the role of eco-interreligious dialogue in building cooperation among farmers from different religious backgrounds. Although tensions sometimes arise, this dialogue facilitates mutual understanding and shared responsibility in religious practices and environmental preservation. However, this research also identifies contradictions in religious narratives that hinder the achievement of a consistent theological stance toward interfaith and ecology. This research suggests that eco-interreligious dialogue should develop not only on doctrinal agreements but more on real religious experiences through the harmony of religious practices, especially in maintaining ecological sustainability. Through this approach, this research contributes to a broader understanding of how religion and ecology interact in daily life and provides insights into future religious harmony and interfaith environmental cooperation.  Abstrak Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dinamika dialog antaragama yang berwawasan lingkungan melalui pendekatan agama sehari-hari, khususnya dalam konteks pertanian organik.  Penelitian ini meneliti bagaimana petani organik di Jawa Tengah mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam praktik ekologi mereka, bagaimana mereka berhubungan dengan petani dari berbagai keyakinan, bagaimana mereka mengelola lingkungan, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain.  Pendekatan penelitian ini menggunakan etnografi, dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian lapangan termasuk observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi petani Muslim dan Kristen, yang berfokus pada petani organik di Desa Batur, Getasan, Jawa Tengah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanian organik adalah bentuk praktik keagamaan di mana kepedulian terhadap lingkungan sangat terkait dengan komitmen religius.  Pandangan para petani tentang tanah sebagai suci dan tanggung jawab moral mereka terhadap alam sangat dipengaruhi oleh ajaran agama mereka, meskipun ini dipahami dan dipraktikkan dengan cara yang berbeda.  Selain itu, penelitian ini juga menyoroti peran dialog antaragama ekologis dalam membangun kerjasama di antara petani dari latar belakang agama yang berbeda.  Meskipun kadang-kadang muncul ketegangan, dialog ini memfasilitasi saling pengertian dan tanggung jawab bersama dalam praktik keagamaan dan pelestarian lingkungan.  Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi kontradiksi dalam narasi-narasi keagamaan yang menghambat pencapaian sikap teologis yang konsisten terhadap antaragama dan ekologi.  Penelitian ini menyarankan bahwa dialog antaragama yang berfokus pada ekologi harus berkembang tidak hanya pada kesepakatan doktrinal tetapi lebih pada pengalaman religius yang nyata melalui harmoni praktik keagamaan, terutama dalam menjaga keberlanjutan ekologi.  Melalui pendekatan ini, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana agama dan ekologi berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan wawasan tentang harmoni agama di masa depan serta kerja sama lingkungan antaragama.