Claim Missing Document
Check
Articles

DESAIN DAN ANALISIS INVERTER SATU FASA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPWM BERBASIS ARDUINO Khairul Azmi; Ira Devi Sara; Syahrizal Syahrizal
Jurnal Komputer, Informasi Teknologi, dan Elektro Vol 2, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak— Perkembangan energi terbarukan seperti solar cell, fuel cell, dan energi angin memerlukan inverter agar energi tersebut dapat dimanfaatkan oleh beban listrik AC. Inverter adalah sebuah rangkaian yang dapat mengubah sumber tegangan DC menjadi sumber tegangan AC. Hasil keluaran inverter umumnya bervariasi, tergantung kepada tegangan input, topologi rangkaian, dan metode pensaklaran yang digunakan. Agar tegangan keluaran inverter dapat digunakan untuk beban seperti motor listrik, maka tingkat harmonisanya haruslah rendah yaitu dibawah 10%. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan inverter dengan gelombang keluarannya mendekati sinusoidal murni atau sinyal sinus termodifikasi dengan THD tegangan dibawah 10%. Metode pensaklaran yang digunakan adalah SPWM atau Sinusoidal Pulse Width Modulation dengan topologi rangkaian full bridge. Sistem pensaklarannya dikendalikan oleh Arduino Uno. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan yaitu inverter hasil perancangan menghasilkan tegangan keluaran 11,3 VAC dengan tegangan masukan 12 VDC. Gelombang keluaran yang dihasilkan adalah gelombang sinus termodifikasi. Efisiensi inverter yaitu 90,23% dengan pengujian beban resistif 5Ω dengan THD tegangan yang dihasilkan sebesar 8,9%. Nilai THD tegangan yang dihasilkan ini sudah sesuai dengan standar IEEE: 519-1992 untuk aplikasi dedicated system yaitu sebesar 10% dan sudah mendekati standar IEEE: 519-2014 yaitu sebesar 8%. Dengan demikian, dapat disimpulkan inverter satu fasa ini dapat digunakan untuk aplikasi pada motor AC satu fasa. Kata Kunci— Inverter, SPWM, THD Tegangan, Arduino Uno, MOSFET.
Studi Pengaruh Pemasangan Static VAR Compensator Terhadap Profil Tegangan pada Penyulang Neuhen Alkindi Alkindi; Mahdi Syukri; Syahrizal Syahrizal
Jurnal Komputer, Informasi Teknologi, dan Elektro Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik  yang  berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik sampai ke konsumen. Pertumbuhan beban pada sistem distribusi semakin meningkat terus–menerus. Hal ini mengakibatka bangkitnya daya reaktif induktif (positif) pada jaringan yang diikuti dengan peningkatan permintaan suplai daya reaktif kapasitif (negatif) sehingga mengakibatkan tegangan tidak konstan, dan juga mengakibatkan faktor daya berkurang sehingga terjadi rugi-rugi daya pada jaringan. Pengaturan tegangan erat kaitannya dengan pengaturan daya reaktif dalam sistem.  Penyulang Neuhen adalah penyulang yang memiliki drop tegangan sebesar 5.125% sehingga perlu dilakukan perbaikan. Kompensasi daya reaktif dalam penelitian ini  dilakukan dengan menggunakan static VAR compenstator (SVC) pada bus yang memiliki tegangan terendah. dari hasil penelitian diketahui bahwa tegangan paling rendah terjadi pada bus 22 sehingga setelah dilakukan pemasangan SVC diperoleh peninggkatan tegangan sebesar 5% dan daya aktif sebesar 4,97%.  Kata kuci: sistem distribusi, SVC, aliran daya, profil tegangan, Rugi daya
KEMAMPUAN GURU PENDIDIKAN JASMANI DALAM MEMBERI TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K) DI SMAN SE-KECAMATAN KOTA JUANG KABUPATEN BIREUEN Syahrizal Syahrizal; Saifuddin Saifuddin; Abdurrahman Abdurrahman
Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi Vol 1, No 3 (2015): AGUSTUS 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.261 KB)

Abstract

ABSTRAK Kemampuan Guru Pendidikan Jasmani dalan memberi tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan merupakan perwujudan profesionalitas Guru Pendidikan Jasmani didalam menjalankan profesinya. Karena P3K ini merupakan salah satu bagian penting yang berada didalam ruang lingkup pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan Guru Pendidikan Jasmani dalam memberi tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan di SMAN Se-Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen. Populasi dan sampel yang digunakan adalah Guru Pendidikan Jasmani, Kepala sekolah dan siswa(i) di SMAN Se-Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen. Untuk Guru Pendidikan Jasmani dan Kepala sekolah di ambil semuanya sebagai sampel, sedangkan untuk siswa (i) hanya di ambil 5% dari jumlah populasi yang ada. Secara keseluruhan sampel yang digunakan adalah 9 Guru Pendidikan Jasmani, 3 Kepala sekolah dan 45 siswa(i). Pengumpulan data dilakukan dengan pembagian angket pada semua sampel terpilih. Setelah semua data didapatkan dan dilakukan pengolahan data dapat diambil kesimpulan bahwa secara umum Guru Pendidikan Jasmani di SMAN Se- Kecamatan Kota Juang Kab. Bireuen mampu mengetahui dengan baik tentang teori P3K pada kasus bantuan pernafasan, pendarahan dan juga patah tulang, hal ini dibuktikan dengan 80% dari pertanyaan yang diberikan dijawab dengan pilihan jawaban yang paling benar oleh Guru Pendidikan Jasmani, akan tetapi untuk mengaplikasikan ataupun memberikan tindakan langsung terhadap penanganan kasus bantuan pernafasan, pendarahan dan patah tulang yang telah diketahui tersebut guru pendidikan jasmani masih kurang mampu, hal ini dibuktikan berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 60% dari pertanyaan angket yang diberikan tidak mendapat persetujuan dari Kepala sekolah dan siswa(i), dimana 70% dari mereka menyatakan bahwa tidak pernah melihat tindakan pertolongan tersebut dilakukan Guru Pendidikan Jasmani di sekolah. Kata Kunci: Cedera,  Kemampuan, P3K.
RESPON IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus B) DALAM WADAH JARING HAPA YANG DIBERI PAKAN KOMBINASI PELLET DAN USUS AYAM Syahrizal Syahrizal; Muhammad Sugihartono; Adri Jasa
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 4, No 2 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.385 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v4i2.56

Abstract

Pemberian pakan kombinasi pellet dan usus ayam terhadap ikan lele dumbo (Clarias gariepinus B) dalam wadah jaringan hapa dengan rancangan acak lengkap 4 perlakuan dan 3 ulangan untuk  perlakuan A : 100 % pellet, B : 75 % pellet dan 25 % usus ayam, C : 50 % pellet dan 50 % usus ayam dan D : 25 % pellet dan 75 % usus ayam. Berat dan panjang rata-rata ikan awal 24 gram dan 13,8 cm. Hasil penelitian  untuk pertumbuhan dan panjang ikan lele dumbo rata-rata  per ekor untuk perlakuan A 139,23 gram dan 14,47 cm. B :  168,33 gram dan 16,27 cm, C : 159,53 gram dan 15,90 cm dan D :  168,97 gram dan 16,60 cm. Tingkat kelangsungan hidup ikan lele dumbo (Clarias gariepinus B) untuk semua perlakuan berkisar 95,33 – 97,33% dan Feed Convertion Ratio (FCR) dan Efisiensi Pakan (EP) berturut-turut yaitu 1,05 – 1,51 gram dan 66,58 – 94,98%. Keyword: Pakan Pelet dan Usus Ayam, Ikan Lele Dumbo AbstractGiving combination pellet and chicken intestine to African catfish (Clarias gariepinus B) in hapa  with a completely randomized design 4 treatments and 3 replications for treatment A  : 100% pellet, B: 75% pellet and 25% chicken intestine, C: 50% pellet and 50% chicken intestine and D: 25% pellets and 75% chicken intestines. The initial weight and length of the fish is 24 grams and 13.8 cm. The results of the study for the growth and length of individual fishes the African catfish were on average A treatment of 139.23 grams and 14.47 cm. B: 168.33 grams  and 16.27 cm, C: 159.53 grams and 15.90 cm and D: 168.97 grams and 16.60 cm. The survival rate of African catfish (Clarias gariepinus B) for all treatments ranged from 95.33 to 97.33% and Feed Convertion Ratio (FCR) and Feed Efficiency (EP) were 1.05 - 1.51 grams and 66,58 - 94,98%. Keyword: Feed Pellets and Chicken Intestines, African catfish
TEPUNG DAUN SINGKONG (Monihot utilissima) TUA SEBAGAI SUMBER PROTEIN ALTERNATIF DALAM FORMULA PAKAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) Syahrizal Syahrizal; Muarofah Ghofur; . Safratilofa; Rahmat Sam
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 1, No 1 (2016): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.178 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v1i1.7

Abstract

AbstractThe feed as a source of energy for the growth of fish is a component of the most important costs 40-89% and the quality should be good. The solution is through research. Research in the form of meal cassava leaves (Monihot utilissima) parents as a source of alternative protein substitute for fish meal in feed formulation catfish (Clarias gariepinus). The design used Complete Random Design with 4 treatments and 3 repetitions. The results showed that for the growth and the survival between treatments were not significant (P <0.5), meaning that all treatments were no differences can be categorized and feed ingredients of flour cassava leaves can replace most of the presence of meal fish  in fish feed formulas African catfish. Growth of the best catfish are on treatment A (55% meal cassava leaf: 00% fish meal) with daily growth of 8.27 grams was 2.61% and the B (40%% meal cassava leaves: 15% meal fish) 5.28 gram with daily growth is 1.86%, followed by C (15%%  meal cassava leaves: 15% meal fish ) 1:51% and D (0% meal cassava leaves : 55% meal fish ) 1:33%. Catfish survival rate was not significant (P <0.5), and relatively equally well A (96.17%), B (94.77) and C (95.92) and the best in treatment for D (96.37 ). As users are advised to wear formulations in treatment B (40% meal fish and 15%  meal cassava leaves old). Keywords: Catfish, Ffeed, Meal fish, Meal cassava leaves AbstrakPakan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan ikan  merupakan komponen biaya yang paling besar 40-89%  dan kualitasnya harus baik. Solusinya melalui penelitian. Penelitian berupa tepung daun  singkong (Monihot utilissima) tua sebagai sumber protein alternatif penganti tepung ikan dalam formulasi pakan ikan lele (Clarias gariepinus). Rancangan digunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk pertumbuhan dan kelulusan hidup antar perlakuan tidak signifikan (P < 0,5), artinya semua perlakuan  tidak ada perbedaan dan dapat dikatagorikan bahan pakan dari tepung daun singkong dapat mengantikan sebagian keberadaan tepung ikan dalam formula pakan ikan lele dumbo. Pertumbuhan ikan lele terbaik terdapat pada perlakuan A (55% tepung daun singkong : 00% tepung ikan) 8,27 gram dengan pertumbuhan harian adalah 2.61% dan  pada B (40%  % tepung daun singkong : 15% tepung ikan) 5,28 gram dengan pertumbuhan harian adalah 1.86%, diikuti C (15% % tepung daun singkong :15% tepung ikan) 1.51% dan D (0 % tepung daun singkong : 55% tepung ikan) 1.33%. Tingkat kelangsungan hidup ikan lele tidak signifikan (P < 0,5), dan  relatif sama baiknya A (96,17%), B (94,77) dan C (95,92) dan terbaik pada perlakuan untuk D (96,37). Sebagai pengguna disarankan memakai formulasi pada perlakuan B (40% Tepung ikan dan 15% tepung daun singkong tua). Kata kunci: Ikan lele, Pakan, Tepung ikan, Tepung  Daun Singkong Tua
OPTIMASI KUALITAS PAKAN DENGAN FERMENTASI MENGGUNAKAN Effective Microorganisms 4 (EM4) BAGI PENINGKATAN PRODUKSI BENIH IKAN PATIN (Pangasianodon hypophtalmus) Syahrizal Syahrizal; Safratilofa Safratilofa; Wahyu Wahyuni
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.243 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v3i2.38

Abstract

Catfish (Pangasius hypopthalmus) is widely cultivated in floating net cages, floating net and kept in the ponds. Efforts to accelerate growth must be through improving the quality of food. Alternative can be done by improving the composition of feed by fermentation with Effective Microorganisms 4 (EM4) so that the composition of protein and fat in the feed to be optimal. The research design used was complete randomized design (RAL) 4 (four) treatment 3 (three) replications with Anova anlisis. Treatment P0 without EM4 (control), P1 EM4 0.5 ml, P2 1 ml, and P3 1.5 ml. The results of the best daily average growth of catfish were significantly different (P <0.5%) P1 1.89 gram followed by P2 1.86 gram, P3 1.84 gram, and P0 1.77 gram. Absolute growth P1 1.23 gram, P2 1.20 gram, P3 1.16 gram and P0 1.05 gram. The survival of catfish can be categorized either because it is at a death rate above 95%. Normal feed conversion 0.77% - 1.85%. best P1 0.77% and low P0 1.85%, P2 1.24% and P3 1.77%. The quality of water is relatively normal during temperature experiment 26.5oC, pH 7.98, DO 5.68 ppm, NH3 0.085 -0.24 ppm, and CO2 0.26 ppm.Keyword: Effective Microorganisms 4 (EM4), Feed and Catfish AbstrakIkan patin (Pangasius hypopthalmus) banyak dibudidayakan dalam keramba jaring apung, hapa dan  di kolam-kolam. Upaya untuk percepatan pertumbuhan harus melalui perbaikan mutu makanan. Alternatif dapat dilakukan dengan cara perbaikan komposisi pakan melalui fermentasi dengan Effective Microorganisms 4 (EM4) agar komposisi  protein dan lemak dalam pakan menjadi optimal. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) 4 (empat) perlakuan 3 (tiga) ulangan dengan anlisis Anova. Perlakuan P0 tanpa EM4 (kontrol), P1 EM4 0,5 ml,  P2 1 ml, dan P3 1,5 ml. Hasil penelitian pertumbuhan harian terbaik rata-rata ikan patin berbeda nyata (P<0,5%) P1 1,89  gram diikuti P2 1,86 gram, P3 1,84 gram dan  P0 1,77 gram.  Pertumbuhan mutlak P1 1.23 gram, P2 1.20 gram, P3 1.16 gram dan P0 1.05 gram.  Kelangsungan hidup ikan patin dapat dikatagorikan baik karena berada pada tingkat kematian diatas 95%.  Konversi pakan normal 0.77% – 1.85%. terbaik P1 0.77% dan yang rendah P0 1.85%,  P2 1.24% dan P3 1.77%. Kualitas air relatif normal selama percobaan  suhu 26.5oC, pH 7.98, DO 5.68 ppm, NH3 0,085 -0,24 ppm, dan CO2  0,26  ppm.Kata Kunci : Effective Microorganisms 4 (EM4), Pakan  dan  Ikan Patin
URGENSI PERBEDAAN WAKTU FERMENTASI EM4, (Effective Microorganisms) PADA BAHAN PAKAN UNTUK IKAN PATIN (Pangasianodon hypophtalmus) Syahrizal Syahrizal; Safratilofa Safratilofa; Ana Maria Sopiana
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.695 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v3i1.26

Abstract

The growth of catfish (Pangasius hypopthalmus) is relatively fast so that required a large and quality feed. Engineering improvement of feed composition can be through the improvement of fermented formulation with Effective Microorganisms 4 (EM4) with different time period to be obtained optimization of protein composition. This research used complete randomized design (RAL) 4 (four) treatment 3 (three) replicates with feed treatment control (without fermentation), feed with fermentation 48 hours, feed with fermentation 96 hours and fermentation time 144 hours. Analyze data with Anova. The results showed that 48 hours fermentation time was the best treatment with the highest average daily growth rate of 3.68% / day (absolute weight 3.66 gram) with feed efficiency of 2.75. (lowest) differed significantly (P <0.05%). Each treatment followed 96 hours daily growth of 2.76% (absolute weight 2.38) feed efficiency of 3.35%, treatment 144 daily growth 2.71% (absolute weight 2.31 grams) feed efficiency 3.07 and for control 3.24% (absolute weight 2.31 grams) efficiency 3.04. The fermentation time also increased the content of feed protein to 26.33% (control treatment), 24.13% (48 hours treatment), 26.78% (96 hours treatment), 19.30% (144 hours treatment). The survival rate of fish did not differ in the control treatment 95%, 48 hours 96.67%, 96 hours 100% and 144 hours 98.33%. Water quality medium temperature 26,5-26,9oC, pH 7,36-7,98, oxygen 5,00-6,90 mg/l, CO2 0,12-0,14 mg/l and ammonia 0.0001- 0.1210 mg/l.Keyword: Feed, Fermentation, catfishTop of FormBottom of Form ABSTRAKPertumbuhan ikan patin (Pangasius hypopthalmus) adalah relative cepat sehingga diperlukan kebutuhan pakan yang besar dan bermutu. Rekayasa perbaikan komposisi pakan dapat melalui perbaikan formulasi yang difermentasi dengan Effective Microorganisms 4 (EM4) dengan masa waktu berbeda hingga dapat diperoleh optimasi komposisi  protein. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 4 (empat) perlakuan 3 (tiga)  ulangan dengan perlakuan pakan kontrol (tanpa fermentasi ), pakan  dengan fermentasi 48 jam, pakan  dengan fermentasi 96 jam dan  waktu fermentasi 144  jam. Analisis data dengan Anova.  Hasil penelitian menunjukan lama waktu fermentasi 48 jam merupakan perlakuan terbaik dengan nilai laju pertumbuhan harian rataan tertinggi sebesar 3,68%/hari (berat mutlak 3,66 gram) dengan konversi pakan  2,75. (terendah) berbeda signifikan (P < 0,05%). Masing-masing diikuti perlakuan 96 jam pertumbuhan harian 2,76% (berat mutlak 2,38) konversi pakan 3,35% , perlakuan 144 pertumbuhan harian 2,71% (bobot mutlak 2,31 gram) konversi pakan 3,07 dan untuk kontrol 3.24%  (bobot mutlak 2,31 gram) konversi 3,04. Waktu fermentasi juga menyebkan terjadi peningkatan kandungan protein pakan menjadi 26,33% (perlakuan kontrol), 24,13% (perlakuan 48 jam), 26,78% (perlakuan 96 jam), 19,30% (perlakuan 144 jam). Tingkat kelangsungan hidup ikan tidak berbedanyata pada perlakuan kontrol 95%, 48 jam 96,67%, 96 jam 100% dan 144 jam 98,33%. Kualitas air media suhu 26,5-26,9oC, pH 7,36-7,98, oksigen 5,00-6,90 mg/l, CO2  0,12-0,14 mg/l dan amoniak 0,0001-0,1210 mg/l)Keyword: Pakan, Fermentasi,  ikan patin
ANALISIS KANDUNGAN MERKURI (Hg) PADA AIR DAN DAGING IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) Di KJA DANAU SIPIN JAMBI Syahrizal Syahrizal; M Yusuf Arifin
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 2, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.963 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v2i1.13

Abstract

AbstractEnvironment Agency Jambi Province in 2014 stipulates that the Batanghari River uncategorised heavy pollution with the effluent of 0.3265 ppm. The river water flow into the Lake Sipin, so worried farmers catfish (Pangasius hypopthalmus) in the floating  nets cage on heavy metal pollution Hg when exceeding quality standards. The content of Hg was observed through the method of survey study purposive sampling with 4 stations for 3 weeks of observation with sample analysis Atomic Absorption Spectrophotometer. The observation that the accumulation of heavy metals mercury (Hg) meat catfish in the lake Sipin from 0.0930 to 0.3960 ppm. Hg content is in torelansi SNI standards for heavy metals Hg categories food fishery products including mollusks and shrimp is 1 ppm and 0.5 ppm for predatory fish. So fish farming Lake Sipin still safe for consumption humans..Hg value of water is observed from 0.0001 to 0.0009 ppm. Hg content was lower when compared to the water quality standard by the Ministry of Environment No. 51 In 2004 the threshold value for the biota is 0.001 mg / l (ppm). Then the category of heavy metal content of Hg in the waters of Lake Sipin still at the threshold of normal. Occurrence repaired Hg waters presumably because the number found fish brooms, Hypostomus plecostomus and plant water hyacinth, Eichhornia crassipes which absorbed Hg in the waters. The state of water quality when the observation temperatures averaging 30-32 ° C, pH 6.6 to 7.4 and DO 7.0 to 8.4 ppm. The range of this parameter is feasible for the cultivation of catfish (Pangasius Hyphopthalmus), as it supports the growth and survival.Keywords: Bioaccumulation Hg, Lake Sipin, catfish AbstrakBadan Lingkungan Hidup Provinsi Jambi pada tahun 2014 menetapkan bahwa Sungai Batanghari  dikategorikan tercemari berat dengan limbah 0,3265 ppm. Air sungai ini mengalir ke Danau Sipin, sehingga para petani ikan patin (Pangasius hypopthalmus) di KJA kawatir terjadi pencemaran logam berat Hg melebihi standar. Kandungan Hg diamati melalui metode studi survei purposive sampling dengan 4 stasiun selama 3 minggu pengamatan sampel dengan analisis Spektrofotometer Serapan Atom. Hasil pengamatan terhadap akumulasi logam merkuri (Hg) pada  ikan patin di Danau Sipin dari 0,0930 sampai 0,3960 ppm. Katagori kandungan Hg yang bisa di torelansi menurut standar  SNI untuk produksi pangan perikanan termasuk moluska dan udang adalah 1 ppm dan 0,5 ppm untuk ikan predator. Jadi budidaya ikan Danau Sipin masih aman untuk dikonsumsi manusia. Nilai Hg airnya dari 0,0001 sampai 0,0009 ppm. Kandungan Hg ini lebih rendah bila dibandingkan dengan standar kualitas air oleh Kementerian Lingkungan Hidup No. 51 Pada tahun 2004 nilai ambang untuk biota adalah 0,001 mg / l (ppm). Kemudian kategori kandungan logam berat Hg di perairan Danau Sipin masih di ambang normal. Terjadinya perbaikan Hg air diduga karena ditemukan sejumlah ikan sapu-sapu, Hypostomus plecostomus dan tanaman eceng gondok, Eichhornia crassipes yang dapat menyerap Hg di perairan. Keadaan kualitas air pengamatan berupa  suhu  rata-rata 30-32 ° C, pH 6,6 sampai 7,4 dan DO 7,0 sampai 8,4 ppm. Kisaran parameter ini layak untuk budidaya ikan patin (Pangasius Hyphopthalmus), karena mendukung untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup.Kata kunci: Bioakumulasi Hg, Danau Sipin, ikan patin
PENGARUH TUMBUHAN AZOLLA (Azolla microphylla) TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP IKAN PATIN (Pangasianodon hypophthalmus) Yustika Anggraini; Syahrizal Syahrizal; M Yusuf Arifin
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.591 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v2i2.18

Abstract

Azolla (Azolla microphylla) aquatic plants can be used as a natural feed or as a source of artificial feed ingredients (pellets) of fish. In addition to Azolla plant as a fish feed, Azolla plant grown in fish maintenance water media can help improve water quality, because it can function as phytoremediation. The aim of this research is to see the influence of Azolla (Azolla microphylla) plant to survival rate on siamese catfish (Pangasianodon hypophthalmus) fish. The method used in this research is complete randomized design with 4 treatments and 3 replications. Treatment A. Without Azolla microphylla (control), B.Azolla microphylla treatment of 150 g / m2, Treatment C. Azolla. microphylla as much as 250 grams / m2, and D.Azolla microphylla as much as 350 grams / m2. The survival of the best catfish P1 54,20%, consecutive P2 28,30, P3 26,70 and P0 22,50. Initial ammonia concentration 0.33 mg / l after experiments P0 0.34, P1 0.27, P2 0.27 and P3 0.24 with correction factors P1 0.443, P2 435 and P3 0.541. The association of Azolla count toward survival of fish gave no significant correlation to survival R = 0.017, whereas the relation of the amount of azolla to ammonia correlated significantly R = 0.903. The best density of Azolla 350 gram / m2 plant on water surface media that can function as phytoremediation to absorb the remnants of fish and fish waste, so as to improve the water quality factor and at the same time can increase the growth of Siamese (Pangasianodon hypophthalmus) fish biomass and affect the production of Azolla biomass.Keywords: phytoremediation, azolla, catfishTumbuhan air Azolla (Azolla microphylla) dapat dijadikan pakan alami  atau sebagai salah satu sumber bahan pakan buatan (pellet) ikan. Selain tumbuhan Azolla sebagai pakan ikan, Azolla yang ditanam dalam media air pemeliharaan ikan dapat membantu memperbaiki kualitas air, karena dapat berfungsi sebagai fitoremediasi. Penelitian yang dilakukan bertujuan melihat efektifitas tumbuhan  Azolla (Azolla microphylla) sebagai fitoremediasi  pada media pemeliharaan ikan patin siam  (Pangasianodon hypophthalmus) Tanpa ganti air. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan A. Tanpa Azolla microphylla (kontrol), Perlakuan B.Azolla microphylla sebanyak 150 gram/m2, Perlakuan C. Azolla. microphylla sebanyak 250 gram/m2, dan D. Azolla microphylla sebanyak 350 gram/m2. Kelangsungan hidup ikan patin terbaik P1 54,20%, berturut-turut P2 28,30, P3 26,70 dan P0 22,50. Konsentrasi amonia awal 0.33 mg/l setelah percobaan P0 0,34, P1 0,27, P2 0,27 dan P3 0,24 dengan Faktor Koreksi P1 0,443, P2 435 dan P3 0,541. Hubungan jumlah Azolla terhadap kelangsungan hidup ikan memberikan korelasi tidak nyata bagi kelangsungan hidup R = 0,017, sedangkan hubungan jumlah azolla terhadap ammonia berkorelasi secara nyata R = 0,903. Kepadatan tanaman Azolla 350 gram/m2 terbaik pada permukaan air media  yang dapat berfungsi sebagai fitoremediasi menyerap sisa pakan dan kotoran ikan, sehingga dapat memperbaiki faktor kualitas air dan sekaligus dapat meningkat pertumbuhan biomassa ikan patin siam dan mempengaruhi produksi biomass Azolla.Kata Kunci: Fitoremediasi, azolla, ikan patin
PENGARUH AZOLLA (Azolla microphylla) TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) PADA MEDIA PEMELIHARAAN TANPA GANTI AIR Dian Rizki Putri; Syahrizal Syahrizal; M Yusuf Arifin
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.004 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v2i2.19

Abstract

Azolla (Azolla microphylla) aquatic plants can be used as a natural feed or as a source of artificial feed ingredients (pellets) of fish. In addition to Azolla plant as a fish feed, Azolla plant grown in fish maintenance water media can help improve water quality, because it can function as phytoremediation. The aim of this research is to see the influence of Azolla (Azolla microphylla) plant to growth of siamese catfish (Pangasianodon hypophthalmus) fish without any change of water. The method used in this research is complete randomized design with 4 treatments and 3 replications. Treatment A. Without Azolla microphylla (control), B.Azolla microphylla treatment of 150 g / m2, Treatment C. Azolla. microphylla as much as 250 grams / m2, and D.Azolla microphylla as much as 350 grams / m2. The result of Azolla plant with 150 gram / m2 is the best absolute growth of P1 1.7 gram / head patish, followed by P2 1,6, P3 1,00 and P0 0,93 gram / ekor. The association of Azolla count toward growth  of fish gave no significant correlation to growth R = 0.073, whereas the relation of the amount of azolla to ammonia correlated significantly R = 0.903. The best density of Azolla 350 gram / m2 plant on water surface media that can function as phytoremediation to absorb the remnants of fish and fish waste, so as to improve the water quality factor and at the same time can increase the growth of Siamese (Pangasianodon hypophthalmus) fish biomass and affect the production of Azolla biomass.Keywords: Phytoremediation, azolla, catfishTumbuhan air Azolla (Azolla microphylla) dapat dijadikan pakan alami  atau sebagai salah satu sumber bahan pakan buatan (pellet) ikan. Selain tumbuhan Azolla sebagai pakan ikan, Azolla yang ditanam dalam media air pemeliharaan ikan dapat membantu memperbaiki kualitas air, karena dapat berfungsi sebagai fitoremediasi. Penelitian yang dilakukan bertujuan melihat pengaruh tumbuhan  Azolla (Azolla microphylla) terhadap pertumbuhan ikan patin siam  pada media pemeliharaan tanpa ganti air. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah  rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan A Tanpa Azolla microphylla (kontrol), Perlakuan B.Azolla microphylla sebanyak 150 gram/m2, Perlakuan C. Azolla. microphylla sebanyak 250 gram/m2, dan D. Azolla microphylla sebanyak 350 gram/m2. Hasil penelitian pemberian tanaman Azolla dengan jumlah 150 gram/m2 merupakan pertumbuhan mutlak terbaik rata-tata ikan patin P1 1,7 gram/ekor, diikuti P2 1,6, P3 1,00, dan P0 0,93 gram/ekor.. Hubungan jumlah Azolla terhadap pertumbuhan ikan memberikan korelasi tidak nyata bagi pertumbuhan R = 0,073, sedangkan hubungan jumlah azolla terhadap ammonia berkorelasi secara nyata R = 0,903. Kepadatan tanaman Azolla 350 gram/m2 terbaik pada permukaan air media  yang dapat berfungsi sebagai fitoremediasi menyerap sisa pakan dan kotoran ikan, sehingga dapat memperbaiki faktor kualitas air dan sekaligus dapat meningkat pertumbuhan biomassa ikan patin siam dan mempengaruhi produksi biomass Azolla.Kata Kunci: Fitoremediasi, azolla, ikan patin