Articles
FENOMENA AKUNTABILITAS PERPAJAKAN PADA JAMAN BALI KUNO: SUATU STUDI INTERPRETIF
Budiasih, I Gusti Ayu Nyoman
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 5, No 3 (2014): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (855.686 KB)
Abstrak: Fenomena Akuntabilitas Perpajakan Pada Jaman Bali Kuno: Suatu Studi Interpretif. Riset ini bertujuan untuk menginterpretasikan fenomena akuntabilitas perpajakan pada jaman Bali kuno (IX-XV Masehi). Melalui studi interpretif dengan metode etnoarkeologi penggabungan data arkeologi dan etnografi, fenomena akuntabilitas perpajakan masa itu dapat ditelusuri. Berdasarkan hasil interpretasi, akuntabilitas pajak masa itu di mana masyarakat dipungut pajak oleh kerajaan melalui pemungut pajak (Sang mangnalila drbya haji) sesuai aturan berlaku. Daerah tertentu (swatantra) dibebaskan pembayaran pajaknya (disebut sima) karena sesuatu hal. Pajak ârotting banyuâ bagi orang yang melakukan irigasi (subak) ditentukan sebesar 1 masaka. Pencatatan berbagai jenis pajak yang ditetapkan kerajaan hingga pelaporan dan pertanggung jawaban oleh bendahara kerajaan pada Raja telah dilakukan.Abstract: Accountability phenomenon Taxation In Bali Ancient Times: An interpretive study.The aim of this research to interpret the phenomenon of taxation accountability at the time of ancient Bali (IX-XV AD). Through of interpretive study with Ethnoarchaeology method archaeological and ethnographic data integration, the phenomenon of taxation accountability that time can be traced. Based on the interpretation of the results, the accountability of the tax period in which the tax levied by the royal society through the tax collector (Sang mangnalila drbya haji) according to the rules applicable. Certain regions (swatantra) released his tax payments (called sima) for any reason. Tax "rotting banyu" for people who do the processing of irrigation (Subak) is set at 1 masaka. Recording various types of tax of the kingdom to the reporting and accountability by the royal treasurer to King had done.
MENGUAK KONSEP HARGA DAN LABA DI BALIK TRANSAKSI BANTEN
Ni Ketut Suryani;
I Gusti Ayu Nyoman Budiasih;
I Putu Sudana;
I Gde Ary Wirajaya
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Agustus 2021 - Desember 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2021.12.2.21
Abstrak - Menguak Konsep Harga dan Laba di Balik Transaksi BantenTujuan Utama - Riset ini bertujuan untuk menguak konsep harga dan laba di balik budaya transaksi banten yang dilakukan oleh kelompok etnik keagamaan.Metode – Riset ini menggunakan etnografi sebagai metode. Pihak produsen dan konsumen banten menjadi informan pada penelitian ini.Temuan Utama - Konsep dasar Hindu yang dituangkan pada sloka bhagavad gita dijadikan dasar untuk menentukan harga banten. Laba bagi informan terkonsep sebagai “rasa” bahagia dan karma. Kebahagiaan karena setiap pihak telah menjalankan tugasnya serta terbebas dari karma yang mengikatnya.Implikasi Teori dan Kebijakan – Konsep bhagavad gita bisa dikombinasikan dengan teori penetapan harga jual produk secara konvensional agar lebih holistik. Konsep ini dapat digunakan oleh pengusaha yang memiliki jiwa spiritual Hindu saat membangun bisnis.Kebaruan Penelitian – Riset ini menjadi jembatan antara nilai spiritualitas dan materialitas dalam berbisnis, khususnya dalam perspektif agama Hindu. Abstract - Revealing the Concept of Price and Profit Behind “Banten” TransactionsMain Purpose - This research aims to uncover the concept of price and profit behind the culture of “banten” transactions by religious, ethnic groups.Method – This research uses ethnography as a method. The producers and consumers of “banten” became informants in this study.Main Findings - The basic Hindu concept, as outlined in the “bhagavad gita” verse, is used as the basis for determining the price of offerings. Profit for the informants is conceptualized as a "feel" of happiness and karma. Happiness has happened because each party has carried out their duties and is free from the karma that binds them.Theory and Practical Implications – The “bhagavad-gita” concept can be combined with conventional product pricing theory to make it more holistic. This concept can be used by entrepreneurs who have a Hindu spiritual soul when building a business.Novelty - This research is a bridge between the values of spirituality and materiality in doing business, especially in Hinduism.
MAKNA PENYUSUNAN TRAVELIFE SUSTAINABILITY REPORT
I Gusti Agung Ayu Uttami Vishnuputri;
I Putu Sudana;
I Gusti Ayu Nyoman Budiasih;
Ni Made Dwi Ratnadi
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 10, No 1 (2019): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18202/jamal.2019.04.10007
Abstrak: Makna Penyusunan Travelife Sustainability Report. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna yang melatari alasan manajemen Legian Beach Hotel secara sukarela mengungkapkan kinerja sustainability dengan Travelife Sustainability Report. Fenomenologi digunakan sebagai metode untuk menggali pemahaman pihak terkait. Temuan dalam riset ini mengindikasikan bahwa proses penyusunan Travelife Sustainability Report dilakukan untuk mencapai keinginan manajemen dalam mencapai keunggulan kompetitif. Keunggulan ini adalah kelangsungan usaha hotel dalam jangka panjang khususnya efisiensi biaya. Selain itu, penyusunan laporan juga dilakukan untuk meningkatkan citra positif perusahaan baik di lingkungan masyarakat maupun asosiasi. Abstract: The Meaning of Travelife Sustainability Report Compiler. This study aims to uncover the meaning behind the management of Legian Beach Hotel voluntarily disclosing sustainability performance with the Travelife Sustainability Report. Phenomenology is used as a method to explore the understanding of related parties. The findings in this research indicate that the process of compiling the report was conducted to achieve a competitive advantage. This advantage is the continuity of the business of the hotel, in the long run, especially cost efficiency. Also, the preparation of reports was also conducted to improve the positive image of the company both in the community and associations.
FENOMENA AKUNTABILITAS PERPAJAKAN PADA JAMAN BALI KUNO: SUATU STUDI INTERPRETIF
I Gusti Ayu Nyoman Budiasih
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 5, No 3 (2014): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (855.686 KB)
|
DOI: 10.18202/jamal.2014.12.5030
Abstrak: Fenomena Akuntabilitas Perpajakan Pada Jaman Bali Kuno: Suatu Studi Interpretif. Riset ini bertujuan untuk menginterpretasikan fenomena akuntabilitas perpajakan pada jaman Bali kuno (IX-XV Masehi). Melalui studi interpretif dengan metode etnoarkeologi penggabungan data arkeologi dan etnografi, fenomena akuntabilitas perpajakan masa itu dapat ditelusuri. Berdasarkan hasil interpretasi, akuntabilitas pajak masa itu di mana masyarakat dipungut pajak oleh kerajaan melalui pemungut pajak (Sang mangnalila drbya haji) sesuai aturan berlaku. Daerah tertentu (swatantra) dibebaskan pembayaran pajaknya (disebut sima) karena sesuatu hal. Pajak “rotting banyu” bagi orang yang melakukan irigasi (subak) ditentukan sebesar 1 masaka. Pencatatan berbagai jenis pajak yang ditetapkan kerajaan hingga pelaporan dan pertanggung jawaban oleh bendahara kerajaan pada Raja telah dilakukan.Abstract: Accountability phenomenon Taxation In Bali Ancient Times: An interpretive study.The aim of this research to interpret the phenomenon of taxation accountability at the time of ancient Bali (IX-XV AD). Through of interpretive study with Ethnoarchaeology method archaeological and ethnographic data integration, the phenomenon of taxation accountability that time can be traced. Based on the interpretation of the results, the accountability of the tax period in which the tax levied by the royal society through the tax collector (Sang mangnalila drbya haji) according to the rules applicable. Certain regions (swatantra) released his tax payments (called sima) for any reason. Tax "rotting banyu" for people who do the processing of irrigation (Subak) is set at 1 masaka. Recording various types of tax of the kingdom to the reporting and accountability by the royal treasurer to King had done.
PRAKTIK AKUNTANSI BETAWIAN DALAM PERSPEKTIF KUASA DAN PENGETAHUAN
I Gusti Ayu Nyoman Budiasih;
Ni Made Adi Erawati;
I Made Sadha Suardikha
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 9, No 1 (2018): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (514.903 KB)
|
DOI: 10.18202/jamal.2018.04.9001
Abstrak: Praktik Akuntansi Betawian dalam Perspektif Kuasa dan Pengetahuan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan praktik akuntansi Betawian pada masa kekuasaan Belanda. Metode yang digunakan adalah perspektif Foucauldian. Artikel ini menemukan bahwa perspektif kuasa kapitalis menghasilkan pengaruh besar terhadap pemungutan pajak yang dilakukan pada masyarakat Betawi. Kuasa dari kolonialisme Belanda merupakan mekanisme yang dapat menciptakan pengetahuan praktik akuntansi yaitu dalam hal pembuatan aturan pemungutan pajak maupun denda kepada rakyat lokal. Hal ini digunakan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan dalam jangka waktu panjang. Abstract: The Betawian Accounting Practice in Power and Knowledge Perspective. This article aims to identify and explain the Betawian accounting practices during the Dutch colinialism period. The method used is Foucauldian perspective. This article finds that the perspective of capitalist power produces a major influence on tax collection conducted on Betawi society. Power of Dutch colonialism is a mechanism that can create knowledge (accounting practices) that is in terms of making the rules of tax collection and fines to the local people. It is used as a tool to perpetuate power in the long term.
PERILAKU PENGAMBILAN KEPUTUSAN KREDIT BERDASARKAN MENTAL ACCOUNTING DAN MENYAMA BRAYA
Dewi, Ni Komang Ayu Julia Praba;
Budiasih, I Gusti Ayu Nyoman
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 16, No 1 (2025): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (April 2025 - Agustus 2025)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2025.16.1.12
Abstrak – Perilaku Pengambilan Keputusan Kredit Berdasarkan Mental Accounting dan Menyama BrayaTujuan Utama – Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keberadaan mental accounting dan konsep menyama braya dalam pengambilan keputusan kredit.Metode – Penelitian ini menggunakan studi kasus heuristik melalui focus group discussion. Informan dalam penelitian ini adalah rumah tangga pedesaan.Temuan Utama – Penelitian ini menemukan bahwa mental accounting dan prinsip menyama braya berkontribusi dalam pengambilan keputusan kredit. Hal ini terlihat melalui proses analisis economic dan noneconomic mental accounting serta mental budgeting. Dalam kaitannya dengan penggunaan pinjaman, keterbatasan sumber daya membuat uang diberikan batasan akun mental tertentu.Implikasi Teori dan Kebijakan – Penelitian ini menekankan bahwa pengambilan keputusan kredit rumah tangga merefleksikan analisis economic dan noneconomic mental accounting serta mental budgeting. Secara praktis, penelitian ini menyarankan adanya strategi promosi keuangan inklusif dengan pendekatan yang lebih adaptif.Kebaruan Penelitian – Penelitian ini mengungkap fenomena mental accounting dan konsep menyama braya dalam praktik perilaku pengambilan keputusan kredit. Abstract – Credit Decision Making Behavior Based on Mental Accounting and Menyama Braya Main Purpose - The study aims to explore the existence of mental accounting and the concept of menyama braya in credit decision-making.Method - The study used a heuristic case study through focus group discussions. The informants in this study were rural households.Main Findings - This study found that mental accounting and the principle of menyama braya contributed to credit decision-making. This was evident through the process of economic and non-economic mental accounting analysis and mental budgeting. In relation to the use of loans, resource constraints meant that money was given certain mental account boundaries.Theory and Practical Implications - This study emphasises that household credit decision-making reflects economic and noneconomic mental accounting and mental budgeting analyses. In practical terms, this study suggests an inclusive financial promotion strategy with a more adaptive approach.Novelty - This study reveals the phenomenon of mental accounting and the principle of menyama braya in credit decision-making behavior.