Articles
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP KETERAMPILAN BERDISKUSI SISWA KELAS IV
Anis Fita Yuliana;
Tita Tanjung Sari;
Ach. Puniman
Alpen: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : FKIP Universitas Wiraraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/alpen.v3i1.26
Factors that can affect the learning outcomes of IVB graders include: 1) teachers still use traditional learning methods (lectures) where students only pay attention, listen, and record material so that students have difficulty in understanding the subject matter delivered by the teacher; 2) lack of teacher creativity in using varied learning models; 3) the teacher also lacks the opportunity for students to express their opinions so that it impacts on students' skills, especially in discussions. The purpose of this study was to determine the use of inquiry learning models in integrated thematic learning and to determine the effect of the use of inquiry learning models on students' discussion skills on integrated thematic learning in class IVB MIN 2 Sumenep. This study uses a quasi experimental design design with the form of nonequivalent control group design. The sample in this study consisted of two classes, namely class IVA and class IVB. Class IVA as many as 24 students as the control class and class IVB as many as 24 students as the experimental class. The treatment applied to the experimental class was the inquiry learning model. The syntax or steps of inquiry used in researchers are 1) presenting questions or problems; 2) make a hypothesis; 3) design an experiment; 4) conducting experiments to obtain information; 5) collecting and analyzing data; 6) make conclusions. The results showed that 1) The use of inquiry learning models in the experimental class was more effective than the direct learning model in the control class; 2) inquiry learning model influences students' discussion skills. This is evidenced by the results of the t-test 2 Free Samples (Independent Samples t-Test). Where in the t-test 2 Independent Samples t-Test in the "Equal variances assumed" section, the sig (2-tailed) value of 0.002 <0.05 means that Ho is rejected, Ha is accepted.
PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK (SCIENTIFIC APROACH) TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA KELAS IV
Markiya Markiya;
Tita Tanjung Sari;
Ach. Puniman
Alpen: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : FKIP Universitas Wiraraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/alpen.v3i1.27
Problems faced by students in integrated thematic learning are 1) learning activities are still dominated by using the lecture method; 2) lack of students' ability to ask questions and express opinions; 3) lack of application of student-centered learning approaches. Of the several problems experienced by students in learning activities resulting in low student learning outcomes, especially on student communication skills. The purpose of this study was to determine how the application of the scientific approach to integrated thematic learning and to determine the effect of the application of the scientific approach to students' communication skills on integrated thematic learning in class IVB MIN 2 Sumenep. This research uses quasi experimental design. in the form of nonequivalent control group design. The sample in this study consisted of two classes, namely class IVA and class IVB. Class IVA as many as 24 students as the control class and class IVB as many as 24 students as the experimental class. The treatment applied to the experimental class is the scientific approach. the steps of learning activities with a scientific approach in this study are 1) Observing; 2) Asking questions; 3) Gathering Information; 4) Processing information and; 5) Communicating. The results of this study indicate that: 1) the application of using a scientific used in the experimental class is more effective than the control class; 2) the application of scientific learning has a significant effect on students' communication skills in integrated thematic learning in class IVB MIN 2 Sumenep. This is evidenced by the results of the t-test 2 Free Samples (Independent Sample Test). Where in the t-test 2 free samples (independent sample t-test) obtained the value of t count 3.347> t table 1.679, then Ho is rejected and Ha is accepted.
PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING MODEL TERHADAP KEAKTIFANDAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PADA SISWA KELAS III SDN BABBALAN
Lutfia Lutfia;
Tita Tanjung Sari;
Ach. Puniman
Alpen: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 2 (2019): Juli-Desember 2019
Publisher : FKIP Universitas Wiraraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/alpen.v3i2.29
Belajar dengan menemukan sendiri pengetahuannya maka pengetahuan siswa akan bertahan lama. Untuk mencapai hal tersebut diharapkan peserta didik dapat berperan aktif dan terlibat langsung saat proses pembelajaran. Sedangkan keaktifan peserta didik yang rendah akan berdampak pada pencapaian hasil belajar peserta didik yang rendah pula. Oleh karena itu, diperlukan adanya perhatian serta strategi untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Berperan aktif dalam belajar adalah suasana yang mestinya tercipta dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan model pembelajaran yang efektif dan lebih menyenangkan yaitu melalui Problem Based Learning Model. Problem Based Learning Model dapat digunakan sebagai alternatif variasi model pembelajaran yang menawarkan masalah kepada peserta didik untuk memecahkan sendiri masalah yang dihadapi, sehingga peserta didik terdorong untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari beberapa bagian yaitu tahap perencanaan, tindakan, pengamatan dan reflekfi. Sumber data penelitian adalah siswa kelas III SDN Babbalan Batuan Sumenep, validator, dan observer penelitian. Instrument pengumpulan data menggunakan lembar observasi keaktifan peserta didik, lembar hasil belajar peserta didik dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Problem Based Learning Modelyang diterapkan dapatkan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar kognitif siswa kelas III SDN Babbalan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya aktifitas positif dari 58,25% menjadi 73,75% dan menurunnya aktifitas negatif dari 14% menjadi 2,70%. Selain itu hasil belajar kognitif siswa pada nilai rata-rata kelas meningkat dari 90,8 menjadi 93,3
PENGEMBANGAN ENSIKLOPEDIA TEMATIK PADA KELAS III DI SDN PATEAN II
Isvina Unai Zahroya;
Tita Tanjung Sari;
Nisfil Maghfiroh Meita
Alpen: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 2 (2019): Juli-Desember 2019
Publisher : FKIP Universitas Wiraraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/alpen.v3i2.31
Siswa mendapatkan nilai di bawah KKM pada tiap ulangan yang disebabkan kurangnya pemahaman siswa dan kesulitan dalam memahami setiap konsep-konsep materi pada tiap tema. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk ensiklopedia tematik, mengetahui kelayakan dan mengkaji respon siswa dan wali kelas III SDN Patean II terhadap ensiklopedia tematik. Pada penelitian ini menggunakan pengembangan 4D dari Thiagarajan, yang terdiri dari tahap Defaine, Design dan Development. Untuk instrument pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar validasi desain, materi dan format dan angket respon siswa dan wali kelas. Pada tahap uji kelayakan desain mendapatkan presentase 92%, materi 94% dan format 100% yang termasuk kategori sesuai dan tidak revisi. Tahap uji coba awal (Initial Testing) dilakukan pada kelas IV dengan 5 orang dan tahap uji coba kuantitatif (Kuantitaif Testing) dilakukan pasa semua siswa kelas III di SDN Patean II yang berjumlah 9 siswa dan wali kelas. Hasil respon siswa menunjukkan kriteria sangat baik 98% dan hasil respon wali kelas mendapatkan keriteria sangat baik 85%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ensiklopedia tematik layak untuk digunakan.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DENGAN MEDIA BONGKAR PASANG UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERTANYA SISWA KELAS V SDN BABBALAN
Ila Ariska;
Tita Tanjung Sari;
Nisfil Maghfiroh Meita
Alpen: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 4 No. 1 (2020): Januari-Juni 2020
Publisher : FKIP Universitas Wiraraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/alpen.v4i1.38
Penelitian ini bertujuan menerapkan model pembelajaran make a match dengan media bonkar pasang untuk meningkatkan keterampilan bertanya pada siswa kelas V SDN Babbalan pada tema 9 benda-benda disekitar. Jenis pelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, yang terdiri dari dua siklus dalam satu siklus terdiri dari dua pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari tahapan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen penelitian menggunakan observasi dan tes keterampilan bertanya. Teknik analisis data observasi yang terdiri dari a. Lembar observasi kemampuan guru daam meningkatkan keterampilan bertanya siswa b. Lembar observasi profile keterampilan bertanya siswa. Indikator keberhasilan nilai rata-rata hasil keterampilan bertanya meningkat dan dinyatakan berhasil yang telah ditetapkan SDN Babbalan. Peningkatan keterampilan bertanya pada siklus I dikategorikan sedang dengan niai 64,28% menjadi kategori tinggi pada akhir siklus sebesar 92,85%. Pada siklus II siswa sangat antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar serta dalam berkelompok. Menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya penilain pada sintaks guru dan siswa yang sebesar 66,66% sintaks guru dan 72,22% sintaks siswa.
PERBANDINGAN SOAL HOTS DAN LOTS PADA UJIAN NASIONAL SEKOLAH DASAR SEDERAJAT DI KABUPATEN SUMENEP
Uwais Bayquni Mahbubillah;
Tita Tanjung Sari;
Nisfil Maghfiroh Meita
Alpen: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 4 No. 1 (2020): Januari-Juni 2020
Publisher : FKIP Universitas Wiraraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/alpen.v4i1.39
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat kesulitan tipe HOTS dan LOTS dalam bentuk persentase pada soal ujian nasional mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam waktu tiga tahun terakhir (2016-2017, 2017-2018 dan 2018-2019). Hasil penelitian yang didapatkan pada mata pelajaran Matematika tahun 2016-2017 terdapat 16 soal berkriteria HOTS dan 24 berkriteria LOTS, tahun 2017-2018 terdapat 12 soal berkriteria HOTS dan 18 berkriteria LOTS, tahun 2018-2019 terdapat 14 soal berkriteria HOTS dan 16 berkriteria LOTS dan untuk mata pelajaran Ipa tahun 2016-2017 terdapat 15 soal berkriteria HOTS dan 25 berkriteria LOTS, tahun 2017-2018 terdapat 15 soal berkriteria HOTS dan 20 berkriteria LOTS, tahun 2018-2019 terdapat 17 soal berkriteria HOTS dan 18 berkriteria LOTS. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa soal berkriteria HOTS pada mata pelajaran Matematika tertinggi pada tahun 2016-2017 dengan 16 butir soal berkriteria HOTS sedangkan pada mata pelajaran Ipa tertinggi pada tahun 2018-2019 dengan 17 butir soal berkriteria HOTS.
IMPLEMENTASI METODE PEMBACAAN PUISI DALAM MENGATASI MASALAH POOR SELF CONCEPT DI KELAS IV SDN PATEAN II
Nurul QOmariyah L.S;
Tita Tanjung Sari;
Nisfil Maghfiroh Meita
Alpen: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 4 No. 2 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : FKIP Universitas Wiraraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/alpen.v4i2.74
Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah Poor Self Concept adalah dengan cara membaca puisi. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan selama dua siklus dimana setiap siklusnya terdapat dua pertemuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan pembacaan puisi dan untuk mengetahui peningkatan percaya diri siswa melalui metode pembacaan puisi bagi kelas IV SDN Patean II. Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen penelitian, diantaranya: RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), LKP (Lembar Kegiatan Penelitian), Rubrik penilaian membaca puisi dan yang terakhir adalah angket siswa. Dari hasil penelitian yang didapatkan selama dua siklus terbukti bahwa keterlaksanaan membaca puisi termasuk baik. Hal ini dibuktikan dengan LKP (Lembar Kegiatan Penelitian) dimana pada siklus pertama diperoleh data sebesar 84% dan siklus ke II sebesar 89%. Pada aspek peningkatan percaya diri siswa berdasarkan rubrik penilaian membaca puisi pada siklus pertama diperoleh data sebesar 54% dan siklus ke II mengalami peningkatan menjadi sebesar 74%. Indikatornya adalah pada saat anak membaca puisi mereka lebih percaya diri, dapat mengeluarkan pendapatnya, dapat membaca puisi dengan suara yang lantang, serta dapat mengeluarkan ekspresi saat membaca puisi. Artinya masalah Poor Self Concept dikatakan menurun melalui penerapan metode membaca puisi.
WORK SHOP PENYUSUNAN AUTHENTIC ASESSMENT SEKOLAH DASAR BAGI GURU SD
Anang Hadi Cahyono;
Tita Tanjung Sari
Jurnal ABDIRAJA Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Abdiraja
Publisher : LPPM Universitas Wiraraja Sumenep, Jalan Raya Sumenep Pamekasan KM. 5 Patean Sumenep 69451, Telp. (0328) 673399 Fax. (0328) 673088
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24929/adr.v3i1.769
Salah satu mandat dari kurikulum 2013 bagi guru adalah pelaksanaan authentic asessment atau penilaian menyeluruh yang mengakut domain kognitif, afektif, dan psikomotor. authentic asessment menilai anak seutuhnya dan menghargai segala kemampuan anak. Salah satu upaya untuk menyelesaikan permasalahan mitra sasaran adalah melalui kegiatan work shop authentic asessment Sekolah Dasar untuk guru SD di SDN Pangarangan III Sumenep. Work shop authentic asessment Sekolah Dasar untuk guru SD di SDN Pangarangan III Sumenep dilakukan dengan metode praktik langsung oleh guru dibantu mahasiswa yang kebetulan tengah melakukan praktik pengenalan lapangan persekolahan (PLP II) di SD mitra. Melalui kegiatan pengabdian ini, guru di tawarkan cara mudah untuk menentukan indikator dan implementasi langsung di kelas. Alasan utama mengapa guru banyak yang tidak melakukan authentic asessment adalah karena authentic asessment menuntut guru untuk lebih teliti dalam mengevaluasi kemampuan siswa secara menyeluruh dalam tiga domain kemampuan siswa, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga penilaian tersebut tentu saja memiliki indikator khasnya dan cara menyusunan masing-masing. Pelaksanaan kegiatan PKM dilakukan dalam empat kali pertemuan, terdiri dari dua tahapan, yaitu tahap pertama adalah penyampaian materi authentic asessment dan tahap kedua praktik langsung penyusunan instrument authentic asessment Sedolah dasar di kelas masing-masing. Sesuai dengan yang telah di sepakati dengan kepala sekolah, bahwa work shop ini di laksanakan dengan terjun langsung ke kelas masing-masing di bantu oleh mahasiswa yang kebetulan melaksanakan praktik PLP II program studi PGSD. Sehingga tidak berupa ceramah, anjuran, dan contoh, tetapi langsung di praktikkan untuk menilai siswa di kelas. Sehinga kedua tahap tersebut dilakukan dalam satu waktu.
Pembelajaran Ranah Psikomotor berbasis Realistic Mathematics Education untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar
Tita Tanjung Sari;
Anang Hadi Cahyono
Pedagogik Journal of Islamic Elementary School VOL 5 NO 1 APRIL 2022
Publisher : IAIN Palopo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24256/pijies.v5i1.2266
Critical thinking skills can be practiced by using psychometric realistic math-based learning by implementing an application of "fun math". This study aims to understand the students' critical thinking skills on geometry topics. A quasi-experimental is used on one group of pretests – posttest design. The instruments of this study are critical thinking ability observation sheets and the psychomotor ability evaluation sheets. The subject of this study involves 6 students from the fifth-class year of primary school in SDN Soddara II, Sumenep of East Java province. The data analysis results indicate a learning application of realistic math-based learning through "fun math" on the topic of space building can improve the students’ critical thinking skills, shown by the average score of five indicators. The highest average value (2.4), the indicator of providing a simple explanation and draw conclusions (2.3), are in the good category. The indicator of estimating and providing alternative solutions (2.1), and providing further consideration (2.025) with an average category. The students' critical thinking skills improve on how they are expressing opinions, giving alternative thoughts, unlocking new ways, and presenting them based on the facts that they are able to deliver alternative solutions to create new ideas.