Suwarto
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB University), Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Penentuan Dosis Optimum Pemupukan N, P, dan K pada Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) Ratna Suminar; . Suwarto; Heni Purnamawati
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 22 No. 1 (2017): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.579 KB) | DOI: 10.18343/jipi.22.1.6

Abstract

Development of sorghum processing industries is essential in expanding sorghum market as wells as it’s an economic value. Fertilizer is needed in planting. Nitrogen, phosphorus, and potassium availabilities are the most limiting factors for maximum growth and yield. Sorghum (Numbu Variety) was planted to evaluate the maximum and optimum rates of N, P, and K fertilizers. The research was conducted in Cikarawang field, Darmaga, Bogor from MarchJuly 2015 with multi-nutrient response method. Each experiment evaluated different rates of N, P, and K fertilizer with randomized complete block design and three replications. The fertilizer rates were 0, 50, 100, 150, and 200% of recommendation rate (100% N = 120 kg N ha-1, 100% P = 36 kg P2O5 ha-1, and 100% K = 90 kg K2O ha-1). The result showed relative yields of sorghum increased quadratically based on y = -0,0015x2 + 0,4011x + 67,571 for N, y = -0,0012x2 + 0,2917x + 78,457 for P2O5, and y = -0,001x2 + 0,2777x + 74,457 for K2O. The maximum rate for each nutrient was 160,4-43,7-124,9 kg N-P2O5-K2O ha-1. Fertilizer recommendation based on P threshold (no P) was 36,7-0,0-13,7 kg N-P2O5-K2O ha-1, K threshold (no K) was 22,0-0,0-0,0 kg N-P2O5-K2O ha-1, and no fertilizer needed on N threshold. The optimum rate fertilizer based on the yield vs. cost rule, therefore, the most economical recommendation would be 160,4-43,7-124,9 kg N-P2O5-K2O ha-1.
Respons Agronomi Tiga Varietas Ubi Kayu pada Berbagai Tingkat Kadar Air Tanah . Suwarto; Eko Sulistyono; Giansar Prastowo
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 23 No. 1 (2018): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.188 KB) | DOI: 10.18343/jipi.23.1.44

Abstract

Cassava has been cultivated in almost the all region of Indonesia as a raw material of food, feed, and industries.  The productivity of cassava was varied among the region due to the variation of varieties used and growth environment, especially rainfall or water availability. Water deficit or drought stress will decrease the growth and yield of cassava.  Selecting tolerant variety to drought will be important to get high productivity. An experimental pot in the greenhouse has been conducted to know the growth and yield response to drought. Three varieties of cassava i.e Adira-1, Gajah, and Mangu were planted in the pot at three level of soil moisture content (SMC) 40-60, 60-80, and 80-100% of field capacity (FC). The cassava growth traits were influenced by SMC starting at 6 weeks after planting (WAP) for a number of leaves, at 8 WAP for stem girth, at 10 WAP for plant height, at 14 WAP for lobus width, and 15 WAP  for lobus length.  Root, stem, and leaves dry weight in the SMC of 40-60% FC were 64.4; 43.98, and 31.19% of the dry weight in 80-00% FC. Roots yield in the soil moisture content of 40-60% FC decreased by 76.2% and in the SMC of 40-60%, FC decreased by 38.4% compared to in the SMC of 80-100% FC. The water use efficiency and roots yield of Gajah variety were highest.
Studi Pengembangan Jagung Berkelanjutan melalui Integrasi dengan Sapi di Tuban, Jawa Timur Suwarto Suwarto; Iwan Prihantoro
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 25 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.418 KB) | DOI: 10.18343/jipi.25.2.232

Abstract

Biji-bijian dan daging adalah dua komoditas penting di Indonesia. Jawa Timur adalah sentra produksi utama kedua komoditas tersebut sehingga perlu diusahakan keberlanjutannya. Permasalahan dalam produksi jagung adalah peningkatan harga input pupuk anorganik dan keterbatasan ketersediaan bahan tersebut. Permasalahan produksi ternak adalah keterbatasan pakan. Biomas batang, daun, kelobot, dan tongkol sebagai produk samping jagung dapat digunakan menjadi pakan ternak. Sebaliknya, kotoran sapi dapat digunakan sebagai sumber pupuk. Integrasi kedua sistem ini menjadi peluang untuk keberlanjutan produksi. Studi ini dilakukan untuk mengetahui keberlanjutan produksi jagung dan sapi di Tuban, Jawa Timur melalui penentuan skala dan tingkat keterpaduan integrasi. Survei terhadap 23 orang petani anggota Kelompok Tani Makaryo, Desa Waleran, Kecamatan Grabagan dilakukan untuk mengetahui pengusahaan jagung dan sapi. Untuk mengetahui efisiensi pemupukan, di lahan kelompok tani dilakukan penelitian dengan menggunakan empat dosis urea, yaitu 0, 100, 200, dan 300 kg/ha, dengan pupuk dasar 300 kg NPK Phonska dan 10 ton pupuk kandang. Skala integrasi yang dapat dilaksanakan oleh satu rumah tangga petani adalah 1 ha jagung dengan 2 ekor sapi dengan tingkat keterpaduan ekologis 1,1; ternak sapi memasok pupuk kandang untuk 1,1 ha kebun jagung. Penggunaan urea sebanyak 200 kg menghasilkan biji sebanyak 6.890 kg dan penerimaan tertinggi sebesar Rp21.288.000. Urea dihemat 100 kg ha-1 atau 9.651 ton untuk luas tanaman jagung 96.505 ha/tahun di Tuban. Secara ekonomis, integrasi peternakan sapi dengan kebun jagung dapat menghemat input luar sebanyak Rp230.000/ha atau Rp20.651 miliar/tahun. Pertanian jagung yang terintegrasi dengan sapi dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan bermasukan luar rendah. Kata kunci: bermasukan luar rendah, biomas, integrasi, pakan, pupuk kandang
OPTIMASI LAHAN REPLANTING KELAPA SAWIT DENGAN SISTEM TUMPANGSARI JAGUNG (Zea mays L) DAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L) Hidayati Fatchur Rochmah; Suwarto Suwarto; Ade Astri Muliasari
JURNAL SIMETRIK Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.443 KB) | DOI: 10.31959/js.v10i1.199

Abstract

Tanaman kelapa sawit harus direplanting jika sudah memasuki usia 25 tahun. Areal replanting tanaman kelapa sawit yang terbuka akan membuat tanah menjadi kering, padat dan akan mudah tercuci sehingga akan menjadi kurang subur. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi tanah. Pola tanam tumpangsari dapat dijadikan alternative untuk melakukan konservasi tanah pada areal replanting kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor mulai bulan Februari 2018 sampai Mei 2018. Rancangan percobaan secara rancangan kelompok lengkap teracak dengan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu monokultur jagung, monokultur kacang tanah,  tumpangsari 1 baris jagung + 1 baris kacang tanah dan tumpangsari 1 baris jagung + 2 baris kacang tanah. Hasil pertumbuhan tanaman jagung menunjukkan bahwa perlakuan tumpangsari menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun yang lebih baik dibandingkan tanaman monokultur jagung. Hasil yang sama juga ditunjukkan pada tanaman kacang tanah dimana perlakuan tumpangsari menunjukkan pertumbuhan tanaman kacang yang lebih baik dibandingkan monokultur kacang tanah. Pada peubah hasil tanaman per ha menunjukkan bahwa perlakuan monokultur jagung menghasilkan hasil per ha yang lebih tinggi dibandingkan system tumpangsari. Perlakuan monokultur jagung dan kacang tanah menghasilkan hasil per ha lebih besar dibandingkan perlakuan tumpangsari. Akan tetapi nisbah kesetaraan lahan (NKL) perlakuan tumpangsari menunjukkan hasil >1. Nisbah kesetaraan lahan perlakuan tumpangsari 1 baris jagung + 1 baris kacang tanah yaitu 1.40 dan tumpangsari 1 baris jagung+ 2 baris kacang tanah yaitu 1.46.
Influence of Land Use and Rainfall on Carbon Stock Dynamics for Oil Palm and Rubber Oktanindita Priambodo; Hariyadi; Suwarto; I Putu Santikayasa
Agromet Vol. 34 No. 2 (2020): DECEMBER 2020
Publisher : PERHIMPI (Indonesian Association of Agricultural Meteorology)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j.agromet.34.2.121-128

Abstract

The expansion of agricultural commodities including oil palm plantations potentially causes an increase of greenhouse gas emissions by amplifying carbon dioxide (CO2) in the atmosphere. In the long term, this amplification will alter climate change. However, oil palm also has the potency to reduce greenhouse gas emissions by absorbing CO2 through photosynthesis. This study aims to determine the carbon stock that can be absorbed by oil palm and rubber plants, and to determine the relationship of rainfall with carbon stock in oil palm plants. The study used satellite image data based on Landsat and combined with rainfall data from near Perbaungan District, North Sumatra. Three Landsat data (acquisition date: (i) 12 February 2000, (ii) 8 March 2009, and (iii) 11 August 2019) were processed to estimate carbon stock. The procedure for estimating carbon stock was as follows: determining the sample and digitizing the sampling points, converting the digital value of the numbers into the spectral spectrum, calculating the albedo values, calculating the long-wave and short-wave radiations, computing biomass, and the absorbed carbon stock. The results showed that the carbon stock in oil palm was greater than that of rubber plants as oil palm has a greater biomass. The greater the plant biomass, the bigger the carbon stock absorbed. Further, the findings revealed that rainfall in dry season has a contribution to carbon stock in oil palm and rubber. The higher the total rainfall during dry season will increase the absorbed carbon stocks.
Kontribusi Biomassa dari Daun Gugur dalam Penyediaan Hara pada Pertanaman Ubi Kayu Suwarto Sukiman; Ahmad Faris Abrori
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.332 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.3925

Abstract

In the central area of production, cassava is cultivated continuously along the year as monoculture. At harvest time a number of biomass will be transported from the land in the form of cassava roots, stem, and leaves; a number of nutrient transported from the land. However, the cassava is still could be cultivated with not significantly decreasing its productivity. Probable that is related to the leaves fall during the planting season as the biomass return. The study to know the contribution of the leaves fall to nutrient supply of cassava field has been conducted by planting cassava varieties of Adira-1, Gajah and Mangu as monoculture and intercropped with yam bean.  The leaves were starting fall at 8 weeks after planting (WAP).  The contribution of the leaves fall was significantly different among the varieties. The influence of planting system was not significant to the leaves fall.  Up to the harvest time at 34 WAP, the nutrient supply of leaves fall of Adira-1 was estimated could replace all nutrient of N, P, K, Ca and Mg transported in the roots of 15.7 ton ha-1.  The leaves fall of Gajah varieties was estimated could replace all nutrient of N and Ca transported in the roots of 19.6 ton ha-1.  However, the leaves fall of Mangu variety was estimated could not replace all nutrient of N, P, K, Ca and Mg transported in the roots of 30.5 ton ha-1. Additional fertlizers were needed to supply enought nutrient to Gajah and Mangu varieties.
Efektivitas Pengapuran dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) sebagai Hijauan Pakan Ternak Iwan Prihantoro; Asep Tata Permana; Suwarto Suwarto; Edit Lesa Aditia; Yualisna Waruwu
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 28 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.28.2.297

Abstract

Sorghum is a potential crop as feed forage. The objective of the research was to obtain optimum dose of liming to improve the growth and productivity of sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) biomass as feed forage. A completely randomized design with 4 treatments and 4 replications were applied for the research. The treatments were doses of dolomite lime addition i.e., 1) SD0 (dolomite lime addition at a dose of 0 ton/ha) as a control, 2) SD1 (dolomite lime addition at a dose of 1 ton/ha), 3) SD2 (dolomite lime addition at a dose of 2 ton/ha), and 4) SD3 (dolomite lime addition at a dose of 3 ton/ha). The result shows that supplementation of dolomite lime at doses of 2‒3 tons ha-1 can increase soil pH after a week of incubation. The dolomite lime addition at a dose of 3 tons ha-1 significantly increases (P<0.05) the plant height (2 weeks after planting) and the number of leaves from a week after planting until the end of the research (10 weeks after planting). In addition, this dose of dolomite addition (3 tons/ha) can increase fresh biomass productivity as well as dry biomass compared to control (SD0). In conclusion, supplementation of dolomite lime at a dose of 3 tons ha-1 was effective to increase the pH value of soil, plant height, leaves number, as well as fresh and dry biomass of sorghum plant. In addition, this dose of dolomite lime produces better green color of sorghum plant leaf compared to without liming. Keywords: biomass production, dolomite lime, feed forage, Sorghum bicolor (L.) Moench
Penanganan Panen dan Pascapanen Teh Hitam CTC (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Kebun Rancabali, Bandung, Jawa Barat Damara Wisnu Aridewa Maska; Hariyadi; Suwarto
Buletin Agrohorti Vol. 10 No. 3 (2022): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v10i3.46492

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kebun Rancabali, Bandung pada bulan Januari hingga Mei 2021. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi panen dan pascapanen teh hitam CTC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isian dan penumpukan waring berpengaruh nyata terhadap penambahan kerusakan pucuk teh. Kapasitas pemetik mesin, gunting, dan delay life mencapai 149.4 kg HOK-1, 61 kg HOK-1, dan 71.72 kg HOK-1 serta tidak dipengaruhi oleh usia, lama pengalaman kerja, dan jenis kelamin. Tenaga petik gunting, mesin, dan delay life sebanyak 136, 128, dan 30 orang. Rata-rata analisis pucuk memenuhi syarat olah pada pemetikan mesin dan pemetikan gunting yaitu 51.2 % dan 47.9 %. Cara pemetikan berpengaruh nyata terhadap persentase memenuhi syarat pucuk. Selisih timbangan kebun dan pabrik yaitu 0.63 %. Rata-rata nilai rendemen teh yaitu 23.46%. Kata kunci: kerusakan pucuk, kualitas pucuk, sarana panen, pengangkutan pucuk, pengolahan
Perbandingan Pemetikan Secara Manual dan Mesin Terhadap Hasil Produksi Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) di Kebun Wonosari, Malang, Jawa Timur Sintia Octaviani; Hariyadi; Suwarto
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 1 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i1.46580

Abstract

Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - April 2021 di Kebun Wonosari, Malang, Jawa Timur. Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengevaluasi metode pemetikan manual dan mesin pada hasil dan kualitas teh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tinggi bidang petik dan diameter bidang petik semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur setelah pangkas. Tinggi dan diameter bidang petik sudah sesuai dengan tinggi dan diameter yang ideal untuk tanaman teh. Potensi pucuk dengan mutu yang baik (pucuk peko) lebih banyak terdapat pada areal pemetikan manual dibanding areal pemetikan mesin. Gilir petik pada pemetikan manual lebih cepat dibanding gilir petik pada pemetikan mesin. Kapasitas pemetik dipengaruhi oleh umur pemetik dan tidak dipengaruhi oleh lama pengalaman kerja, dan gender pemetik. Tenaga petik dilapang pada kedua metode masih kurang jika dilihat dari hasil perhitungan. Analisis petik dan analisis pucuk belum memenuhi standar perusahaan, sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan hasil pemetikan sesuai dengan standar perusahaan. Kata kunci: gilir petik, keterampilan, kualitas pucuk, potensi pucuk, umur pemetik
Manajemen Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada Tanaman Menghasilkan di Kebun Petapahan, Kampar, Riau Afifuddin; Hariyadi; Suwarto
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 1 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i1.46582

Abstract

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang menghasilkan minyak nabati. Salah satu faktor terpenting dalam pemeliharaan kelapa sawit adalah pemupukan untuk meningkatkan produktivitas. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2021 di Kebun Petapahan PT Peputra Masterindo, Kampar, Riau. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis manajemen pemupukan tanaman kelapa sawit di Kebun Petapahan. Pengamatan aspek khusus dilakukan terhadap manajemen pemupukan di lapangan berdasarkan 5 prinsip tepat (tepat jenis, tepat takaran, tepat tempat, tepat waktu, dan tepat cara aplikasi) dan gejala defisiensi unsur hara pada tanaman kelapa sawit. Hasil pengamatan terhadap prinsip 5T menunjukkan bahwa aplikasi pemupukan di Kebun Petapahan sudah sesuai dengan rekomendasi perusahaan dengan ketepatan 100%. Ketepatan dosis pupuk Borate adalah 97.78%. Ketepatan pemupukan cukup baik dengan persentase rata-rata 91.11%. Akurasi penempatan pada pupuk KCL sebesar 152.81 cm. Namun pada prinsipnya ketepatan takaran pupuk KCL masih dibawah standar aplikasi perkebunan yaitu 90.56%. Sedangkan pada pengamatan ketepatan waktu aplikasi pupuk Urea, Rock phosphate, dan Dolomit masih belum sesuai dengan waktu aplikasi yang direkomendasikan. Defisiensi unsur hara menunjukkan bahwa di Kebun Petapahan terdapat 12% tanaman yang mengalami gejala defisiensi unsur hara Kalium (K). Kata kunci: defisiensi hara, pupuk, rekomendasi, tepat pemupukan