Perubahan iklim semakin meningkatkan risiko gangguan terhadap infrastruktur transportasi dan mobilitas masyarakat pesisir, terutama di wilayah kepulauan yang bergantung pada moda laut. Penelitian ini menganalisis pengaruh kondisi cuaca ekstrem terhadap perilaku perjalanan masyarakat hinterland di Kota Batam, khususnya di Kecamatan Bulang, Galang, dan Belakang Padang. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi pola perjalanan, persepsi risiko iklim, serta strategi adaptasi yang diperlukan untuk meningkatkan ketahanan transportasi pesisir. Pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif melalui survei terhadap 100 responden, diperkuat dengan observasi lapangan, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cuaca ekstrem seperti hujan lebat, gelombang tinggi, dan pasang surut secara signifikan memengaruhi keputusan perjalanan masyarakat. Sebagian besar responden tetap melakukan perjalanan karena kebutuhan ekonomi dan pendidikan, sementara lainnya memilih menunda atau membatalkan perjalanan ketika risiko meningkat. Boat pancung dan speedboat menjadi moda dominan, yang menunjukkan ketergantungan tinggi pada transportasi laut, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap dinamika cuaca. Selain itu, masyarakat memiliki persepsi tinggi terhadap risiko perubahan iklim, khususnya yang terkait keselamatan dan kerusakan infrastruktur pesisir seperti dermaga dan jalan akses. Upaya pemerintah, seperti penambahan ponton dan perbaikan dermaga, dinilai bermanfaat namun belum merata. Temuan ini menegaskan perlunya strategi adaptasi yang lebih komprehensif, termasuk peningkatan sistem informasi cuaca, perencanaan tata ruang berbasis risiko, serta penguatan infrastruktur transportasi yang tahan terhadap perubahan iklim. Penelitian ini berkontribusi dalam memperluas pemahaman mengenai perilaku perjalanan di wilayah kepulauan dan memberikan dasar bagi perencanaan transportasi pesisir yang lebih adaptif dan berkelanjutan.