Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (TEAM GAMES TOURNAMENT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS II SD NEGERI NOBOREJO 02 SALATIGA Muhammad Abdul Kholiq; Emy Wuryani
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 9 No. 5 (2023): Volume 09 No. 05 Desember 2023
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v9i5.1954

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik materi nilai tempat bilangan dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT). Subjek peneliti ini adalah peserta didik kelas II SD Negeri Noborejo 02 Salatiga Tahun Pelajaran 2023/2024 pada semester ganjil dengan jumlah peserta didik 17 orang. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ketuntaan belajar. Pada siklus I ketuntasan hasil belajar sebesar 65% dan pada siklus II meningkat menjadi 88%. Dapat disimpulkan bahwa penggunan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas II SD Negeri Noborejo 02 Salatiga. Kata Kunci : Team Games Tournament (TGT), nilai tempat bilangan
DINAMIKA POLITIK PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN CABANG KECAMATAN BAWEN PADA 1996 – 2001 Kinasih, Maria Dominika Tyas; Wuryani, Emy; Purwiyastuti, Wahyu
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 15 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v15i2.73298

Abstract

Atmosfer politik yang berlangsung di sekitar tahun 1996 – 2001 berpengaruh hingga tingkat cabang. Hal tersebut dialami oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kemudian dikenal dengan nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Apa yang dilakukan oleh para kader PDI di tingkat pusat membawa dampak bagi dinamika yang terjadi di tingkat bawah, khususnya di wilayah Kecamatan Bawen. Para kader PDI Bawen selalu menyesuaikan diri terhadap kondisi politik yang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dinamika politik PDIP Kecamatan Bawen tahun 1996-2001 dan sikap para kader PDIP Kecamatan Bawen ketika menghadapi permasalahan politik yang terjadi di tahun 1996-2001. Hasil penelitian menunjukkan: 1) dinamika pengkaderan anggota PDIP cabang Bawen penuh tantangan, sikap dan semangat para kader sangat penting dalam praktik berorganisasi; 2) proses pengkaderan dilakukan melalui inisiatif kader cabang Bawen sendiri; dan 3) sejarah dan dinamika pengkaderan di PDI Bawen bermanfaat sebagai pengetahuan pelengkap bagi pelajaran sejarah di SMA.
MAKNA TUAK DALAM ADAT PERNIKAHAN MASYARAKAT DAYAK PESAGUAN DAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL Ambrosia Aria Pahlawan; Sunardi, Gatot; Wuryani, Emy
Jurnal Nusantara Raya Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jnr.v2i1.7938

Abstract

Tuak adalah salah satu minuman tradisional yang mengandung alkohol terbuat dari beras ketan yang difermentasi. Tuak ini sendiri kerap kali muncul dalam setiap upacara adat Dayak Pesaguan seperti upacara pernikahan, dengan kata lain tuak merupakan sajian wajib. Dalam upacara pernikahan adat terdapat upacara minum tuak yang memiliki makna dan nilai tertentu. Tuak dianggap sakral bagi suku Dayak Pesaguan karena memiliki makna serta nilai-nilai kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna serta nilai-nilai kearifan lokal pada tuak menurut pandangan suku Dayak Pesaguan. Metode penelitian menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuak memiliki makna adat bagi masyarakat Dayak Pesaguan yaitu Tuak merupakan simbolik adat, makna serta fungsi tersendiri. Simbolik adat, untuk meminta ijin kepada leluhur, tuak akan ditumpahkan ke tanah sambil diiringi dengan doa. Nilai-nilai kearifan lokal  yang terkandung dalam tradisi minum tuak dalam upacara adat pernikahan adalah nilai kesatuan yakni rasa persaudaraan dan rasa saling membantu, peduli akan keadaan satu sama lain saat sedang mengalami kesulitan dalam rumah tangga, untuk meningkatkan penghayatan terhadap nilai-nilai luhur budaya nasional, dan sarana  untuk meningkatkan penghayatan terhadap nilai-nilai  sejarah  dan  budaya,  sehingga  memunculkan  rasa  kerukunan  dan kebersamaan dalam bermasyarakat.
TRADISI SURAN DAN MAKNANYA BAGI MASYARAKAT DUSUN MULUNGAN (THE SURAN TRADITION AND ITS MEANING FOR THE PEOPLE OF MULUNGAN HAMLET) Maruschka Lathifah Ar-rumi; Wuryani, Emy; Widiarto, Tri
Jurnal Nusantara Raya Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jnr.v2i1.7939

Abstract

Tradisi Suran dilaksanakan untuk memperingati awal tahun baru Jawa, bulan Sura pada penanggalan Jawa dengan tanggal 1 Muharram pada kalender Hijriyah. Di Dusun Mulungan, Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang masyarakat menyebut bulan Sura dengan sebutan kawitane taun atau tahun pertama nenurut penanggalan Jawa. Tradisi Suran dilaksanakan untuk meminta tolak bala supaya tanaman berbuah dan hal-hal baik seperti: meminta rezeki yang melimpah, keselamatan dan tidak mengalami musibah. Menurut warga dusun Mulungan pada bulan Sura masyarakat perlu merenungkan, mendekatkan diri dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Permasalahannya adalah apabila masyarakat Mulungan tidak melaksanakan tradisi Suran maka mereka khawatir akan terjadi musibah atau mara bahaya. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan latar belakang masyarakat Mulungan melaksanakan tradisi Suran dan maknanya bagi masyarakat. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan tradisi Suran di dusun Mulungan dilatarbelakangi oleh ajaran Sunan Kalijaga yang disebut methukan (pertemuan). Maksudnya adalah mempertemukan dan mempersatukan umat Islam agar tidak terpecah belah, karena pada saat itu masih banyak masyarakat yang menyembah batu. Adapun makna tradisi Suran adalah dengan masyarakat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, mereka mendapat keselamatan, selamat di perjalanan, bebas dari mara bahaya baik di rumah maupun saat bekerja
Dumbeg Sebagai Simbol Kearifan Lokal Masyarakat Desa Genjahan Kecamatan Jiken Kabupaten Blora Anggara, Arfan Bita; Wuryani, Emy; Widiarto, Tri
Nautical : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 2 No. 10 (2024): Nautical: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55904/nautical.v2i10.608

Abstract

Sekarang ini banyak masyarakat yang lebih memilih mengkonsumsi jajanan modern, seperti: kue balok, cupcake, donat modern, dll. dan mulai melupakan jajanan tradisional salah satunya yaitu jajanan dumbeg. Hal ini karena jajanan tradisional tersebut sudah jarang dibuat setiap hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran mengenai Dumbeg sebagai simbol kearifan lokal masayarakat Desa genjahan Kecamatan jiken Kabupaten Blora serta faktor-faktor yang penyebab sulitnya menemukan dumbeg. Metode penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. bahwa faktor-faktor penyebab dumbeg tidak lagi banyak ditemukan adalah faktor tradisi yang berbeda di setiap daerah, karena makanan tersebut hanya disajikan pada saat acara tertentu saja. Seperti pada saat tradisi sedekah bumi. Pelaksanaan tradisi sedekah bumi ini dilaksanakan satu tahun sekali setelah panen tiba. Di Kota Blora tradisi sedekah bumi masih dilestarikan di setiap desa, banyak anggapan bahwa jajanan tradisional ini rasanya terlalu legit sehingga banyak masyarakat yang jarang menyukai jajanan tradisional ini. Nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diambil dari jajanan tradisional dumbeg yaitu nilai toleransi, nilai gotong royong, dan nilai religius. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengenalkan dan melestarikan jajanan tradisional dumbeg, antara lain adalah melalui media sosial, kegiatan praktek pembuatan untuk genasi muda, dan pemasaran di pasar tradisional.
Membangun Karakter dan Budi Pekerti Petani Melalui Tradisi Wiwitan di Desa Gilangharjo Pandak Bantul Bintari Listyani; Sunardi; Emy Wuryani
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i1.257

Abstract

Budi pekerti adalah nilai moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam kehidupan masyarakat dan menyampaikan nilai-nilai serta pesan moral. Masyarakat Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul sampai saat ini masih mempertahankan upacara sedekah bumi yaitu Tradisi Wiwitan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai budi pekerti. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan Tradisi Wiwitan di Desa Gilangharjo Pandak Bantul. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Tradisi Wiwitan yang dilaksanakan tahun 2019, jatuh di hari Rabu Pahing bulan Sura atau Rabu tanggal 4 September 2019. Tradisi Wiwitan dimaksudkan sebagai sarana tolak bala (menolak hal-hal yang tidak baik) dan bentuk rasa syukur para petani kepada Tuhan yang telah membebaskan tanaman padinya dari semua hama dan penyakit tanaman padi sehingga siap dipanen. Dalam Tradisi Wiwitan terdapat nilai karakter yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat contohmya nilai religi, nilai sosial, saling menghormati antar umat beragama, tanggung jawab.
Partisipasi Masyarakat dalam Melakukan Konservasi Peninggalan Sejarah di Kawasan Wisata Candi Ceto dalam Perspektif Pendidikan Karakter Emy Wuryani; Nani Mediatati
Cakrawala: Jurnal Pendidikan Vol 13 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/cakrawala.v13i2.211

Abstract

This research aims: 1) Explain the factors that encourage people to participate in conservation of historical heritage. 2) Identify the character values that form the basis of community participation in conservation. 3) Identify forms of historical heritage conservation activities. 4) How to carry out conservation. The techniques of data collection are literature, observation, FGD, and depth interviewing. The basis of analysis used of qualitative descriptive. The results of this research as follows: 1) The factors that encourage community participation in conservation: (a) cultural factors as ancestral heritage, historical heritage must be secured, cared for and preserved; (b) Social psychology: safeguarding and caring for historical heritage, their life will be safe and the environment will bring prosperity to peoples. 2) Character values that form the basis community participation in conservation are responsibility, sincerity, humanity, and care for the environment. 3) The forms of conservation activities show as to take care of and finding historical heritage, checking historical heritage, preserving, caring for the environment and historical sites so that clean, keeping the path to the location of historical sites so that clean and accessible to visitors.
IMPLEMENTASI MEDIA PEMBELAJARAN INOVATIF BERTEKNOLOGI AUGMENTED REALITY UNTUK GURU SMP SATYA WACANA Listyanto Aji Nugroho; Emy Wuryani; Nani Mediatati; Dionisius Heckie Puspoko Jati
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.57934

Abstract

Perkembangan teknologi digital pada era revolusi industri 4.0 menuntut guru untuk memiliki keterampilan dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Namun, kenyataannya masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam memanfaatkan teknologi informasi, termasuk dalam pembuatan media pembelajaran inovatif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru SMP Kristen Satya Wacana dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) melalui aplikasi Assemblr Edu. Sasaran kegiatan adalah 16 guru dari berbagai bidang mata pelajaran. Metode pelaksanaan meliputi Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi aplikasi Assemblr Edu, pelatihan/workshop pembuatan media AR, serta pendampingan berkelanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum pelatihan sebagian besar guru telah mengenal Assemblr Edu tetapi belum mampu membuat media berbasis AR. Setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan, seluruh guru (100%) mampu mengoperasikan aplikasi Assemblr Edu dan menghasilkan minimal satu produk media pembelajaran berbasis AR sesuai bidang studi masing-masing, seperti model bangun ruang, sistem tata surya, tabel periodik interaktif, hingga visualisasi cerita rakyat. Produk tersebut siap diimplementasikan pada pembelajaran semester genap 2024/2025. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik dan pendampingan intensif efektif dalam meningkatkan keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi AR, sekaligus mendukung transformasi digital pembelajaran di sekolah.
Development of HistoVIR: Immersive Learning Media Based on Virtual Reality for History on Senior High School Listyanto Aji Nugroho; Emy Wuryani
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 15 No. 2 (2026)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v15i2.421

Abstract

This study aims to explore the effectiveness of using a Virtual Reality (VR)-based learning tool, histoVIR, in enhancing students' understanding and engagement in history lessons at Senior High School of Kristen Satya Wacana. Utilizing the ADDIE development model, which consists of five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation, this research focuses on meeting students' unique needs through accessible and interactive media. The analysis phase revealed gaps in the availability of adaptive learning resources and technology at the school, highlighting the need for more tailored learning tools. In the design and development stages, histoVIR was created by integrating text, audio, and visual elements to provide an immersive and culturally relevant learning experience. Feedback from media experts and teachers confirmed that the tool was effective in enhancing student engagement and facilitating understanding of historical content. The implementation phase showed an increase in student participation and improvement in comprehension, as reflected in improved test scores after using the media. This study confirms that adaptive technologies, such as VR, can support inclusive education, particularly for students with diverse learning needs. The findings provide a promising model for the development of VR-based learning tools in inclusive educational settings.