Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Indonesian Green Technology Journal

PENGARUH RASIO PUCUK TEBU DAN RUMPUT GAJAH DALAM PAKAN LENGKAP SAPI PERAH TERHADAP PARAMETER FERMENTASI RUMEN DAN PASOK PROTEIN MIKROBA MELALUI PENDEKATAN PRODUKSI GAS IN VITRO Anang Stirtoadiu; Kusmartono Kusmartono; Siti Chuzaemi
The Indonesian Green Technology Journal Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui rasio optimal penggunaan pucuk tebu (PT) dan rumput gajah (RG) dalam pakan lengkap sapi perah melalui pendekatan produksi gas in vitro. Penelitian dilaksanakan dengan metode percobaan menggunakan RAK 5 x 5. Perlakuan yang digunakan adalah tingkat rasio PT dan  RG dalam pakan lengkap yang disusun iso protein dari bahan : RG (Pennisetum purpureum) umur pemotongan 43– 56 hari, PT (Saccharum officinarum), dan beberapa bahan konsentrat. Pakan perlakuan disusun dalam 100 % BK dengan perbandingan 40 % BK konsentrat (BKK) dan 60 % BK hijauan (BKH) dimana masing-masing perlakuan dan komposisi BKH adalah: CF1 (100 % RG + 0 % PT); CF2 (75 % RG + 25 % PT); CF3 (50 % RG + 50 % PT); CF4 (25 % RG + 75 % PT) dan  CF5 (0 % RG + 100 % PT). Interval inkubasi pengukuran laju produksi gas : 0, 2, 4, 8, 16, 24, 32, dan 48 jam. Pengukuran efisiensi sintesis protein mikroba (ESPM) ditentukan dengan reflux larutan NDS yang ditambahkan pada residu produksi gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio PT terhadap RG dalam pakan lengkap sapi perah memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap volume gas pada inkubasi 2 dan 4 jam, tapi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada inkubasi 8 – 48 jam. Perlakuan pakan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap degradasi BK, nyata (P<0,05) terhadap kadar total VFA dan asam asetat (C2) namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap degradasi BO, kadar NH3,  kadar asam propionat (C3), asam butirat (C4), C2/C3, dan proporsi molar VFA. Pakan perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap ESPM (mg N/kg BOTR) dan semua hasil perhitungan stoichiometri. Rasio PT terhadap RG yang semakin tinggi menghasilkan efisiensi sintesis protein mikroba yang relatif sama, efisiensi tertinggi cenderung ditunjukkan oleh level PT sebesar 25 % dan 100 %. Disimpulkan bahwa pada pakan lengkap sapi perah dengan protein kasar 12,5  %; proporsi PT sebagai sumber serat hingga 100 % dapat diaplikasikan. Kontunyuitas dan stabilitas suplai pakan sapi perah dapat dipenuhi dengan memanfaatkan PT namun suplementasi pakan konsentrat sangat disarankan agar   terpenuhi kebutuhan nutrisi, khususnya pasok protein mikroba pada pencernaan pasca rumen. Kata kunci : pasok protein mikroba, rasio pucuk tebu dan rumput gajah, pakan lengkap.
KAJIAN PENGGUNAAN SILASE ISI RUMEN DALAM RANSUM KONSENTRAT SAPI PERAH PERANAKAN FRIESIAN HOLLAND (PFH) TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI SUSU Isnandar Isnandar; Made M. Ardhana; Siti Chuzaemi
The Indonesian Green Technology Journal Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kimiawi wastelase campuran isi rumen dan bekatul dengan bahan aditif Effective Microorganisme (EM4) dan Tetes, serta pengaruhnya sebagai bahan tambahan ransum konsentrat terhadap penampilan produksi susu sapi perah Peranakan Friesian Holland (PFH) yang dilaksanakan di Balai Diklat Pertanian (BLPP) Batu-Malang. Isi rumen yang digunakan isi rumen sapi berasal dari rumah potong hewan Kotamadya Malang, diambil secara acak selama periode penelitian.  Aplikasi penggunaan silase isi rumen sebagai pengganti konsentrat Bapro dengan pakan basal hijauan jerami jagung muda, diberikan pada sapi perah laktasi sebanyak 20 ekor umur 7 tahun dengan masa laktasi ke lima. Metode percobaan yang dilakukan pada percobaan pertama adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan dua faktor perlakuan , faktor pertama terhadap pembuatan silase terdiri dari perlakuan tanpa penggunaan EM4 (E0) dan dengan penggunaan EM4 (E1) serta penambahan tetes sebagai faktor kedua terdiri dari perlakuan tanpa penambahan tetes (T0) penambahan tetes 1,5 persen (T1) dan penambahan tetes 3 persen (T2), sehingga terdapat 6 kombinasi perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 4 kali ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari campuran 70 persen isi rumen dan 30 persen bekatul yang dimasukkan ke dalam kantong plastik polyethylene hitam kedap udara.  Untuk mengetahui nilai nutrisi dilakukan uji kimiawi, pada perlakuan penambahan EM4 dilakukan setelah 12 ensilase sedangkan perlakuan tanpa penambahan EM4 dilakukan setelah 16 hari ensilase.  Parameter yang diamati meliputi kandungan Bahan Kering (BK), Bahan Organik (BO), Protein Kasar (PK), Serat Kasar (SK), Kecernaan Bahan Kering (KcBK) In Vitro, Kecernaan Bahan Organik (KcBO) In Vitro, N-NH3, asam laktat, asam butirat, dan asam asetat, serta kecepatan fermentasinya yang diukur adalah pH.  Percobaan kedua merupakan aplikasi penggunaan silase isi rumen sebagai campuran ransum konsentrat, menggunakan Rancangan Acak Kelompok, kelompok pertama berdasarkan bobot badan sapi ±350 Kg, kelompok kedua ±400 Kg, kelompok ke tiga ±450 Kg, kelompok ke empat ±500 Kg, masing masing kelompok terdiri dari 5 ekor sapi umur 7 tahun dengan periode laktasi ke 5. Setiap kelompok  diberi perlakuan pakan basal hijauan jagung muda dengan konsentrat Bapro sebagai perlakuan kontrol (RKI0), konsentrat Bapro 92,5% dan silase 7,5% (RKI1), konsentrat Bapro 85% dan silase 15% (RKI2), konsentrat Bapro 77,5% dan silase 22,5% (RKI3), konsentrat Bapro 70% dan silase 30% (RKI4), dengan perhitungan ransum iso protein kasar dan iso energi metabolis (ME), dengan kandungan Protein kasar 13,22% dan ME 2,045Mcal/kg.  Perameter yang diamati jumlah produksi susu (liter), kadar lemak susu (%), berat jenis susu, solid non fat (%) dan konsumsi bahan kering. Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa perlakuan penggunaan EM4 dan Tetes berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter yang diamati.  Silase dengan perlakuan penggunaan EM4 mempunyai kandungan BK, BO, PK, KcBK, KcBO asam laktat lebih tinggi  dari pada tanpa penggunaan EM4 sebaliknya kandungan SK, Asam butirat, asam asetat, N-NH3 dan nilai pH lebih rendah.  Perlakuan penambahan tetes 3% mempunyai kandungan BK, BO, PK, KcBK, KcBO dan asam laktat tertinggi, kemudian menurun berturut-turut pada penambahan tetes 1,5% dan tanpa penambahan tetes (0%), sebaliknya kandungan SK, Asam butirat, asam asetat N-NH3 dan nilai pH lebih rendah.  Secara umum perlakuan penambahan tetes 3% dengan penggunaan EM4 0,1% mempunyai nilai nutrisi paling baik.   Hasil penelitian kedua menunjukkan bahwa penggunaan silase isi rumen dari perlakuan penambahan tetes 3% dan penggunaan EM4 0,1%, sebagai pengganti pakan konsentrat sampai dengan 30% dari yang dikonsumsi tidak berpengaruh nyata terhadap penampilan produksi susu sapi perah.  Sedangkan kelompok bobot badan dan perlakuan ransum konsentrat berpengaruh  sangat nyata terhadap konsumsi bahan kering. Silase isi rumen terbaik yang dihasilkan dari perlakuan penggunaan EM4 dan level penambahan tetes 3 persen, dapat digunakan sebagai pengganti salah satu bahan campuran konsentrat dengan kandungan nilai nutrisi yang sama. Kata kunci : Silase, Isi rumen, Konsentrat, Sapi Perah Peranakan Friesian Holland, Produksi Susu