Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Penentuan Awal Waktu Subuh Menggunakan Kamera DSLR dan Metode Moving Average Hariyadi Putraga; Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Dimas Firdaus; Muhammad Hidayat
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.402 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v6i2.38995

Abstract

Keberadaan Teknologi terutama optik dan digital yang dapat digunakan dengan pengaturan serupa dimanapun agar dapat dilaksanakan siapa saja dapat menjadi standar baru untuk penentuan dan tampilan visual awal waktu subuh yang terlihat di lapangan. Kamera Digital yang dapat diambil dengan berkala sehingga dapat menghasilkan deretan gambar sesuai waktu dan menujukan perbedaan langit  saat transisi waktu subuh menjadi salah satu pilihan dan alat pembuktian awal waktu subuh di dunia.Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan awal waktu subuh menurut Kemenag dengan hasil olahan citra menggunakan metode moving average. Hasil olahan citra tersebut berhasil menunjukkan awal perubahan langit pada waktu subuh dengan terlihatnya perubahan nilai pixel yang signifikan. Dari penelitian ini ditemukan hasil awal waktu subuh pada tanggal pengamatan berada pada saat matahari pada dip -17° 07' 12".
Pemanfaatan Instrumen Rubu’ Al-Mujayyab Dalam Perhitungan Waktu Shalat Di Masjid Taqwa Setia Khalifah Arwin Juli Rakhmadi; Hasrian Rudi Setiawan; Isra Hayati; Muhammad Hidayat
Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 2 (2023): Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPI UMN AL WASHLIYAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/ajpkm.v7i2.2356

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pemahaman jama’ah Masjid Taqwa Setia Khalifah dalam memanfaatkan instrumen Rubu’ Mujayyab dalam menentukan waktu shalat. Kegiatan ini adalah Program Pengembangan Kemitraan Pengembangan Muhammadiyah (PKPM) yang memberikan bekal kepada masyarakat berupa kemampuan berpikir ataupun keterampilan lainnya. Metode yang akan digunakan dalam pelaksanaan program ini adalah pelatihan berbentuk ceramah dan praktik yang dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan telah terjadi peningkatan pemahaman peserta pelatihan dari 40% menjadi 80%. Setelah kegiatan peserta dapat memahami perhitungan waktu shalat menggunakan instrumen Rubu’ Al-Mujayyab, dapat memahami dasar perhitungan waktu shalat, dapat memahami alasan keputusan perubahan waktu shalat subuh dan mengamalkannya.
Pengaruh Emisi Cahaya dari Data VIIRS Day/Night Band pada Kecerlangan Langit Malam di Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) Arwin Juli Rakhmadi; Ajraini Nazli; Hariyadi Putraga; Muhammad Hidayat
Wahana Fisika Vol 8, No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v8i1.42451

Abstract

Sebagai tempat pengamatan astronomi, Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) membutuhkan kualitas langit malam yang bebas dari polusi cahaya. Atas dasar hal tersebut, penelitian ini melakukan analisa pengaruh polusi cahaya pada kualitas langit astronomis di OIF UMSU (3°34’56’’ LU dan 98°43’18’’ BT). Pengamatan kualitas langit malam dilakukan oleh OIF UMSU dari Februari 2018-Maret 2020 dengan Sky Quality Meter (SQM) fotometer pada arah zenit. Dari 588 hari pengamatan, Kami memperoleh rata-rata kecerlangan langit malam dan kecerlangan langit malam maksimum adalah 16,73 mpdbp dan 18,43 mpdbp. Nilai tersebut memberikan batas magnitudo pengamatan mata telanjang (NELM) masing-masing sebesar 2,86 dan 4,32. Untuk meninjau kontribusi cahaya artifisial pada kualitas langit malam di OIF UMSU, kami meninjau emisi cahaya malam hari dari pengamatan satelit Suomi National Polar-Orbiting Partnership (S-NPP) dengan sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) dalam rentang tahun 2018-2020. Emisi cahaya malam hari di Kota Medan menunjukkan peningkatan sebesar 5,51-5,93%/tahun. Hubungan antara kecerlangan langit malam yang menggunakan SQM dan data VIIRS memiliki korelasi lemah dengan R2 = 0.03. Berbagai faktor mempengaruhi lemahnya korelasi tersebut, antara lain nilai kecerlangan langit malam yang dipengaruhi faktor cuaca dan cahaya bulan serta pengamatan kecerlangan langit malam yang hanya berada di satu titik lokasi. Kata kunci: polusi cahaya,kecerlangan langit malam, Sky Quality Meter, VIIRS Day/Night band
Pelatihan Pembuatan Peta Bintang Pada Masyarakat Di Danau Lau Kawar Ida Hanifah; Abu Yazid Raisal; Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Hidayat
Azkayra: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Sosial Vol 1, No 1 (2024)
Publisher : Azkayra: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55311/azkayra.v1i1.8

Abstract

Astronomi merupakan cabang ilmu pengetahuan tertua yang mempelajari tentang langit dan segala yang ada didalamnya. Pengamatan benda langit merupakan elemen yang penting untuk mempelajari astronomi karena dapat mengembangkan keterampilan, meningkatkan pemahaman tentang konsep astronomi, dan membantu menumbuhkan minat. Minat masyarakat Indonesia terhadap astronomi semakin meningkat namun kendalanya astronomi tidak diajarkan secara khusus di sekolah. Salah satu pembahasan yang ada dalam astronomi adalah planisphere. Planisphere atau peta bintang merupakan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi bintang dan rasi bintang di langit malam. Tujuan pengabdian ini adalah untuk mengenalkan peta bintang baik dalam teori dan penggunaannya serta melatih cara membuat peta bintang secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, pembuatan, dan evaluasi. Berdasarkan tanggapan peserta diketahui bahwa peserta menyukai kegiatan ini karena menyenangkan dan dapat menambah ilmu. Kendala yang didapatkan saat melakukan kegiatan adalah pada saat peserta mencoba menggunakan peta bintang yang sudah dibuat karena kondisi langit yang berawan. Keyword : Astronomy, Planisphere, Lau Kawar.
Perbandingan Perhitungan Waktu Shalat Menggunakan Astrolabe RHI dan Accurate Times Hasrian Rudi Setiawan; Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Hidayat; Abu Yazid Raisal; Hariyadi Putraga
Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 2 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i2.3416

Abstract

This study aims to determine the comparison of the calculation of prayer times using the RHI Astrolabe and Accurate Times Software. In addition, this study also describes in detail the steps in determining prayer times using the RHI Astrolabe and Accurate Times Software. The research method used in this study is experimental. The results of this study indicate that there is a difference in the calculation of prayer times on December 20 between the RHI Astrolabe and Accurate Times Software. The difference between Asr is 8 minutes, Isha 6 minutes and Fajr 1 minute. Meanwhile, during Zuhr, Maghrib and Shuruq there is no difference in the calculation of the RHI Astrolabe with the Accurate Times Software.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan perhitungan waktu shalat menggunakan Astrolabe RHI dan Software Accurate Times. Tujuan penelitian lainnya adalah untuk menjelaskan secara rinci langkah-langkah dalam menentukan waktu shalat menggunakan Astrolabe RHI dan Software Accurate Times. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat selisih perbedaan perhitungan waktu shalat pada tanggal 20 Desember antara Astrolabe RHI dengan Software Accurate Times. Adapun selisih pada waktu Ashar 8 menit, Isya 6 menit dan Subuh 1 menit. Sedangkan waktu Zuhur, Maghrib dan Syuruq tidak ada perbedaan pada perhitungan menggunakan Astrolabe RHI dan Software Accurate Times.
Pengamatan Hilal Siang Hari di OIF Cabang Barus Muhammad Dimas Firdaus; Hariyadi Putraga; Muhammad Hidayat; Arwin Juli Rakhmadi
Astroislamica: Journal of Islamic Astronomy Vol. 1 No. 2 (2022): Astroislamica: Journal of Islamic Astronomy (Desember)
Publisher : Islamic Astronomy Department, Sharia and Law Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.937 KB) | DOI: 10.47766/astroislamica.v1i2.965

Abstract

Crescent observation as one of the practices carried out within the scope of falak science has an escalation in methods to adapt the development of science and technology. The development of crescent observation method has an impact on the observation time. In the past, observing crescent only focused when the sun had set, but now observing crescent can be done since the sun is still above the horizon. OIF UMSU as an institution engaged in the field of falak science also conducts crescent observations every month from noon. On November 25, 2022, OIF Barus Team managed to capture the new moon crescent at noon at 13:49 WIB with an elongation of 18°25'. This observation could maximizing existing instruments to obtain crescent images with smaller elongation.
Problematika Penentuan Hari Tarwiyah dan Arafah dalam Perspektif Ilmu Falak Marataon Ritonga; Arwin Juli Rakhmadi; Hariyadi Putraga; Muhammad Hidayat
Astroislamica: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 1 (2023): Astroislamica: Journal of Islamic Astronomy (Juni)
Publisher : Islamic Astronomy Department, Sharia and Law Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/astroislamica.v2i1.1093

Abstract

For a long time, Muslims were facing problems related to the determination of the Tarwiyah and the Arafat fasting day. In this case, whether Muslims should follow the Saudi Arabian calendar or the local one. In this study, Muslims differ in opinion, some argue that they should follow the Saudi Arabia calendar and others say that enough to follow the national calendar. The absence of unified calendar resulted in many problems faced by Muslims in assigning their holidays such as Ramadan, Shawwal, and Dhulhijah. To achieve Muslim unification in conducting various religious rituals, Muslims must have a unification dating system in order to realize togetherness in determining the worshipping time. This research is literature research. Thus the data that used in the form of books, journals, and other references. The results concluded that the determination of Tarwiyah and f Arafat Day until now still provides dispute among Muslims, there are those who argue specifically in determining the Dhulhijah beginning must be oriented to the Saudi Arabia kingdom’s determination. While others argue that assigning the worshipping time does not have to follow Saudi Arabia, just adhering to the nation’s determination
Falak Manuscripts: Windows into the Intellectual and Cultural History of Southeast Asia Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Hidayat
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 33 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v33i2.21576

Abstract

This study examines the development and role of falak (Islamic astronomy) manuscripts in Southeast Asia within the context of Islamic historiography and the transmission of knowledge from the Middle East. Scholars from the archipelago studied falak in the Middle East before developing it in their homeland, producing repetitive works to facilitate public understanding. However, limited documentation and a lack of in-depth research hinder a comprehensive understanding of the scholars’ roles in the history of falak. This study explored alternative sources, such as local manuscripts, travel notes, and oral traditions, using a multidisciplinary approach that includes philology, history, and the sociology of knowledge. The method used in this research is the philological method, a scholarly approach used to analyze, assess, and interpret ancient or historical texts, particularly in the context of manuscript studies. One of the research locations is the PEDIR Museum (Banda Aceh), the Manuscript Collection of Tarmidzi Abdul Hamid (Banda Aceh), and the Falak Center of Syaikh Tahir in Penang, Malaysia. The results show that falak science in Southeast Asia developed through networks of scholars connected to the Haramain and Egypt. The dissemination of falak manuscripts occurred through trade, missionary activity, and intellectual exchange, while adaptation to local culture preserved its relevance. The influence of the falak manuscripts in Southeast Asia includes strengthening religious authority, establishing local hisab-rukyat traditions, and playing a strategic role in harmonizing the Islamic calendar. This research confirms that the falak manuscripts are an intellectual heritage that reflects the synergy between science and the religious needs of Southeast Asian Muslim communities, while also serving as an important source for the study of the history of Islamic science in the region.