Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Perempuan Dalam Dominasi Maskulin: Studi Pola Relasi Mahasiswa Perempuan Dengan Dosen dan Mahasiswa Laki-Laki Puput Rusmawati; Jendrius Jendrius; Maihasni Maihasni
Jurnal Sosiologi Andalas Vol 9 No 1 (2023)
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsa.9.1.63-78.2023

Abstract

This study revealed the relationship patterns of female students with male lecturers and students who were in the Department of Sports Coaching Education, Faculty of Sport Science, Padang State University. The analysis in this study used the Structural Theory from Anthony Giddens. Furthermore, this study used a qualitative approach with the aim of gaining an understanding of the relationship patterns of female students with male lecturers and students in the Department of Sports Coaching Education, Faculty of Sport Science, Padang State University, while the type of research used was descriptive. Data collection was carried out in this study by means of in-depth interviews. The results showed that the pattern of relations between female students and lecturers during classroom learning seemed balanced, as well as the pattern of relationships on campus and off campus. However, the relationship pattern between female students and their supervisors seems unbalanced because female students have a burden and feel intimidated every time they carry out the thesis guidance process. Meanwhile, the pattern of relations between female students and male students during the learning process in the classroom seemed unbalanced. However, for the pattern of relations on campus and outside the campus, the pattern of relations seems to be well established and balanced. It could be said that there are constraining factors (inhibiting) and enabling factors (supporting) that affect the relationship patterns of female students with lecturers and male students. Penelitian ini mengungkap pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen dan mahasiswa laki-laki yang berada di Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang. Analisis pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen dilihat pada saat proses pembelajaan baik itu di kelas atau di luar kelas, selanjutnya pola relasi antara mahasiswa perempuan dengan dosen dilihat ketika berada di lingkungan kampus dan juga di luar kampus. Selain pola relasi dengan dosen, tak luput peneliti juga menganalisis bagaimana pola relasi antara mahasiswa perempuan dengan mahasiswa laki-laki yang dilihat pada saat proses pembelajaan baik di dalam atau di luar kelas, ketika berada di lingkungan kampus atau di luar kampus. Analisis pada penelitian ini menggunakan Teori Strukturasi dari Anthony Giddens. Selanjutnya, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan agar didapatkan pemahaman tentang pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen dan mahasiswa laki-laki di Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang, sedangkan tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan pada penelitian ini dengan cara wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen tampak jelas dengan menunjukan bahwa secara tidak langsung dosen menuntut mahasiswa perempuan untuk memahami perbedaan dan kondisi-kondisi tertentu meskipun hal itu dianggap negatif dan menambah tekanan mental kepada mahasiswa perempuan. Meskipun begitu mahasiswa perempuan berhasil membebaskan diri (enabling) dari kondisi tertentu yang akan merugikan mereka. Sedangkan pola relasi mahasiswa perempuan dengan mahasiswa laki-laki terdapat beberapa tekanan yang dialami oleh mahasiswa perempuan tetapi mahasiswa perempuan lagi-lagi berhasil membebaskan diri (enabling) dari kondisi tersebut dengan melakukan kerjasama dengan mahasiswa laki-laki.
Praktik Sosial Remarriage pada Masyarakat Minangkabau di Kenagarian Padang Ganting Desmaisi Desmaisi; Jendrius Jendrius; Maihasni Maihasni
Jurnal Sosiologi Andalas Vol 9 No 1 (2023)
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsa.9.1.51-62.2023

Abstract

: Remarriage is an individual who is married the same or more than twice by a man or a woman. Usually, marriage is done once in a lifetime. However, in Nagari Padang Ganting found men and women married many times. This study uses a qualitative method. Data was collected using in-depth interviews, observation and secondary data analysis. The practice of social remarriage (marriage again) in the Minangkabau community in Kenagarian Padang Ganting studied with structuration theory by Anthony Giddens is known that there are structures that enable or empower "remarriage" itself. But there are also structures that constrain or curb “remarriage”. Of the two divisions, the empowering structure tends to be more dominant than the restraining structure. Men don't have space in their parents' homes, there are parties looking for a mate, the value of children as continuation of offspring, male providers, stigmatization of widows and two, men remarry to take care of their needs, second and subsequent marriages are easier to do and the practice of remarriage is a common thing to do into a structure that perpetuates remarriage. Meanwhile, remarriage is considered to increase men's economic responsibilities, the marriage law makes it difficult for divorce to occur and women carry out the parenting role posterity becomes a structure that restrains perpetrators frim remarriage.
Pemanfaatan Modal Sosial dalam Peningkatkan Sarana dan Prasarana di SMAN 9 Padang Melfitri Yanti; Damsar Damsar; Maihasni Maihasni
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.967 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i6.7633

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh masih belum meratanya ketersediaan sarana dan prasarana sekolah khususnya pada tingkat SMA di Provinsi Sumatera Barat. Sarana dan prasarana sekolah merupakan komponen yang paling penting dalam menunjang peningkatan mutu pendidikan. Bantuan pengingkatan sarana dan prasarana yang terbatas membuat sekolah harus berlomba-lomba untuk mendapatkan informasi dan bantuan tersebut sehingga sangat diperlukan sekali keaktifan dan peran kepala sekolah khususnya bagi sekolah penggerak yang merupakan Program Pemerintah untuk penyempurnaan program transformasi sekolah. Program sekolah penggerak berfokus terhadap hasil belajar siswa yang secara holistik mencakup keseluruhan kompetensi yang dapat dikembangkan sepeti literasi dan numerasi serta karakter yang diawali oleh adanya SDM yang unggul pada sekolah tersebut yakni Kepala sekolah dan siswa serta sarana dan prasarana yang mendukung berjalannya pelaksanaan program sekolah tersebut. Menurut Nadiem Makarim bahwa sekolah penggerak adalah sekolah yang diharapkan mampu menggerakkan sekolah-sekolah lain disekitarnya untuk dapat maju dan berkembang terutama dalam proses pembelajaran. Salah satu sekolah penggerak yang ada di Sumatera Barat khususnya di Kota Padang adalah SMAN 9 Padang yang merupakan sekolah penggerak anggkatan pertama yang ditunjuk oleh Kemendikbudristek pada Tahun 2021. Sebagai sekolah penggerak, SMAN 9 Padang harus mampu menjadi contoh untuk menggerakkan sekolah lainnya terutama dalam hal kualitas dan mutu pembelajaran. Salah satu kendala yang dihadapi SMAN 9 Padang dalam menjalankan tugas sebagai sekolah penggerak adalah masih kurang optimalnya keberadaan sarana dan prasarana sekolah karena semakin banyaknya kebutuhan akan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung berjalannya program tersebut. Dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana tersebut dibutuhkan tindakan proaktif terutama dari sekolah untuk peningkatan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Salah satu upaya dan strategi yang dilakukan oleh sekolah adalah dengan memanfaatkan modal sosial. Berangkat dari. padangan Bourdieu mengenai modal sosial, maka analisis teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah bagaimana sekolah mencoba menggunakan sumber daya aktual atau potensial yang berhubungan dengan kepemilikan suatu jaringan atau relasi sosial dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan atau kepentingan mereka dalam memperoleh bantuan peningkatan sarana dan prasarana disekolahnya. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif. Penelitian ini menghasilkan bahwa modal sosial dapat menjadi solusi dalam meningkatkan sarana dan prasarana di SMAN 9 Padang. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah yang masih belum terpenuhi secara optimal sementara tuntutan tugas sebagai sekolah penggerak juga harus dapat dilaksanakan dengan maksimal membuat sekolah harus mampu memecahkan permasalahan tersebut secara lebih aktif dan mandiri. Pemanfaatan modal sosial dalam hal ini ternyata efektif mampu mengatasi berbagai permsalahan terkait ketersediaan sarana dan prasarana sekolah. Dengan pemanfaatan modal sosial, SMAN 9 Padang dengan bertahap mampu mengingkatkan sarana dan prasarana sekolah guna menunjang perbaikan kualiatas dan mutu pendidikan sekolahnya.
Analisis Faktor Penyebab Remaja Mengkonsumsi Minuman Keras di Nagari Pasar Tapan Kabupaten Pesisir Selatan Rizza Armelvia Sari; Alfan Miko; Maihasni Maihasni
SOCIUS Vol 10 No 2 (2023): Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, Universitas Negeri P
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scs.v10i2.566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap konsumsi minuman keras pada remaja d Nagari Pasar Tapan, Kecamatan Basa Ampek Balai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, proses pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Unit analisis pada penelitian ini adalah unit analisis individu, yaitu remaja yang mengonsumsi minuman keras di Nagari Pasar Tapan. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan teknik analisis kualitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kontrol sosial yang dikemukakan oleh Travis Hirschi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa faktor penyebab remaja konsumsi minuman keras, diantaranya: (1) faktor kontrol internal yang meliputi; lemahnya ikatan attachment remaja dengan orang tua, rendahnya komitmen (commitment) remaja, dan kuatnya keterlibatan (involvement) remaja dengan teman sebaya yang juga mengonsumsi minuman keras. (2) kegagalan penegak hukum dalam mengikat remaja untuk tidak mengonsumsi minuman keras di nagari pasar tapan. (3) faktor lingkungan tempat tinggal dalam mempengaruhi pengkonsumsian minuman keras pada remaja yang ditandai oleh ketersediaan minuman keras yang murah dan mudah diakses, serta adanya tempat berkumpul yang terpencil dan minim pencahayaan.
Implementation of Family Functions in Early Marriage Couples in Padang City Maihasni Maihasni; Nini Anggraini; Fachrina Fachrina
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 26, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v26.n2.p205-212.2024

Abstract

The family has a very important role in preparing quality Indonesian human resources. The function of the family that is carried out can make a significant contribution to the development of its members.  Families that can carry out family functions well have the ability to meet the basic needs of family members in facing challenges and making adjustments to changes in themselves and their environment.For family functions to run well, certain conditions must be met such as age, marital status, employment status, level of education, knowledge of family functions, and access to information. This condition is not met for early marriage couples. This research aims to: (1). Identify family functions that can be carried out by couples married at an early age. (2) Analyze the obstacles faced by couples married early in carrying out family functions.This research was conducted in Padang City with a qualitative approach with a descriptive type. Data collection uses in-depth interviews and observations. Informants were determined using snowball sampling. Data was analyzed qualitatively and interpretatively.  The research was conducted on five informants and varying levels of education. As for the family functions that can be carried out by early married couples, almost all of them can be carried out, such as; religious function, affection function, reproductive function, education and socialization function, economic function, recreation function, protection function, and environmental development function, although in limited cases. Meanwhile, the obstacles faced by early married couples in carrying out family functions, such as lack of financial independence, and interaction problems.
Perempuan Dalam Dominasi Maskulin: Studi Pola Relasi Mahasiswa Perempuan Dengan Dosen dan Mahasiswa Laki-Laki Puput Rusmawati; Jendrius Jendrius; Maihasni Maihasni
Jurnal Sosiologi Andalas Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsa.9.1.63-78.2023

Abstract

This study revealed the relationship patterns of female students with male lecturers and students who were in the Department of Sports Coaching Education, Faculty of Sport Science, Padang State University. The analysis in this study used the Structural Theory from Anthony Giddens. Furthermore, this study used a qualitative approach with the aim of gaining an understanding of the relationship patterns of female students with male lecturers and students in the Department of Sports Coaching Education, Faculty of Sport Science, Padang State University, while the type of research used was descriptive. Data collection was carried out in this study by means of in-depth interviews. The results showed that the pattern of relations between female students and lecturers during classroom learning seemed balanced, as well as the pattern of relationships on campus and off campus. However, the relationship pattern between female students and their supervisors seems unbalanced because female students have a burden and feel intimidated every time they carry out the thesis guidance process. Meanwhile, the pattern of relations between female students and male students during the learning process in the classroom seemed unbalanced. However, for the pattern of relations on campus and outside the campus, the pattern of relations seems to be well established and balanced. It could be said that there are constraining factors (inhibiting) and enabling factors (supporting) that affect the relationship patterns of female students with lecturers and male students. Penelitian ini mengungkap pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen dan mahasiswa laki-laki yang berada di Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang. Analisis pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen dilihat pada saat proses pembelajaan baik itu di kelas atau di luar kelas, selanjutnya pola relasi antara mahasiswa perempuan dengan dosen dilihat ketika berada di lingkungan kampus dan juga di luar kampus. Selain pola relasi dengan dosen, tak luput peneliti juga menganalisis bagaimana pola relasi antara mahasiswa perempuan dengan mahasiswa laki-laki yang dilihat pada saat proses pembelajaan baik di dalam atau di luar kelas, ketika berada di lingkungan kampus atau di luar kampus. Analisis pada penelitian ini menggunakan Teori Strukturasi dari Anthony Giddens. Selanjutnya, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan agar didapatkan pemahaman tentang pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen dan mahasiswa laki-laki di Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang, sedangkan tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan pada penelitian ini dengan cara wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola relasi mahasiswa perempuan dengan dosen tampak jelas dengan menunjukan bahwa secara tidak langsung dosen menuntut mahasiswa perempuan untuk memahami perbedaan dan kondisi-kondisi tertentu meskipun hal itu dianggap negatif dan menambah tekanan mental kepada mahasiswa perempuan. Meskipun begitu mahasiswa perempuan berhasil membebaskan diri (enabling) dari kondisi tertentu yang akan merugikan mereka. Sedangkan pola relasi mahasiswa perempuan dengan mahasiswa laki-laki terdapat beberapa tekanan yang dialami oleh mahasiswa perempuan tetapi mahasiswa perempuan lagi-lagi berhasil membebaskan diri (enabling) dari kondisi tersebut dengan melakukan kerjasama dengan mahasiswa laki-laki.
Praktik Sosial Remarriage pada Masyarakat Minangkabau di Kenagarian Padang Ganting Desmaisi Desmaisi; Jendrius Jendrius; Maihasni Maihasni
Jurnal Sosiologi Andalas Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsa.9.1.51-62.2023

Abstract

: Remarriage is an individual who is married the same or more than twice by a man or a woman. Usually, marriage is done once in a lifetime. However, in Nagari Padang Ganting found men and women married many times. This study uses a qualitative method. Data was collected using in-depth interviews, observation and secondary data analysis. The practice of social remarriage (marriage again) in the Minangkabau community in Kenagarian Padang Ganting studied with structuration theory by Anthony Giddens is known that there are structures that enable or empower "remarriage" itself. But there are also structures that constrain or curb “remarriage”. Of the two divisions, the empowering structure tends to be more dominant than the restraining structure. Men don't have space in their parents' homes, there are parties looking for a mate, the value of children as continuation of offspring, male providers, stigmatization of widows and two, men remarry to take care of their needs, second and subsequent marriages are easier to do and the practice of remarriage is a common thing to do into a structure that perpetuates remarriage. Meanwhile, remarriage is considered to increase men's economic responsibilities, the marriage law makes it difficult for divorce to occur and women carry out the parenting role posterity becomes a structure that restrains perpetrators frim remarriage.