Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Form of Cakatinding Music Presentation at the Wela Rana Art Studio, Manggarai Regency Perseveranda Putra Korsini; Udi Utomo; Syahrul Syah Sinaga
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 8 No 1 (2024): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v8i1.8272

Abstract

Cakatinding merupakan sebuah kesenian musik tradisional daerah Manggarai Nusa Tenggara Timur yang terbuat dari bahan bambu. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis Bentuk Penyajian Musik Cakatinding di Sanggar Seni Wela Rana, dengan harapan dapat mendokumentasikan dan menganalisis bagaimana kesenian ini dipertahankan dan dikembangkan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode dengan jenis penelitian deskriptif yaitu untuk memberikan gambaran tentang Bentuk Penyajian musik Cakatinding di Sanggar Seni Wela Rana Kabupaten Manggarai. Hasil penelitian ini di analisis hingga menjadi sebuah laporan penelitian terkait seni musik Cakatinding. Alat musik ini memiliki bentuk yang mirip dengan kentongan, namun ada beberapa perbedaan mendasar yang membuatnya unik. Yang membedakan alat musik ini adalah keberadaan senar yang terbuat dari irisan tubuh alat musik itu sendiri. Senar tersebut kemudian diganjal menggunakan potongan bambu kecil untuk menciptakan tegangan yang diperlukan agar dapat menghasilkan nada. Kesenian Cakatinding merupakan kesenian tradisionak kabupaten Maanggarai, sehingga lagu-lagu yang dibawakan juga menggunakan lagu-lagu daerah Manggarai. Diantaranya, benggong, so inag so, dere ngkiong lain sebagainya.
Ethnopedagogical Approaches in Art Education: The Role of Balahak Performance in Cultural Transmission in Siulak Mukai Alrizka Hairi Dilfa; Wadiyo Wadiyo; Udi Utomo; Agus Cahyono; Kusrina Widjayantie; Dhani Windra Guspa
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 4 (2025): DECEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i4.8218

Abstract

Traditional performing arts play a vital role in transmitting cultural values across generations. In Siulak Mukai, Kerinci Regency, the Balahak performance serves not only as a festive tradition but also as a medium of cultural and character education. This study explores how Balahak functions as an ethnopedagogical tool within community-based art education. Using a qualitative case study approach, data were collected through participatory observation of Balahak performances, in-depth interviews with local artists, community leaders, and participants, and analysis of related documentation. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, with triangulation techniques employed to ensure validity. Findings show that Balahak performances consist of three stages—preparation, core, and reflection—which facilitate cultural value transmission and skill regeneration. Elements such as music, poetry, symbolic roles, and inclusive participation enable informal learning rooted in local traditions. Community members of all ages engage actively, creating a dynamic space for intergenerational education.Balahak reflects key principles of ethnopedagogy by embedding cultural knowledge, social norms, and character values within an experiential and communal art form. Its structure supports cultural preservation and strengthens identity, making it a viable model for integrating indigenous knowledge into formal and non-formal art education.