Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pendekatan Edukatif Komunikasi Keagamaan Hindu di Era Digital Tinjauan Literatur Sistematis Dana, I Wayan; Masriastri, I Gusti Ayu Ketut Yuni; Nurlensi, Nurlensi
Dharma Duta Vol 23 No 02 (2025): Dharma Duta : Jurnal Penerangan Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/dd.v23i02.1791

Abstract

The digital era has fundamentally transformed religious communication, shifting interactions from physical spaces to virtual platforms. This article systematically reviews the literature to analyze how educative approaches are implemented in Hindu religious communication within the Indonesian digital ecosystem, focusing on the YouTube platform. The core research question addresses the different educative strategies employed by both institutional and individual Hindu religious actors. Using a qualitative content analysis of literature from the last three years (2023-2025), this study maps the characteristics, strategies, and challenges of digital religious communication. The findings reveal a clear divergence in these educative approaches. Institutional actors (e.g., PHDI, Bimas Hindu) tend to use a formal-informative approach, leveraging digital media for program dissemination and organizational documentation through a monologic communication model. In contrast, charismatic individual figures (e.g., Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda) utilize a personal-dialogic approach that focuses on in-depth theological education, pastoral guidance, and interactive community engagement. This phenomenon points to a significant decentralization of religious authority, where digital platforms facilitate the rise of new knowledge centers outside of formal structures. The primary challenge lies in maintaining theological depth amid the demands of digital media engagement while also bridging the digital literacy gap within the community.
TAPAKAN BARON NAWA SANGGHA PURA PUNCAK PADANG DAWA DALAM UPACARA RUWAT BUMI Dana, I Wayan
Acintya Vol. 2 No. 1 (2010)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v2i1.123

Abstract

Tapakan Barong Nawa Sanggha is not only glorified in Pura Pucak Padang Dawa but also can be found in Para Natar Sari Apuan and Puro Pucak Kembar Pucung Baturiti, Tabanan.The three tapakan, in accordance to calculation time boxed on Bali calendar, by turns. conduct the ritual ceremony ngelawarig. melelungan. or ngunya amund the various area.\' of Central Bali as the fonn of Ruwat Bumi ceremony. The ceremony of Ruwat Bumi is an unseparable part of ‘panca yadnya ’( the five holy victims) executed honestly by Hindu society. Tapokan Bamng Nawa Sanggha becomes a media in the ceremony because tapakanxymbolically master: and guards the power from all xides of point. The form of nine barong shows the pawerfmm all sides which is believed by the society to have God power that is able to purify the world from threatening dangen For the reason, the bamng is mostly waited for by the society in order to getpeacefid and harmonious life forever:Keyword: Tapakan Barong Nawa Sanggha. Paruman Barong, Pucak Padang Dawa, Ruwat Bumi Ceremony
TRANSFORMASI ESTETIKA TARI CANGGET DALAM UPACARA ADAT BEGAWI LAMPUNG Nur, Muhamad Wazirudin; Dana, I Wayan
Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA) Vol 8 No 2 (2024): Edisi Mei - Agustus 2024
Publisher : LPPM STIE Muhammadiah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31955/mea.v8i2.4075

Abstract

Begawi adalah tradisi upacara adat Lampung yang dilakukan saat upacara perkawinan selama tujuh hari tujuh malam. Istilah lengkapnya adalah Begawi Cakak Papadun, karena hanya dilaksanakan oleh masyarakat suku Pepadun. Dalam serangkaian prosesi upacara adat Begawi teradapat malam Cangget Agung yang merupakan malam menari bagi Muli-Mekhanai (Bujang dan gadis) yang dilaksanakan pada malam terakhir upacara tersebut. Malam Cangget Agung tidak dapat dipisahkan dari upacara adat Begawi sekaligus merupakan pengesah upacara sebelum dilaksanakannya Mepadun atau naik tahta. Di dalam malam Cangget Agung dilaksanakan prosesi yang berupa tarian adat yang bernama tari Cangget. Tari Cangget ditarikan oleh putri-putri penyeimbang dengan jumlah penari kurang lebih sekitar 20-40 penari. Ragam gerak tari Cangget terdiri dari gerak sembah, ukel kilat mundur, ngecum, kenuy melayang, dan tutup malu. Ragam gerak tari cangget merupakan transformasi dari gerak tari Sai Batin. Selain itu dalam sajian tari Cangget terdapat beberapa unsur yang merupakan hasil transformasi dari kebudayaan sebelumnya, hal tersebut dilatarbelakangi oleh berkembangnya masyarakat Lampung dan akulturasi dari beberapa kebudayaan. Perubahan tersebut menghasilkan sebuah keestetikaan baru dalam sajian tari Cangget.
Bondres Clekontong Mas sebagai Media Pendidikan Etis dan Estetis di Masyarakat Dana, I Wayan; Arisanti, Ni Wayan Rizka; Tanaya, I Made Agus Tresna
PANGGUNG Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2472

Abstract

Bondres digunakan sebagai sebutan tokoh-tokoh rakyat jelata, yang karakternya mempresentsikan masyarakat pada umumnya. Tokoh ini hadir sebagai simbol kehidupan masyarakat dalam pertunjukan dramatari topeng di Bali. Pemainnya dilalukan oleh pemeran yang mampu mengekspresikan berbagai karakter melalui ungkapan tata rias-busana, gerak, tembang, humor, vokal-dialog sesama Bondres maupun berkomunikasi langsung dengan penonton. Ungkapan para pemeran melalui tindakan kocak dan menghibur itu, mampu menjadi media pendidikan etis dan estetis bagi masyarakat pentontonnya. Pendidikan etis berhubungan dengan etika, diungkap melalui penilaian sifat kebenaran atau kebaikan dari tindakan sosial berdasarkan tradisi budaya yang bersumber dari ajaran agama Hindu. Pendidikan estetis, mengenai penilaian terhadap keindahan, kenikmatan melalui ekspresi karya seni. Percakapan-percakapan etis dan estetis itu selalu digaungkan di setiap sajian Trio Bondres Clekontong Mas, sehingga masyarakat penonton mendapat tontonan segar yang menghibur dan mengedukasi. Dalam nilai hiburan itu dibingkai dan dibumbui lawakan yang memuat nilai-nilai moral sebagai tuntunan instrospektif dalam tatanan hidup, kehidupan dan berpenghidupan di masyarakat. Kata Kunci: Clekontong Mas, Pendidikan etis, Estetis, di masyarakat
Siku-siku: Koreografi berdasarkan Kegelisahan Tanaya, I Made Agus Tresna; Dana, I Wayan; Subawa, Y
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13094

Abstract

Karya tari Siku-Siku merupakan bentuk refleksi diri dari satu perjalanan kehidupan pengkarya. Terinspirasi dari pengalaman pribadi pengkarya yang mengalami kegelisahan dalam tatanan pembangunan suatu rumah di Bali. Hal ini berawal dari adanya bangunan rumah pengkarya yang berada di kota dan desa yang memiliki perbedaan tatanan Asta Kosala Kosali. Selain itu, adanya penolakan dari seorang Mangku (orang suci) pada saat mengupacarai rumah pengkarya yang berada di kota menimbulkan pertanyaan dalam diri pengkarya. Proses penciptaan karya tari Siku-siku mengacu pada metode penciptaan yang dijelaskan oleh Hawkins, yang meliputi eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Karya tari Siku-Siku menggunakan pengembangan motif gerak tari Bali serta dipadukan dengan bentuk ukuran rumah yang terdapat dalam tatanan Asta Kosala Kosali, sehingga muncul motif gerak sikut pada karya ini. Motif gerak sikut pengkarya pilih sebagai gerak inti dikarenakan dalam motif gerak tersebut meliputi bentuk pengukuran rumah yang ada di dalam tatanan Asta Kosala Kosali. Pada proses pencarian jawaban mengenai kegelisahan pengkarya yang dialami, pengkarya mendapatkan satu jawaban pasti yaitu Desa Kala Patra dalam pembangunan rumah di Bali. Konsep Desa Kala Patra menjadi titik terang dari proses perjalanan penciptaan karya tari Siku-siku, selain itu karya tari ini menjadi media ungkap yang tepat untuk menyampaikan keluh kesah dalam proses mencari jawaban. Siku-siku: Choreography based on AnxietyThe Siku-Siku dance work is a form of self-reflection from the artist's life journey. Inspired by the personal experience of the creator who experienced anxiety during the construction of a house in Bali. This started with the existence of craftsman's houses in cities and villages that had different Asta Kosala Kosali. Apart from that, the rejection from the Mangku (saint) when performing a ceremony on the artist's house in the city raised questions within the artist. The process of creating the Siku-Siku dance work refers to the method described by Hawkins, which includes exploration, improvisation, composition, evaluation. The Siku-Siku dance work uses the development of Balinese dance movement motifs and combines them with elbow shapes in the Asta Kosala Kosali arrangement, so that the elbow movement motif appears in this work. The artist chose the elbow movement motif as the core movement because the movement motif includes the form of measuring the house in the Asta Kosala Kosali arrangement. In the process of searching for answers regarding the anxiety the creator was experiencing, the creator got one definite answer, namely Kala Patra Village in building houses in Bali. The concept of Kala Patra Village is a bright spot in the process of creating the Siku-Siku dance work, apart from that, this dance work is a medium for expressing complaints in the process of searching for answers.
Ngayah Topeng Sidhakarya: Spirit Pengabdian melalui Bhakti dan Karma Marga Dana, I Wayan; Anggraeni, Agustin; Manganti, Galih Suci
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.12993

Abstract

Ngayah adalah tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Bali sebagai kewajiban sosial dalam menerapkan ajaran bhakti dan karma marga.bhakti marga merupakan jalan penyerahan diri, patuh dan setia kepada Sang Pencipta (Tuhan). Karma marga melalukan jalan dengan perbuatan, bekerja tanpa pamrih. Topeng Sidhakartya merupakan salah satu genre seni pertunjukan topeng Bali yang disajikan sebagai bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan yadnya (korban suci). Tujuan penelitian ini ingin mengetahui bahwa para seniman Bali melaksanakan profesinya dengan jalan penyerahan diri dan berbuat atau berkarya sepenuhnya sebagai spirit pengabdian yang tulus ikhlas kepada Sang pencipta alam semesta dengan menyajikan Topeng Sidhakarya. Topeng Sidhakarya sesuai namanya, topeng ini yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan sebuah yadnya, dengan hadirnya topeng ini menadakan bahwa karya atau kerja menjadi sidha (selesai) dengan sempurna. Metode yang digunakan metode penelitian kualitatif yang pelaksanaannya lebih mengarah pada pengumpulan data melalui observasi secara langsung di lapangan. Hasil yang diharapkan bahwa profesi sebagai penari, khususnya Topeng Sidhakarya adalah untuk ngayah (mengabdi) berkaitan dengan persembahan yang tulus ikhlas (bhakti dan karma marga) kepada Sang Pencipta.
Kajian Hasil Rekonstruksi Tari Opak Abang di Kabupaten Kendal Mawadda, Anggun Ida; Dana, I Wayan
Dance and Theatre Review Vol 6, No 1: May 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v6i1.9337

Abstract

Tari Opak Abang merupakan tarian resmi Kabupaten Kendal, diresmikannya tari Opak Abang menyebabkan dirubahnya penampilan kemasan pertunjukannya. Pemerintah Kendal melakukan rekonstruksi dengan kegiatan penggalian, reinterpretasi, dan reaktualisasi. Penelitian ini mengulas sejauh mana hasil rekonstruksi tari Opak Abang sebagai identitas kesenian Kabupaten Kendal. Keberhasilan dikenalnya tari Opak Abang membutuhkan kolaborasi peran penta-helix, diantaranya pemerintah, pelaku seni, masyarakat penyangganya, budayawan atau seniman, media, dan pebisnis. Pemerintah Kabupaten Kendal sudah melakukan upaya untuk mengenalkan tarian ini dengan melibatkannya dalam berbagai festival dan acara. Namun kenyataannya tarian ini belum cukup dikenal secara merata, bahkan oleh masyarakat Kendal itu sendiri. Nampaknya ketidakseimbangan para peran penta-helix membuat tarian ini belum dikenal menjadi identitas kesenian Kabupaten KendalKata kunci: rekonstruksi, tari Opak Abang, pentahelix
Pengembangan Mamaca di Pamekasan Madura sebagai Penguatan Harmoni Kehidupan Sosial Supadma, Supadma; Dana, I Wayan
Dance and Theatre Review Vol 4, No 2: November 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2281.999 KB) | DOI: 10.24821/dtr.v4i2.6454

Abstract

The Development of Mamaca in Pamekasan Madura as Strengthening Harmony of Social Life. This study aims to develop one of the traditional performing arts, namely Mamaca in Pamekasan Regency, Madura Island, which is abandoned, especially by the local younger generation. Mamaca, which emphasizes the nobility of values and norms in its form and implementation, is capable of strengthening the nation’s character and the harmony of social life. Thus, this research is an effort to reconstruct local cultural and community values. Seeing its essential role, this research on Mamaca will be carried out in three years. Mamaca presents the values of local wisdom and uses the hermeneutic approach. The reinforcement is designed in the form of new Mamaca choreography according to the spirit of the times. It also reflects the will of the supporting community but still does not leave its primary source. The design of the form of presentation is based on an emic and ethical point of view, namely using a choreographic approach by involving the ideas of local artists or actors. The “new” Mamaca choreography was introduced to students of several elementary schools, as well as to existing performing arts groups. By introducing and teaching it to young children, it is hoped that the stronger and longer roots will be planted for growth. Its introduction and application are followed up by contesting it to motivate others in arts and to promote it to a broader audience, Mamaca can be developed outside its original area, but with similar traditional performing arts. Based on this plan, further development of choreography is also designed to be taught to children and adapted to their distribution area.Keywords: mamaca; Pamekasan Madura; local wisdom; national character;social harmony
Kuratorial Solo International Performing Arts (SIPA) 2021 sebagai Bentuk Inovasi dan Konsistensi Festival Berskala International Dana, I Wayan; Putri, Rika Amalia
Dance and Theatre Review Vol 5, No 2: November 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v5i2.9538

Abstract

Solo International Performing Arts (SIPA) 2021 Curatorial as a Form of Innovation and Consistency on an International Scale Festival This research focuses on the curatorial process in Performing Arts practice by taking a case study at the largest annual Performing Arts event in the city of Solo, SIPA (Solo International Performing Arts) in 2021. SIPA Festival has a curatorial concept that is detailed and mature and relevant to the circumstances of the times. Curatorial at the SIPA Festival focuses on the selection of event themes, mascots, and the selection of performers. The research method used is a qualitative method, which will focus on observation, documentation, and structured interviews. The main source of data is from the description of the source, and the memory of the source. The results of this study are about the explanation of the curatorial process in the series of SIPA 2021 events,- and the identification of the concept of curatorial thinking. Each SIPA 2021 performer has their own reasons why they were chosen to perform on the magnificent stage of SIPA 2021, this reason is in the description of the curators. The standards applied by SIPA Festival for its performers are absolute requirements that must be met by performers in order to be able to display their works on the SIPA 2021 stage.Keywords: Solo International Performing Arts, Festival, Performance Art, Curatorship, Curator