Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

DIFFERENTIATED INSTRUCTIONS: RELEVANT STUDIES ON ITS IMPLEMENTATION I Gusti Ayu Mirawati; Ni Komang Arie Suwastini; Novi Diah Haryanti; I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini
Prasi: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajarannya Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.816 KB) | DOI: 10.23887/prasi.v17i1.41867

Abstract

Differentiated instructions have been recommended for classrooms with students of different readiness, learning profiles, and backgrounds in English classrooms. This study aimed at elaborating the implementation of differentiated instruction in terms of its advantages and the challenges encountered by teachers and students in implementing differentiated instruction. The study was designed as library research, following George's ten steps (2008) model. Experts' opinions and previous studies were reviewed in this present study to provide a comprehensive mapping of the advantages and challenges in implementing differentiated instructions. The review revealed that differentiated instruction could motivate low-achieving students, increase students' participation, interaction, and cooperation, as well as build a better teacher-student relationship. However, differentiated instruction also poses challenges, such as time-consuming, misperception about unfair treatments, and class size. These results imply that better planning should be conducted before implementing differentiated instruction to gain its benefits.
Warna Lokal Bali pada Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini Sifana Umardi; Novi Diah Haryanti
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 18, No 1 (2022): UNDAS
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/und.v18i1.4768

Abstract

Keeksotisan Bali tak pernah luput dari perhatian masyarakat luas. Namun, siapa sangka di balik keindahan adat dan istiadat serta keteguhan masyarakatnya dalam menjaga budaya tersebut, justru tersimpan realitas pahit yang mesti dihadapi seorang perempuan. Oka Rusmini menuliskan realitas adat istiadat Bali dalam novel Tarian Bumi berikut dengan kentalnya warna lokal yang menjadi latar ceritanya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan analisis warna lokal dalam novel Tarian Bumi karangan Oka Rusmini yang berfokus pada tujuh kebudayaan universal.  Metode penelitian yang diterapkan atau digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis data berupa simak dan catat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah human instrument yang berasal dari peneliti itu sendiri. Sumber data yang digunakan adalah novel Tarian Bumi karangan Oka Rusmini dan artikel-artikel pendukung lainnya. Hasil penelitian yang diperoleh melalui penelitian ini adalah warna lokal Bali yang teridentifikasi melalui tujuh kebudayaan universal yang terdiri dari, sistem kepercayaan, sistem kemasyarakatan, sistem mata pencaharian, sistem perlengkapan dan peralatan hidup/teknologi, bahasa, kesenian, dan sistem pengetahuan yang menjadi warna lokal Bali dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini.
Tindak Kekerasan Pada Tokoh Perempuan Dalam Novel Perempuan Kembang Jepun Karya Lan Fang dan Novel Kembang Jepun Karya Remy Sylado Siti Restu Rahayu; Aldi Alfaruk; Novi Diah Haryanti
Jurnal Ilmiah SEMANTIKA Vol. 2 No. 02 (2021): Februari
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.823 KB) | DOI: 10.46772/semantika.v2i02.385

Abstract

Novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang dan novel Kembang Jepun karya Remy Sylado keduanya memiliki kemiripan yakni terjadinya kekerasan terhadap perempuan pada masa sebelum kemerdekaan dan pascakemerdekaan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tindak kekeran terhadap tokoh perempuan dalam kedua novel tersebut dengan menggunakan metode sastra bandingan dan mempertalikannya dengan fenomena kekerasan perempuan saat ini berdasarkan Catahu Komnas Perempuan 2020. Kekerasan-kekerasan pada kedua novel ini terjadi di dalam dua ranah, yaitu ranah privat/personal dan ranah publik/komunitas. Pada novel Kembang Jepun kekerasan lebih ditonjolkan di ranah publik berupa kekerasan fisik, psikologis, dan seksual. Sedangkan pada novel Perempuan Kembang Jepun kekerasan ditonjolkan dari ranah privat/personal yaitu dalam hubungan rumah tangga yang dijalani pemeran utama berupa kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi.
PERUBAHAN ALUR DARI FILM KE KOMIK PENDEKAR TONGKAT EMAS Mita Ulfia Fauziah; Novi Diah Haryanti
JURNAL KONFIKS Vol 8, No 1 (2021): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/konfiks.v8i1.4814

Abstract

Film merupakan salah satu jenis karya sastra yang terus melegenda dan banyak disukai oleh lapisan masayarakat. Namun, dari beberapa film yang bermunculan hanya mengangkat cerita-cerita romantis, komedi, dan lain sebagainya. Akan tetapi, sulit sekali untuk menemukan film yang mengangkat pencak silat, biasanya film yang mengangkat pencak silat diangkat pada tahun 1990-an. Oleh karena itu, tahun 2014 Mira Lesmana dan Ifa Isfansyah mengangkat film pencak silat. Film tersebut berjudul Pendekar Tongkat Emas, tetapi seiring berjalannya waktu film tersebut mengalami transformasi atau alih wahana menjadi komik Pendekar Tongkat Emas karya Ragakusuma feat Alex Irzaqi. Transformasi tersebut mengalami perubahan dalam segi alur, sehingga alur cerita pada film ke komik mengalami perubahan. Tanpa adanya alur semua jalan cerita pada film atau pun komik tidak akan indah untuk dinikmati. Hal ini sangat berpengaruh karena alur merupakan bagian unsur intrinsik dan bagian yang terpenting dalam karya sastra. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan alur yang terjadi pada film ke komik sehingga mengubah karakter tokoh, jalan cerita, dan perubahan variatif. Metode yang digunakan yaitu menggunakan metode deskriptif dan sumber data yang diambil berasal dari artikel, jurnal, dan buku. Adapun hasil penelitian ini yaitu terjadi proses alih wahana pada film ke komik sehingga mengakibatkan perubahan alur dan perubahan ideologi.
REPRESENTASI PESANTREN DALAM NOVEL KARYA PEREMPUAN PENULIS INDONESIA Novi Diah Haryanti; Ahmad Bahtiar; Rosida Erowati; Syihaabul Hudaa
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.824 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1052

Abstract

Pesantren's life is a topic that is often raised in Indonesian literature. The topic of pesantren is not only written by men but also seen in women's works. This study focuses on Indonesian novels written by women in Islamic boarding schools. This study aims to see the representation of pesantren in women's novels. The research corpuses selected included Perempuan Berkalung Sorban by Abidah El Khaeliqy, Hati Suhita by Khilma Anis, Cahaya Cinta Pesantren by Ira Madan, Akademi Harapan Vita Agustina, and novel by Farahdiba Maria and Maryam. This qualitative descriptive study looks at the characteristics of the pesantren represented by women writers in modern Indonesian novels. The findings of the five novels studied. Namely, two novels (Perempuan Berkalung Sorban and Hati Suhita) represent traditional pesantren. This appears through the symbols and traditions of the santri and the kiai in the novel, such as studying the yellow book, haul, pilgrimage, and sowan. Two novels (Cahaya Cinta Pesantren and Akademi Harapan) represent modern Islamic boarding schools that show modern learning patterns and place students at the story's centre. One novel (Maria and Maryam) represents a flash boarding school. Although each novel represents a different style of pesantren, these novels have the same problem: showing the lives of women in pesantren and the tradition of matchmaking.Kehidupan pesantren menjadi topik yang sering diangkat dalam karya sastra Indonesia. Tak hanya ditulis oleh laki-laki, topik pesantren juga tampak dalam karya perempuan. Penelitian ini berfokus pada novel Indonesia berlatar pesantren yang ditulis oleh perempuan. Penelitian ini bertujuan melihat representasi pesantren dalam novel-novel karya perempuan. Korpus penelitian   yang dipilih di antaranya: Perempuan Berkalung Sorban  karya Abidah El Khaeliqy, Hati Suhita karya Khilma Anis, Cahaya Cinta Pesantren Karya Ira Madan, Akademi Harapan karya Vita Agustina, dan karya Farahdiba berjudul Maria dan Maryam. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode analisis isi, dengan teknik simak catat dilakukan untuk mengumpulan data berupa kutipan dalam novel. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk melihat karakteristik pesantren yang direpresentasikan perempuan penulis dalam novel Indonesia modern. Temuan dari lima novel yang diteliti yaitu, dua novel (Perempuan Berkalung Sorban dan Hati Suhita) merepresentasikan pesantren tradisional. Hal tersebut muncul lewat simbol-simbol dan tradisi yang dilakukan oleh santri dan para kiai dalam novel, seperti mengkaji kitab kuning, haul, ziarah, dan sowan. Dua novel (Cahaya Cinta Pesantren dan Akademi Harapan) merepresentasikan pesantren modern yang memperlihatkan pola pembelajaran modern dan menempatkan santri menjadi pusat cerita, dan satu novel (Maria dan  Mariam) merepresentasikan pesantren kilat. Meskipun setiap novel mewakili corak pesantren yang berbeda, novel-novel tersebut memiliki persamaan masalah yaitu memperlihatkan kehidupan perempuan di pesantren dan tradisi perjodohan.
Kriminalitas dalam Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan Karya Pramoedya Ananta Toer Arya Giri Anggara; Tiara Anwar Sekar Utami; Novi Diah Haryanti
REFEREN Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/referen.v2i1.11516

Abstract

Karya sastra merupakan bagian dari masyarakat dan tidak dapat dipisahkan, karena kasus-kasus yang diangkat dalam sebuah karya sastra merupakan cerminan dari kasus-kasus yang terjadi dikehidupan nyata. Salah satu masalah sosial yang diangkat kedalam sebuah karya sastra adalah kriminalitas. Tindakan kriminalitas tidak boleh dibiarkan, karena tindakan kriminal dapat menganggu ketentraman dalam menjalani kehidupan. Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer banyak memunculkan kasus-kasus kriminal yang dilakukan oleh kelompok Darul Islam. Novel ini mengisahkan kehidupan warga desa yang berjuang untuk melawan kelompok Darul Islam yang menguasai desa dengan tindakan-tindakan tidak manusiawi. Berdasarkan analisis, di dalam novel ini ditemukan empat jenis kejahatan yaitu kejahatan ekonomi, kejahatan kekerasan, kejahatan seksual, kejahatan politik.
KONSTRUKSI GENDER PADA NOVEL PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN KARYA ABIDAH EL KHALIEQI Novi Diah Haryanti
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v2i2.3629

Abstract

Abstract: This paper shows the gender construction in the novel “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS) – The Veil Neck Woman (VNW) by Abidah El Khalieqi. The method used in this paper is a qualitative description. Based on the analysis, there are two gender constructions in the text, namely the religion and community constructions. Both are interconnected so that it makes biased between religion and society. The gender construction and patriarchal culture make women vulnerable to the violence, which are in the novel VNW including rape, sexual abuse/sexual and emotional harassment, veiled violence, acts of beating, and physical attacks that occurred in the household. Abstrak: Tulisan ini memperlihatkan konstruksi gender dalam novel Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Metode yang dipakai dalam tulisan ini ialah deskripsi kualitatif. Berdasarkan analisis terdapat dua kontsruksi gender yang terdapat dalam teks, yaitu konstruksi yang dibangun agama dan konstruksi yang dibangun oleh masyarakat. Keduanya saling berhubungan sehingga konstruksi tersebut menjadi bias antara agama dan masyarakat. Konstruksi gender dan budaya patriaki tersebut membuat perempuan rentan terhadap kekerasan, yang dalam novel PBS diantaranya tindak perkosaan, pelecehan seksual/sexual and emotional harassment, kekerasan terselubung, tindakan pemukulan, dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/dialektika.v2i2.3629 
BIDADARI DAN SI PENGGODA REPRESENTASI TOKOH-TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL STUDENT HIDJO Novi Diah Haryanti
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v4i1.7002

Abstract

Abstract: This paper examines the representation of women characters in the novel “Student Hidjo” (SH) and how the world of movement affects Mas Marco Kartodikromo in creating his female characters. In his depiction of the female character, Marco uses the European (Dutch) and the Javanese, or in post colonial terms the West (Dutch) and East binary opposition. By re-reading this literary work, it appears that Marco portrayed the native female character as angel while the Dutch female character as vampish. Marco also shows that European woman is not always perfect, independent, and superior, while the native woman is not always weak, ignorant, left behind, dan only thinking about the affairs of love (household).   Abstrak: Tulisan ini akan mengulas bagaimana representasi tokoh-tokoh perempuan dalam novel Student Hidjo (SH) dan bagaimana dunia pergerakan mempengaruhi Mas Marco Kartodikromo dalam menciptakan tokoh perempuan. Dalam menggambarkan tokohnya, Marco menggunakan oposisi binner Eropa (Belanda) dan Jawa atau dalam istilah pascakolonial Barat/Timur. Melalui hasil re-reading terhadap karya tersebut tampak bahwa Marco mencitrakan perempuan pribumi sebagai bidadari sedangkan perempuan Belanda sebagai si penggoda. Lewat Student Hidjo Marco memperlihat bahwa perempuan Eropa tak selamanya sempurna, mandiri, dan superior sedangkan perempuan pribumi tak selalu lemah, bodoh, tertinggal, dan hanya memikirkan urusan cinta (rumah tangga). Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/dialektika.v4i1.7002
POLA NARASI PADA ANTOLOGI CERPEN TARIAN SALJU KARABAN Novi Diah Haryanti
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, NO 1 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v6i1.12767

Abstract

Abstract: This study aims to look at narrative patterns in the collection of short stories "Karaban Snow Dance" (TSK). From the fifteen short stories, the researchers took five main stories, namely the Karaban Snow Dance (Tarian Salju Karaban), The Fall of a Leaf (Gugurnya Sehelai Daun),  Canting Kinanti Song (Tembang Canting Kinanti), Jagoan Men Arrived (Lelaki Jagoan Tiba), and Origami Pigeon (Merpati Origami). Of the five short stories, environmental themes and honesty appear most often. The place setting depicted shows the environment that is close to the author or according to the author's origin. The main characters in the four short stories are children, only one short story Male Hero Tiban (Lelaki Jagoan Tiban/LJK) who uses adult takoh as the main character. The child leaders in LJK only appear in the past stories of the main characters. The five short stories do not show a picture of whole parents (father and mother). The warm relationship between mother and child appears clearly, in contrast to the father-child relationship that is almost negligent. The five short stories also represent how children become heroes for their family, friends, and environment.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola narasi pada kumpulan cerpen Tarian Salju Karaban (TSK). Dari limabelas cerpen yang ada, peneliti mengambil lima cerpen utama yakni “Tarian Salju Karaban”, “Gugurnya Sehelai Daun”, “Tembang Canting Kinanti”, “Lelaki Jagoan Tiba”, dan “Merpati Origami”. Kelima cerpen menampilkan tema lingkungan dan kejujuran. Latar tempat yang digambarkan memperlihatkan lingkuangan yang dekat dengan penulis atau sesuai dengan asal usul penulis. Tokoh utama dalam keempat cerpen tersebut ialah anak-anak, hanya satu cerpen “Lelaki Jagoan Tiban” (LJK) yang menggunakan takoh dewasa sebagai tokoh utama. Tokoh anak dalam LJK hanya muncul dalam cerita masa lalu tokoh utama. Kelima cerpen tersebut tidak memperlihatkan gambaran orangtua utuh (ayah dan ibu). Relasi yang hangat antara ibu dan anak muncul dengan jelas, berbeda dengan relasi bapak-anak yang nyaris alpa. Kelima  cerpen tersebut juga merepresentasikan bagaimana anak-anak menjadi pahlawan bagi keluarga, sahabat, dan lingkungannya.  
Optimalisasi Pojok Literasi Sebagai Sarana Pembelajaran Mandiri Bagi Siswa Sekolah Dasar: (Studi Kasus pada SDN DAON 3) Muhammad Fazri Romadhon; Muhammad Fadilah Nur Rohman; Novi Diah Haryanti; Lathifah Azahra; Nurhasiah Majid
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI)
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpmi.v5i1.6180

Abstract

The low reading interest among elementary school students has become one of the major challenges in improving basic literacy quality within the educational environment. To address this issue, the Literacy Corner program was introduced as an engaging and easily accessible facility for students to develop independent learning habits. This community service activity aims to optimize the function of the Literacy Corner at SDN Daon 3 as a medium that promotes self-directed learning and fosters reading habits from an early age. The implementation method employed a participatory approach, involving teachers and students in the process of providing reading materials, organizing the Literacy Corner space, and conducting training sessions on its effective use in learning activities. The program was carried out during the Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata / KKN) at SDN Daon 3, Daon Subdistrict, Rajeg District, Tangerang Regency. The results of the activity indicated an increase in students’ reading interest, as reflected in the higher frequency of visits to the Literacy Corner and greater student engagement in independent reading activities. The tangible impact of this initiative was evident in the students’ growing enthusiasm for non-academic reading materials and the school’s positive support. The uniqueness of this program lies in its participatory concept, where students play an active role in managing and developing the book collection, thereby fostering a sense of ownership toward the Literacy Corner. Based on the outcomes of this community service, it is recommended that the school continue to develop literacy activities sustainably, with ongoing support from teachers, parents, and the surrounding community to ensure consistent growth of literacy culture.